Smile Effect

Smile Effect
Denting ke Sembilan


__ADS_3

Satuan kalor dalam ilmu fisika adalah joule. Akan tetapi satuan mood Regaz dalam dunia nyata adalah zonk. Candy mengira sikap Regaz akan membaik karena tadi pagi saat ia memasuki gerbang sekolah, cowok itu tersenyum tipis padanya. Namun, kenyataannya tidak begitu. Regaz masih saja dingin.


"Ngapain lo duduk disana? Gue bilang deket bangku, bukan di atas bangku!" Sentak Regaz setengah berteriak.


Angin di atap sekolah sangat terasa dingin menusuk kulitnya, di tambah cuaca mendung yang sangat tidak mendukung. Candy merengut dengan buku di pelukannya.


"Bentar lagi mau hujan. Kenapa nggak di perpus aja biar nggak was-was?"


Candy mengikuti gerakan Regaz yang duduk bersandar pada tembok yang menjadi pembatas gedung. Tasnya ia letakkan di tengah-tengah mereka. Sementara Regaz membuang mukanya sambil mendengus.


"Berisik! Jangan kebanyakan komen bisa nggak, sih?!"


Satu kaki Regaz selonjor ke depan sedangkan satu yang lain tertekuk untuk menahan tangan kanannya. Gadis di sampingnya ini sangat cerewet. Ia kira, gadis itu adalah gadis pendiam. Ternyata dugaanya malah salah. Kenapa juga dia malah komentar-komentar tak penting? Hei, Regaz berusaha untuk mencari tempat baru agar tidak mumet di tempat itu-itu saja.


"Nanti kalau hujan turun, kamu yang tanggung jawab, ya."


Candy membuka-buka lembar buku yang ia letakkan di pangkuannya. Sudahlah, Candy tak akan berkomentar lagi. Jika ia terus mendebatkan ini, bisa-bisa dirinya di tampar oleh omongan pedas Regaz lagi. Ia tak mau membuat telinganya menjadi panas saat ini.


Suasana hening seketika. Hanya terdengar desauan angin dan geluduk di awan yang sudah mendung. Candy menatap langit waspada, lalu ia alihkan tatapannya pada Regaz yang sibuk dengan ponselnya. Ia mendengus dalam hati, cowok itu niat mengajar apa tidak?


Tiba-tiba Regaz memalingkan wajahnya, netra kelamnya menatap Candy yang sedang balik menatapnya. Sedangkan Candy langsung membuang wajahnya ke depan dengan cepat.


"Lo ngerti nggak, kalo ngebac*t terus-menerus bisa bikin aliran darah naik ke kepala sampai rasanya ingin meledak?" Tanya Regaz tiba-tiba, membuat Candy menatapnya tak mengerti. "Itu namanya kalor alias panas. Lo, mau gue praktekin dulu apa itu kalor yang sebanding sama komen nggak guna lo, plus cuaca, plus suhu di kepala?"


Oh, jadi Regaz masih membahas hal tadi. Candy membuka mulutnya hendak bicara, namun langsung urung saat dia menyadari mood Regaz sangat anjlok. Salah-salah nanti dia yang yang di tampol karena dianggap menantang.


Regaz itu benar-benar bermulut pedas. Candy heran sendiri, apa cowok itu tak bisa ya, bicara sedikit lebih lembut pada perempuan? Candy menunduk menatap tangannya yang saling meremat di pangkuan—dalam hatinya ia menyuarakan protes pada Regaz.


"Siniin buku coret-coretan lo! Gue lagi males modal kertas," Candy mengulurkan buku di pangkuan pada Regaz. Ia menatap cowok itu beberapa detik, namun langsung menunduk saat Regaz menatapnya balik.


Amit-amit ya Tuhan, kenapa engkau menciptakan cowok berwajah pahit di sampingnya ini. Tapi, wajah itu juga yang sedap di pandang? Candy menggeleng kuat. Najis mughaladoh, galak begitu apanya yang sedap?


"Dari SMP lo udah pernah kan diajarkan tentantang kalor? Jadi, materi ini mending kita lewati aja."


Candy membelalakan matanya. Apa dia bilang?


"Kamu tahu nggak apa semboyan siswa zaman sekarang?" Matanya bersitatap dengan Regaz yang semakin mencuramkan alisnya. "Habis ujian, terbitlah lupa. Jangankan pelajaran SMP,  materi minggu lalu aja aku udah lupa," lanjutnya polos.


Regaz mengangguk-anggukan kepalanya. "Jadi, lo udah lupa sama materi ini?"


"Ya jelaslah! Cuma ingat rumus kalor laten doang, M kali L alias ML," jawabnya cepat.

__ADS_1


"Kegobl*kan yang hakiki," sembur Regaz pedas.


Regaz menghela napas kasar. Ia membuka-buka buku olimpiade tanpa menghiraukan manusia lain yang sedang mengerucutkan bibirnya sambil menggumamkan segeruntuy mantra.


Candy mengigit bibir dalamnya gemas. Kenapa ia harus bersikap baik, sedangkan cowok di sampingnya ini sangat menyebalkan. Demi apapun, ia ingin sekali menjitak kepala Regaz denga kuat. Tapi, nyalinya tak sebesar itu.


"Biar lo inget rumus kalor se.la.ma.nya, lo inget aja gue yang pengen banget mecat lo jadi murid pas materi ini. Lo itu sering ketemu kalor di fisika, masih aja lo lupa!"


Memecat? Apa hubungannya dengan rumus kalor?


Seakan tahu jika Candy tak paham hubungan nyinyiran Regaz dengan, cowok itu memukulkan kepalannya tangannya pada kening.


"Q sama dengan massa kali kalor jenis benda kali delta suhu itu di singkat mecat!" Gemas Regaz. Ia mengarahkan penadi tangannya—dengan kasar—pada kertas yang masih kosong.


"M sama dengan massa. C sama dengan kalor jenis benda. Delta t sama dengan suhu. Itu rumus nyari besar kalor yang diserap atau di lepas. Biar gampang diinget terus, lo inget aja napsu gue pengen mecat lo jadi murid sekarang. Paham?!"


Candy melihat apa yang sedang di tulis oleh Regaz. Bagaimana bisa rumus kalor dapat di sederhanakan dalam satu kata? Daebak.


"Lo nggak ngerti juga, gue pecat lo beneran!" Ancam Regaz dengan kesal.


Ia menyandarkan punggungnya pasrah. Mungkin karena Sabtu kemarin ia dan teman-temannya ke gunung, tubuhnya berasa sangat lelah. Sekarang, giliran otaknya yang terkuras. Mana pula yang jadi muridnya agak lelet, membuat ia emosi saja.


"Ngerti, kok. Terus?"


Lama-lama ia masukan nama Candy ke dalam blacklist-nya. Gadis itu mengangguk.


"Kalor lepas sama dengan kalor serap. Rumusnya sama-sama mecat, tapi yang kiri itu suhunya seratus di kurangi suhu benda, 'kan?"


Angin yang berhembus cukup kencang menerbangan surai Regaz yang semakin acak-acakan. Angin itu seolah membantu mendinginkan kepalanya. Cowok itu memejamkan matanya.


"Itu kalor apa coba?


Candy mengerutkan kening, berusaha mengingat. "Kalor lepas?"


"Salah!" Sentak Regaz dengan nada yang disabarkan, padahal di dalam hatinya sudah ingin menendang gadis yang duduk di sampingnya. "Lo pakai logika aja deh ya. Kalo temen lo pacaran sama mantan lo, itu panasnya maksimal apa minimal?"


Candy meringis, anologi aneh jilid dua dimulai. "Ya, maksimal lah,"


Jangankan mantan, pacar juga Candy belum pernah punya. Ya setidaknya Candy menjadi pengamat yang baik bagaimana sikap teman-temannya jika mantan pacar mereka berpacaran dengan teman mereka sendiri.


"Nah, itu lo tahu! Udah paham melepas itu panasnya maksimal, jelaskan perubahan suhunya itu suhu benda, ibaratin perasaan lo. Belum move on dari si dia eh taunya dia udah pacaran sama temen lo sendiri," Regaz menggambar garis-garis abstrak di buku Candy. "Itu artinya suhu benda alias lo, dikurangin suhu maksimal. Suhu maksimalnya berapa?"

__ADS_1


Dikarenakan lihat teman sendiri pacaran sama mantan, sedangkan kita masih belum move on sakitnya tidak karuan seperti kehilangan semangat apapun, jadilah kalor lepas perubahan suhunya sama dengan suhu si patah hati, eh dikurangin suhu maksimal alias mantan.


Candy mengernyit jijik dengan kalimat yang ia rangkai di benaknya.


"Seratus," jawabnya percaya diri. Kalor kan berhubungan dengan air. Suhu air mendidih ya seratus derajat celsius.


"Nah, kalo kalor serap kebalikannya. Rumusnya sama-sama mecat tapi, perubahan suhunya seratus di kurangi suhu benda. Paham?"


Kalau saja guru Fisikanya sejak SMP seperti Regaz, Candy tidak akan ragu untuk mengikrarkan diri kalau dia cinta Fisika setengah mati. Segala rumus yang merubah otaknya jadi batu, mendadak cair karena penjelasan Regaz.


"Ngerti banget!"


Regaz menghela napas lega. "Kayak biasa, lo kerjain latihannya buat memperdalam."


"Mm, berapa soal?" Tanya Candy was-was. Ia masih ingat soal hukuman senam lantai yang Regaz hibahkan jika dirinya salah menjawab soal.


Regaz tersenyum polos. "Tiga puluh soal aja kok. Sedikit kan? Gampanglah."


Candy mengusap dadanya. Sabar jangan mengumpat. Niat sekali Regaz menyiksa dirinya hingga titik darah penghabisan. Belum sempat Candy angkat bicara, Regaz sudah membungkam mulutnya dengan kata-kata tanpa dosanya.


"Waktu ngerjain lima belas menit. Kalo sampai lebih dari itu dan bikin gue telat makan siang, gue rendang lo!" Regaz berhenti mencorat-coret buku kosong di atas pahanya. Ia menatap Candy tanpa ekspresi. "Minta nomer hp lo sini, buat ngirim informasi materi yang harus lo pelajari."


Candy tersenyum canggung. "Aku nggak punya hp,"


"Rusak? Ya belilah," decak Regaz sebal.


Candy menghela napasnya pelan. Seandainya saja ia bisa minta sebebas itu pada Ibunya. Kenyataannya, makan sehari-hari saja mereka sudah susah, apalagi membeli ponsel yang harganya ratusan bahkan jutaan.


Tangannya saling mengenggam, ia menundukkan kepalanya. "Nggak semua orang berasal dari keluarga mampu kayak kamu. Dunia ini nggak di tempatin sama orang-orang yang mampu saja, sekali-kali coba kita lihat ke bawah jangan asik dengan ketinggian aja."


\=\=\=\=\=\=


-TO BE CONTINUED-


A/N: Dear kalian yang berasal dari keluaga yang mampu ... cobalah kalian lihat sekeliling kalian, jangan terpaku pada tempat kita berpijak saja^^


Harusnya kan up besok, tapi karena besok kuota akunya sekaratul maut hiks, jadi up sekarang aja dehh


I Purple U


Bhubhay^^

__ADS_1


 


__ADS_2