
Mereka pun akhirnya berangkat kafe tempat Laila merayakan pesta ulang tahunnya. Perjalanan menuju cafe memakan waktu hampir empat puluh menit, tapi serasa seharian bagi Julian. Entahlah, kehadiran wanita yang diharapkan sebagai ibunya itu memberikan tekanan khusus pada Julian. Ia lebih banyak melamun sepanjang perjalanan, memikirkan apa sudah terjadi dan apa yang harus ia lakukan saat bertemu artis sinetron itu.
Sampai cafe, Julian langsung menuju tempat pesta digelar. Dekorasi balon dan bunga sudah terlihat menghiasi ruangan yang disewa khusus oleh mamanya Laila untuk ulang tahun putri kesayangannya. Julian dan Topan segera melakukan check sound dan peralatan, mengabaikan beberapa teman Laila yang mulai berdatangan dan mencari perhatian.
Pesona Julian membuat para gadis belia terbius dan menatap memuja pada sang paranormal muda. Jerit histeris bahkan terdengar saat Julian melakukan check sound dan mulai menyanyikan lagu pembuka.
"Wah Jul, sebentar lagi kamu jadi bintang di sini. Udah pada kayak ayam pengen kawin aja mereka denger suara kamu!" Topan berbisik di tengah jeda lagu.
Julian menanggapi datar ucapan sahabatnya, ia kembali bernyanyi ketika Laila dan mamanya datang. Jantung Julian berdetak tak karuan saat mamanya Laila melintas di depannya. Julian bisa melihat jelas jika Thalia menatapnya dengan ekspresi rumit.
"Kak Julian! Aku khawatir banget kalo kakak nggak jadi datang buat nyanyi di acara aku!" Laila langsung mendekati Julian dengan ceria saat lagu selesai.
Julian turun dari tempatnya bernyanyi, "Aku kan udah janji sama kamu, ya … pasti aku datang."
"Kakak kenapa tidak pamit sama aku waktu mampir di rumah Jakarta? Mama ngusir kak Julian, ya? Atau papa?" cerca Laila.
Julian meletakkan gitarnya dan tersenyum senormal mungkin, mata Thalia yang menatapnya tanpa berkedip dari tempat duduk membuatnya tak enak hati. "Tidak ada yang mengusirku, Laila! Aku memang ada urusan penting. Sangat mendadak. Adik-adikku sakit, jadi aku harus segera kembali saat itu juga."
Gadis belia yang terlihat cantik bak barbie itu menelisik wajah Julian dengan seksama, berusaha mencari kebenaran. "Kak Julian tidak sedang bohong, kan?"
"Nop, aku memang diburu waktu karena terlanjur pesan tiket pesawat. Kalau nunggu kamu pasti ketinggalan, maaf kalau aku tidak sempat bicara apa-apa sama kamu."
Laila ingin bertanya lagi, tapi pembawa acara memanggilnya untuk berdiri di depan kue ulang tahun yang menjulang tinggi. "Iiihhh ganggu orang ngobrol aja! Aku kesana dulu ya, Kak!"
__ADS_1
"Oke!" Julian bernafas panjang-panjang. Ia tak mungkin mengacaukan pesta ulang tahun Laila. Menjaga sikap di depan Ibunya Laila dan teman-temannya adalah pilihan terbaik.
Acara puncak di setiap perayaan ulang tahun adalah saat pemotongan kue. Sebelum Laila memotong kue ulang tahunnya, ia meminta waktu sedikit untuk bicara. Laila juga meminta Julian untuk mengiringinya dengan petikan gitar.
"Hari ini, tepat di usiaku yang keenam belas tahun, aku merasa bersyukur dikelilingi oleh orang-orang yang sangat mencintaiku. Terima kasih untuk mama yang sudah meluangkan waktu khusus disela jadwal syutingnya yang padat. Sayangnya papa masih dalam perjalanan kemari, aku berharap papa bisa segera datang dan berkumpul sebelum acara ini selesai." Laila memberi jeda untuk dirinya bernafas.
"Untuk Kak Julian, terimakasih sudah berkenan hadir dan menepati janji menjadi pengisi acara hiburan. Suara kakak bagus, jangan menyerah meski gagal dalam audisi. Malam ini, di depan semua yang hadir, Laila mohon maaf yang sebesar-besarnya karena tidak menjadi tuan rumah yang baik untuk Kak Julian saat datang ke Jakarta. Aku menyesal karena tidak sempat mengajak Kak Julian keliling ibu kota. Kak Julian mau kan maafin Laila?" Pertanyaan Laila dijawab dengan anggukan dan senyuman manis dari Julian.
Mata Laila melirik ke arah mamanya yang berdiri gelisah di sebelahnya. Mau ditutupi dengan ekspresi dan akting apapun, Laila mengenal mamanya dengan sangat baik.
Setelah menambah sedikit kalimat indah untuk sang mama, Laila pun memotong kue ulang tahunnya. "Potongan pertama, aku persembahkan khusus dan spesial untuk … Kak Julian!"
Tepuk tangan riuh menyambut momen puncak acara, Thalia hanya tersenyum masam ketika putrinya lebih memilih Julian yang mendapatkan potongan kue pertama dibandingkan dirinya.
Acara kembali berlanjut dengan permainan seru yang sudah disiapkan pihak event organizer. Tamu undangan bergembira bersama, Julian juga ikut larut dalam games bersama Laila.
Sementara Thalia duduk menyendiri melihat putra dan putrinya bermain bersama. Ia sedang gelisah, suaminya belum datang. Ayahnya Laila juga tidak memberi kabar apapun. Terakhir kali, suaminya mengatakan sedang dalam perjalanan, dan akan tiba tepat sebelum pesta dimulai.
Thalia mengulang menghubungi orang rumah, tapi mereka mengatakan jika suaminya tidak kembali ke Jakarta. Thalia berusaha menghubungi ponsel suaminya lagi, juga sopir pribadinya. Tapi tidak tersambung, nomor yang dihubungi ada diluar jangkauan.
Sesuatu pasti telah terjadi, Thalia menduga ada hal buruk yang menimpa suaminya.
"Ma, kue yang aku kasih ke mama kok masih utuh? Maafkan Laila ya, Ma! Laila sudah menuduh mama yang tidak-tidak tentang Kak Julian." Laila mengambil piring kecil berisi potongan kue coklat yang ada di meja, dan memberikannya pada sang mama. "Coba sedikit aja, Ma! Kata Kak Julian kuenya enak. Oh ya, mama lihat tadi aku main game sama Kak Julian?"
__ADS_1
Thalia membuka mulut untuk menerima suapan dari Laila. "Makasih ya sayang kuenya, doa terbaik mama selalu untuk Laila. Mama lihat kamu cocok jadi adiknya Julian! Dia sepertinya kakak yang baik!"
"Loh kok jadi adik sih, Ma! Aku maunya jadi spesialnya Kak Julian! Boleh ya, Ma? Kak Julian memang belum kaya, tapi dia itu pekerja keras."
"Kamu harus lebih kenal lagi sama Julian sebelum memutuskan jatuh cinta, Laila!"
"Siap! Makasih ya, Ma! Ehm … ini papa kenapa belum datang? Keburu pestanya bubar." Laila celingukan, memastikan kalau papanya memang belum hadir di kafe itu.
"Sebentar lagi mungkin, siapa tau papa sengaja terlambat karena mau kasih kamu kejutan?" Meski bicara dengan mata berbinar, tapi raut wajah Thalia tidak bisa menyembunyikan rasa khawatir.
Melihat secuil gelisah pada ekspresi sang mama, Laila bertanya serius, "Semua baik-baik saja kan, Ma?"
"Ya, baik … semua baik-baik saja, Laila!" jawab Thalia tak yakin. Lalu ponsel Thalia bergetar, sebuah nomor asing memanggil. Thalia memejamkan mata sejenak, jantungnya mendadak berdegup tak karuan. Sesuatu telah terjadi pada suaminya!
Tangan Thalia gemetar saat menekan ikon berwarna hijau di layar ponselnya, "Ya, halo!"
"Siapa, Ma?" tanya Laila lirih.
"Apa?" Mata Thalia membulat sempurna ketika menanggapi berita yang disampaikan seseorang melalui ponselnya. Tangannya semakin gemetar dan akhirnya tubuhnya lemas, melorot dari tempat duduknya.
Thalia menjerit histeris, mengabaikan teriakan Laila yang mengkhawatirkan keadaannya. Ia baru saja mendengar berita duka, bahwa kecelakaan tragis telah menimpa suaminya.
***
__ADS_1