Sistem Kekayaan Paranormal

Sistem Kekayaan Paranormal
Paranormal Level Gold


__ADS_3

[Misi 13 berhasil. Hadiah uang seratus juta rupiah telah dikirim ke rekening Tuan.]


“Gimana rasanya? Apa ada yang berbeda?” tanya Julian pada Topan. “Energi supranaturalku hampir habis untuk membantumu membuka aura!”


Topan meringis, “Entahlah,! Soal perbedaan … aku hanya merasa hangat ketika energimu masuk ke dalam tubuhku.”


Julian menaikkan sebelah alisnya, “Itu prosesnya, Topan! Yang aku tanya apa ada bedanya sebelum dan sesudah dibuka aura?”


“Aku merasa lebih percaya diri dan bahagia,” jawab Topan cengengesan. “Ada hubungannya tidak?”


Dengan ekspresi tak berdaya, Julian mengibaskan tangannya. Topan tak memahami apa yang dimaksud perbedaan atau memang pura-pura bodoh? Julian tak ingin mempermasalahkan hal itu lagi. Ia ingin segera pulang dan beristirahat.


“Aku pulang, Pan! Besok aku kabari lagi kalau sudah ada kepastian dari Laila,” pamit Julian.


Topan melambaikan tangan dengan wajah bahagia, “Hati-hati di jalan, Bro! Terima kasih bantuannya.”


Julian sudah menyelesaikan dua misi dalam waktu berdekatan. Satu sisi ia senang karena kemungkinan besar mendapatkan uang dua ratus juta rupiah, sisi lain sarafnya menjadi terlalu tegang dan perlu diistirahatkan.


Tenaganya memang segera kembali setelah misi selesai, tapi tetap saja … Julian bukanlah robot! Ia masih manusia dan ingin bersikap normal dengan tidur cukup. Toh paranormal bentukan sistem tidak perlu lelaku melekan atau tirakat malam.


“Bagaimana akhir statusku setelah menyelesaikan dua misi, Mbah?”


[Cukup bagus, Tuan!]


“Selain mendapatkan uang, aku mendapatkan apalagi?” tanya Julian. Ia sedang malas membaca statusnya sendiri sehingga memilih bertanya langsung pada sistem pemandunya.


[Tuan sekarang adalah paranormal muda dengan level gold.]


Julian terkejut, “Aku sudah menduganya! Tubuhku merasakan perubahan signifikan.]


[Hal itu disebabkan karena jumlah energi yang tersimpan dalam tubuh semakin banyak, Tuan!]


“Tampilkan statusku jika begitu! Maaf kalau aku akhirnya penasaran hahaha,” kata Julian tergelak kegirangan.


Sistem Kekayaan Paranormal]


[Status]


[Nama : Julian El Sandi]


[Umur : 18 Tahun]


[Level Paranormal : Gold]


[Kekuatan : 50]


[Ketahanan : 43]


[Kepandaian : 48]


[Ketampanan : 78]

__ADS_1


[Pesona : 60]


[Keberuntungan : 40]


[Kemampuan supranatural : 40]


[Kemampuan khusus : Seni bela diri kuno, Seni membuat rajah.]


[Dana : 731 juta]


[Misi 12, 13 : Berhasil]


[Hadiah : Sejumlah uang dan penambahan poin]


[Hadiah misteri : Ajian Semar Mesem, Ajian Bolo Sewu, Ajian Kluntung Wesi, Ajian Asmoro Kuning, Ajian Jolo Emas]


[Hadiah spesial : Kemampuan melihat kegaiban, Kemampuan melihat masa depan.]


[Misi 14 : Belum tersedia]


[Sistem pemandu : Mbah Jambrong]


Julian terkejut, “Ya ampun, hadiah spesial berupa kemampuan melihat masa depan itu tolong diganti, Mbah! Aku tidak mau terganggu dengan lintasan benang takdir orang lain.”


[Tuan tidak akan melihat takdir orang itu jika tidak menyentuh dan meniatkannya! Kemampuan spesial bisa disimpan jika sedang tidak dibutuhkan.]


“Bagaimana dengan seni membuat rajah? Apa ini sejenis kemampuan membuat jimat dengan huruf dan simbol tertentu? Aku pernah membacanya di sebuah artikel dan ada sedikit dibahas pada pelajaran sekolah.”


“Hm … kedengarannya keren sekali, aku harus mencobanya untuk memagari ruko dari keusilan dukun lain. Bisnis apapun tidak akan lepas dari masalah persaingan, iri dan dengki. Benar kan, Mbah?”


[Tuan benar!]


“Tapi aku penasaran dengan buhul berisi pocong yang sengaja ditanam di depan ruko, asalnya dari mana itu, Mbah? Maksudku siapa yang mengirimkannya padaku?”


[Buhul itu berasal dari tempat Tuan membantu memagari rumah calon kepala desa.]


“Oh jadi orang yang terus memperhatikan pekerjaanku itu akhirnya beraksi? Orang kalau punya ilmu hitam emang kadang-kadang … kita tidak bikin kesalahan apa-apa tapi dijadikan target sasaran tanpa alasan!”


Sampai ruko, Julian langsung mempraktekkan ilmu yang baru saja didapatkannya. Ia membuat rajah penangkal santet sesuai dengan pengetahuan yang diinstall sistem ke dalam otaknya.


Julian memilih tokoh bergambar semar untuk membuat rajahnya. Butuh waktu sekitar dua jam mempersiapkan rajah tersebut. Julian lalu menempel gambar semar berisi huruf dan simbol-simbol magis itu di atas pintu masuk. Ia pergi tidur setelah semua pekerjaannya selesai.


Keesokan hari, Julian baru saja menyesap kopi susu paginya ketika mendapatkan pasien mengeluhkan sakit kepala hebat. Pekerjaan itu dimasukkan oleh sistem sebagai misi ke-15.


Ketika menangani pasien, Julian tidak memakai media aneh-aneh karena energi supranaturalnya bisa dialirkan ke benda mati atau sesuatu yang bisa dikonsumsi pasiennya. Kali ini, Julian pun hanya memberikan air minum pada pasiennya. Hasilnya, pemuda yang menjadi tamunya itu justru menggelepar dan terus berusaha membenturkan kepalanya ke lantai.


Beruntung Julian sigap dalam menghentikan aksi pemuda yang hendak bunuh diri karena tak tahan dengan rasa sakit di kepalanya. Julian mengunci pergerakan si pemuda dan mengalirkan energi spiritual lebih besar melalui tengkuk si pemuda.


Setelah beberapa saat, si pemuda mengerang dan menjerit-jerit kesakitan. Bersamaan dengan itu, sebuah keris kecil sepanjang jari kelingking, berkepala buaya, keluar dari kepalanya, jatuh berdenting di lantai. Julian mengamankan benda mistis tersebut untuk menambah koleksi souvenirnya.


Selang satu jam, Julian mendapatkan tamu lagi. Pasien kedua adalah seorang wanita yang mengeluhkan bayinya selalu menangis setiap malam.

__ADS_1


“Pokoknya kalau sudah malam anak ini seperti orang ketakutan, Mas! Nangis terus dan sama sekali tidak mau turun dari gendongan. Bahu saya rasanya mau lepas karena harus menimang sepanjang malam! Tolong saya dibantu diberikan jimat atau apa yang bisa menenangkan anak ini kalau malam,” pinta si ibu dengan ekspresi lelah dan memelas.


Sebelum menangani si ibu, Julian berkonsultasi pada Mbah Jambrong. Ia lalu membuat rajah pada kertas, menggulung dan membungkusnya dengan plastik kecil. “Gunakan ini sebagai kalung atau gelang, ikat saja dengan benang besar agar tidak menyakiti kulit.”


“Baik, Mas!” kata si ibu lega. “Apa ada hal lain yang harus saya lakukan?”


“Jangan biarkan bayi ini ada diluar rumah saat surup!” jawab Julian singkat.


Julian juga mengusapkan air berenergi supranatural ke wajah, telapak tangan dan telapak kaki si bayi untuk menetralkan energi negatif dalam tubuh. “Semoga setelah ini bayinya tidak lagi melihat penampakan-penampakan aneh, jadi bisa tidur dengan tenang.”


Setelah pasiennya pulang, Julian keluar untuk membeli camilan. Menunggu pasien berikutnya ternyata memakan waktu seharian. Julian tampak bosan hingga mondar mandir tak jelas dalam ruang prakteknya.


Dari kedua pasien yang datang hari itu, Julian mendapatkan uang pembayaran jasa sebesar tiga ratus ribu rupiah. Nominal yang sangat lumayan jika dibandingkan dengan penghasilan pengamen jalanan.


Ternyata menjadi paranormal lebih mudah mendapatkan uang dari pada pekerjaan lainnya. Bisa dibilang ini tak jauh beda dengan profesi dokter, hanya saja pasienku berpenyakit non medis.


“Mbah, kenapa usaha praktek paranormalku sepi sekali? Seharian aku cuma dapat dua pasien loh ini?” tanya Julian dengan ekspresi kesal. “Masa iya bikin penglaris untuk usaha orang bisa tapi usaha sendiri malah sepi? Mana bisa dipercaya orang kalau begini, Mbah?”


[Sistem masih membatasi misi untuk paranormal level gold. Sistem tidak bisa sembarangan menerima pasien yang datang demi melindungi tuan rumahnya.]


“Bilang dong dari tadi kalau aku memang dijatah dua pasien perhari! Mbah tidak kasihan aku menunggu tanpa mengeluh selama berjam-jam agar terlihat profesional?”


[Tuan harus melatih kesabaran jadi aku tidak perlu merasa kasihan!]


Julian hampir mengumpati sistemnya. Ia lalu bertanya soal pembayaran misi untuk mengalihkan emosi. “Aku dapat uang berapa hari ini dari sistem, Mbah? Soalnya aku ingin membeli kendaraan … setidaknya motor biar tidak tergantung dengan ojol terus. Mau beli mobil sekarang juga percuma, aku kan belum bisa menyetir.”


[Tuan mendapatkan tambahan uang sebesar empat ratus juta rupiah. Sebaiknya Tuan mulai kursus menyetir, karena sebentar lagi kendaraan tuan adalah mobil mewah! Sebagai paranormal muda, Tuan harus terlihat keren dan kaya ketika pergi ke kampus, berkegiatan atau mengunjungi pasien!]


Julian terbahak-bahak, sistem melucu terlalu berlebihan padanya. Membuat Julian membayangkan memiliki mobil sport dari penghasilannya sendiri.


Dengan penghasilan empat ratus juta perhari, bukan tidak mungkin aku bisa membeli ferrari 488 spider seharga 10 Miliar hanya dalam waktu satu bulan! Dengan demikian, tidak akan ada lagi yang berani memanggil Julian dengan sebutan si dekil atau sampah berotak!


“Ya sudah aku tutup lebih sore saja hari ini. Aku ada janji sama Topan mau ke rumah Laila nanti malam, memastikan lokasi untuk acara ulang tahun gadis itu!” ujar Julian sambil memainkan ponselnya. Ia memesan satu unit moge via telepon dan segera menyelesaikan pembayaran.


Malam hari, Julian dan Topan memenuhi undangan Laila untuk melihat lokasi yang akan digunakan untuk pesta perayaan ulang tahun menggunakan moge baru. Beruntung mereka segera bertemu Laila sehingga Topan tidak ada waktu untuk membahas kendaraan Julian.


“Gimana, tempatnya memadai tidak? Nanti panggung kecil untuk Kak Julian dan teman-teman nyanyi ada disebelah sana!” tunjuk Laila ke sudut ruangan besar tersebut.


“Sip, cocoklah untuk pesta anak muda!” kata Julian. Jujur ia tidak pernah hadir dalam pesta apapun. Julian mengatakan itu sambil membayangkan acara pesta di film yang pernah dilihatnya. “Oh ya Laila … apa aku boleh menumpang kamar mandi?”


“Ada di ujung belakang ruangan ini, sebelah ruang keluarga!” kata Laila.


Setelah buang hajat, Julian tidak segera kembali ke tempat Topan dan Laila berada. Ia justru menyusuri ruang keluarga kediaman Laila. Bukan bermaksud tidak sopan atau ada niat lain, Julian melakukannya itu murni untuk mendapatkan jawaban dari banyaknya pertanyaan tentang latar belakang keluarga Laila.


Namun, Julian dikejutkan oleh pelayan rumah ketika sedang mengamati foto keluarga besar Laila. Dalam bingkai besar yang terpampang di ruang keluarga, ada wajah tak asing yang dikenal Julian karena mirip sekali dengan pas foto hitam putih miliknya. Hanya saja, dalam foto keluarga Laila, wajah itu terlihat lebih tua sepuluh tahun.


“Ada apa, Mas? Ruang untuk pesta ulang tahun Non Laila ada di sebelah sana,” kata pelayan rumah sopan, seraya menunjuk arah Julian seharusnya berada. Tapi Julian tidak sedang tersesat, ia sedang berlagak menjadi detektif yang melakukan penyelidikan.


“Wanita dalam foto yang mirip Laila itu siapa, Mbok? Mamanya Laila?”


“Iya, Mas. Itu mama sama papanya Non Laila. Mas sudah tau kan kalau orang tua Non Laila ada di Jakarta? Kalau tidak ada kesibukan, mereka mungkin datang nanti pas ulang tahun Non Laila,” jawab pelayan rumah, memberikan informasi yang ditunggu-tunggu Julian.

__ADS_1


***


__ADS_2