
Julian menolak dituduh sebagai paranormal ilmu hitam. Ia berkata dengan suara keras sambil menahan geram, “Aku bukan dukun ilmu hitam yang bekerja sama dengan setan!”
“Heh bocah, dimana-mana yang namanya maling tidak ada yang mau mengakui perbuatannya! Penuh penjara kalau begitu kejadiannya,” balas salah satu preman dengan raut sinis.
“Tapi aku memang tidak menggunakan ilmu hitam!” pekik Julian murka.
Salah satu preman maju ke hadapan Julian, menunjuk wajah Julian dalam jarak dekat. “Kami tidak peduli kamu memakai ilmu hitam, putih atau merah … tugas kami hanya menutup usaha jasa paranormalmu ini!”
“Alasannya apa?” tanya Julian tak berkedip ketika beradu tatap dengan preman yang menunjuk-nunjuk mukanya.
“Kami tidak mau ada paranormal buka praktek di kampung ini. Dukun ilmu hitam selalu membawa sial karena sering mendatangkan setan, kami tidak mau kampung ini menjadi angker dan berhantu! Masih kurang jelas?”
“Anda memang tidak menjelaskan apapun dari tadi! Hanya menuduh kalau aku adalah dukun ilmu hitam!” ucap Julian kesal.
“Dengar bocah! Kalau kamu tetap keras kepala ingin membuka jasa paranormal di kampung ini, kami tidak akan segan menyakiti ibu panti dan adik-adikmu yang masih kecil-kecil ini.”
Julian berdecak marah, “Tapi salah mereka apa?”
“Mereka tidak bersalah, jadi jangan membuat mereka harus ikut menanggung kesalahanmu. Atau kamu lebih suka kami mengusir keluarga pantimu ini dari kampung heh?” jawab kepala preman arogan.
“Aku tidak merasa melakukan kesalahan apapun, aku juga tidak menyakiti siapapun di kampung ini! Tidak adil kalau kalian mengusir kami yang sudah lama tinggal di sini….” sahut Julian berusaha membela diri.
Bu Rosidah mendekati Julian dan preman yang masih tegang karena adu pendapat. “Julian … ibu sudah setuju agar praktek jasa paranormalmu ditutup, asalkan kita semua selamat dan tidak diusir dari kampung ini!”
Julian hanya diam kecewa, tapi tak membantah apa yang disampaikan ibunya. Ia memutar otak, kalau tempat prakteknya di panti tutup, artinya ia harus buka di tempat lain. Mungkin di kota, tempat yang jauh dari orang-orang kampung yang dengki dengan usahanya.
__ADS_1
Kalau dipikir-pikir, Julian baru satu kali menangani kasus gaib di kampungnya, yaitu warung sembako Bu Anna. Dan hanya Pak Anam yang mengetahui tingkah polahnya ketika memercikkan air doa ke halaman warung Bu Anna.
Bukankah mudah ditebak kalau para preman yang menghajarnya adalah antek bayaran Pak Anam?
Hm, persaingan dalam bisnis perdagangan memang sangat bisa dilakukan dengan cara di bawah tangan. Misalnya menutup usaha lawan dengan buhul santet yang berisi tulang atau tanah kuburan.
Tapi menutup tempat praktek Julian terlalu beresiko jika menggunakan cara dukun. Perang gaib pasti terjadi dan bisa berakibat fatal pada kedua dukun yang terlibat perang. Dan jika dukun yang melawan Julian kalah, maka yang memakai jasa dukun tersebut pasti akan ikut terkena imbasnya.
Bisa jadi penglaris dagang yang sudah ditanam dukun yang kalah perang di lahan pasien ikut menghilang keampuhannya, lebih buruk lagi malah bisa menghancurkan usaha pasiennya tanpa disengaja.
Cara normal menutup praktek dukun bisa dengan pengrusakan, pengancaman dan pengusiran. Hal itu dipercaya lebih bisa meminimalisir resiko. Apalagi jika pengusiran dukun didasari dengan alasan berbasis ilmu hitam. Warga setempat pasti dengan senang hati akan membantu menutup usaha paranormal tersebut.
Setelah para preman pulang dan situasi kembali kondusif, Julian membereskan kekacauan ruang prakteknya dibantu Bu Rosidah. Mengembalikan tata letak ruangan agar bisa digunakan lagi untuk ruang baca.
“Julian … sabar ya, Nak! Ibu tau kamu tidak menggunakan ilmu hitam untuk menolong orang, tapi ibu tidak bisa membantu menyelamatkan usaha praktek yang baru dibuka ini karena beberapa hal. Ibu tidak bisa membiarkan panti ini bubar apalagi membuat adik-adikmu kehilangan tempat tinggal,” kata Bu Rosidah dengan mimik penuh kesedihan.
“Ibu harap, berkah keahlian paranormal yang kamu miliki bisa mengantarkanmu menjadi orang sukses. Istirahatlah sekarang, tubuhmu pasti sakit semua setelah dihajar para preman!”
Julian meyakinkan ibunya kalau tubuhnya tidak terlalu bermasalah karena memiliki ketahanan dan kekuatan paranormal. “Aku baik-baik saja, Bu! Tapi aku memang harus tidur karena besok aku mau pergi mengamen ke stasiun sama Topan!”
Bu Rosidah menepuk bahu Julian penuh sayang sebelum meninggalkan ruangan. “Baiklah, ibu ke kamar dulu kalau begitu.”
Keesokan hari, Julian menghabiskan waktu di salah stasiun kota tanpa hasil maksimal. Tidak ada informasi apapun mengenai ibunya meski ia sudah bertanya pada para penumpang kereta. Uang yang didapatnya dari hasil menyanyi pun tidak banyak, dan sudah diberikan seluruhnya pada Topan.
“Aku sudah memasukkan lamaran kita buat ngisi acara khusus weekend di kafe,” ucap Julian sembari mengajak Topan meninggalkan stasiun.
__ADS_1
Topan menoleh, “Kapan?”
“Semalam, lewat email. Semoga hari ini langsung dapat kabar, katanya mereka butuh cepat!”
“Jadi nanti kita cuma ngamen berdua di kafe?”
“Yep, kalau misal butuh tambahan personil … kita tinggal ambil salah satu teman yang main musiknya lumayan!” jawab Julian santai.
“Sebenarnya aku kurang percaya diri, penampilan kita terlalu dekil untuk nyanyi di kafe!”
Julian menukas, “Kalau kita diterima, kita belanja saja beberapa pakaian sama sepatu buat kelayakan penampilan! Tenang … aku yang bayar!”
Topan terkekeh senang, “Okelah kalau begitu! Jadi kemana kita sekarang?”
“Temani aku cari tempat untuk buka jasa praktek paranormal di kota,” ujar Julian.
“Hah? Kamu mau beli rumah?”
“Kalau beli belum mampu, sementara sewa dulu sampai aku punya uang untuk membeli tempat itu.”
“Banyak banget uang kamu sekarang, Jul? Yakin itu bukan uang dari ngepet tengah malam?”
Julian terbahak-bahak, “Andaikan itu terjadi, aku bakal nyuruh kamu yang jaga lilinnya!”
“Iyalah, mending aku jaga lilin. Masa aku jadi b a b i yang bertugas ngepet kesana kemari? Bisa hancur reputasi aku di depan cewekku, Jul!” sahut Topan dengan ekspresi menyebalkan.
__ADS_1
***