
Julian membuka pintu ruang kerja pemilik kafe untuk mendapati Reina yang tersenyum manis padanya. Julian seketika menampar pipinya untuk memastikan kalau penglihatannya salah dan ia sedang tidak bermimpi.
Bukan apa, Julian sudah menetralisir pelet pengasihan semar mesem yang dipakai untuk menerima tantangan teman-teman toksik Marsha. Tapi kenapa gadis itu mendadak berdiri di depannya dengan senyum ramah?
“Ternyata kamu di sini,” kata Reina ceria. “Aku mencarimu ke tempat praktek, tapi sudah tutup. Eh … di rumah tanpa sengaja aku dengar mama teleponan sama Om Aji, katanya ada paranormal muda yang sedang mengurus pekerjaan di sini. Aku langsung nebak itu kamu, ya udah aku kesini. Om Aji itu ponakan mamaku, jadi jangan heran kalau aku punya akses mengunjungimu sampai ruang pribadinya ini.”
Julian menatap datar pada Reina yang berceloteh panjang lebar mengenai silsilah keluarganya. Tanpa memperdulikan wajah ceria Reina, Julian melangkahkan kaki melewati gadis itu. “Kamu pasti bukan Reina!”
Dengan sigap, Reina langsung menarik lengan Julian, “Kamu amnesia?”
“Reina tidak akan pernah datang mencariku, apalagi merendahkan dirinya untuk menyapa lebih dulu dengan sejuta keramahan!” jawab Julian tenang. “Reina yang aku kenal sama sekali tidak memiliki sikap yang baik pada orang miskin sepertiku! Sorry aku masih ada pekerjaan.” Julian memaksa melepas tangan Reina yang mencengkram lengannya.
Reina melepaskan cekalannya dengan anggun, “Bisakah kita bicara empat mata setelah pekerjaanmu di sini selesai?”
Julian tak menjawab pertanyaan Reina. Ia melangkah menuju kafe untuk bertemu pemiliknya.
Mas Aji sedang santai mengobrol dengan seseorang di bar. Julian mendatangi dan menyapa dengan anggukan ringan.
“Mas!” panggil Julian pelan.
Pemilik kafe langsung berpamitan pada temannya untuk menghampiri Julian. “Gimana, udah selesai? Reina tadi cari kamu ke dalam, ketemu?”
“Sudah selesai, Mas! Sekarang aku perlu tempat yang tidak menarik perhatian pengunjung untuk memasang rajah ini,” jawab Julian seraya menunjukkan jimat penglaris buatannya.
Setelah mengedarkan mata sebentar, pemilik kafe menunjuk bagian atas bar yang tertutup hiasan dinding. “Di sana?”
“Oke,” jawab Julian. Ia lalu meminta salah satu karyawan untuk membantunya memasang rajah tersebut dibalik hiasan dinding. Hanya butuh waktu sekitar lima menit saja. Setelah itu Julian kembali berbicara dengan pemilik kafe. “Aku perlu ke cabang sekarang, waktuku terbatas untuk memasang rajah ini.”
“Reina akan mengantarmu, aku akan menyusul setelah rekan bisnisku itu pulang. Tidak masalah, kan?” tanya pemilik kafe sembari mengedikkan kepala ke arah teman mengobrolnya tadi.
Julian ingin mengungkapkan rasa keberatan, tapi tidak jadi. Ia melirik jam tangannya dan mengangguk setuju. Berdebat hanya akan membuang waktu. Jadi Julian mengangguk dan menjawab singkat, “Tidak masalah!”
__ADS_1
Reina yang sudah berada di samping pemilik kafe langsung tersenyum lebar, penuh dengan kemenangan. “Come on, Julian!”
“Aku naik motor di belakangmu,” tolak Julian.
“Apa kamu tidak tau kalau sekarang sedang gerimis? Oh ya kamu dari tadi semedi di kamar ya? Kita naik mobilku!” paksa Reina. “Atau aku tidak akan mengantarmu tepat waktu!”
Julian nyaris mengumpat, tapi akhirnya hanya menggerutu. “Aku tidak bisa menyetir!”
“Aku tidak minta kamu menyetir untukku, kali ini aku yang akan jadi sopir. Tapi untuk ken-can berikutnya … kamu sopirnya! Aku bersedia jadi tutor untuk kursusmu, dan kamu bisa pakai mobilku untuk belajar mengemudi, setelah itu aku antar kamu membuat SIM, apakah cukup adil?”
Julian mendengus dingin, ia terpaksa berjalan menjajari Reina dan duduk di kursi penumpang. “Kamu memang bukan Reina!”
“Aku asli Reina, Julian. Suka atau tidak kamu akan mengakui itu,” sahut Reina sambil menyalakan mobil. “Kita ke cabang yang mana dulu?”
“Cabang terdekat!” jawab Julian datar. Tak sedikitpun melihat pada Reina yang sedari tadi berusaha menarik perhatiannya.
“Hm, boleh aku tanya sesuatu?”
“Silahkan!” jawab Julian dengan ekspresi malas.
Julian menjawab dengan satu kalimat pendek, “Bukan urusanmu untuk tau!”
“Apa kamu membenciku, Julian?” tanya Reina mengubah topik pembicaraan.
“Tidak cukup alasan untuk membencimu!” jawab Julian dingin.
“Berarti kamu menyukaiku?”
Julian menegaskan, “Lawan kata benci itu tidak benci, bukan suka atau cinta!”
Reina tertawa kecil, “I see. Lawan kata cinta itu tidak cinta, bukan benci atau kesal dan sejenisnya. Jadi … apa kamu masih menyukai Marsha?”
__ADS_1
“Bukan urusanmu! Aku tidak berbagi informasi dengan sembarang orang!” Julian menjawab ketus.
Reina menoleh dengan ekspresi tak percaya, “Bukankah kita teman satu sekolah, bahkan kita sekarang kuliah di kampus yang sama?”
“Aku tidak sedikitpun merasa kita pernah menjadi teman,” balas Julian, tidak menutupi apa yang dirasakannya selama ini. Terlalu lucu kalau ia merasa pernah menjadi teman Reina sementara gadis itu selalu jijik ketika menatapnya.
“Bolehkan aku minta maaf?” Reina sama sekali tidak putus asa.
“Untuk apa?”
“Semua kesalahan dan sikap burukku selama ini. Aku udah jahat banget sama kamu.”
Julian tertawa masam, “Tetaplah seperti itu, karena itulah dirimu yang sebenarnya! Tidak perlu memakai topeng kebaikan untuk menutupi keburukan.”
Reina menahan emosinya yang nyaris meledak. Pemuda yang biasa disebutnya sebagai sampah sekolah ini mulai berani menunjukkan taring. Dulu, jangankan membalas ucapan, menatap matanya saja Julian tidak berani. Diam-diam Reina justru merasa takjub meski agak kesal.
“Aku tulus minta maaf, Julian. Aku ingin berteman denganmu! Aku tidak sedang menutupi keburukan, tapi aku memang merasa jadi orang yang berbeda setelah terkena mantra asmara kamu. Aku masih ingat betul bagaimana pikiranku mendadak gila dan memujamu. Begitu sadar dan kembali ke perasaanku semula, aku kecewa! Aku tidak suka membencimu, aku merasa lebih bahagia ketika memiliki perasaan suka padamu, walaupun itu cuma sesaat dan dipaksakan!”
Julian menghembuskan nafas panjang, menoleh sekilas pada Reina sebelum menjawab. “Itu hanya sementara, beberapa hari lagi kamu juga akan kembali menjadi Reina yang dulu!”
Reina menggeleng keras, “Nop! Aku yakin dengan perasaanku, aku beneran penasaran dengan pribadi kamu, Julian! Suka atau tidak, aku akan ada di dekatmu, mungkin mengejarmu!”
“Sebaiknya kamu memeriksakan diri ke ahli kejiwaan,” saran Julian serius. Ia jujur kalau tidak suka diganggu gadis egois dan pemaksa seperti Reina. “Bisa jadi otak kamu sedang sakit!”
“Aku sakit karena mantra asmaramu. Bukankah kamu seharusnya bertanggung jawab?”
“Bertanggung jawab? Aku sudah menetralisir mantranya, dan kamu tau pasti soal itu,” jawab Julian mengelak kalem. Ia langsung turun dari mobil begitu Reina sudah parkir di halaman kafe.
Tanpa menunggu Reina yang berlari mengejarnya, Julian memasuki kafe untuk mencari orang yang bertanggung jawab di sana.
WUS!!!
__ADS_1
Angin keras menabrak wajah Julian. Secara reflek, Julian langsung mengaktifkan pandangan gaib untuk mendeteksi pergerakan makhluk halus di sekitarnya.
***