Smile Effect

Smile Effect
Denting ke Enambelas


__ADS_3

"... Yon ... Yon ... Orion!"


"Ck, apa sih?! Iya, gue denger, denger."


Cowok dengan lesung pipit itu tersenyum mendengar jawaban malas dariu salah satu saudara kembanya.


"Lo mau tahu orangnya siapa, nggak?"


"Hm."


"Namanya ... Candy Elisa."


DEG!


Mata Regaz terbuka seketika. Ia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Dinding serba putih menjadi salah satu yang ia tangkap.


"Lo udah bangun?"


Sebuah suara berat dari sampingnya membuat ia menoleh. "Edgar," ujarnya lemah.


Sosok yang nyaris serupa dengannya walau masih terlihat sedikit perbedaan sedang menatapnya khawatir. Cowok itu berdecak seraya mengacak rambutnya kasar.


"Lo tahu nggak, gue khawatir setengah mati saat tahu lo kecelakaan! Gue udah bilang jangan ngebut, 'kan!" Edgar berbicara sedikit berteriak. Ia benar-benar ketakutan tadi, jantungnya seperti di tarik paksa.


Tadi setelah menghabiskan waktu mengerjakan tugas, Edgar mendapat telepon dari pihak rumah sakit yang menyatakan jika saudara kembarnya itu sedang di rawat karena kecelakaan.


Regaz mengernyit, kecelakaan? Perasaan ia digebuki sama preman-preman kampung itu. "Dimana dia?" Bukannya menanggapi ucapan Edgar, Regaz malah menanyakan gadis yang ia tadi akan antar pulang.


"Siapa? Dari tadi lo sendirian disini. Oh iya, kata suster tadi ada anak cewek dan tukang becak yang ngatarin lo kesini," ujar Edgar bingung.


"Oh."


Mendengar jawaban singkat dari Regaz membuat Edgar ingin mengacak-ngacak rambut cowok itu. Ya jika saja Regaz dalam keadaan sehat sudah ia toyor, tapi mengingat keadaan cowok itu yang luka-luka dengan tangan di perban, lebam di garisan pipi dan juga kening di plester, membuat ia jadi tidak tega.


"Kapan lo mau balik ke rumah?"


Regaz terdiam. Rumah ya? Benar juga sudah hampir satu minggu ia selalu pulang ke apartment nya. Terlalu berat rasanya jika ia pulang ke rumah, rasa bersalah itu masih menghantuinya.

__ADS_1


"Nanti," jawabnya tak yakin.


Edgar menghela napas lelah. "Jangan terlalu nyalahin diri lo. Gue cuma punya lo sekarang,"


"Hm."


"Ck, jawab yang bener! Gini-gini juga gue ini lahir duluan dari pada lo!"


Regaz mencebikkan bibirnya. "Beda lima belas menit aja bangga,"


Akan panjang urusannya jiga Edgar terus membalas ucapan Regaz. Maka sebagai orang lebih tua 15 menit ia menghela napasnya pasrah lalu berkata, "Iya serah lo dah."


***


Mata yang terasa berat, telapak kaki yang terasa sakit, tubuhnya yang terasa lemah. Mungkin itulah yang bisa menggambarkan kondisi Candy saat ini. Bunyi deritan pagar kayu menyambut kepulangannya. Lampu teras sudah menyala, itu tanda Ibunya sudah pulang.


"Eli, ya ampun. Kamu kemana aja? Kenapa baru pulang? Ibu khawatir banget sama kamu."


Sesuai dugaan Ibunya langsung membuka pagar kayu, wanita paruh baya itu melipat tangannya di dada dan memberikan tatapan khawatir padanya. Candy menundukkan kepalanya. Gawat! Apa yang akan ia katakan pada Ibunya, tak mungkin kan ia katakan bahwa ia ikut bersama tutornya dan berakhir dengan kejadian di ujung gang yang mengerikan. Sama saja dengan menambah kekhawatiran Ibunya.


Candy menggeleng singkat.


Ibunya menatap Candy curiga, namun tetap menghela napas dan mengangguk.


"Yaudah, kamu masuk habis itu mandi. Ibu siapin dulu makanan ya,"


Ibu mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang. Hanya dengan dielus seperti ini rasa lelahnya langsung hilang seketika. Hatinya terasa sesak, air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Pernahkan kalian merasakan, jika sedang sedih lalu kepala kalian di elus oleh Ayah atau Ibu perasaan hangat langsung menyelusup ke hati dan membuat mata kita kembali berkaca-kaca.


"Jangan nangis. Ibu tahu sekolah sambil kerja itu capek," Air mata yang di tahan Candy luruh seketika. Benar, badannya memang sangatlah lelah. Tapi bukan soal pekerjaan, melainkan kejadian mengerikan yang ia alami tadi.


"Ibu kan udah pernah bilang, kerjanya habis lulus sekolah aja."


Candy mengigit bibir bawahnya untuk menahan isakan. Tak tahan, ia melingkarkan tangannya ke tubuh yang menurutnya rapuh itu. Ibu yang selalu merawatnya dari kecil, bahkan Ibu rela tak tidur semalaman ketika ia sedang sakit. Lalu bagaimana bisa ia tak kerja membatu Ibunya, sedangkan Ibu mati-matian mencari biaya untuknya sekolah. Ayahnya, ia tak tahu dimana. Karena Ibu tak pernah mau membahas soal Ayahnya. Setiap langkah yang ia ambil setiap harinya sangatlah berat dan pedih, namun Candy tetap mengukir senyuman indah di bibirnya.


"Aku nggak capek kok, Bu. Aku kan kuat kayak Ibu," Candy mengeratkan pelukannya, air matanya jatuh mengenai baju yang Ibunya pakai. "Maaf Elisa belum bisa buat Ibu bahagia."


"Kamu ini bicara apa?! Sumber kebahagian Ibu itu melihat senyuman manis Elisa, kamu tahu?"

__ADS_1


Candy menengadahkan kepalanya. Pandangannya kabur oleh air mata, namun ia bisa dengan jelas melihat Ibunya menitikkan air mata.


"Makasih Bu, makasih udah dukung Elisa selama ini. Makasih Bu ..."


Candy tersenyum dalam tangisannya.


Hidup itu tak selalu tentang kebahagian. Kadang kala di kebahagian yang kita rasakan ada bayangan kesedihan yang tersembunyi. Dan dalam kesedihan ada kebahagiaan yang sedang menanti. Hidup itu bagaikan roda yang berputar menentukan jalan takdir kita selanjutnya.


Candy melepaskan pelukannya, ia mengusap sisa air mata di pipi Ibunya. "Ibu jangan tinggalin Eli sendiri ya. Elisa nggak punya siapa-siapa lagi selain Ibu,"


Ibu mengangguk, lalu sekali lagi mengelus surai hitam Candy. "Ibu nggak akan kemana-mana. Sekarang masuk ya, mandi dulu habis itu kita makan,"


Candy mengikuti langkah kaki Ibunya memasuki rumah. Rumah yang selama ini menjadi tempat ternyaman untuknya. Candy tercenung, kenapa ia merasa tak yakin dengan kata-kata Ibunya tadi. Kenapa ada yang mengganjal di hatinya.


Apapun itu Candy berdoa semoga kita selalu bersama.


"Ibu," panggil Candy membuat Ibu menghentikan langkahnya. "Ibu harus janji ya, nggak tinggalin Eli. Kalau Ibu pergi, nanti Eli sama siapa? Memangnya hidup itu ... hanya tentang pertemuan dan perpisahan?"


***


"Kapan lo mau pulang ke rumah?"


Regaz terdiam sesaat, matanya menerawang jauh ke langit-langit kamarnya. Pertanyaan Edgar di rumah sakit tadi benar-benar menganggunya. Tadi juga ia yang memaksa untuk tak mau di rawat padahal Edgar bersikeras tak memperbolehkannya untuk pulang terlebih dahulu.


Regaz menghela napasnya kasar. Tangan kanannya terasa ngilu jika di gerakan sediki saja.


"Kapan gue pulang? Gue juga nggak tahu," gumamnya entah pada siapa. "Kalo aja kejadian itu nggak terjadi, kalo aja gue nggak egois. Lo pasti bakal tetep ada, 'kan?"


Tangan kirinya meraih ponsel yang berada di atas nakas. Cahaya ponsel menerangi kamar yang gelap gulita. Memang kebiasaan Regaz untuk mematikan lampu kamar sebelum tidur. Tangannya mengetikkan sesuatu pada nomor baru yang tersimpan di kontak ponselnya.


"Ngabarin si bocah nggak ada salahnya juga, kan? Mukanya tadi kelihatan pucat."


[Gue udah balik!]


Send


\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


-TO BE CONTINUED-


A/N: Hmmmmmm


__ADS_2