
Dua hari berikutnya, panti asuhan Bina Kasih dikosongkan. Plakat bertuliskan rumah dijual terpampang di pagar yang mulai usang dan karatan. Julian sudah memindahkan keluarga pantinya ke rumah baru yang lebih besar dan layak. Lokasi ada di pinggiran kota.
Julian sengaja memilih tempat itu karena memiliki lahan pekarangan yang cukup luas untuk menanam bunga dan sayuran sebagai kegiatan rumahan. Di samping itu, harga rumah yang didapatkan Julian dari rekomendasi pemilik kafe tempatnya menyanyi terbilang murah.
Bu Rosidah adalah orang yang paling merasa bangga dan bahagia dengan pencapaian Julian. Siapa sangka bayi laki-laki yang dirawat dengan kedua tangannya itu membawa keberuntungan untuk panti yang dikelolanya sejak dua puluh tahun lalu?
Di saat usianya yang mulai senja dan tak mampu mengelola panti seperti dulu, Julian sudah mandiri. Bahkan, putra kesayangannya menyediakan pegawai khusus untuk mengelola kelangsungan panti asuhan di tempat baru.
Bukan hanya pegawai administrasi untuk membantu ibunya, Julian juga mempekerjakan dua asisten rumah tangga, memanggil guru agama, guru bahasa inggris, juga guru keterampilan dan kesenian untuk memberikan pendidikan tambahan kepada adik-adiknya yang berjumlah dua puluh lima orang.
Hari ini, Julian mengadakan acara selamatan sebagai wujud syukur kepindahan panti ke tempat yang jauh lebih baik. Julian ingin ibu dan adik-adiknya bisa melupakan kejadian mengerikan di tempat lama dengan suasana baru.
Disaksikan ketua RT dan pengurus desa setempat, rumah panti asuhan Bina Kasih yang baru kembali diresmikan. Lantunan doa dan pembacaan ayat suci diikuti dengan khidmat. Bu Rosidah sampai menitikkan air mata saking bahagianya, melihat anak-anaknya kembali tertawa, sehat dan ceria. Julian benar-benar datang di saat yang tepat ketika menyelamatkan tujuh adiknya.
Pak Anam dikabarkan tewas mengenaskan sehari setelah Mbah Priyo mengembalikan tenung pesanannya. Ya, santet Pati Pitu adalah ilmu hitam dengan perjanjian kontrak mati, ia harus menjemput nyawa untuk menyudahi perjanjian.
__ADS_1
Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, Julian memagari panti yang baru pindah lokasi dengan kubah pelindung berbentuk piramida berwarna keemasan. Kekuatan pagar gaibnya tidak akan mudah ditembus karena dibuat dengan energi supranatural super paranormal. Ia tak ingin kejadian yang sama terulang. Apalagi Julian tidak tinggal di tempat itu. Ia harus meninggalkan adik-adiknya untuk melanjutkan kuliah.
"Aku berangkat, Bu! Ada job nyanyi di acara ulang tahun teman. Aku nanti langsung pulang ke ruko, tidak mampir lagi." Julian berpamitan usai acara selamatan di panti berakhir.
Acara ulang tahun Laila tidak jadi dirayakan di rumah kakeknya, tapi diadakan di cafe tempat Julian bekerja. Laila sudah berulang kali mengirimkan pesan singkat dan juga gambar untuk memastikan Julian datang menghadiri pestanya.
Julian tersenyum masam saat mendapati sosok wanita cantik yang mendampingi Laila disalah satu foto yang dikirimkan padanya. Sang artis tampil anggun dan sangat elegan sebagai orang kaya.
Julian memperbesar foto itu untuk memastikan penglihatannya sekali lagi. Ia pun bergumam sendiri, "Wanita ini terlalu mirip dengan ibu."
Jauh di dasar hati Julian, ia sangat meyakini kalau Thalia ada ibu yang telah membuangnya ke panti Bina Kasih delapan belas tahun lalu.
Julian menatap ponselnya lagi lalu berdecak, "Oke! Laila juga sudah berkali-kali mengingatkan agar kita segera datang."
Ekor mata topan melirik ke arah ponsel Julian. "Itu mamanya Laila yang bintang sinetron itu kan? Mirip banget ya sama pas foto di dompet kamu, eh … tunggu bentar!"
__ADS_1
"Kenapa lagi?"
Topan mengambil ponsel Julian lalu memperbesar foto Thalia, keningnya mengerut seperti berpikir berat. Topan memiringkan wajah Julian, "Kalau dilihat dari samping begini, dia mirip banget sama kamu. Terutama dahi sama lekuk bibir, kalau hidung mungkin hasil operasi, makanya mancung sempurna."
"Sudah?" tanya Julian malas.
"Sebentar!" Topan dengan isengnya menjajarkan layar ponsel dengan wajah Julian. "Amat sangat mirip sekali! Jangan-jangan kamu memang ada apa-apanya sama artis ini?!"
Julian berdecak, mengambil kembali ponselnya, "Nggak usah ngawur, Pan! Mana mungkin aku mirip sama artis sinetron? Di dunia ini banyak orang yang kembar atau mirip satu sama lain. Mereka tersebar di berbagai belahan dunia!"
"Tumben bijak!" ledek Topan.
"Makanya aku juga mirip sama Laila!" Julian berkata getir saat mengulang ucapan Thalia tempo hari mengenai kembaran manusia.
"Iya juga sih, mana mungkin kalian ada hubungan. Kalian kayak bumi dan langit, beda kasta, beda keberuntungan! Eh, tapi beneran mirip loh Jul! Aku serius."
__ADS_1
"Huh, berisik! Ayo cabut nanti telat!"
***