
Keesokan paginya Julian buka praktek seperti biasa. Meski hanya tidur sebentar tapi ia tetap bugar. Tidak ada rasa lelah atau kantuk yang tersisa.
Topan menguap beberapa kali ketika datang ke ruko, matanya merah dan wajahnya masih bengkak seperti bantal. “Sorry aku telat!”
“Tidak masalah, belum ada pasien datang! Kenapa muka kamu berantakan begitu?” tanya Julian.
Topan memasang wajah frustasi, “Ika mau nikah! Ternyata dia putusin aku karena dipaksa nikah sama orang tuanya, semaleman dia curhat sambil nangis. Dia minta aku nikahin sekarang biar bebas dari perjodohan, gimana menurut kamu?”
“Ya nikahin! Masa iya anak orang cuma kamu pacarin?”
“Sialan! Orang tua Ika mana mau punya mantu pengamen jalanan? Lagian terlalu muda juga kalau mau nikah sekarang! Mana aku masih harus nanggung biaya adikku! Stress aku, Jul! Aku mau aja nikahin Ika, tapi bukan sekarang waktunya.”
Julian menaikkan kedua alisnya, “Kapan?”
“Tiga tahun lagi, kalau sekarang belum ada modalnya! Kamu bisa pelet orang tuanya biar mau nunggu aku tiga tahun lagi?” tanya Topan penuh harap.
“Kalau bukan jodoh ngapain kamu memaksakan diri, Bro? Ika itu tanggung jawab orang tuanya, dia memilih putus dari kamu juga dengan banyak pertimbangan.”
“Iya. Setelah aku bilang tiga tahun lagi dia langsung menolak ideku, katanya harus dalam minggu-minggu ini,” ujar Topan dengan raut lesu. “Andaikan aku punya banyak uang … eh tapi sebenarnya aku belum siap mental kalau harus nikah sekarang.”
“Resiko pacaran sama cewek yang lebih tua ya begitu, orientasinya cuma nikah sama punya anak hahaha,” ledek Julian tak berperasaan. “Nanti aku kenalin sama temanku aja, namanya Reina! Aku yakin kamu cocok sama dia.”
“Reina yang kata kamu temannya Putri Marsha?” tanya Topan bersemangat sebentar, lalu lesu kembali. “Modalku apa? Bisa dibully habis-habisan aku sama kaumnya! Aku cukup tahu diri, Jul! Cermin di rumah masih bisa buat ngaca!”
Julian melotot, “Jadi maksud kamu aku nggak ngaca karena jatuh cinta sama Marsha?”
Topan menjawab sambil berseloroh, “Bukan aku yang bilang gitu! Tapi posisimu sekarang kuat untuk bersaing dengan pacar Marsha yang borjuis itu, kan? Lagian kenapa tidak pakai pelet pengasihan saja buat dapetin Marsha?”
__ADS_1
“Nope! Kurang seru kalau pakai jalan begitu!” jawab Julian santai. “Oh ya aku mau pergi ke Jakarta nanti malam, naik kereta. Mungkin beberapa hari di sana, jadi besok kita tutup praktek sementara.”
Topan memicingkan mata mendengar rencana Julian, “Kamu mau ke rumah Laila?”
“Yep! Aku butuh bertemu dengan orang tuanya, terutama ibunya! Lihat di sinetron, wajah ibunya Laila full make up, jadi susah mau cari persamaannya dengan foto yang aku punya,” jawab Julian sedikit gundah. Ia tak yakin tindakannya menyelidiki orang tua Laila sampai Jakarta bisa dibenarkan. Tapi ia tidak bisa membuang waktu lebih lama untuk tahu siapa orang tua Laila.
“Kalau Laila itu memang adikmu lalu apa, Jul?”
Julian mengedikkan bahu, mengulas senyum masam, “Entahlah! Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti.”
Melihat ekspresi terluka di wajah Julian, Topan mengingatkan, “Jangan terlalu berharap, Jul! Kamu dari bayi hidup di panti, belum tentu Laila keluargamu!”
“Aku sudah siapkan mental baja untuk segala sesuatu yang akan terjadi dalam hidupku,” sahut Julian datar.
“Yeah … dan sepertinya curhat pagi ini harus berhenti karena ada bel berbunyi. Kita kedatangan pasien,” kata Topan mengibaskan tangan sebagai pertanda kalau obrolan harus dihentikan. Ia keluar untuk menyambut tamu.
“Tidurkan saja di sana, Pak!” kata Julian menunjuk tempat tidur bersprei putih yang disediakan khusus untuk pasien.
Mendengar suara Julian, wanita yang baru saja direbahkan di atas tempat tidur langsung melotot dan menjerit-jerit. Tubuhnya seperti orang kejang sesaat lalu diam tak bergerak.
“Mas Julian? Kata tukang parkir di depan tadi, paranormal yang praktek di sini masih umur 18 tahun.” Pria yang menjadi tamu Julian menyapa dengan wajah tegang tapi tetap sopan. “Istri saya langsung kumat ini, Mas! Dia selalu begitu kalau dibawa ke paranormal.”
Julian mengangguk, “Iya, saya paranormalnya. Istrinya sakit apa, Pak?”
Pria yang menjadi suami pasien Julian mengambil duduk berseberangan meja dengan sang paranormal muda, “Dokter awalnya mendiagnosa kalau istri saya mengalami cedera saraf tulang belakang, karena istri saya mendadak tidak bisa menyangga tubuhnya. Istri saya tidak bisa duduk apalagi berjalan. Tapi setelah diperiksa ulang dengan berbagai tes … ternyata tidak ada gangguan apapun pada saraf tulang belakangnya! Dokter bilang orang dengan gangguan saraf tulang belakang tangannya tidak bisa menggenggam erat, lah istri saya normal-normal saja.”
“Sudah berobat kemana saja, Pak?” tanya Julian. Ia mengaktifkan pandangan gaibnya ketika merasakan beberapa energi negatif bercampur baur dalam ruangannya, seolah keluar dari tubuh si ibu yang sedang tergeletak tak berdaya.
__ADS_1
“Sudah saya bawa ke beberapa orang pintar untuk terapi pembersihan energi negatif. Yang terakhir berhasil. Sembuh sekitar satu bulan, beberapa hari ini kumatnya malah menjadi-jadi. Kadang-kadang meracau, menjerit kesakitan, kadang mengamuk karena tidak bisa menggerakkan badan! Keluhannya, punggung nyeri hebat, seperti ada sesuatu yang tajam bergerak-gerak di bawah kulit, menusuk, mengiris, menyayat.”
Julian memindai seluruh tubuh wanita yang menjadi pasiennya. “Ibu namanya siapa, Pak?”
“Ernita, itu nama istri saya! Mohon dibantu, Mas Dukun! Saya mampir kesini karena melihat plakat nama di pinggir jalan, siapa tau istri saya berjodoh dengan pengobatan di sini! Konon, kalau hati kita tergerak begitu saja tanpa rencana … suka dikabulkan hajatnya.”
“Loh sebenarnya ini tadi mau berobat kemana, Pak?” tanya Julian. Tak menyangka kalau pasiennya datang tanpa rencana.
Pria yang duduk di depan Julian menoleh ke arah istrinya sebentar sebelum menjawab, “Mau berobat ke Jombang, katanya ada dukun muda hebat yang buka praktek di desa. Mas Bambang namanya!”
“Mas Bambang?” Julian mengernyitkan dahi. Sepertinya ia pernah mendengar nama paranormal itu ketika membuat pagar rumah calon kepala desa yang meminta bantuannya.
“Iya, dipanggil mas karena umurnya masih 30 tahun. Tidak seperti dukun lain yang umumnya dipanggil mbah atau ki.”
Julian manggut-manggut, mengalihkan pembicaraan kembali ke pasiennya. “Ibu Ernita sudah berapa lama sakitnya, Pak?”
“Setahun lebih, makin lama makin parah. Awalnya hanya sakit punggung biasa, masih bisa kegiatan. Sekarang cuma bisa tiduran di ranjang. Apa sakitnya bisa disembuhkan, Mas?”
“Saya coba dulu ya, Pak! Kalau saya terawang memang ada sesuatu yang tinggal di punggung istri bapak, ada beberapa siluman yang mungkin sulit dikeluarkan karena ada buhulnya!”
“Hah? Beberapa? Maksudnya lebih dari satu?”
Julian menjawab dengan ekspresi rumit, “Ada tiga, Pak!”
“Astaga! Pokoknya saya minta tolong dikeluarkan semua makhluk halus yang bersarang di tubuh istri saya, Mas! Soal syarat dan biaya akan saya penuhi,” pinta suami Bu Ernita memelas.
DING!!!
__ADS_1
***