
Butik milik Jisa baru buka enam bulan. Sepi karena lokasi yang dipilih kurang strategis. Jisa beralasan memilih tempat itu karena tidak harus mengeluarkan biaya sewa. Bangunan yang dipakai adalah properti milik keluarganya yang menganggur.
Sebagai orang yang juga baru merintis usaha, Julian memahami hal tersebut. Ia juga hanya mampu menyewa ruko yang tidak terlalu besar karena keterbatasan modal saat mendapatkan tempat jasa prakteknya.
Jisa mempersilakan Julian masuk ke dalam butik yang dijaga oleh dua orang pegawai. “Ini usaha pribadiku, Julian. Aku mendapatkan pinjaman modal dari ayah untuk belajar bisnis. Kebetulan aku menyukai fashion dan selalu memakai baju rancangan sendiri, jadi aku memilih bisnis ini. Beberapa teman dan rekan bisnis keluarga juga sudah mencoba hasil rancanganku, hanya saja aku belum puas karena yang memakai produk butik ini baru orang dekat saja!”
“Jadi apa yang harus aku lakukan?” tanya Julian. Ia duduk di kursi tunggu depan kamar pas yang biasa dipakai pengunjung untuk mengamati keseluruhan ruangan.
“Buat butik ini ramai pengunjung, Julian! Aku tidak akan melupakan jasamu jika butik kecil ini berhasil menembus target penjualan tiap bulannya!” jawab Jisa.
Julian mengangguk, “Aku butuh kertas putih bersih dan alat tulis!”
“Hanya itu? Langsung kamu kerjakan hari ini juga? Tidak perlu membuat sesajen? Perlu dupa atau bunga-bungaan mungkin?” Jisa memberondong dengan banyak pertanyaan karena pernah mendengar dari orang lain kalau menggunakan jasa dukun maka syaratnya harus ada seperti yang baru saja disebutkannya itu.
Julian menggeleng, “Tidak!”
“Bagaimana dengan kopi pahit dan jajan pasar?”
“Aku tidak minum kopi pahit, ganti saja dengan es degan! Aku haus,” jawab Julian apa adanya.
“Kamu yakin tidak butuh apa-apa untuk syarat membuat penglaris?” tanya Jisa skeptis. Ia lalu mengulurkan kertas dan pena pada Julian. “Mumpung pegawaiku belum berangkat beli es degan yang kamu inginkan! Maksudnya biar sekali jalan.”
“Tidak! Tolong biarkan aku sendiri, aku butuh konsentrasi selama dua jam,” pinta Julian serius.
Jisa tidak berkutik, ia menurut dan pergi meninggalkan Julian. rasa ingin tahunya terpaksa disimpan rapat-rapat. Pembawaan Julian yang terlalu santai membuatnya tak nyaman. Meski sudah mendengar kemampuan Julian dari Marsha, tapi sebenarnya Jisa tidak bisa percaya begitu saja.
Menurut Jisa, bisa saja Reina tergila-gila pada Julian bukan karena mantra pengasihan, tapi karena faktor lain. Julian tidak bisa dikategorikan pemuda berwajah biasa. Julian terhitung tampan, memiliki pesona sebagai pemuda milenial dan penampilannya keren layaknya orang berada. Mogenya juga tidak murahan, cocok dengan perawakan Julian yang jangkung dan gayanya yang cool.
Julian membuat rajah pelindung selama hampir dua jam. Huruf dan simbol yang dikuasainya secara tak biasa dituangkan dalam bentuk merak di atas kertas. Julian lalu mengisi rajah tersebut dengan energi supranatural berbasis ajian jolo emas, sehingga rajah memiliki dua fungsi sekaligus yaitu sebagai pelindung bangunan dan sebagai penglaris atau penarik rezeki.
Tanpa minta bantuan siapapun, Julian menggunakan kursi untuk menempel rajah dengan selotip bolak balik. Melihat hasil karyanya terpajang sederhana di atas pintu masuk butik, Julian menghembuskan nafas lega.
“Mbak Jisa punya hiasan dinding yang bisa menutupi keberadaan rajah ini?”
Jisa bertanya, “Lukisan bisa?”
“Yep, gunakan lukisan kecil atau gambar apa saja untuk menyamarkan keberadaan jimat ini!”
“Apalagi?”
“Tidak ada! Pekerjaanku sudah selesai, semoga hasilnya bisa dilihat dalam waktu 24 jam!” jawab Julian sambil bersiap pulang.
“Aku yakin jimat ini pasti akan berhasil menarik orang datang dan beli sesuatu di butik,” ucap Jisa. Ia berpikir rasional, kalau pikiran positif akan membawa dampak positif. Yakin kalau jimat yang sudah dipasang akan berhasil adalah syarat utama jika ingin menggunakan jasa paranormal.
Julian tertawa kecil, “Semoga sesuai harapan.”
“Oke sudah selesai ya? Aku tidak akan memotong bayaranmu. Pakaian yang akan aku buat untukmu adalah bonus,” sahut Jisa. Ia memaksa membuat ukuran baju untuk tubuh Julian.
“Aku tidak memakai pakaian dukun! Aku pamit, salam buat Marsha … dia pasti marah karena aku mengabaikannya.”
__ADS_1
Jisa terkikik geli, “Aku yakin dia akan datang mencarimu! Kamu terlalu mempesona untuk dilewatkan.”
Julian keluar butik tanpa menerima bayaran. Jisa berjanji akan memberikannya beberapa hari lagi, sekalian mengantarkan pakaian yang akan dibuat khusus untuk Julian.
[Misi 15 berhasil. Hadiah uang sebesar dua ratus juta rupiah telah dikirim ke rekening Tuan.]
Julian tersenyum tipis, tidak ambil pusing dengan kata-kata Jisa yang memuji dirinya secara tidak langsung. Ia menikmati bahagia karena uang yang masuk ke rekeningnya. Sehingga tak menyadari Jisa mengikuti sampai parkiran.
“Status, Mbah?”
Jisa tiba-tiba tergelak, “Statusku lajang, Julian! Tapi bukan jomblo!”
Ups! Julian menoleh dan terkejut. Sudut bibirnya mendadak berkedut, ucapannya disalah artikan oleh Jisa.
“Maaf, Mbak Jisa!” Untuk mengurangi rasa malu, Julian segera naik motor dan keluar dari parkiran butik. Didengarnya Jisa terbahak menertawakan kekonyolannya.
[Sistem Kekayaan Paranormal]
[Status]
[Nama : Julian El Sandi]
[Umur : 18 Tahun]
[Level Paranormal : Gold]
[Ketahanan : 47]
[Kepandaian : 52]
[Ketampanan : 80]
[Pesona : 63]
[Keberuntungan : 42]
[Kemampuan supranatural : 45]
[Kemampuan khusus : Seni bela diri kuno, Seni membuat rajah.]
[Dana : 1,131 Miliar]
[Misi 15 : Berhasil]
[Hadiah : Sejumlah uang dan penambahan poin]
[Hadiah misteri : Ajian Semar Mesem, Ajian Bolo Sewu, Ajian Kluntung Wesi, Ajian Asmoro Kuning, Ajian Jolo Emas, Ajian Waringin Sungsang.]
[Hadiah spesial : Kemampuan melihat kegaiban, Kemampuan melihat masa depan.]
__ADS_1
[Misi 16 : Belum tersedia]
[Sistem pemandu : Mbah Jambrong]
Julian tidak banyak bertanya mengenai kenaikan poin status. Jumlah uang yang sudah diberikan sistem padanya terlalu menyihir. Ia memilih bernyanyi kecil sepanjang perjalanan pulang.
Sampai ruko, Julian membuka jasa praktek dan menunggu pasien dengan wajah bosan. Ia bahkan sampai tertidur di ruang praktek hingga sore hari.
Bangun tidur, Julian merasa marah karena tidak ada satu orang pasien pun yang datang ke tempat prakteknya.
“Mbah, jangan ngerjain dong! Aku buka usaha ini karena ingin cepat dapat uang, kalau pasien yang datang diatur sistem begini … aku kapan kayanya?” gerutu Julian.
[Ada misi besar menanti Tuan malam ini.]
“Nah kan, kenapa tidak bilang kalau misinya diubah ke malam hari? Jadi aku tidak perlu membuang waktu menunggu pasien begini! Aku tau harus belajar sabar, tapi sampai kapan? Selama 18 tahun jadi orang miskin apa masih belum bisa dibilang sabar? Ya sudah aku mau mandi, aku ada janji dengan Laila di kafe malam ini,” kata Julian lebih kepada dirinya sendiri.
Malamnya, Julian datang ke kafe lebih cepat daripada Laila. Ia menunggu selama 20 menit untuk bisa menikmati makan malam bersama Laila. Hanya saja, gadis muda itu tampak murung dan lebih sedikit bicara daripada sebelumnya.
“Ada apa, Laila? Apa ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan mengenai acara ulang tahunmu yang semakin dekat?” tanya Julian penuh perhatian. Ia menebak Laila ada masalah dengan hal itu sehingga perlu menghubunginya.
“Yeah, dari tadi aku ingin mengatakan itu tapi tak sampai hati. Begini, perayaan ulang tahunku ditunda, Kak! Aku harus pulang ke Jakarta, mama masuk rumah sakit,” jawab Laila. Sekaligus menjelaskan kapan rencana pulang dan berapa lama ia akan berada di Jakarta.
Julian menyahut tenang, “Kebetulan aku juga ada rencana ke Jakarta dalam waktu dekat. Boleh aku mampir ke rumahmu kalau kamu belum kembali kesini?”
“Boleh!” Laila langsung menyebutkan tempat tinggalnya tanpa rasa takut pada tujuan Julian. “Tapi nanti telepon dulu kalau mau main ya, Kak! Eh … dalam rangka apa sih Kak Julian ke Jakarta?”
“Ikut audisi nyanyi, siapa tau beruntung jadi penyanyi idola tahun ini hahaha,” jawab Julian asal-asalan. Kepergiannya ke Jakarta tak lebih dari penyelidikan. Ia tidak bisa menahan lebih lama lagi untuk bertemu dengan orang tua Laila.
Wajah wanita dalam foto miliknya dengan pemain sinetron yang riwa riwi di layar televisi memang sedikit berbeda. Tidak semirip dengan foto yang dilihatnya di ruang keluarga rumah kakek Laila. Mungkin karena faktor usia atau bisa jadi karena wanita cantik pemain sinetron itu banyak melakukan permak pada wajahnya.
Bukankah operasi plastik sudah biasa dilakukan oleh kalangan artis untuk menaikkan kecantikan dan value dirinya?
“Aku doain sukses, suara Kak Julian bagus. Nanti aku kenalkan sama mama, siapa tau Kak Julian ada peruntungan di dunia yang digeluti mama. Kak Julian itu gantengnya udah kayak selebriti,” puji Laila malu-malu. Wajahnya bahkan memerah ketika Julian tersenyum manis karena mendengar pujiannya.
“Aku tidak punya bakat berakting, Laila. Aku lebih suka memetik gitar sambil bernyanyi atau menjadi paranormal muda,” timpal Julian terkekeh-kekeh.
Obrolan Julian dan Laila harus terjeda dengan kehadiran pemilik kafe yang tiba-tiba ikut duduk diantara mereka. “Julian … aku ada perlu sama kamu!”
Julian menoleh, “Aku tidak ada jadwal ngisi nyanyi hari ini, kan?”
“Ini bukan soal nyanyi, aku dengar kamu buka praktek paranormal. Topan bilang kamu ini dukun muda paling top di Nusantara. Sekarang tunjukkan padaku kalau kamu memang mampu! Buatkan aku penglaris untuk kafe ini dan dua cabang yang lain agar ramainya seperti dulu waktu awal-awal buka!”
“Hah, penglaris untuk tiga kafe sekaligus?” tanya Julian tak percaya.
“Iyalah, aku paling tidak suka dengan sesuatu yang tanggung!” jawab pemilik kafe.
DING!!!
***
__ADS_1