Sistem Kekayaan Paranormal

Sistem Kekayaan Paranormal
Teror Ilmu Hitam


__ADS_3

Julian menerima telepon dari Topan tepat ketika sedang membereskan barang-barangnya. Sahabat karibnya mengabarkan kalau baru saja diminta tolong Bu Rosidah untuk mencarikannya orang pintar karena ada banyak keganjilan terjadi sejak Julian pergi ke Jakarta.


Tak menunggu waktu, Julian langsung check out hotel dan pulang ke Yogyakarta dengan pesawat pertama yang didapatkannya. Ia bertemu Topan di bandara dua jam kemudian. Sahabatnya itu memaksa menjemput meski Julian bisa pulang ke panti memakai taksi online.


"Gimana keadaan ibuku? Apa situasi panti masih terkendali?"


Topan menyambut Julian dengan berbagai cerita mistis di panti asuhan tempat Julian dibesarkan. "Ibumu ketakutan, Jul! Terlalu banyak hal aneh terjadi di panti."


"Aneh gimana maksud kamu?" tanya Julian antusias. Ia berjalan menjajari Topan ke tempat parkir kendaraan. "Hal mistis seperti itu biasa kalau di dunia paranormal!"


"Biasa buat kamu, tapi buat aku … hal seperti itu mengerikan. Kamu harusnya peka dengan keluhan orang-orang biasa seperti ibu dan adik-adikmu yang tinggal di panti."

__ADS_1


"Sebelumnya mana pernah ada kejadian mistis di panti? Heran aku, kenapa sekarang panti jadi nggak aman? Mana rumah baru belum selesai renovasi, bagian belakang belum siap!" keluh Julian. Rumah yang dibeli untuk ditempati ibu dan adik-adiknya baru akan siap seminggu lagi.


"Kalau renovasi sisa sedikit, bisa dilakukan sambil jalan! Saranku pindahin semua penghuni panti secepatnya, kalau perlu hari ini juga! Hal-hal yang tak masuk akal di logika itu teror paling menakutkan, Jul! Apalagi pelakunya tidak terlihat oleh mata manusia normal, bagaimana seisi panti tidak panik coba?"


Julian menimpali dengan raut tenang, "Belatung berjatuhan dari plafon rumah itu bukannya hewan menjijikan yang bisa dilihat mata?"


"Heh, kalau belatungnya memang kelihatan! Masalahnya, aku sudah naik plafon untuk mencari-cari asal belatung itu dari mana! Di rumah panti, tidak ada bangkai tikus atau binatang lain yang membusuk yang menjadi penyebabnya!"


Topan menoleh, "Beda sama santet?"


"Santet tidak menggunakan hewan seperti belatung, cacing, serangga, kalajengking, ular. Santet memakai media benda mati yang tajam, biasanya paku, beling, kawat, jarum atau logam berkarat lainnya!"

__ADS_1


"Jul, aku sedang serius! Ini bukan waktunya bercanda, jadi kamu jangan ketawa-ketawa seperti itu! Ibu kamu bukan cuma nemuin belatung di lantai rumah, tapi ada darah sama bunga yang ditaruh di dalam takir dan diletakkan di halaman panti! Jujur aku tidak suka kamu cengengesan, ini bukan masalah ringan!"


Julian melepaskan udara yang menyesaki dada, lalu berbicara dengan nada lebih serius. “Bunga yang diletakkan di halaman rumah tujuannya hanya untuk menakuti penghuni panti, menjatuhkan mental. Karena rasa takut itulah ibu jadi over thinking dan lengah. Akibatnya, mudah bagi ilmu hitam masuk ke dalam rumah.”


“Jul, dunia ini masih lekat dengan yang namanya ilmu klenik! Kamu sendiri berkecimpung di dalamnya! Bagaimana orang tidak takut kalau diteror pakai bunga sama darah? Kalau bunganya berbentuk buket mawar merah seperti yang biasa diberikan cowok pada cewek tidak masalah! Nah ini … bunga yang biasa dipakai buat nyekar di kuburan! Bunga yang identik dengan kematian. Ditambah ada darah dan bulu ayam hitam … sajen santet itu namanya, Jul! Kamu terlalu menyepelekan hal mistis ini, Mas Dukun!” ujar Topan panjang lebar. Ia kesal karena Julian menanggapi dengan ekspresi tenang.


"Aku tidak menganggap ini ringan, Topan! Cuma jangan terlalu over ketakutan menghadapi hal seperti ini. Jangan tegang! Ketakutan dan ketegangan justru menurunkan kewaspadaan. Sudah jadi tanggung jawabku untuk menyelesaikan semua urusan yang berhubungan dengan panti! Mereka keluargaku!"


“Sudah, penjelasannya nanti saja di rumah! Kepalaku pusing memikirkan semua teror mistis yang tiba-tiba terjadi! Aku agak curiga kalau masalah ini merupakan buntut dari empat preman yang kamu hajar tempo hari. Kalau sampai dugaanku ini benar, berarti Juragan Anam terlibat!” ujar Topan berapi-api. Ia segera mengeluarkan motor dari parkiran. Setelah Julian naik, Topan memburu waktu dengan melajukan motor lebih cepat dari biasanya.


***

__ADS_1


__ADS_2