
Ruang temaram menjadi salah satu objek yang terlihat. Jendela yang terbuka membuat ruangan itu agak terang karena cahaya bulan.
Angin yang masuk dari jendela membuat ruangan itu dingin. Sosok cowok yang sedang bermain piano di ruangan itu terlihat di balik tirai yang mengibar ke terpa angin.
Orion memainkan piano itu penuh penghayatannya, ia bermain sambil melihat foto seseorang yang mirip dengannya.
Orion tersenyum tipis saat sekelebat ingatan sore tadi teringat. Waktu yang ia pikir tidak akan terjadi. Alunan piano itu melambat seiring dirinya menundukkan kepala. Ia menghentikan jarinya yang menari diatas not-not itu.
Orion menghela napasnya pelan. "Tujuan gue tinggal selangkah lagi. Buat apa gue ragu?" Gumamnya pada angin yang meniupkan tirai. "Dia juga keliatannya udah mulai nyaman sama gue, setelah itu tugas gue selesai. Tapi kenapa gue-,"
Orion berdecih pelan. "Bukannya ini setimbang?" Ia menggeleng. Tangannya mengusak rambut kasar, apa yang ia lakukan? Kenapa ia malah berceloteh sendiri?
Drrt ... Drrtt ... Drrtt ...
Suara dari ponselnya yang bergetar membuat ia mengangkat kepalanya. Tangannya meraih benda pipih yang ia simpan di atas piano berwarna cokelat tua itu.
Bunda. Nama itu yang tertera saat ia membuka kunci ponselnya. Ia menatap sesaat nama itu, orang yang selalu ingin di temuinya, namun dirinya tak punya keberanian. Ia takut, ia juga sedih. Namun di satu sisi ia juga merindukan sosok yang selama ini begitu menyayanginya.
Dengan satu tarikan napas ia menekan tombol hijau disana. Dan seperkian detik selanjutnya, jantungnya berdetak sangat cepat. Seluruh badannya terasa panas dan gemetar. Apa ia tak salah dengar? Apa sekarang ia sedang bermimpi atau berhalusinasi? Tolong siapapun beritahu dirinya!
"Bunda," sepatah kata yang keluar dari mulut Orion beriringan dengan setetes air mata yang lolos dari pelupuk matanya.
"Orion, kapan kamu pulang? Maafin Bunda."
...***...
Arya mendengar semuanya. Pada mulanya, ia hendak menyambangi Pak Jaya di ruang tata usaha demi mengingatkan beliau soal jam tambahan di kelasnya. Namun begitu sadar guru fisika tersebut tengah terlibat pembicaraan serius dengan Candy, ia terpaksa menunggu. Takut kena sembur, itu pikirnya.
"Putus sekolah?" Gumam Arya terkejut.
Jalan seperti ini bahkan tidak pernah terlintas di kepalanya yang lumayan pintar. Terlalu mustahil mengingat cewek itu yang selalu semangat pergi ke sekolah. Saat mereka pertama kali bertemu di gerbang sekolah karena ia tidak sengaja menyenggol, ia melihat Candy adalah gadis yang punya semangat belajar yang bagus.
__ADS_1
Setidaknya dari sana Arya bisa menilai jika Candy menikmati saat-saat belajar di sekolah ini.
"Kalau itu keputusan kamu, Bapak tidak bisa berbuat banyak Candy," ujar Pak Jaya pasrah. "Tapi jika soal biaya sekolah yang kamu khawatirkan, kita bisa cari jalan keluarnya."
Pelan tapi pasti, kepala Candy mendongak ketika Pak Jaya berkata demikian. Beliau tersenyum. "Bapak tahu keresahan kamu, tapi jangan cepat putus asa seperti ini. Kita akan cari solusinya sama-sama. Tidak sulit mengingat kamu murid berprestasi disini. Jangan khawatir, ya?"
"M-maksud Bapak?" Tanya gadis itu terbata.
"Pihak sekolah akan mencari donatur untuk kamu. Belum positif ada memang, tetapi kita akan mengusahakan."
Pertahanan Candy hancur seketika. Ia menangis hebat mendengar kalimat tersebut. Segala kesedihan, kenyataan hidup yang membuatnya harus mengakhiri mimpi, kesakitan tanpa ujung karena berpikir tak ada lagi orang yang mendukungnya, runtuh berkat satu kalimat.
"Makasih, Pak."
Tubuhnya merosot jatuh hingga bersimpuh. Wajahnya tertutup oleh kedua tangannya sendiri. Candy menangis seakan besok tak akan ada hari lagi di depan Pak Jaya. Belum pasti, tetapi ada secercah harapan disini. Itu sudah lebih dari cukup.
"Ya Allah makasih, Pak. Saya nggak tahu harus gimana lagi,"
Tujuh belas tahun hidupnya di habiskan dengan Ibunya. Ayahnya menelantarkan mereka berdua dan entah kemana. Ia hampir tidak tahu apa itu definisi Ayah jika guru di sekolah tidak menjelaskannya.
Setiap malam ia berharap, Tuhan akan sedikit berbaik hati untuk membuatnya bahagia.
"Sudah jangan menangis Candy," ujar Pak Jaya menenangkan.
Tangan besarnya menepuk kepala Candy beberapa kali. Dadanya sedikit sesak melihat tangisan muridnya. Hidup gadis itu pasti berat sekali. Ia akan berusaha sekuat tenaga untuk merayu pihak sekolah agar muridnya yang satu ini bisa tamat sekolah.
Candy mengigit bibir bawahnya kencang. Tidak bisa. Ia tidak bisa berhenti menangis. Perasaannya diliputi berbagai macam emosi ia membuatnya sesak.
Tanpa bisa menahannya lagi, Candy membiarkan dirinya terseret alam bawah sadarnya. Hingga semuanya menjadi gelap.
...***...
__ADS_1
Terhitung sudah beberapa kali Arya menarik napas panjang seraya memijat kening. Ia tak habis pikir dengan Candy yang tiba-tiba pingsan dan membuat Pak Jaya kalang kabut hingga mengundang dokter puskesmas.
"Dia kelelahan. Mungkin karena menangis terus menerus," terang sang dokter padanya. "Kondisi tubuhnya juga lemah, malnutrisi. Saya meresepkan beberapa vitamin untuk Candy minum rutin,"
Tidak ada yang Arya berikan selain anggukan lemah. Tugasnya hanya menemani Candy di UKS dan mendengarkan apa saja yang dokter katakan. Akan tetapi, rasa-rasanya setelah mendengar ini, Arya serasa sudah menjadi orang bodoh sejagat.
Seharusnya kemarin bukan uang yang ia berikan untuk bela sungkawa. Anak-anak yang lain juga tidak peka hingga Candy pingsan begini. Gadis itu lebih butuh makan daripada uang.
"Saya pamit dulu, permisi."
"Iya, makasih Dok."
Usai kepergian sang dokter dari UKS, Arya menggusur kursi plastik yang selalu di gunakan anak PMR sewaktu bertugas. Sayangnya, ini masih masuk jam pelajaran sehingga bocah-bocah ber-slayer biru itu tidak ada.
Arya bertopang dagu. "Ternyata lo bisa pingsan juga ya, Dy," gumamnya.
Wajah Candy pucat sekali. Berapa lama gadis ini menangis? Apa dia tidak makan dengan baik sampai tumbang seperti ini?
Dasar bodoh! Rutuk Arya dalam hati.
Sentilan pelan ia layangkan pada kening Candy yang terbuka.
"Lo tuh ya, sedih sih sedih. Tapi jangan lupa makan sama istirahat juga," diam sejenak. Arya merapikan rambut gadis itu yang basah karena keringat dingin. Mata Candy masih terpejam padahal sudah satu jam berlalu. "Gue emang nggak tau rasanya kehilangan kayak apa. Yang jelas pasti sakit banget ya, sampai lo kayak gini?"
Ia tidak mau sok tahu dengan menasihati Candy agar melupakan semuanya dan menjadikan ini sebagai pecutan di masa depan. Orion pernah memberinya bogem mentah gara-gara masalah empati.
Cecunguk itu mengatakan jika kedalaman luka seseorang tidak ada yang tahu. Ketika seseorang berkata sakit, manusia lain hanya melihat. Karena hal itulah mereka mudah sekali mengatakan bangkit dan lupakanlah. Namun, sesungguhnya yang mengetahui detail rasa sakit adalah orang yang mengalaminya.
Jadi, bagaimana bisa mereka hanya melihat dan berkata-kata dengan semudah itu, padahal tidak merasakannya?
Ia tersenyum pahit. "Gue juga nggak bakal bandingin rasa sakit lo sama rasa sakit orang yang gue kenal Dy," sambung Arya.
__ADS_1
...\=\=\=\=\=...
...-TO BE CONTINUED-...