
Orang-orang akan tetap menyebalkan.
Jadi, kenapa kau harus memperdulikan?
\=\=\=\=\=\=
Asap rokok, kulit kacang yang berserakan, dan papan catur menjadi hal pertama yang Candy lihat. Regaz berkali-kali menyuruhnya melanjutkan langkah, tapi ia yang tak yakin justru ingin melarikan diri. Belum juga sampai, tapi ia sudah mengernyit. Tempat apa ini? Ia tak menyangka Regaz anak yang seperti ini? Tunggu, memangnya ia sudah sedekat apa dengan Regaz hingga berkomentar seperti itu. Candy merutuk dalam hati.
"Jangan takut, Can. Mereka nggak gigit kok," ujar Arya lembut.
"Iya, walaupun muka mereka kayak preman pasar," Bejo menimpali kata-kata Arya dengan nada bercanda. "Kecuali lo julitlah tentu bakal di hajar."
"Bejo!" Geram Regaz memperingatkan. Anak didiknya ini sedang takut, jangan di tambah mengatakan hal yang tidak-tidak hingga menyebabkan cewek ini kabur mendadak. Regaz tidak mau mengurusi orang yang tersesat ketika dirinya sedang menenangkan diri. Apalagi setelah sekian lama, ia tidak kembali ke dirinya saat ini.
"Canda, Bro," Bejo merangkul Arya sembari memberikan cengiran bodohnya.
Regaz merotasikan bola matanya. Ia mengibaskan tangan, tak mau ambil pusing menanggapi ucapan Bejo yang sama sekali tak lucu.
"Masuk. Entar kelamaan, gue yang bakal di semprot orang tuanya karena nyulik anak orang tiba-tiba."
Mereka terus berjalan menapaki teras rumah yang terlihat suram. Daripada rumah manusia, tempat ini lebih cocok disebut sebagai sarang hantu. Dinding-dinding penuh tulisan yang berwarna merah, sedangkan kulit kacang tersebar di lantainya.
Regaz berdehem, mengembalikan perhatian Candy ke arahnya.
"Udah habis berapa ton kacang, nih?"
Beberapa orang yang sibuk memainkan catur sontak menoleh. Wajah mereka terasa familiar sekaligus asing bagi Candy. Tapi, Candy berhasil mengenali salah satunya. Dia Rafi Ketua kelasnya.
Cowok itu tampak tertegun saat melihat dirinya. Namun sesaat kemudian, senyum lebar Rafi menyapanya.
"Hai, Can."
"Hai," Candy tersenyum paksa.
Rasanya aneh juga melihat cowok yang biasanya kalem dan bijaksana di kelasnya, ikut berkumpul seperti ini. Tampaknya istilah diam-diam menghanyutkan itu bukan hanya bualan semata.
"Dua Ton, Gaz. Tapi mulut gue masih kering nih,"
"Kering, karena hidup lo nggak subur 'kan Wan. Noh, minum air comberan biar mulut lo nggak kering," tukas Rafi mengejek. Cowok berambut gondrong di sampingnya hanya membuang muka.
Regaz tersenyum tipis, ia memberi kode pada mereka untuk mengikutinya dan menghilang di balik pintu. Candy tercenung di tempatnya, ia ditinggalkan? Gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekitar hanya ada ia, Rafi dan tiga orang cowok lainnya yang ia tak ketahui.
"Kalo lo mikir kita bakal godain lo, tenang aja Can. Kita masih takut disembur sama kata-kata pedasnya Regaz," canda Rafi diiringi kekehannya.
__ADS_1
"Gue juga baru putus. Nggak doyan nikung, cuy," si gondrong di dekat Rafi menggeleng.
"Sini Can, duduk. Wawan kasih kursi lo buat Candy,"
Dengan ragu Candy mendudukan dirinya di kursi. Candy bingung bercampur dengan khawatir. Ia bingung, karena buat apa Regaz mengajaknya ke tempat seperti ini. Ia juga khawatir perihal Ibunya yang sudah menunggunya pulang. Takut juga Candy rasakan karena ia satu-satunya perempuan di sini.
"Lo kaget ya, lihat gue ada disini?" Rafi masih fokus bermain catur dengan cowok berkulit kuning langsat.
Kikuk. Candy mengangguk. Ya, dia juga bingung karena ternyata Rafi—yang notabe ketua kelasnya—kenal dengan Regaz. Perasaan ia tidak pernah melihat Regaz dan Rafi mengobrol di sekolah. Ia juga tidak terlalu akrab dengan Rafi, bahkan nyaris tidak pernah berkomunikasi di kelas. Candy tidak terlalu nyaman berinteraksi bersama cowok, ya kecuali Egi—pacar Rena—juga Regaz mengingat cowok itu tutornya.
"Udah lama kali gue kenal Regaz."
"O-oh? Soalnya aku jarang lihat kamu bareng Regaz waktu di sekolah," Candy yakin sekarang Rafi memang sudah mengenal Regaz cukup lama atau memang sudah lama, karena dari cara Rafi berbicara tentang Regaz sudah tak terasa canggung atau segan lagi.
Rafi terkekeh. "Jarang lah, gue nggak mau jadi sorotan di sekolah. Cukup jadi orang biasa aja,"
Candy mengangguk. "Terus, ini tempat apa?" Ia tidak bisa menahan rasa penasarannya.
"Ini tempat kita nongkrong-nongkrong biasa. Kadang juga diskusi tentang mau ke gunung mana lagi. Terus--"
"Rafi!
Suara berat dari ambang pintu sana menghentikan ucapan Rafi. Regaz sudah ada disana menatapnya tak suka. Sedangkan Rafi yang sedang di tatap tajam, hanya tersenyum geli. Hampir saja ia kelepasan.
"Yaelah Gaz, itu mata kayak mau keluar aja," Wawan meringis ketika mendapat jitakan keras dari Regaz.
Candy menatap intens interaksi Regaz bersama teman-temannya. Ia mencoba mengingat sesuatu yang ia lewatkan.
"... Dy ... Candy ... bocah!"
Candy tersentak, lalu mengernyitkan kening. Bocah?
"Ck, mau pulang kagak? Kalo nggak, gue tinggal nih!" Kalimat ketus yang keluar dari mulut Regaz membuat Candy menipiskan bibirnya. Ia kesal.
"Mau," ujarnya pelan.
"Eh, eh, bentar dulu bos. Gue belum dengerin hasil rapat tadi," Wawan memotong cepat.
"Tanyain aja ke yang lain lah. Gue males kalo harus jelasin lagi," ujar Regaz malas.
Wawan berdecak sebal. "Cielah, mentang-mentang sekarang lo udah punya gandengan--"
"Jones diem aja udah!"
__ADS_1
Jleb!
Wawan langsung bungkam. Regaz memang ahli membuat lawannya dongkol. Kata-katanya itu yang membuat orang lain enggan membuka mulut lagi. Karena apa? Karena perkataan pedas namun raut muka yang datar, membuat orang lain dongkol setengah mati. Jika diteruskan berdebat so, orang itu harus menerima konsekuensi kekalahan.
"Gue mau mulangin dulu nih bocah!"
Candy mengernyit. "Aku bukan bocah!" Bela Candy.
Regaz menarik bibirnya mengejek. "Oh,"
Sabar, sabar. Candy mengelus dadanya pelan. Jangan sampai ia mengumpat dan melanggar ucapan Mamanya yang melarangnya berbicara kasar.
"Iya deh," ujar Candy pasrah.
Arya yang baru muncul di ruang utama menepuk pundak Regaz lalu membisikkan sesuatu pada cowok itu yang berhasil memancing rasa penasaran Candy. Kenapa harus bisik-bisik? Apa karena ada dirinya?
"Oke gue ngerti," Regaz mengangguk yang membuat Arya tersenyum puas. Regaz meninggalkan ruangan itu lagi dan membuat Candy harus menahan rasa kesalnya dalam hati lebih lama lagi. Katanya mau pulang, kenapa kini ia ditinggal lagi?
Tatapan Arya teralih pada Candy yang masih berdiri dengan canggungnya. Cowok itu mendekati Candy selangkah. "Nggak nyaman, ya?"
"Hah?" Candy mendongak menatap wajah Arya yang lebih tinggi darinya. "Mm, ya."
"Regaz masih ada urusan, gue temenin ngobrol-ngobrol dulu aja. Ayo duduk!"
Dengan enggan Candy beranjak menuju kursi yang tadi ia tempati lagi.
"Lo pasti bingung, kenapa sikap Regaz beda 'kan?" Pertanyaan Arya memancing perhatian Rafi dan Wawan yang sedang sibuk bermain catur, raut wajah mereka terlihat tak suka.
Candy menatap Arya bertanya.
"Lo juga pasti bingung kenapa kita semua bisa barengan padahal di sekolah kayak orang yang nggak kenal?" Arya kembali melemparkan pertanyaan yang jatuhnya seperti tebakan.
Candy mengangguk ragu. Ini bukan urusannya kan? Tapi kenapa ia merasa harus tahu seperti ini?
"Regaz itu ..."
"Udah cukup sampai situ Arya!" Wawan menegur Arya dengan suara yang ditegas-tegaskan. "Ngapain lo ngomong banyak sama ini cewek!"
Arya terkekeh seraya menyugar rambutnya ke belakang. "Iya-iya. Maaf. Tapi, Candy ... " tatapan Arya tak seteduh tadi membuat Candy menegakkan tubuhnya. "Jangan main-main sama Regaz. Karena kita yang bakal bertindak," lanjutnya.
Candy mengernyit, ini ceritanya ia sedang diancam ya? Tapi apa kesalahannya?
\=\=\=\=\=
__ADS_1
-TO BE CONTINUED-
A/N: Menuju konflik, mungkin sih😅😂😂