Smile Effect

Smile Effect
Denting ke TigaSatu


__ADS_3

"Berhenti ...," Napasnya terengah saat Orion melepaskan tangannya. Acara kabur sukses di laksanakan, tapi tidak dengan dadanya yang nyaris meledak karena berlari kencang.


Setelah dengan tidak sopannya cowok itu menarik Candy keluar kelas tanpa pamit. Ia justru harus berlari dari kejaran guru yang sedang mengajarnya. Hatinya harap-harap cemas karena setelah ini poinnya pasti akan berkurang.


Stamina Bu Luna patut diacungi jempol. Mungkin karena usia beliau yang tergolong masih muda jadi masih kuat mengejar. Atas dasar itu pula, cowok sint*ng ini mengajak Candy memutari satu gedung sebelum berakhir di atap sekolah.


"Gila! Padahal gue udah nyuri pentungan satpam waktu itu. Kok masih ada kloningannya?"


Candy melirik sinis. Manusia satu itu masih sempat-sempatnya memikirkan pentungan yang di acung-acungkan oleh Bu Luna?


"Kamu nggak ada kerjaan lain apa selain bahas itu? Kita hampir aja di sidang di ruang BK tahu!"


Ah, Candy baru ingat. Jika yang sekarang berhadapan dengannya bukanlah Regaz melainkan Orion sang pembuat onar, bahkan ketakutan cowok itu pada peraturan sekolah sepertinya nihil. Cowok itu justru dengan santainya berjalan menuju bangku panjang yang digunakan untuk dua bibit tanaman. Dia bahkan duduk bertopang kaki.


"Makanya gue narik lo supaya lari. Lo malah diem aja kayak orang idi*t," hujat Orion mengacu pada tindakan Candy tadi. Masa ada guru yang bermaksud memangsa murid, dia malah diam saja? Logikan Candy sebenarnya dimana?


"Kan nggak salah. Ngapain lari kalau nggak salah?"


Orion berdecak. "Guru marah mana peduli salah atau nggak. Semuanya di seret. Urusan salah atau nggaknya entar belakangan. Lo nggak tau hukum apa ini?"


"Nggak."


"Pantes. Lo anak baik-baik sih,"cibir Orion. Pola pikir anak baik-baik pasti berbeda jauh dengan pola pikirannya yang setengah nakal sepertinya.


Candy membantah, "Kamu juga anak baik-baik. Buktinya, emm ..., apa ya?" Pikir Candy. Jika cowok di hadapannya ini adalah Regaz yang asli mungkin Candy tak akan ragu tentang pencapaian cowok di bidang olimpiade-olimpiade yang di menangkan. Tapi, ini Orion! Cowok yang katanya langganan keluar-masuk ruang BP.


"Oh, iya! Kamu juga suka menang turnamen volly, 'kan," lanjutnya.


"Nggak. Itu cuma buat having fun aja," jawabnya enteng.


"Tapi kamu itu pinter tahu, nggak? Kalau aja kamu nggak nakal, pasti guru-guru bakal mandang kamu,"


"Terserah gue dong. Hidup-hidup gue ini, napa lo yang susah!" Orion meluruskan kakinya. Matahari yang tidak terlalu terik membuat sekitarnya tidak kepanasan. "Sometimes you should balance. Ada bagian dimana lo suka begini dan ada juga bagian dimana orang-orang suka lo jadi begitu,"


"Susah, lah."


"Nggak, kalau lo niat bener-bener ya bisa!"


"Kamu berarti bad boy langka. Populasinya hampir punah, harus di lestarikan," celetuk Candy ngawur. Orion mengubah tatapannya menjadi serius dan tajam sehingga gadis itu menyadari kesalahannya.


"Hampir punah?" Ulang cowok itu penuh penekanan. Candy merasa bersalah detik itu juga. Tetapi rasanya bersalahnya berubah menjadi kebingungan ketika cowok itu tertawa keras.

__ADS_1


"Punah?"


Pipi Candy memerah saat Orion mengulang kata itu dengan nada ejekan.


"A-apa sih ..."


Orion masih saja tergelak tanpa peduli pada wajah anak orang yang sudah merah padam.


"Diem ah! Nggak lucu tahu."


"Lo itu ya ...," Orion menggeleng disela tawanya. "Kadang polos, kadang beg*,  kadang lelet, kadang pinter. Dari sekian kondisi, gue paling suka sama lo yang polos. Lucu!"


Candy merengut. Jangan baper, jangan baper, pokoknya jangan baper! Anggap saja Orion sedang melawak. Suka itu bisa bermakna lain.


"Bisa-bisanya kamu ketawa!" Gadis itu pura-pura mendengus. "Sana masuk kelas! Udah bel dari tadi juga,"


Tawa Orion mereda meninggalkan sebuah kekehan. Ia meraba tengkuknya untuk melepaskan ikatan slayer, kemudian langsung membenahu rambutnya yang acak-acakan.


"Santai. Kata kelas sebelah, gurunya nggak ada kok. Paling ada tugas doang, Pak Jaya suruh gue buat intensifikasi. Kita belajar sampai bel pulang ya. Abis itu gue mau adain evaluasi,"


Candy mengerjap kaget. Gawat! Pemberitahuannya terlalu dadakan. Ia belum belajar materi ke seluruhan.


"Nggak belajar?" Alis Orion bertaut. Tumben anak rajin tidak belajar. "Lo ngapain aja? Main hape ya?"


"Hah? Ya, nggaklah! Aku bantuin Ibu bikin kue buat jualan. Kemarin apinya nggak nyala gara-gara kompor alamnya kena air hujan," terang Candy membela diri.


Ponsel bukan dunianya. Walaupun benda itu menarik, Candy tetap harus bisa mengendalikan diri agar tidak terlalu banyak menghabiskan waktu dengan ponsel. Ia tidak mau jadi nomophobia. Dunia ini luas, sayang jika dihabiskan dengan bermain ponsel seharian.


Orion menggaruk kepalanya. O-oke, ia akui bahwa ada satu kata yang tidak ia pahami.


"Kompor alam?"


Tatapan Candy berubah sinis. "Lahir abad berapa sih? Masa' yang gitu aja nggak tahu?"


"Emang nggak," jawabnya jujur.


Seberapa hebatnya air hujan bisa membuat kompor tak menyala? Kompor di apartement nya masih saja menyala tuh padahal Orion sudah menumpahkan kuah mie satu mangkuk besar diatasnya. Kompor Candy yang murahan berarti.


"Dasar kudet!" Cela Candy yang membuat Orion membuat tampang kecut. "Ituloh kompor yang buatnya dari batu bata yang di tumpuk-tumpuk sampe tengahnya bentuk lingkaran. Nama lainnya, hawu. Kalau dalemnya kena air, susah nyalain apinya,"


Suara Orion menghilang begitu Candy menjelaskannya. Matanya tak berkedip menatap Candy yang balik menatapnya. Bagaimana bisa seorang perempuan yang selalu ia anggap lemah, bisa setegar itu?

__ADS_1


Orion merengkuh tubuh kecil itu, ia mendekapnya erat. Membuat gadis itu tersembunyi di dadanya. Kepalanya menelusup diantara surai hitam yang ia temukan.


"Orion," lirih Candy membeku. Ini apa? Kenapa cowok itu memeluknya?


"Dasar bodoh!" Umpatan itu yang ia dengar seiring dengan dekapannya yang bertambah erat. "Kalo lo mau nangis, ya nangis. Kalo lo mau ketawa, ya ketawa. Kalo lo mau marah, ya marah. Kalo lo mau sedih, ya sedih. Gue bohong waktu bilang gue suka waktu lo polos. Nyatanya, gue paling suka pas liat lo jadi diri lo sendiri tanpa pakai topeng," bisik Orion di telinganya.


Sesak. Bibir bawahnya bergetar untuk berbagai alasan yang tidak pernah bisa ia ungkapkan.


Kenapa Orion harus tahu? Kenapa harus cowok itu yang mengerti? Kenapa harus Orion yang memeluknya seperti ini?


Satu tetes, dua tetes, air matanya turun perlahan. Pertahanan yang selama ini ia bangun sekuat tenaga mulai runtuh sedikit demi sedikit.


"Ma-makasih," Cengkeram di pundak Orion menguat. "Aku takut."


Besok makan atau tidak. Besok bisa sekolah atau tidak. Besok kerja atau tidak. Besok mau jadi apa, besok dia punya pendukung atau tidak? Semua perasaan itu yang mendominasi. Ia takut untuk bermimpi. Ia takut tidak memiliki seseorang yang terus mendukungnya.


Rena tak selalu ada bersamanya. Ibunya sudah tua. Setelah dua orang itu, siapa lagi yang ia harapkan untuk bisa menguatkannya? Masa depan terlalu menakutkan untuk di bayangkan. Kosong, suram, tak tahu arah.


Seakan tahu maksudnya. Orion mengukir senyum pahit.


"Jangan takut," bisiknya. Jarak diantara mereka merenggang. Cowok itu menangkup pipinya yang basah karena air mata. "Lo punya Tuhan. Dengan lo punya Tuhan, maka lo punya dunia. Kenapa lo harus takut, hm?"


Munafik! Kadang dirinya lupa jika ia masih punya Tuhan. Tetapi begitulah manusia, menasehati juara dan menerapkan ke diri sendiri entah abad berapa. Intinya biar orang lain termotivasi dulu, sedangkan dirinya sendiri entah kapan.


"Lo bisa, Can. Gue yakin lo bisa. Manusia pada dasarnya emang sendiri. Lahir apa lo bawa temen? Nggak, 'kan. Mati apa lo bawa temen? Nggak, sendiri juga. Jadi, kenapa lo masih ngandalin manusia yang sifatnya sementara, sedangkan lo tahu ending nya bakal gimana?"


Orion mengangkat tangannya untuk menyentuh pipi Candy, tetapi urung. Sebagai gantinya, ia mengepalkan tangan dan disimpannya dalam saku.


"Gue mungkin bukan simpatisan atau orang baik di muka bumi. Tapi, gue benci liat mata lo penuh luka. Tapi tetep aja lo senyum,"


Orion terkekeh. Suaranya berubah getir. Orang yang terluka selalu bisa mengenali sesamanya. Itulah kemampuan Orion yang tidak pernah di ketahui orang lain. Selama ia menjadi Regaz, siswa-siswa lain menghormatinya. Sedangkan dulu, ia hanyalah dibicarakan sebagai pembawa onar yang hobby nya keluar-masuk ruang BK.


"Lo bilang kalo gue egois. Nyatanya lo nggak beda jauh, Elisa. Lo mentingin orang lain, tapi lo biarin diri lo tersiksa. Lo selalu senyum dibalik luka yang lo sembunyikan. Apa lo nggak capek, Elisa?"


...\=\=\=\=\=...


...-TO BE CONTINUED-...


 


 

__ADS_1


__ADS_2