Sistem Kekayaan Paranormal

Sistem Kekayaan Paranormal
Tamu Tengah Malam


__ADS_3

Julian dan Topan duduk di kafe ditemani pemiliknya, mereka mengobrol santai mengenai makanan dan jumlah pengunjung kafe yang mengalami kenaikan. Live musik yang dibawakan Topan dan Julian rupanya menarik kawula muda untuk bertahan di kafe lebih lama bersama teman-temannya.


“Walaupun baru beberapa hari, aku lihat progres kehadiran penyanyi yang bisa diminta menyanyikan lagu tertentu oleh pengunjung membuat mereka lebih antusias mengajak teman-temannya untuk nongkrong lebih lama,” kata pemilik kafe sambil menganalisa data penjualan.


Julian mengucapkan terima kasih atas pujian secara tidak langsung tersebut. Ia juga meminta maaf atas kejadian tidak mengenakkan di parkiran kafe kemarin malam.


“Saya tidak mungkin bertindak kasar kalau gadis pengunjung kafe ini tidak dilecehkan, saya pikir citra kafe akan menjadi buruk dan tidak terpercaya kalau pengunjung tidak merasa aman ketika berada di area kafe ini.”


“Aku justru setuju kamu berani memberikan pelajaran pada tiga berandalan itu. Mereka meresahkan, dan sudah seharusnya mendapat teguran keras. Sejujurnya aku tidak peduli dengan kondisi mereka yang babak belur,” timpal pemilik kafe yang ditaksir Julian baru berusia 25 tahun.


“Aku jelas lebih peduli dengan gadis itu,” sambung pemilik kafe.


“Gadis itu sepertinya pengunjung setia kafe ini ya, Mas?” tanya Julian.


“Dia itu tetangga di komplek perumahan, bisa dibilang aku lumayan kenal sama kakek neneknya. Dia dibolehin nongkrong di sini karena kakeknya tau kalau kafe ini aman dari miras dan narkoba.”


Pemilik ruko melanjutkan, “Konsep kafe ini memang lebih ke family, jadi sangat bisa dipakai anak sekolah untuk menghabiskan waktu minum kopi sama teman. Saya hadirkan musik live dengan penyanyi muda seusia kalian juga dengan pertimbangan tersebut.”


Topan langsung menyahut cengengesan, “Bisa dikenalin sama kita cewek cantik itu, Mas?”


“Aku malah belum sempat menjelaskan dan minta maaf pada Laila soal keamanan kafe yang lengah mengantar dia sampai parkiran, semoga dia tidak kapok datang kemari. Soal kenalan … kalian usaha sendirilah!” jawab pemilik kafe terkekeh-kekeh.


“Oh namanya Laila, di sini cuma tinggal sama kakek neneknya, Mas?” tanya Julian semakin ingin tahu latar belakang si gadis.


Pemilik kafe menjawab singkat, “Orang tuanya ada di Jakarta.”


“Kayaknya Julian naksir sama Laila, makanya dari tadi tanya-tanya terus,” ledek Topan. “Tapi wajah kamu sama Laila itu emang agak mirip, Jul! Biasanya yang begitu malah jodoh.”

__ADS_1


Julian menyeringai malas pada sahabatnya, “Sialan!”


Obrolan seputar keributan malam yang melibatkan Julian akhirnya berakhir. Dua sahabat itu pulang menaiki angkutan kota. Julian mengajak Topan mampir ke supermarket untuk membelanjakan uang yang diterimanya dari pekerjaan mengurus rumah calon kepala desa.


Siapa sangka di depan supermarket Julian justru bertemu dengan gadis yang dipujanya semasa SMA? Ya, Julian melihat Marsha. Gadis itu bersama pacarnya, Yoga! Mereka baru selesai berbelanja di supermarket yang menjadi tujuan Julian.


“Putri?” sapa Julian lirih. Ia masih belum bisa melupakan gadis yang menjadi cinta pertamanya itu.


Julian tahu menyapa Marsha bukanlah ide bagus, terlebih gadis itu sedang bersama pacarnya. Tapi, Julian tidak bisa menahan diri untuk tidak memanggil nama yang telah terukir indah dalam hatinya.


Marsha menoleh ke arah Julian dengan ekspresi tak terbaca, diikuti oleh Yoga dengan tatapan seperti biasanya, merendahkan!


“Julian?” Marsha menatap lekat teman sekelas yang dulu memujanya seperti princess dari negeri dongeng. “Kamu ngapain di sini?”


“Aku mau beli sesuatu!” jawab Julian sopan dan ramah.


Julian menatap tanpa ekspresi pada pemuda kaya yang sudah memenangkan hati Marsha. Tidak menanggapi sedikitpun ejekan Yoga. Ia justru memberi kode pada Topan untuk segera meninggalkan dua sejoli tersebut.


“Julian yang malang … kamu pasti tidak bisa melanjutkan pendidikan ya? Sayang sekali otakmu kalau hanya didedikasikan untuk menjadi pengamen jalanan!” ucap Yoga memprovokasi keributan.


“Kamu udah daftar kuliah, Julian? Kami mendaftar di salah satu universitas ternama di kota ini.” Marsha berusaha menengahi dengan kalimat yang lebih enak didengar, dengan memberitahu tempat kuliahnya.


Julian tersenyum lembut dan hanya menatap Marsha ketika menjawab, “Aku sedang mengumpulkan uang untuk bisa kuliah di tempat yang sama dengan kalian!”


Yoga terbahak-bahak, menertawakan Julian yang menurutnya tak tahu diri dan tidak berkaca pada kemiskinannya. Walaupun dalam hati ia merasa keki karena Julian mengalami beberapa perubahan mencolok setelah beberapa waktu tidak bertemu.


Julian yang dilihatnya sekarang terlihat lebih keren dengan setelan kasualnya, memiliki pesona sebagai pemuda yang mungkin bakal menarik banyak perhatian gadis. Dan belum pernah seumur hidupnya Yoga merasa insecure dengan pemuda yang menjadi rivalnya. Terlebih Julian tidak memiliki apapun untuk bisa membuat Marsha tertarik padanya.

__ADS_1


Tunggu! Yoga dulu menilai Julian tidak mungkin bisa mencuri perhatian Marsha. Tapi sekarang … Yoga malah melihat kalau kekasihnya menatap Julian lebih lama dari biasanya. Ia bahkan bisa menilai kalau Marsha jauh lebih ramah pada Julian dari sebelumnya.


“Wow … sombong sekali kamu sekarang! Penghasilan sebagai pengamen jalanan emangnya berapa?” sindir Yoga sambil tersenyum penuh ejekan.


Merasa temannya dipermalukan terus-terusan, Topan menyahut sinis, “Kami bukan pengamen jalanan, kami menyanyi di kafe.”


Yoga bertepuk tangan dan tertawa sumbang, “Baru jadi penyanyi kafe saja lagaknya udah kayak superstar! Ayo beb kita pulang, tidak perlu membuang waktu untuk beramah tamah dengan sampah sekolah kita dulu. Sekali sampah ya tetap sampah!”


Marsha menatap lurus ke wajah dan seluruh penampilan Julian, memperhatikan detail perubahan pemuda yang sudah menjadi penggemarnya selama 3 tahun belakangan. Meski tidak menemukan alasan logis, tapi Marsha tetap merasa takjub dengan pemandangan di depannya. Intinya, Julian yang dikenalnya dulu berbeda dengan Julian sekarang.


Entah bagaimana ceritanya Marsha merasa Julian yang sekarang terlihat jauh lebih keren, lebih tampan dan lebih mempesona dibanding Julian semasa SMA. “Aku duluan ya, Julian! Sampai bertemu lagi di universitas!”


Julian mengulas senyum manis dan mengangguk samar, niatnya untuk masuk di universitas yang sama dengan Marsha semakin kuat. “Sampai bertemu lagi, Putri!”


Yoga mendengus, menarik tangan Marsha agar segera menjauhi Julian. Ia merasa pemuda itu membawa bahaya untuk hubungan mereka.


Pertemuan singkat dengan Marsha membuat Julian bersemangat. Ia bahkan tidak bisa tidur hingga larut malam karena otaknya sibuk memikirkan si gadis pujaan. Cinta pertama yang hampir sirna karena perbedaan kasta tumbuh lagi seperti awal mula ia melihat Marsha.


Namun, angan-angan Julian harus bubar karena ada perubahan hawa. Panas dan menyengat kulit. Julian secara reflek mengaktifkan pandangan gaibnya untuk menemukan kejanggalan yang sedang terjadi di sekitarnya.


Dan benar saja, Julian melihat ada selarik cahaya merah mendatangi dirinya. Energi negatif yang datang bersama cahaya merah itu sedang menunggu Julian lengah dan lelap dalam tidur, agar bisa masuk ke dalam tubuh pemuda itu dan menyakiti dari dalam.


Energi negatif itu tersimpan dalam benda berbentuk pusaka, sejenis keris sepanjang jengkal tangan orang dewasa.


Julian menduga kalau santet yang datang padanya tersebut berasal dari tempat yang sama dengan calon kepala desa yang baru saja menggunakan jasanya untuk memagari rumah. Julian mendengus tak percaya, tapi ia siap menyambut tamu tengah malamnya.


***

__ADS_1


__ADS_2