Sistem Kekayaan Paranormal

Sistem Kekayaan Paranormal
Rahasia Sang Artis 2


__ADS_3

"Mbok Inah!"


Wanita tua berusia lima puluh tahun yang sedang sibuk di dapur itu menoleh, terkejut saat Thalia menarik tangannya. "Ada apa, Bu?"


"Ikut aku sebentar! Penting!" Thalia berbisik agar tak ada yang mendengar. Beruntung suaminya sedang mandi di kamar utama, di lantai atas.


Mbok Inah menurut tanpa banyak bicara. Thalia membawa asisten rumah tangganya ke ruangan ganti yang terletak di pinggir kolam renang.


"Ada apa Bu?" tanya Mbok Inah bingung.


Thalia celingukan melihat situasi, lalu menarik masuk Mbok Inah dan menutup pintu ruangan.


"Mbok, kamu masih ingat malam itu?" Thalia memberi jeda untuk bernafas, untuk dirinya sendiri. Ia memenuhi paru-parunya dengan udara sebelum kembali ke masa lalu. Masa terkelam dalam hidupnya, delapan belas tahun lalu.


"Mbok Inah bawa anak itu kemana? Maksudku bayi yang aku lahirkan di apartemen tanpa sepengetahuan ayah ibu?"


"Den Julian?" tanya Mbok Inah.


"Ssst, jangan keras-keras!" Thalia memberi kode dengan telunjuk di depan bibir, lalu mengangguk.


"Sesuai perintah ibu, saya bawa ke panti asuhan. Saya pilih panti Bina Kasih karena aman dari penglihatan orang. Saya taruh Den Julian persis di depan pintu panti, lengkap dengan nama dan cincin yang ibu kasih."


"Kenapa ada fotoku di panti Bina Kasih?"


Mbok Inah menunduk, "Maafkan saya, Bu! Saya pikir Den Julian berhak tau siapa orang tuanya ketika ia dewasa. Saya mengambil pas foto ibu dan meletakkannya di keranjang bayi itu!"

__ADS_1


"Kamu menyulitkan saya, Mbok! Kamu yakin anak itu selama ini dirawat di panti? Bukan diadopsi orang?"


Mbok Inah menjawab dengan nada bersalah, "Yakin, Bu! Saya mengawasi Den Julian selama ini. Sesekali datang ke panti sebagai donatur kalau kita pulang ke Jogja. Saya benar-benar minta maaf karena menyembunyikan hal ini dari ibu. Tapi saya tidak sekalipun pernah menemui Den Julian. Saya ke panti hanya bertemu Bu Rosidah. Ada apa sebenarnya, Bu? Kenapa tiba-tiba menanyakan Den Julian?"


Thalia menggigit ujung jarinya, wajahnya pucat dan lututnya mulai gemetar. Dugaannya ternyata benar, pemuda tampan yang mengaku teman Laila tadi bisa dipastikan putranya sendiri.


Kedua mata Thalia mengembun. Ia meneteskan air mata. Mbok Inah baru saja menjawab kenapa hatinya berdebar ketika melihat Julian untuk pertama kalinya? Mata Julian mengingatkannya pada seseorang yang dulu sangat dekat dengannya.


Seorang ibu tidak pernah salah mengenali anaknya. Hanya saja, keadaan tidak memungkinkan bagi Thalia untuk mengakui Julian sebagai anak. Tidak sekarang. Ia tidak mungkin bisa menjelaskan pada suaminya soal Julian.


Pria yang menikahinya tujuh belas tahun lalu itu tidak pernah tahu kalau ia memiliki anak. Statusnya pun masih gadis kala itu. Ia mendapatkan anak karena kecelakaan dan ia terpaksa membuang Julian karena pria yang menghamilinya tidak mau bertanggung jawab.


Thalia mengusap air mata yang meluber kemana-mana. Ia senang putranya tumbuh dewasa dengan sangat baik. Tapi ia juga sedih karena tidak bisa mengakui Julian sebagai anaknya. Dan entah sampai kapan ia akan menyimpan rahasia itu.


"Bu, apa ada kabar tentang Den Julian? Kenapa ibu malah menangis? Saya minta maaf, Bu!" Mbok Inah menekuk kakinya untuk bersujud di hadapan Thalia yang sedang kalut.


"Apa Den Julian baik-baik saja? Bagaimana dia bisa sampai Jakarta, Bu?"


Thalia menjawab dengan suara parau, "Julian sudah dewasa, Mbok! Sehat dan sangat tampan. Dia memiliki mata ayahnya, wajahnya pun sangat mirip. Aku langsung mengenalinya saat itu juga! Dia berteman dengan Laila di Jogja. Rahasiakan ini dari siapapun ya, Mbok! Laila juga tidak boleh tahu! Aku akan memindahkan sekolah Laila di sini saja biar mereka berdua putus pertemanan!"


Mbok Inah mengangguk, "Baik, Bu!"


"Julian tadi datang kesini, dia bertanya padaku tentang wanita dalam foto itu." Air mata Thalia kembali menetes, dadanya sesak karena harus berbohong pada anaknya.


"Den Julian kesini?" Mbok Inah bertanya dengan tatapan tak percaya.

__ADS_1


"Takdir mempertemukan Laila dengan Julian di Jogja. Julian menyelamatkan adiknya dari pemuda mabuk di kafe. Putraku itu ke Jakarta karena ikut audisi menyanyi, Mbok! Dia mampir ke rumah ini atas permintaan Laila. Aku terpaksa mengusirnya karena ayah Laila pulang dari kantor. Andai aku bisa memeluknya!"


"Kenapa ibu tidak bicara jujur saja tadi?"


"Aku butuh waktu untuk menyiapkan mental. Mengaku kalau aku adalah ibu yang tidak bertanggung jawab padanya bukan perkara mudah, Mbok!" Keduanya saling menatap, "Aku menelantarkan Julian selama delapan belas tahun, apa dia bisa memaafkanku? Aku memiliki suami yang tidak tahu keberadaan Julian!"


Mbok Inah mengangguk mengerti, "Saya mengerti posisi ibu! Saya yang menyulitkan ibu! Semua gara-gara foto itu."


"Aku menahan diri saat Julian menunjukkan foto itu, Mbok! Aku memilih melukai hatinya dengan berkata kalau foto itu hanya mirip aku. Aku wanita paling egois dan jahat, persis seperti yang dikatakan Laila. Aku melihat dengan jelas kekecewaan di wajah Julian, tapi aku hanya diam dan berpura-pura tak tahu!" Thalia kembali sesenggukan, tak kuasa menahan tangis kepedihan.


"Bu, saya ikut prihatin!" Mbok Inah mengusap punggung Thalia, memberikan dukungan. "Den Julian hanya belum beruntung!"


"Julian lahir di waktu yang salah, Mbok! Dan dia datang ke rumah ini saat situasiku sudah begini. Semua serba tidak tepat." Thalia mengusap air matanya dan kembali menarik nafas panjang. "Aku tidak mau ayah Laila tahu masalah ini, aku percaya Mbok Inah bisa jaga rahasia ini lebih lama lagi!"


Suara laki-laki terdengar memanggil Mbok Inah di area kolam renang, "Mbok … Mbok Inah?"


Mbok Inah keluar ruangan diikuti majikannya, berjalan mendekati pria yang bekerja sebagai security di rumah itu. "Ada apa, Sam?"


Samhadi langsung melaporkan masalah pada majikannya, "Bu, gawat! Non Laila bilang mau pulang ke Jogja sekarang! Dia maksa keluar rumah tanpa pengawalan!"


"Apa?! Anak itu … keras kepala! Apa dia sudah berangkat?"


"Sudah, Bu! Baru saja diantar ke bandara sama sopirnya. Saya tidak bisa mencegah karena diancam akan dipecat!"


Dada Thalia seketika sesak. Air matanya kembali luruh mengikuti gravitasi bumi.

__ADS_1


***


__ADS_2