
Bu Rosidah tersenyum, "Apa sebenarnya yang ingin Bu Thalia sampaikan?"
Thalia menghirup udara untuk memenuhi paru-parunya lebih dulu sebelum bicara, "Delapan belas tahun lalu, saya melakukan kesalahan fatal. Kesalahan terbesar dan terbodoh yang pernah saya lakukan sepanjang hidup."
Bu Rosidah mengangguk tanpa menyela.
"Mungkin ini sudah sangat terlambat, tapi setidaknya … saya masih punya kesempatan untuk melihat Julian. Dia putraku. Saya mohon maaf jika selama delapan belas tahun ini menjadi ibu yang tidak berguna bagi Julian, saya justru merepotkan ibu dalam masa emasnya." Thalia kembali berhenti bicara karena tak kuasa menahan tangis dan rasa bersalah.
"Saya dan ayah Julian yang bernama El Sandi tidak mendapatkan restu dari kedua orang tua ketika menjalin hubungan cinta. Padahal saya sudah hamil Julian kala itu."
Thalia mengusap air mata sebelum melanjutkan bicara, "Saya kalut, bingung dan marah pada saat itu. Ditambah ayah Julian meninggalkan saya setelah tidak mendapat restu. Saya yang baru merintis karir di dunia entertainment benar-benar tidak bisa berpikir. Waktu itu, manager saya menyarankan agar saya menggugurkan kandungan. Tapi saya tidak berani dan tidak ingin menumpuk dosa dengan dosa lain. Jadi, saya putuskan untuk tetap mempertahankan bayi Julian dalam kandungan. Dengan alasan mengambil rehat syuting, saya bersembunyi di apartemen sampai Julian lahir."
Hening sejenak. Bu Rosidah masih menunggu pengakuan wanita cantik yang wajahnya sudah basah oleh air mata.
"Jujur saya tak tega dan sangat sedih ketika melepas Julian, tapi ego saya … karir saya yang terjeda tidak bisa saya tinggalkan. Saya meminta Mbok Inah menitipkan Julian di panti asuhan. Sesuatu yang pada akhirnya sangat saya sesali."
"Lalu kenapa baru sekarang ibu datang kesini, setelah delapan belas tahun tanpa kabar?" tanya Bu Rosidah lembut, berusaha memahami posisi Thalia waktu itu.
"Saya menikah dengan pengusaha, Bu! Suami saya taunya saya masih gadis. Jadi … saya tidak bercerita kalau saya memiliki Julian! Saya berusaha melupakan masa lalu dengan mengawali hidup baru dengan suami. Hingga akhirnya saya malah ketemu Julian di rumah saya sendiri di Jakarta. Tanpa sengaja. Saya sama sekali tidak tau kalau Julian datang untuk mencari ibunya."
Airmata Thalia kembali mengalir, ia berhenti bicara untuk mengatur nafas. "Saya terkejut saat foto lama saya ditunjukkan Julian. Saya tidak menyangka kalau Julian ternyata merindukan ibunya. Saya merasa sangat berdosa. Ibu tahu, waktu Julian menunjukkan foto itu, ingin rasanya saya langsung memeluknya. Tapi saya tidak mampu, saya justru mengusirnya."
"Kenapa bisa begitu? Alasannya apa ibu tidak mau mengakui foto itu adalah ibu?"
"Saya … tidak ingin suami saya tahu kalau saya punya anak sebelum menikah sama dia. Saya takut dia akan meninggalkan saya dan Laila. Walaupun pada akhirnya … suami saya memang pergi untuk selamanya."
Bu Rosidah menarik nafas panjang, "Saya ikut berduka untuk suami ibu!"
__ADS_1
Mbok Inah menguatkan Thalia dengan mengusap bahunya, sementara Bu Rosidah menatap Thalia dengan mata mengembun. Ia bahagia karena pada akhirnya harapan Julian terkabul. Seorang wanita telah datang dan mengakui keberadaan putranya, yaitu Julian.
"Apa Julian bisa menerima saya sebagai ibunya, Bu? Saya … sudah berlaku tak adil pada Julian! Saya ingin menebus semua kesalahan itu sekarang."
Bu Rosidah berbicara lembut, "Saya tidak bisa menjawab, Bu! Saya berusaha memahami kondisi ibu dan juga Julian. Takdir memang aneh, terkadang berjalan tidak sesuai dengan kemauan. Tapi saya yakin, bahwa apa yang sudah terjadi di masa lalu adalah kisah terbaik yang dipilihkan Tuhan untuk untuk ibu dan Julian. Saya akan memanggil Julian. Ibu bisa bicara langsung padanya."
Bu Rosidah berjalan ke pintu yang menghubungkan ruang tamu dan ruang lain, tapi betapa terkejutnya ia saat mendapati Julian sudah berdiri di sana. "Julian? Kamu disini, sejak kapan?"
Julian tersenyum pada Bu Rosidah, "Cukup lama untuk mendengar semuanya, Ibu."
Thalia berdiri dan menguatkan hatinya, ia harus bersiap jika Julian menolak dirinya. Bukan tidak mungkin Julian akan memaki dan menghinanya karena telah menelantarkan bayi tak bersalah di sebuah panti asuhan kecil yang jauh dari kata mewah.
Inikah akhir dari perbuatanku Tuhan? Aku telah membuang putraku, dan mengabaikannya selama delapan belas tahun. Aku menyakiti Julian dengan tidak mengakuinya sebagai anak. Aku mengusirnya. Aku menyakiti hatinya. Jika Julian tidak mau menerimaku sebagai ibunya, aku hanya bisa pasrah….
"Julian, mamanya Laila ingin bertemu denganmu!" ucap Bu Rosidah canggung.
Julian mendekati ibunya dengan seulas senyum tipis. "Bu Thalia?"
"Julian, ibu … menyesal," ujar Thalia, wajahnya kembali basah karena banjir air mata.
Julian tak menjawab, ia langsung memeluk ibu kandungnya dengan penuh haru. Mengesampingkan semua rasa kecewa dalam hatinya. Akhirnya setelah delapan belas tahun, ia bisa menumpahkan kerinduan pada ibu kandungnya.
"Maafkan ibu, Julian!" Thalia mendekap erat Julian, menciumnya berkali kali dengan air mata bercucuran.
"Aku sudah memaafkan ibu, sejak ibu mengakui kesalahan yang ibu lakukan. Maaf kalau aku menguping pembicaraan!"
Thalia tak menyangka Julian akan menerimanya sebagai ibu dengan mudah, tak seperti yang ia bayangkan. "Kamu pasti melalui masa sulit, Julian. Sekali lagi maafkan ibumu yang kejam ini!"
__ADS_1
Julian menggeleng, ia meraih tangan Thalia dan menciumnya sebagai anak. "Kita berdua melalui masa yang sulit, Bu! Aku yakin selama delapan belas tahun ibu juga dihantui rasa bersalah."
Thalia kembali memeluk putranya penuh haru. Keduanya baru melepaskan pelukan saat suara Laila terdengar menyapa. "Jadi Kak Julian ini kakaknya Laila yang kata mama hilang?"
"Laila," panggil Thalia lirih.
Laila menangis dan menghambur memeluk mamanya, "Kenapa Kak Julian yang jadi kakaknya Laila, Ma?"
Tangisan Laila membuat Julian tergelak. "Kenapa memangnya kalau aku kakakmu? Kamu nyesel punya kakak ganteng seperti ini?"
"Bukan gitu, Kak!" jawab Laila muram.
"Jadi kenapa kamu nangis?"
"Aku hampir suka sama kakak," jawab Laila mengusap air mata. "Untung saja mama melarang. Kata mama aku lebih cocok jadi adiknya kakak!"
"Sayangnya, kamu memang adikku!" Julian terkekeh sembari merangkul Laila. Dari awal ia tidak menaruh perasaan apapun pada Laila. Gadis belia itu memang cantik dan welcome padanya, tapi naluri Julian mengatakan kalau ia dan Laila memiliki hubungan yang belum diketahui waktu itu.
Dan ternyata dugaannya benar, wajah Laila yang mirip seperti foto lawas miliknya sudah menjelaskan semuanya sekarang. Mereka kakak beradik satu ibu.
"Sebel, ih!" ujar Laila bersungut-sungut. Alasan mamanya tak setuju ia berhubungan dengan Julian ternyata bukan karena pemuda itu hanya seorang penyanyi kafe yang miskin. Tapi karena Julian adalah kakaknya.
Kesedihan segera saja berganti dengan kebahagiaan. Keluarga kecil itu bercengkrama di ruang tamu dengan tawa ditemani Bu Rosidah dan asisten rumah tangga Thalia.
Julian sadar betul kalau apa yang terjadi dalam hidupnya akhir-akhir ini tak lepas dari sistem yang menyatu dalam tubuhnya. Dalam hati ia berterima kasih pada Mbah Jambrong dan semua kekayaan yang diberikan padanya. Karena ia berencana membeli rumah mewah untuk ditempati bersama ibu dan adiknya.
"Ma, apa aku boleh bertemu papa?" tanya Julian pada ibunya. Canggung karena sang artis memaksanya memanggil mama, seperti Laila.
__ADS_1
***