Sistem Kekayaan Paranormal

Sistem Kekayaan Paranormal
Misi Tiga Kafe Selesai


__ADS_3

Julian mendengus dingin ketika matanya menatap pergerakan cepat sosok putih berambut panjang kusut masai berkelebat menjauhinya. Mau tidak mau Julian menguatkan hatinya. Kalau tidak belajar mengalahkan ketakutannya, ia tidak akan bisa bekerja sebagai dukun muda yang mumpuni.


Alih-alih naik level jadi super paranormal, sampai kapanpun Julian justru akan menjadi paranormal level pecundang.


Dengan gesit, Julian berbalik arah. Ia tidak jadi masuk ke dalam kafe, tapi mengikuti kelebatan makhluk halus yang menghilang di dekat parkiran yang baru saja dilaluinya bersama Reina. Julian menajamkan pandangan gaibnya, mencari tempat persembunyian makhluk halus yang menghindari energinya.


Dari sebelum masuk kafe, Julian sudah merasakan hawa tidak enak. Kafe terlihat suram dan banyak energi yang tak selaras dengannya berseliweran. Ditambah lagi, kafe sedang sepi pengunjung, jadi suasana yang seharusnya menyenangkan berubah seperti tempat nongkrong dalam film horor.


Sebenarnya bukan sedang sepi, tapi kafe memang sangat minim pengunjung setiap hari. Bahkan menjadi yang tersunyi dari tiga kafe yang dimiliki Mas Aji. Sepi yang terjadi di kafe juga bukan sepi biasa. Julian melihat ada tirai gaib yang menutupi kafe, yang membuat tempat itu seperti sedang tutup. Bisa jadi malah ada yang tidak bisa melihat keberadaan kafe tersebut.


“Julian … ada apa?” tanya Reina. Ia bingung sendiri, sehingga mengikuti langkah Julian yang kembali ke parkiran.


“Kamu tunggu di kafe aja, Reina! Jangan ganggu aku sekarang, aku sedang ada pekerjaan di sini!” jawab Julian serius.


Reina mengangguk, takut karena ikut merasakan suasana horor yang mendadak melanda. “Kalau perlu sesuatu, kamu bilang saja sama aku!”


“Masuklah ke kafe sekarang dan tolong mintakan alat yang bisa dipakai untuk menggali tanah pada penanggung jawab tempat ini, apa saja yang penting tajam!” kata Julian memberi perintah.


Setelah Reina pergi ke dalam kafe, Julian mendekati tempat yang disinyalir sebagai rumah bagi lelembut berpakaian putih kotor yang berpapasan dengannya di dalam kafe.


Julian menandai tanah yang akan digalinya sambil melirik jam tangannya. Waktu berlalu terlalu cepat, Reina atau siapapun yang diharapkan datang membawa perkakas yang bisa digunakan untuk menggali belum muncul juga.


Julian akhirnya bergegas pergi ke dalam kafe, mencari seseorang yang bisa menyediakan kebutuhannya.


“Mas Julian? Maaf, tidak ada sesuatu yang bisa dipakai untuk menggali selain pisau dan golok ini,” ucap seseorang yang dari cirinya sama dengan yang disebutkan pemilik kafe. “Saya Rio!”


“Saya pinjam goloknya sebentar untuk ambil buhul di dalam tanah, di dekat tempat parkir kendaraan” ujar Julian meminta izin.

__ADS_1


Rio bertanya takjub, “Jadi apa yang disampaikan Mas Aji benar ya, kalau paranormal yang akan mengurus kafe ini masih sangat muda? Ngomong-ngomong buhul itu apa, Mas? Maaf saya tidak memahami dunia paranormal, kalau bisa Mas Julian ngomongnya pakai bahasa atau istilah yang mudah dimengerti saja. Jadi nanti saya juga gampang laporannya ke Mas Aji.”


Julian menjelaskan singkat sambil berjalan kembali ke parkiran, “Buhul adalah media yang pakai dukun santet untuk meletakkan jin! Biasanya ditanam seseorang atau dibawa oleh jin itu sendiri di area yang ingin ditutup jalan rezekinya.”


“Oh, pantesan kafe ini sunyi seperti kuburan! Saya sampai nyaris putus asa mencari cara untuk meramaikannya. Malu sama Mas Aji karena membuat kafe merugi setiap hari. Saya malah sudah izin mundur awal bulan ini, tapi dipaksa bertahan karena sedang dicarikan solusi.”


Julian tidak menanggapi cerita pemuda yang dipercaya untuk memegang kafe saudara Reina, ia sibuk menggali tanah dengan susah payah. Beruntung hujan baru saja mereda, sehingga tanah yang digali tidak terlalu kering dan keras.


Butuh waktu sekitar sepuluh menit ketika akhirnya Julian melihat bungkusan kecil berwarna putih, diikat dengan benang hitam pada kedua ujung dan tengahnya.


Sebelum menyentuh sesuatu yang terbungkus kain putih itu, Julian memusatkan energi supranatural ke tangan. Ia juga membentengi diri dengan ajian kluntung wesi untuk mencegah luka dalam karena benturan energi.


Julian mengambil benda seperti pocong kecil yang menjadi buhul kuntilanak. Ketika memegang buhul tersebut, Julian merasakan panas menusuk telapak tangan. Gesekan energi berlangsung sangat cepat, hingga tangan Julian mulai terasa kebas. Julian lalu mengalirkan energi dalam jumlah besar ke dalam bungkusan yang dipegangnya, hingga panas yang dirasa tangannya mereda secara perlahan.


Sihir yang biasa dipakai untuk menutup warung pun semakin meredup. Tirai gaib yang membuat orang tidak bisa melihat keberadaan kafe tersebut pecah dan runtuh. Julian seketika merasakan udara segar berhembus tenang bersama perginya suara-suara mistis yang menolong dari alam gaib.


Julian membuka bungkusan itu di depan Rio, “Tanah, tulang, nama kafe sama rambut kuntilanak! Saya pinjam korek, Mas!”


“Hah?” Rio mengulurkan korek api dengan tangan gemetar, masih tercengang ketika Julian membakar buhul di depan matanya.


“Ayo ke dalam, aku perlu memasang rajah di tempat yang tepat!” ajak Julian, berjalan meninggalkan Rio yang memasang wajah tegang.


Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, Rio membuntuti Julian sambil sesekali menoleh ke belakang. Memastikan kalau tidak ada kuntilanak yang mengikutinya.


Sampai di dalam kafe, Julian bekerja cepat memasang rajah penglaris, disaksikan Rio dan Reina. Mereka berdua tidak berani bertanya karena Julian sangat serius dan sudah memberikan kode kalau tidak ingin diganggu dalam bekerja.


“Sudah selesai,” kata Julian, bernafas lega dan mendekati Reina. “Kabari Mas Aji kalau kita langsung ke cabang lain, Reina! Aku tidak bisa lama-lama di tempat ini!”

__ADS_1


Reina mengangguk, berpamitan seperlunya pada Rio lalu menyusul Julian yang sudah berjalan lebih dulu ke arah mobilnya. “Gampang kalau soal itu. Sebenarnya aku mau ajak kamu makan dulu di kafe ini, tapi kelihatannya kamu terburu-buru!”


Dalam perjalanan, Julian tidak bisa tenang, sebentar-sebentar melihat jam tangan. “Rein, bisa cepat sedikit?”


“Aku tidak pernah kebut-kebutan di jalan raya, Julian! Kamu ada janji lain sampai ngurusin kafe Mas Aji kayak dikejar setan? Kamu dibayar kan?”


Julian tidak menjawab pertanyaan Reina. Ia memilih diam sepanjang perjalanan ke kafe cabang. Bahkan, diamnya Julian dilanjutkan hingga selesai membuat penglaris untuk kafe terakhir yang jadi misinya itu.


Setelah memasang rajah, Julian menabur garam yang sudah dimantrai dan diberi energi supranatural ke sekeliling kafe. Hal itu dilakukan untuk membersihkan energi negatif tak menyenangkan yang ditimbulkan oleh keberadaan lelembut yang tinggal di bangunan lain sebelah kafe.


Julian baru bisa duduk tenang ketika pekerjaannya benar-benar beres dalam rentang waktu yang ditargetkan sistem. Tenaganya terkuras cukup banyak untuk menangani tiga kafe secara maraton.


Sekarang, Julian tinggal menunggu sistem menyatakan misinya berhasil, sehingga ia bisa mendapatkan pengganti energinya yang hilang.


Melihat Julian duduk diam sendiri, Reina kembali mendekati. “Mau minum atau makan sesuatu, Jul? Ehm … kamu jangan diem terus kenapa sih?”


“Air mineral dingin!” jawab Julian datar.


“Kafe ini tidak kekurangan minuman enak, Julian! Aku buatkan jus, mau?”


“Aku tidak membutuhkan minuman enak,” sahut Julian tanpa ekspresi.


“Oke, aku ambilkan dulu!” tukas Reina dengan senyum semanis mungkin.


Reina berdecak sambil berjalan menuju lemari pendingin yang ada di dalam bar, jengkel dengan bahasa dan sikap Julian yang kaku dan dingin padanya. Namun, entah kenapa yang demikian itu justru membuat reina tertantang untuk menaklukkan Julian.


Tidak peduli apa pendapat Marsha dan Lila nantinya, Reina memutuskan akan mendapatkan Julian dengan berbagai cara. Pertama-tama, ia harus menabur sesuatu pada minuman Julian. Mumpung Julian sedang kelelahan dan ia sedang memiliki obatnya.

__ADS_1


***


__ADS_2