Sistem Kekayaan Paranormal

Sistem Kekayaan Paranormal
Paranormal Dilawan!


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju ruko, Julian mengintip status terbarunya.


Sistem Kekayaan Paranormal]


[Status]


[Nama : Julian El Sandi]


[Umur : 18 Tahun]


[Level Paranormal : Silver]


[Kekuatan : 43]


[Ketahanan : 37]


[Kepandaian : 44]


[Ketampanan : 76]


[Pesona : 55]


[Keberuntungan : 33]


[Kemampuan supranatural : 34]


[Kemampuan khusus : Seni bela diri kuno]


[Dana : 531 juta]


[Misi 11 : Berhasil]


[Hadiah : Sejumlah uang dan penambahan poin]


[Hadiah misteri : Ajian Semar Mesem, Ajian Bolo Sewu, Ajian Kluntung Wesi, Ajian Asmoro Kuning, Ajian Jolo Emas]


[Hadiah spesial : Kemampuan melihat kegaiban]


[Misi 12 : Belum tersedia]


[Sistem pemandu : Mbah Jambrong]


“Sepertinya aku hanya mendapatkan uang dan penambahan poin status ya, Mbah?”


[Benar, Tuan!]


“Ya sudah kalau begitu. Tidak masalah tidak mendapatkan ajian atau kemampuan aneh-aneh. Yang terpenting adalah uang, uang dan uang hahaha,” ujar Julian bahagia.


Sayang, kebahagiaan dan tawa Julian tidak bertahan lama. Ia harus mengernyit ketika sampai depan tempat prakteknya.


“Sial! Kalau begini ceritanya bisa-bisa tidak akan ada pasien yang mampir. Lagian siapa sih dukun yang kurang kerjaan bikin ulah menutup jalan rezeki orang?” gerutu Julian.


Hanya dalam waktu beberapa jam saja hawa panas sangat terasa di area ruko kontrakan Julian. Kulit Julian bahkan tak berhenti merinding karena bersinggungan dengan batas mistis antara manusia dan makhluk gaib.


Julian mengaktifkan pandangan gaib untuk memastikan dugaannya. Dan benar saja, pocong-pocong melompat kesana kemari di depan ruko untuk menghalau orang datang. Menutup mata calon pasien Julian agar tidak melihat tempat praktek tersebut. Menjegal rezeki Julian dengan cara kotor ala dukun ilmu hitam.

__ADS_1


Namun, Julian bukan pemuda yang siap mental melihat kegaiban jenis itu. Terlebih wajah pocong yang menampakkan diri tepat di hadapannya bermuka hitam, hancur dan sangat mengerikan. Hal itu membuat Julian lari tunggang langgang masuk ke dalam kamarnya untuk mengatur nafas dan degup jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat.


“Ya ampun, Mbah! Kenapa wajah pocong itu sangat buruk? Jauh lebih buruk daripada jin, danyang dan khodam yang sudah aku lihat. Gimana ini, Mbah? Kakiku gemetar! Eh sebentar … aku mau pipis dulu, Mbah! Sial, sial, sial!”


Julian masuk kamar mandi sembari menoleh ke kanan kiri, ia bahkan menyempatkan diri untuk melirik cermin. Siapa yang tahu kalau ada pocong yang mengikuti pelariannya ke dalam kamar? Kadang-kadang, teror hantu juga terjadi melalui cermin kamar mandi, heh!


Hm, Julian sepertinya terlalu banyak menonton film horor. Karena faktanya, pocong yang berkeliaran di depan tempat prakteknya tidak satupun yang berani terlalu menempel dengannya.


Sebagai paranormal tingkat rendah, Julian memiliki energi, ajian dan keahlian untuk mendukung profesinya, meskipun semua itu belum maksimal. Tapi, aura dukun yang dipancarkan Julian sudah bisa menakuti makhluk gaib, terutama yang ada dalam jajaran kasta bawah.


[Apakah Tuan masih merasa takut?]


Julian memaki-maki sendiri karena kaget mendengar suara pemandu sistem dalam kepalanya. Hal itu terjadi karena Julian terlalu tegang dan terbawa suasana senyap menyeramkan. Padahal hari masih sore, matahari baru saja terbenam setengah jam yang lalu.


“Mbah, bagaimana cara mengusir pocong-pocong itu? Apa aku perlu memanggil danyang desa lagi?”


[Tidak, temukan saja buhulnya! Setelah itu hancurkan mantra hitam yang melekat pada buhul dan bakar bendanya! Bolo sewu bisa Tuan gunakan untuk menyingkirkan pocong-pocong itu.]


“Kenapa buhulnya harus dibakar, Mbah? Tidak bisa dibuang atau dikubur saja?”


[Buhul yang masih utuh dan dibuang sembarangan bisa dipanggil lagi oleh pemiliknya untuk diisi ulang. Tidak direkomendasikan untuk dikubur karena menimbulkan hawa tidak enak di tempat yang ditinggali orang. Lagi pula bumi kadang tidak mau menerima sesuatu yang berenergi sangat jahat, Tuan!]


“Tapi aku tidak sanggup menatap mereka lama-lama, Mbah! Aku tidak mungkin berani mencari buhul santet yang ditanam di depan ruko di bawah tatapan pocong! Iya kalau mereka tidak iseng menggodaku!”


[Tuan harus bisa melawan rasa takut! Pocong bukanlah satu-satunya makhluk gaib yang berwajah paling mengerikan. Masih banyak makhluk sejenis yang memiliki tingkat buruk rupa di atas pocong. Aku akan memasukkan pekerjaan ini dalam misi agar Tuan memiliki motivasi melawan rasa takut.]


“Bagaimana jika aku menolak atau tidak bisa menyelesaikan misi, Mbah?” tanya Julian was-was. Menurutnya pemandu sistem sedang berbuat curang karena memasukkan kelemahannya ke dalam misi.


Seribu tentara jin dan danyang yang dipanggil Julian kemarin memang tidak ada yang seburuk pocong, karena mereka menyerupakan diri sebagai manusia yang berwajah buruk. Yang jelas, mereka masih berbentuk wajah manusia, bukan wajah hantu paling horor yang ditakuti banyak manusia termasuk dirinya.


“Menghilang? Tidak bisa! Aku harus kaya raya lebih dahulu sebelum kamu melepaskan diri dari tubuhku. Ayo mana misinya, Mbah! Aku sudah siap dari tadi ini!” kata Julian. Ia mendadak menjadi berani. Seribu pocong tak akan menghalanginya untuk mendapatkan uang.


DING!!!


[Misi 12 : Menemukan buhul santet, menghancurkan mantra hitam yang mengikuti dan membakarnya. Waktu untuk menyelesaikan misi : 30 menit]


Julian langsung menuju bagian luar ruko dengan membawa pisau. Ia mengerahkan bolo sewunya untuk memukuli pocong yang sedang berjaga seperti satpam perumahan. Mata gaib Julian menelisik ke tiap jengkal tanah yang menjadi sumber keluarnya pocong ke halaman rukonya.


Butuh waktu sekitar lima menit bagi Julian untuk menemukan tempat yang menjadi kuburan buhul santet. Julian lalu mencongkel-congkel tanah dengan pisau sampai menemukan bungkusan kain putih.


Julian melakukan pekerjaan persis dengan yang diperintahkan sistem. Ia hanya membuka bungkusan kain kafan putih itu untuk melihat isinya yang ternyata hanya tumpukan tulang ayam dan segenggam tanah yang mungkin berasal dari kuburan.


“Tanah mana bisa habis dibakar, Mbah?” tanya Julian dengan ekspresi bingung.


[Tujuan pembakaran untuk merusak buhul, sehingga tidak bisa digunakan kembali! Setelah dinetralkan dan dibakar, tanah yang menjadi media sihir bisa dibuang dimana saja!]


Julian bergumam, “Oh … begitu!”


Suara lolongan menyakitkan dari alam gaib dan letusan seperti kembang api di malam tahun baru terdengar semarak di telinga Julian. Menandakan kalau pekerjaannya telah selesai. Pocong-pocong yang berkeliaran di area tempat tinggalnya pun sudah tidak ada lagi, menghilang bersama buhul yang telah selesai dibakar. Julian pun menarik seribu pasukan jinnya.


[Misi 12 berhasil. Hadiah uang seratus juta rupiah telah dikirim ke rekening Tuan.]


Mendengar informasi dari sistem bahwa misi telah selesai, Julian melesat ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu, ia berganti baju sambil bersorak, “Horai … aku akan merayakannya dengan bernyanyi di kafe, Mbah! Aku tidak mau teringat wajah buruk pocong terus-menerus. Terima kasih hadiahnya!”


**

__ADS_1


Tiga jam berikutnya Julian sudah selesai bernyanyi untuk menghibur muda mudi pengunjung kafe. Ia diberikan kesempatan oleh pemilik kafe untuk berkenalan dengan gadis belia yang tempo hari ditolongnya.


“Julian,” kata Julian percaya diri ketika menyebutkan namanya.


“Laila,” balas gadis belia yang mirip ibunya, tersenyum ramah pada Julian, penolongnya.


Mereka ngobrol akrab selayaknya muda mudi yang baru berkenalan. Bercerita tentang kegiatan dan sedikit latar belakang masing-masing. Julian blak-blakan mengatakan kalau ia hanyalah seorang pengamen yang merangkap sebagai paranormal muda. Sementara seluruh informasi mengenai Laila disimpan Julian dalam otaknya.


“Kak Julian bisa diorder untuk mengisi acara khusus di luar pekerjaan di kafe ini?” tanya Laila.


Julian menjawab, “Aku hanya membantu teman mengisi acara malam weekend di sini, jadi bisa saja dipanggil untuk menyanyi di tempat lain.”


“Ini bukan acara besar, tapi maukah kamu mengisi acara untuk perayaan ulang tahunku yang ke-16 beberapa hari lagi? Aku tidak boleh membuat pesta di kafe, jadi terpaksa diadakan di rumah nenek!” ungkap Laila dengan senyum masam.


“Aku akan datang bersama Topan dan satu teman lagi yang pandai bermain piano, bagaimana?”


Laila mengangguk setuju. Mereka mulai membicarakan honor untuk acara tersebut. Sebenarnya, Julian tidak begitu peduli dengan uang yang ditawarkan Laila, karena tujuannya untuk mendekati gadis itu adalah mendapatkan informasi yang mungkin berhubungan dengan ibunya.


“Aku tidak bisa pulang terlalu malam hari ini karena kakek sedang kurang sehat, aku akan menghubungimu jika kita tidak bertemu di sini!” ucap Laila mengakhiri obrolan setelah bertukar nomor telepon.


Julian menawarkan kebaikannya, “Apa aku perlu mengantarmu sampai parkiran untuk keamanan?”


Laila menunjuk salah satu security, “Aku ada dalam pengawasan mereka, jadi tidak perlu khawatir!”


“Oke, sampai bertemu lagi … Laila!”


“Sampai bertemu lagi, Kak Julian!”


Melihat Laila meninggalkan meja Julian, Topan langsung mendatangi Julian. “Lancar?”


“Sangat, kita ada job nyanyi di acara ulang tahun Laila beberapa hari lagi.”


“Serius?” tanya Topan terkejut. “Kamu apain Laila sampai segitu percayanya sama kamu? Guna-guna ya?”


“Paranormal dilawan hahaha,” jawab Julian asal-asalan.


“Yeah aku percaya … apalagi kamu sudah punya tempat usaha. Cuma aku masih sedikit sangsi kalau kamu tidak bisa membuka aura ketampananku, Jul!”


Julian mengernyitkan dahi, “Maksudnya gimana?”


“Ya buka aura biar aku tidak selalu sial dalam hidup! Aku baru diputusin Ika!”


“Sayangnya aku tidak bisa melakukannya, aku bukan ahli bidang buka-buka aura!” ujar Julian menahan tawa. Ia ingat beberapa waktu lalu ketika baru saja mendapatkan sistem, terpikir untuk mencoba ajian semar mesem pada Ika. Eh … sekarang pacar temannya itu malah sudah kabur duluan.


“Jangan membohongi kawan sendiri, Jul! Aku yakin kamu bisa, kamu cuma tidak mau saja … mungkin takut kalah saing setelah aku buka aura hahaha!”


Julian menekankan kalimatnya dengan nada jengkel, “Aku tidak bisa, Topan! Dengar ini sekali lagi … aku tidak bisa buka aura!”


“Tolong aku, Julian! Aku ingin Ika menyesal telah meninggalkanku!” desak Topan tak menyerah.


“Sorry … aku beneran tidak ahli soal ini!” tegas Julian untuk yang terakhir kali. Ia sudah berdiri, bersiap pulang ketika sistem menyapanya.


DING!!!


Julian berdecak kesal. Ia harus mulai fokus mendengarkan misi yang akan disampaikan sistem. Misi yang pasti berhubungan dengan permintaan sahabatnya.

__ADS_1


***


__ADS_2