Smile Effect

Smile Effect
Denting ke DuaSembilan


__ADS_3

"Tapi itu juga ilusi. Masalah tetap ada, gangguan tetap ada begitu kamu buka mata."


Ada senyum tipis yang tersungging di bibir Orion. Cowok itu beranjak dari posisinya. Berdiri membelakangi Candy, menantang angin yang berhembus keras di seputaran atap sekolah.


"Seenggaknya itu ngasih lo waktu buat bangun keberanian. Segala sesuatu di dunia ini asalnya sama, gelap. Cahaya yang buat semuanya keliatan jelas,"


Sejelas mimpi buruk yang selalu ia jalani setiap harinya. Saat mata itu tertutup, kenangan itu hadir bagai kaset yang sudah diatur untuk berputar berulang-ulang, mencekiknya perlahan-lahan. Dunianya berbeda pada orang pada umumnya. Saat orang lain tak melihat apa-apa ketika memejamkan mata, Orion justru sebaliknya. Ia cukup lelah dengan itu.


Selama beberapa saat mereka terdiam. Candy tak menampik jika yang Orion katakan adalah benar. Masalah adalah ilusi, keindahan itu pun juga ilusi. Pada akhirnya nanti, semuanya akan kembali kepada posisi semula.


Pandangannya beralih pada punggung Orion.


"Tapi, luka di mata kamu itu bukan ilusi, 'kan?" Kuaknya. Bahu Orion menegang sekejap.


Cowok itu menoleh cepat dan memasang senyum menyebalkannya. "Mata gue nggak kenapa-napa. Mana ada luka,"


Candy merotasikan matanya. "Emang secara fisik kamu nggak terluka, tapi mata kamu nggak bisa bohong!"


Cowok itu terkekeh tanpa suara. "Yaudah, yang penting nggak gila aja. Simpel, 'kan?"


"Heh, kok enteng banget sih ngomongnya? Kamu nggak takut apa gila beneran?"


"Takut," balas Orion tanpa menampakkan ekspresi yang mendukung kata-katanya sedikitpun. Wajah itu masih sedatar biasanya sehingga Candy mulai berpikir kalau ketakutan Orion hanya bualan.


"Terus, kapan sandiwara kamu selesai?"


Tatapan tak suka Orion tertuju padanya. "Berhenti tanya-tanya, bisa?!"


"Mulut aku remnya blong. Jadi nggak bisa,"


Orion berdecak. Sudah beberapa kali ia peringatkan pada gadis itu untuk mencampuri urusannya, namun Candy ya Candy.


Tak mau menyerah untuk mengurangi rasa penasaran di hatinya. Candy kembali bertanya, "Terus, apa orangtua kamu tau kalau kamu itu bukan Regaz tapi Orion? Kenapa kalian bisa bertukar peran? Kenap--"


"Apa imbalannya kalau gue jawab?"


Eh, imbalan? Masa menjawab pertanyaan saja harus diberi imbalan? Memangnya ini acara interview?


"Gue minta imbalan di muka, baru abis itu gue bakal jawab semua pertanyaan lo," tegas Orion.


"Kamu kan tahu aku nggak punya uang."


Orion menggertakkan giginya kesal. "Lo pikir gue semantre itu, apa?!"


"Kalau bukan uang terus apa? Aku bakal berusaha turutin apa mau kamu."


Skot jump, push up, shut up, salto, atau apalah saja asal rasa penasarannya terobati sedikit saja.


Cowok itu menatapnya lurus. "Lo-," satu kakinya di tekuk sehingga wajah mereka kini sejajar.  Orion tersenyum manis. "-, Mau nggak kawin lari sama gue?"


"APA?" Candy berteriak heboh. Setelah rahasianya terbongkar, sepertinya otak cowok itu jadi koslet hingga seperti ini. "Kamu gila!"


"Lo baru tau?"

__ADS_1


Candy menjauhkan wajahnya. Ingatan tentang ciuman Orion di koridor kelas membuatnya bersikap siaga.


"Nggak! Sampai kapan pun aku nggak mau!"


"Ya udah," cowok itu mengangjat bahunya tak peduli. Ditawari kedudukan bagus tidak mau. Ia kemudian terkekeh sendiri. Diacaknya rambut gadis itu hingga membuat si empunya memekik.


"Apaan sih main acak-acak. Berantakan kan jadinya!"


"Gue bercanda. Lo serius banget jadi cewek,"


Gerakan tangan Candy yang sedang merapikan rambutnya terhenti. Yang begitu di sebut candaa? Selera humornya buruk sekali.


"Gak usah kege-eran," lanjut Orion sambil berdiri. "Cewek kayak lo bukan tipe gue. Tenang aja,"


Bu-kan ti-penya. Cu-ma ber-can-da.


Oh, tentu saja dia bukan tipenya. Tipe cowok seperti Re-Orion itu pastilah sekelas Selena Gomez. Eh, tunggu? Apa ia baru saja terluka?


Candy menelan ludahnya gugup. Sekuat apapun ia menyadarkan diri, tetap saja egonya sebagai perempuan terluka.


Candy menggelengkan kepalanya sudahlah, lupakan saja. "Jadi, kamu minta imbalan apa?" Tanyanya kemudian, berusaha seceria mungkin.


Orion mengerjap. Ia menyeringai kepada Candy penuh makna. "Temenin gue ke suatu tempat!"


"Kemana?"


Bahu Orion mengangkat sedikit. "Nanti juga lo tau."


...***...


Bukan bioskop, konser atau acara kekinian yang biasa remaja lainnya untuk mengunjungi penat. Orion justru membawanya menonton kuda lumpimg.


"Kita harus nyari tempat yang lebih deket," gumam Orion ketika melihat kerumunan orang dengan payung di tangan. Matahari masih terik dan di jam-jam segini pasti kuda lumping sedang menuju klimaks.


Saat ini mereka berdiri di parkiran dadakan yang menjadi tempat motor besarnya beranaung. Gaya cowok itu juga masih sama. Jaket hitam yang menutupi seragam yang ia kenakan kemudian ikat kepala warna senada melingkar di keningnya. Dengan itu saja, Orion sukses menjadi bahan lirikan perempuan ada disana.


"Nggak, ah. Ada barongan, aku disini aja," Candy menggeleng ngeri saat membayangkan suara ctak-ctak dari suara mulut barongan yang dibuka dan di tutup bergantian.


"Kenapa?" Orion menoleh. "Ini udah mau puncak. Nggak seru kalo di pinggir. Enakan juga deketan,"


"Ramai," Candy mencoba beralasan agar Orion tidak benar-benar melaksanakan niatnya.


"Nggak apa-apa. Ayo!" Tarikan kuat di tangannya semakin meningkatkan adrenalin di sekujut tubuh Candy. "Ayo, Can!"


Orion gila? Yang benar saja dirinya di suruh nonton dekat-dekat kuda lumping. Kalau nanti barongannya kesurupan terus menyeruduk bagaimana?


"Serius, aku takut. Kamu sendiri aja deh ke tengah lapang," tangannya berusaha lepas dari genggaman Orion. Susah. Cengkeram cowok itu seperti hulk.


"Ogah. Ntar lo di culik, gue yang repot!"


"Tapi, Ri--"


Decakan Orion langsung memotongnya. "Halah, cuma nonton kuda lumping bukan singa lahiran aja, banyak tingkah! Ayo, ah!"

__ADS_1


Tanpa menunggu persetujuan Candy, cowok itu meningkatkan kekutaannya untuk menyeret Candy bergabung di kerumunan. Orion bahkan tak segan-segan mendorong bahunya untuk menelusup diantara ibu-ibu.


Sesak. Panas. Ditambah kumpulan orang yang berjoget-joget di depan sana membuat  nyawa Candy setengah terbang.


"Panas. Aku pulang aja, ya."


"Enggak. Tonton ini sampai selesai!" Orion masih memegang bahunya. Postur tubuh tinggi yang ia miliki memberinya kemudahan. Walau posisinya tidak terlalu depan, acara masih bisa dinikmati tanpa terhalang payung.


"Orion, serius aku gemeteran," bisik Candy saat cowok itu tak mengindahkan omongannya.


"Barongan nggak doyan daging lo. Pait. Tenang aja,"


Candy mengenyahkan tangan Orion dari bahunya. Ia menoleh kesal. "Tapi nanti di seruduk gimana? Biasanya kan jalan-jalan terus nyeret penonton,"


"Ya lari," jawab Orion asal. Matanya menatap penuh minat pada sekumpulan orang yang berjoget mengikuti musik.


Andai saja dulu ia tak egois, mungkin ia bisa menikmati acara ini dengan Regaz dan Edgar. Andai saja dulu ia tetap memendam perasaanya, mungkin sekarang mereka aka tetap bersama.


"Kamu nyebelin. Kenapa ngajak nonton beginian, sih?"


Lamunannya terbang seketika. Ia tidak bisa menahan diri untuk tersenyum kecut saat semuanya berakhir secepat satu kedipan.


"Kenapa nggak sama temen-temen kamu aja?" Candy memprovokasi lagi.


Orion menumpukkan dagunya di kepala gadis itu dengan gemas. "Jangan bawel. Nonton aja deh. Nggak setiap hari nemu kek gini,"


"Kuker," Candy menyundul kepala Orion yang bertengger di puncak kepalanya hingga cowok itu mengaduh. "Pamitnya tadi sama Pak Jaya apa coba?"


"Belajar di luat,"


"Terus ini apa?"


Bimbingan memang sedang diintesifkan sehingga mengambil jam pelajaran terakhir. Seperti sebelumnya, Candy mau tak mau harus menuruti.


Kekehan usil Orion menegaskan penyelewengan yang mereka lakukan.


"Sekali-kali lo harus bolos. Jadi murid jangan terlalu lempeng, Cil."


"Ajaran sesat. Mau aku tampol lagi?" Cibir Candy seraya mengangkat telapak tangannya.


"Itu melanggar peraturan pelajar dan murid."


"Kita seangkatan ya."


"Nggak ada bedanya tuh," elak Orion tak mau kalah. Dagunya menggedik. "Udahlah. Jangan mancing, nonton yang bener aja. Di depan lagi rame-ramenya."


"ORION, AKU TAKUT!"


Orang di depannya mundur jadi otomatis Candy juga ikut mundur. Kakinya menginjak kaki Orion yang belum sempat berkelit.


"Apa sih," Orion mengangkat tas Candy kemudian menggeser tubuhnya ke samping agar gadis itu merasa nyaman. "Ini bentar lagi pasti kelar," jarak antara klimaks hingga ending biasanya tak jauh. Namun merasakan gemetar yang nyata ketika ia menyentuh tas Candy, ia berpikir untuk menepi sebentar. "Mau beli sesuatu dulu?"


...\=\=\=\=\=...

__ADS_1


...-TO BE CONTINUED-...


__ADS_2