
Dalam misi yang disampaikan oleh sistem pemandu, Julian harus menyelesaikan pengobatan dalam waktu satu jam pada pasiennya.
“Tidak ada syarat, kami sudah menyediakan semua media pengobatan yang diperlukan Bu Ernitad di tempat ini,” ujar Julian. Ia lalu meminta Topan mengambil mangkuk putih dan mengisinya dengan air biasa.
Julian meletakkan mangkuk berisi air berenergi supranatural di atas meja yang letaknya tak jauh dari tempat tidur pasien. Ia mengatur nafas dan mulai memompa tenaga, memusatkan energi supranaturalnya ke telapak tangan.
“Buat apa mangkuk isi air putih itu, Mas?” tanya suami Bu Ernita.
“Buat wadah,” jawab Julian kembali berkonsentrasi, bersiap untuk mengurus tiga siluman yang mendiami punggung Bu Ernita.
Namun, belum sempat Julian mendekat … Bu Ernita mendadak membuka mata dan melotot padanya. Bukan hanya melotot dan berekspresi kesal, wanita itu berbicara dengan nada marah dan menantang pada Julian.
“Jangan berani mengusirku anak muda! Kamu tidak akan mampu, aku ini makhluk sakti yang berasal dari laut kidul,” ujar Bu Ernita. Tubuhnya yang semula hanya diam mulai menggeliat.
“Keluar sendiri atau aku paksa?” tanya Julian tenang. Energi negatif meluap-luap dari tubuh Bu Ernita, semakin pekat dan menghitam.
“Hahaha kamu mengancamku, Bocah?” Bu Ernita mendadak bisa duduk, bahkan turun dari tempat tidur dan memasang kuda-kuda seperti hendak berkelahi dengan Julian. “Aku ini sangat sakti, bukan bangsa rendahan yang bisa kamu usir seenak hati!”
Angin deras menabrak wajah Julian, menggesek pertahanan tubuhnya hingga menimbulkan rasa panas di tubuh. Julian berdiri tegak merapal mantra kluntung wesi untuk perlindungan diri, “Jangan terlalu menyombongkan diri! Kalau kamu berasal dari laut kidul kenapa tidak pulang saja? Tempatmu bukan di sini!”
“Hahaha, kesaktianmu belum bisa menandingiku! Jangan berlagak seperti dukun yang sudah lama belajar ilmu kedigdayaan!”
“Keluar!” Julian menunjuk ke wajah pasiennya lalu mengibaskan tangan, selarik energi supranatural keluar dari telapak tangan Julian seperti tangan tak terlihat yang memanjang dan mendorong tubuh wanita yang sedang menantangnya.
Bu Ernita terjengkang jatuh ke atas tempat tidur setelah merasakan ada energi besar masuk ke dalam tubuhnya. Ia langsung sigap berdiri lagi untuk melawan Julian meski dada terasa sesak.
Namun, belum sempat memasang kuda-kuda, tubuhnya justru melengkung ke depan seperti tertarik ke arah Julian.
“Tidak! Aku tidak akan keluar dari tubuh ini!”
Dengan setengah kekuatan, tangan kanan Julian menggenggam. Tapi makhluk yang ada di dalam tubuh pasiennya masih belum bisa ditarik keluar, sehingga Julian kembali mengibaskan tangannya. Melepaskan energi supranatural untuk menghantam siluman yang masih mendekam dalam tubuh pasiennya.
__ADS_1
Bu Ernita jatuh di dekat tempat tidur setelah energi Julian masuk ke dalam tubuhnya seperti angin kencang. Tak gentar, wanita itu coba berdiri lagi untuk bersiap. Tapi … tangan Julian sudah menggenggam lagi, sehingga Bu Ernita menjerit sekerasnya karena ada sesuatu dari dalam tubuhnya yang tertarik ke arah Julian dengan keras.
“Lepaskan aku!” teriak Bu Ernita. Siluman dalam tubuhnya meronta karena merasa tercekik dan ditarik paksa oleh Julian. Tapi siluman tersebut masih terus bertahan di dalam tubuh Bu Ernita.
“Keluar dari tubuh itu maka kamu akan ku lepas!” Julian mengibaskan tangannya lagi sehingga Bu Ernita jatuh bertekuk lutut di atas lantai. Detik berikutnya, Julian menggenggam sekali lagi untuk menarik keluar tiga siluman keras kepala yang masih bertahan sekaligus.
Merasa tidak berhasil dengan setengah tenaga, Julian memompa lagi energi supranaturalnya yang berpusat di tulang ekor. Ia segera mengibaskan tangan hingga Bu Ernita terbanting ke lantai cukup keras.
“Pak, tolong pegangi istrinya biar tidak terkena benturan di kepala!” perintah Julian buru-buru. “Topan, tolong bantu bapaknya memegangi istrinya, ini agak berat!”
“Kenapa jadi begini, Jul?” tanya Topan panik. Bu Ernita meronta dan menjerit ketika dipegangi.
“Udah jangan banyak tanya, siluman sialan ini ngajak perang tanding!” jawab Julian sambil berusaha keras menarik tiga makhluk gaib dengan energinya. “Telungkupkan Bu Ernita sekarang!”
“Tolong, lepas! Ini aku Ernita, Pak! Sakit … ampun!” Bu Ernita menjerit-jerit kesakitan, melolong dan merintih minta tolong. Kadang menantang dengan suara nenek-nenek, kadang memelas dengan suara asli. “Kamu berani sekali melawanku, bocah!”
Dua orang yang diperintahkan Julian segera memaksa Bu Ernita untuk telungkup. Julian langsung mengalirkan energi yang sangat besar ke dalam tubuh Bu Ernita melalui punggungnya. “Keluar kamu kalau tidak ingin celaka! Bawa rumahmu sekalian!”
“Jul, si ibu pingsan kayaknya!” kata Topan.
“Angkat ke tempat tidur, biarkan istirahat sebentar!” sahut Julian. Ia lalu menghisap seluruh energi negatif yang ada di tubuh Bu Ernita dengan ajian waringin sungsang.
“Apa istri saya sudah baik-baik saja?” tanya suami Bu Ernita cemas.
Julian kembali ke tempat duduknya, bernafas panjang-panjang sambil mengatur ulang tenaganya. “Periksa mangkoknya, Pak!”
Suami Bu Ernita langsung mendekati meja tempat mangkok berisi air diletakkan dan membawanya ke hadapan Julian. “Apa ini, Mas? Batu merah tapi ada rajahnya? Trus ini jarum segini banyak?”
“Batu darah!” jawab Julian. Ia mengambil batu warna merah yang di sekelilingnya ada rajah dengan huruf dan simbol khusus. Rajah bertuliskan nama dan mantra kematian berbentuk melingkar seperti ular. Simbol dari tiga siluman yang menempatinya.
Suami Bu Ernita mengamati batu di tangan Julian dan jarum di mangkuk secara bergantian, “Apa ini yang jadi penyebab istri saya sakit?”
__ADS_1
“Ya, batu ini adalah media sihir yang ditanam di dalam tubuh Bu Ernita. Tempat tinggal tiga siluman yang saya sebutkan tadi. Jarum difungsikan untuk menyakiti dari dalam,” kata Julian menjelaskan.
“Astaga! Setelah dikeluarkan begini apa mungkin istri saya bisa terkena lagi, Mas?” tanya suami Bu Ernita tak sabar dan penasaran.
“Saya akan menutup jalan masuk makhluk gaib di tubuh Bu Ernita!” Julian lalu membuat rajah pelindung diri pada selembar kertas dan menggulungnya. Ia memasukkan kertas itu ke dalam plastik transparan. “Letakkan ini di bawah bantal Bu Ernita selama seminggu ya, Pak!”
Julian juga menyerahkan satu botol besar air mineral yang sudah dimantrai dan diberi energi supranatural kepada suami pasiennya. “Pakai untuk minum dan campur sedikit ke air mandi ibu selama tujuh hari, bisa diisi ulang dengan air minum di rumah jika sudah berkurang!”
“Terima kasih. Eh … sepertinya istri saya sudah sadar!” Suami Bu Ernita langsung mendatangi istrinya yang memaksakan diri untuk duduk sendiri.
“Aku sudah bisa duduk, Pak!” kata Bu Ernita tersenyum bahagia.
“Masih sakit punggungnya?”
“Sakit, tapi tidak menyiksa! Jauh lebih baik dibandingkan tadi. Sudah tidak ada sesuatu yang bergerak-gerak di punggung. Sudah tidak ada rasa tertusuk jarum.”
Suami Bu Ernita mengusap punggung istrinya, “Semoga penyakit yang sudah dikeluarkan tidak kembali lagi!”
Julian membiarkan pasangan suami istri itu berbicara santai sambil menunggu kondisi Bu Ernita membaik. Pelepasan makhluk gaib dari tubuh biasanya diikuti dengan rasa sakit fisik. Apalagi Bu Ernita sempat jatuh terbanting dua kali di lantai. Pasti akan timbul beberapa lebam di tubuhnya.
“Namanya batu darah karena warnanya merah darah ya, Jul?” tanya Topan ikut mengamati batu yang sedang dibolak balik Julian. Ia berdiri di samping Julian karena penasaran.
“Yep, tapi aku harus menghapus rajahnya sebelum dijadikan koleksi,” jawab Julian pelan.
Topan mengernyit, “Koleksi?”
“Maksudku bakal jadi benda mistis stok toko barang antik yang rencananya bakal buka dalam waktu dekat ini!”
“Kamu mau jualan barang beginian?”
Julian menukas, “Iya, lumayan kan hasilnya bisa buat makan?”
__ADS_1
***