
Dentingan suara piano mengisi ruangan serba abu itu dengan melodi. Seorang pemuda yang sedang memainkan nada itu memejamkan matanya meresapi lirik demi lirik lagu yang ia mainkan.
Fur Elise. Nada itulah yang sedang ia mainkan. Kata orang Fur Elise di ciptakan oleh Beethoven, untuk menyampaikan perasaannya pada seorang wanita yang bernama 'Theresa' tetapi karena tulisan Beethoven tidak dapat dimengerti—Theresa jadi salah baca—menjadi Elisa. Maka dari itu, lagu itu dinamakan 'Fur Elise' kisah-kasih yang tak tersampaikan.
Pemuda itu tersenyum miris diatas permainannya yang sangat indah. Entah mengapa lagu ini sangat mewakili isi hatinya. Banyak orang yang menyalurkan ekspresinya lewat lagu, dan salah satunya adalah dirinya.
Permainan pemuda itu menjadi tidak fokus dengan semakin cepatnya jari-jarinya menekan tuts. Nada-nada itu saling bertupang tindih, membuat alunan yang mengerikan, sedih, kecewa, dan amarah menjadi campur aduk. Bahkan saking cepat jari tangannya menekan tuts, ia sampai melukai tangannya sendiri. Namun, pemuda itu nampak biasa saja, tidak ada rasa sakit di wajahnya—hanya ada ekspresi datar dengan tatapan kosong yang menatap ke depan. Sampai pada akhirnya pemuda itu tertawa keras seraya menghentikan permainannya. Bukan tawa bahagia—tapi tawa penuh ironi.
"Bodoh, bodoh, bodoh!"
Orion menghela napasnya pelan. Kejadian siang tadi melintas di kepalanya. Mengapa ia bisa mengatakan semua itu. Kenapa dia berkata seolah-olah ia mencintai Candy baru-baru ini. Sedangkan, perasaan ini sudah ada sejak dua tahun yang lalu.
Netranya menatap kosong ke depan sekelebat ingatan tentang dirinya dan kembarannya bertengkar terngiang kembali. Dan itupun demi satu cewek yang masih banyak berkeliaran di luar sana.
Orion menunduk. Tidak, sangat sulit mencari gadis seperti Candy. Jelas sekali jika gadis itu sangatlah tulus, dan ia merasa menjadi cowok br*engsek karena menyakitinya seperti itu. Tapi, itu semua tidak bisa di tarik kembali. Ia menghela napasnya, besok ia akan mengakhiri semuanya. Ia akan mengakhiri kisah ini.
Mungkin memang benar, Candy bukan terlahir untuk dirinya. Jadi biarkanlah mengalir seperti itu. Tapi, ia pun tak bisa menahan perasaannya.
Jadi, sekarang ia harus apa?
...***...
Arya menepuk pundak Candy, membuat gadis itu menoleh.
"Gue bangga sama lo," ujarnya. "Lo udah ngelakuin yang terbaik hari ini. Jadi senyum," jari telunjuk terjulur menaikkan sudut bibir Candy agar tersenyum.
Candy tersenyum dan mengangguk singkat. Ia kembali menatap ke luar mobil. Sudah hampir satu minggu ia tidak melihat Orion di sekolah, bahkan hari ini saat olimpiadenya di mulai hingga selesai. Cowok yang membuatnya bingung itu tak kunjung menampakkan diri.
Arya melirik gadis itu sebelum menghela napas pelan. Jujur saja, ia khawatir pada saat Candy datang padanya dengan raut wajah berantakan setelah berbicara dengan Orion. Gadis itu lebih banyak terdiam dan berkali-kali kehilangan fokus. Ia khawatir Candy tidak bisa memberikan jawaban terbaik saat olimpiade hari ini.
Tapi ternyata ketakutannya tidak beralasan. Gadis itu menunjukkan profesionalitasnya dan membuat Pak Jaya bangga. Ia datang dengan penampilan rapih dan pembawaan yang tenang. Seolah badai yang datang pada dirinya kemarin sudah hilang tersapu angin.
Candy memandangi pepohonan yang rimbun di luar sana. Sebenarnya ia masih sedih, takut, kecewa semuanya bercampur aduk menjadi satu. Perkataan Orion minggu lalu membuatnya harus berpikir keras, hingga sejenak ia hampir melupakan soal olimpiade. Cowok itu sangat membingungkan, awalnya cowok itu membongkar kebusukan dirinya. Lalu, dengan tenangnya malah menyatakan perasaan suka padanya dan menyuruhnya menunggu. Candy tidak terima di beginikan. Ia bukan mainan, camkan itu!
"Aku turun disini aja," ujar Candy pelan.
Arya mengernyit. "Kenapa? Kan masih lumayan jauh."
"Nggak apa-apa. Aku kepengen jalan kaki, butuh udara segar," Candy terkekeh di akhir kalimat.
Tak mau banyak bertanya lagi, karena Arya tahu Candy masih butuh waktu sendiri. Ia menepikan mobil berwarna hitam itu di depan jalan gang.
Candy berterima kasih pada Arya sebelum turun dari mobil itu perlahan. Candy melangkah menyusuri jalan rumahnya dengan perasaan kosong. Seperti yang akhir-akhir ini ia rasakan.
Hingga seseorang yang lihat di depan pagar rumahnya membuat langkahnya memelan.
Punggung Candy menegang sesaat, kemudian meneruskan langkahnya. Ia menghela napasnya pelan, paling tidak mereka bisa menyelesaikan masalahnya hari ini. Maka dari itu ia berjalan melewati Orion yang terdiam dan membuka pagar kayunya.
Ia bisa mendengar langkah kaki Orion yang mengikuti. Belum sempat tangannya membuka pintu rumah, ujaran Orion membuatnya mengurungkan niatnya.
"Disini aja."
Candy memejamkan mata saat kembali mendengar suara yang membuatnya merasakan sakit hati. Ia menurunkan tangannya, kemudian berbalik menghadap sosok tinggi di hadapannya. Candy menunduk menatap sepatu yang digunakan cowok itu. Bungkam.
Harusnya saat ini Candy memaki cowok itu, namun sebagian dirinya yang lain menerima jika apa yang dikatakan Orion minggu lalu adalah benar adanya. Ia merasa tidak punya hak untuk memaki jika teringat hal itu.
"Gue dateng kesini karena mau ngomong sama lo," ujar Orion memulai percakapan.
Candy mengangguk. Kedua tangannya saling meremat.
"Semuanya harus selesai hari ini," nada yang seakan tidak peduli itu keluar dari mulut Orion.
Candy belum berani untuk mengangkat kepalanya. Wajah cowok itu terlihat lebih tirus, namun ia bisa melihat dengan lirikan ada percikan sendu dan bahagia di netra tajam cowok itu.
Candy mengangkat wajahnya untuk menatap Orion. Mata beradu pandang. Hanya ada sorot dingin persis ketika dirinya bertemu di ruang musik.
"Jadi?" Akhirnya Candy bisa mengeluarkan suaranya meskipun terdengar seperti bisikan. Tangannya terkepal. Ia menahan diri agar kuat untuk menatap sorot mata dingin itu.
Orion mengangkat sebelah alisnya.
"Ucapan gue minggu lalu itu fakta. Gue emang jadiin lo objek balas dendam. Tapi lupain perkataan gue yang terakhir, gue cuma main-main aja waktu itu."
__ADS_1
Candy menggeleng tak mengerti. "M-maksudnya?"
"Jangan pura-pura nggak ngerti deh. Gue muak sama lo!"
"Maksudnya soal kamu bilang suka sama aku, terus nyuruh aku nunggu itu juga bagian dari rencana kamu?" Candy berujar. Cukup. Candy ingin mendengar semuanya hari ini.
Orion menatap lama. Bibirnya mengatup membentuk garis lurus.
"Bener. Itu bagian dari rencana gue agar lo makin terpuruk," cowok itu tersenyum miring. "Dan ya, lo itu gampang banget di permainin."
Candy merasa dadanya mulai sesak. Matanya memanas. Tapi kali ini menangis di depan cowo br*ngsek seperti Orion adalah salah.
"Jadi itu semua bener, ya?"
Orion terdiam. Ia menjawab dengan sama dinginnya, "Iya."
Candy seperti ditabrak truk tronton berkekuatan penuh.
"Jadi semua ini emang tentang pemanfaatan," ini semua bagaikan mimpi baginya.
"Iya," jawab Orion cepat. "Dan berhenti tanya. Lo cuma akan dapet jawaban yang sama."
Candy mengigit bibir bawahnya hanya agar dirinya tidak menangis. Perkataan Orion minggu lalu kembali terngiang. Ia menatap sepasang mata dingin itu beberapa saat sebelum berpaling.
"Aku ngerti," jawab Candy berbalik hendak menutup pintu. "Maaf kalau aku banyak salah sama kamu. Selamat ya, paling nggak kebodohanku bisa lancarin rencana kamu,"
"Bagus deh kalo lo nyadar. Setelah ini gue harap lo nggak ngelakuin hal bodoh lagi. Lo bisa belajar dari kesalahan ini," suara Orion menahan langkah kaki Candy.
Ia berbalik. "Itu bukan urusan kamu."
Orion mempertajam tatapannya.
"Iya, itu emang bukan urusan gue. Dari awal hal itu bukan urusan gue. Jadi, jangan sampai ada orang yang ngelakuin hal sama hanya untuk membuat lo sadar."
Candy setengah mati menahan keinginan untuk berkedip agar air mata yang sudah mengumpul di pelupuknya tidak terjatuh. Ia mengatupkan rahangnya kuat-kuat agar isakan tidak lolos dari mulutnya. Candy hanya bisa menatap Orion yang masih mempertahankan sorot mata dinginnya.
Saat beberapa saat menyiksa Candy dengan sikap bagai es yang tak mempunyai perasaan, Orion berbalik.
"Kalo aku bilang aku nggak percaya sama ucapan kamu tadi, gimana?" Bisik Candy dengan satu tetes air matanya yang jatuh. "Aku emang percaya kalau kamu manfaatin aku, tapi aku juga percaya jika ucapan kamu tentang suka itu kebenarannya."
Tubuh Orion menegang. Cowok itu berbalik. Ia masih menatap Candy dengan sorot dingin seperti tadi.
"Kebegoan lo itu emang nggak ada obatnya, ya," ujar Orion datar. "Lupain perkataan gue minggu lalu tentang itu, gue emang lagi main-main sama lo!"
"Tapi apa yang udah kita laluin itu bukan kebohongan," sebutlah dirinya bodoh. Namun sekarang hati mengambil alih langkah dan pikirannya.
Orion tertawa hingga membuat Candy mengatupkan bibirnya dan mundur satu langkah tanpa sadar. Orion tertawa dingin, begitu jahat.
"Lo kira perlakuan baik gue itu serius sama lo?" Tanya Orion masih dengan seulas seringai yang tidak mencapai matanya. "Lo pikir, karena gue bersikap baik gue suka sama lo? Lo harusnya sadar diri dong."
Bibir bawah Candy bergetar hebat. Namun ia menatap sosok mengerikan di depannya dengan berani.
"Bohong," celetuk Candy tiba-tiba. "Berhenti bohong! Emangnya aku nggak tahu, kalau gelang hitam itu bukan dari Regaz tapi kamu!"
Orion berjalan mendekati Candy, hingga jarak mereka begitu dekat.
"Lo nggak kenal gue. Gue itu egois, kejam dan akan ngelakuin apapun demi sebuah tujuan," bisikan dingin di telinga Candy terdengar.
"Sedetik aja. Walau hanya sedetik, kamu nggak pernah tulus sama aku?" Tanya Candy.
"Berhenti nanya kayak gitu," katanya pelan seraya memasukkan kedua tangannya ke saku jaket. "Lo udah tau jawabannya. Cukup, Elisa. Berhenti sampai sini, lo udah nggak berguna buat gue."
Orion mengatakannya dengan tegas. Seperti ultimatum yang tidak diragukan kebenarannya. Kekuatan dalam kalimat itu berhasil mengunci mulut Candy, menghilangkan suaranya. Orion menatapnya tidak lagi dengan sorot mata dingin melainkan ... kasihan? Sebegitu rendahkah dirinya di depan Orion?
Ketika Orion menghillang bersama motornya, ia baru mengizinkan air matanya meleleh disertai isakan yang tertahan. Cerita ini terbuat hanya karena balas dendam. Tidak pernah ada rasa hanya pemanfaatan. Nyatanya senyum yang Candy kira tulus itu semuanya kepalsuan.
Selama ini, dirinya terlalu larut oleh smile effect yang bisa membutakan mata semua orang.
Tanpa di duga gelombang memori menerpa menimbulkan aliran emosi yang menghentaknya kuat-kuat. Candy berjongkok dan memeluk dirinya sendiri. Ada yang berdenyut nyeri tepat di dadanya.
Nyatanya denting mereka hanya berhenti di angka tiga puluh sembilan. Tidak mencapai angka keabadian.
__ADS_1
Namun yang Candy tidak tahu, jauh di depan sana ada sosok yang bersembunyi dan menatapnya sendu. Fur Elise adalah kisah cinta yang tak pernah tersampaikan dan Elisa adalah seseorang yang tak pernah akan ia capai. Ia terdiam, menatap gadis itu dengan senyuman miris di bibirnya.
"Makasih dan maaf."
Ada dua hati tersakiti tanpa ada seorangpun yang tahu.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...Tidak. Aku tidak ingin lebih dari ini. ...
...Meski hati menuntut untuk memiliki,...
...Meskipun bayangmu membuatku terjebak dalam delusi,...
...Bahkan jika khayalku yang membuat aku menanti bagai orang bodoh disini, ...
...Sungguh, aku tak akan mencintai lebih dari ini....
...Biarlah waktu yang menghapusnya perlahan,...
...Dan hujan yang mengikisnya pelan-pelan....
...Lalu, aku akan berdiri sebagai seseorang yang baru,...
...Tanpa ada yang tersisa dariku....
...Ini sudah cukup. ...
...Dan aku bahagia walaupun waktuku denganmu hanyalah sebatas semu....
...Yang suatu saat akan menghilang seiring berjalannya waktu....
...Setidaknya, sekali saja ......
...Izinkan hati saling menyapa, walau dengan senandung yang berbeda....
...Setelahnya ... sungguh aku tak akan lagi berjumpa....
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...The end of story Candy Elisa...
A/N: udah selesaii ... akhirnya aku bisa bernapas lega. buat kalian yang bertanya-tanya 'Lho kok ini endingnya gini?'
aku bakal jawab, ya emang gitu wkwk:v
Sampai jumpa di Epilog hari senin
Bhubhay^^
__ADS_1