
"Candy, tolongin gue dong~" rengek Rena seraya mengguncang-guncang lengan Candy.
Entahlah, sesampainya di kelas tadi sahabatnya itu sudah bertindak misuh-misuh seraya mengguncang-guncang tangannya.
"Tolongin apa sih, Na? Aku nggak tahu harus nolongin gimana kalau kamu nggak jelasin dulu," ujar Candy sebal. Kenapa sih orang-orang selalu berbicara tanpa menjelaskan terlebih dahulu?
"Egi, Can ... Egi," ujar Rena resah, kebiasaan gadis itu jika khawatir pasti mengigiti kukunya.
Candy menyingkirkan tangan Rena dari mulutnya. Dia takut tangan gadis itu terluka jika di gigiti terus menerus.
"Tenang dulu deh. Emang Egi kenapa?" Tanya Candy bingung. Pasalnya ia benar-benar tak mengerti apa yang sedang dibicarakan dari Rena yang misuh-misuh tak jelas.
"Dia pergokin gue lagi ngomogin cogan lain!" Ujar Rena cepat—secepat kereta api yang melaju kencang.
Candy mengerjapkan matanya beberapa kali. Tunggu, jadi yang mau Rena bicarakan padanya hanya itu? Ck, kenapa harus berbasa-basi dahulu.
"Oh," sahut Candy setengah hati.
Rena melongo kaget. Sahabatnya ini sama sekali tak memberinya solusi untuk membantu dirinya menghindar dari amukan Egi, sang kekasih.
"Terus, gue musti bagaimana? Egi sekarang pasti lagi nyariin gue. Apa gue bolos aja, ya?" Pikirnya bimbang.
"Kamu jelasin aja. Kalau kamu itu cuma ngegosip bukan maksud tujuan lain," kata Candy seraya membuka-buka buku latihannya.
"Kalo dia tetep ngambek sama gue, gimana?" Tanya Rena dengan raut muka sedih.
Candy menutup buku latihan olimpiade-nya. "Ya sabar aja udah,"
"Gampang ya kalo ngomong! Ck, kenapa sih gue punya pacar yang posesif. Sialnya, gue udah jatuh cinta sama dia!"
"Gak tahu," sahut Candy mengangkat kedua bahunya.
"Ish, lo gitu! Dari tadi jawabnya singkat. Jangan-jangan lo sebenernya males nanggepin cerita gue?!" Seru Rena ngegas.
Candy memijat pangkal hidungnya pelan. Sejak tadi pikirannya berkabut oleh satu hal. Regaz, tadi malam ia tak bisa menemani cowok itu sampai tersadar karena takut pulang kemalaman.
Meski cowok itu sudah mengabarinya lewat ponsel kalau Regaz baik-baik saja. Namun tetap saja, Candy khawatir. Bagaimana Candy tak khawatir jika cowok itu babak belur dan sampai jatuh pingsan.
Candy juga tak melihat Regaz di sekolah tadi pagi, biasanya Regaz sudah ada di lapang selolah sambil maim bola di pagi hari.
"... Dy ... Candy!"
"Iya, iya. Aku denger, kok!"
__ADS_1
"Ah lo mah, bohong ...," dan bla, bla, bla. Rena mengomeli Candy. Sampai gadis itu harus menutup telinganya yang terasa panas.
***
Jam pulang sekolah sudah berbunyi sejak lima belas menit yang lalu. Hari ini, ia tidak bimbingan karena Regaz tidak masuk sekolah. Itu artinya, ia bakal pulang cepat ke rumah hari ini.
Namun, sudah lima belas menit ia hanya duduk bersandar di halte bus. Bukan untuk naik bus, namun untuk berteduh dari hujan yang turun sangat deras ini. Candy menghela napasnya, jika saja tadi ia menerima ajakan pulang bareng dari Rena, mungkin ia bisa membantu Ibunya lebih cepat.
"Hujan kapan reda, ya?" Gumamnya pelan seraya menatap sendu pada air hujan yang menetes membasahi tanah.
"Coba tanya sama langit, dijamin nggak bakal jawab."
Candy tersentak saat ada suara bariton yang menyahut di sampingnya. Bukankah dari tadi ia sendiri di halte bus ini? Dengan perlahan ia menolehkan kepalanya pelan.
Cowok dengan rambut yang sudah setengah basah dan jaket yang ia lepaskan menatap Candy seraya menampilkan cengiran lebarnya.
"Arya?" Candy mengucapkan nama cowok itu ragu.
"Hei," Arya tersenyum lebar. "Nungguin bus?"
Candy menggeleng. "Lagi nungguin hujan reda, bukan bus."
Cowok itu hanya mengangguk sebagai jawabannya. Tangannya sibuk mengacak-ngacak rambutnya yang sudah setengah basah. Candy menatap Arya ragu.
Arya kembali membuka suara ketika Candy masih menampilkan raut ragu. "Kalo mau nanya, nanya aja jangan ragu!"
"Mm, itu ... Regaz, kamu udah nengok dia?"
Arya menghentikan kegiatannya, lalu menatap Candy serius. Sekarang Candy merasakan udaranya semakin dingin karena atmosfer di sekitarnya berubah menjadi serius. Arya yang selalu menampilkan muka ramahnya tadi, berganti menjadi raut muka datar.
Candy merasa dejavu dengan ini. Ia pernah merasakan hal ini waktu Regaz mengajaknya ke tempat nongkrong-nongkrongnya, kemarin malam.
"Lo sama Regaz kecelakaan kemarin malam waktu dia nganterin lo. Tapi kenapa lo nggak lecet sedikit pun, malah Regaz yang bonyok?" Bukannya menjawab, Arya malah balik bertanya pada Candy yang sudah tak nyaman di tempatnya.
'Harusnya aku nggak usah tanya tadi,' rutuknya dalam hati.
"Kenapa diem?"
Candy mengigit bibir bawahnya pelan. Ia masih ingat ancaman Arya pada dirinya tadi malam.
"Sebenarnya, itu bukan karena kecelakaan tapi karena dia berantem sama preman yang mau malak kita waktu malam," ujar Candy pelan. Ia menunduk, Candy sudah siap jika harus menerima amarah Arya. Kejadian semalam juga karena dia bukan? Jika saja ia tak ikut dengan Regaz mungkin cowok itu akan baik-baik saja saat ini.
"Pft, kenapa lo kaku banget. Sans ae, gue nggak bakal gigit kok," Arya tertawa melihat raut ketakutan yang terpancar dari wajah Candy. "Lo begini karena kata-kata gue semalam, ya? Udah jangan dipikirin, gue bercanda aja waktu itu," ujarnya lagi di tengah tawanya.
__ADS_1
Candy tersenyum paksa. Bercanda, ya? Tapi kenapa yang Candy rasakan Arya serius saat mengatakan itu.
Puk, puk.
Arya menepuk puncak kepala Candy dua kali, membuat gadis itu terlonjak. Ia menatap Arya bingung. Tangan cowok itu masih ada di kepalanya. Untuk apa ini?
"Dia baik-baik aja, kok. Gue udah jenguk sama lain waktu malam. Bahkan nginep disana," Arya menarik lengannya kembali. Ia mengubah posisi duduknya kembali menghadap depan.
"Nginep di rumah sakit?"
"Dia ngeyel pengen pulang. Jadi, kami nginep di apartemen nya," kata Arya menjelaskan.
Candy mengangguk. Hujan sudah tak sederas tadi, namun ia masih enggan beranjak. Seragam sekolahnya hanya punya satu ia takut basah. Jadi, ia memutuskan untuk menunggu hujan sampai reda.
"Hari ini hujannya gede banget persis kejadian waktu itu," ujar Arya tiba-tiba.
"M-maksudnya?"
"Bukan apa-apa. Lo beneran nggak inget, ya?" Arya menoleh menatap Candy yang sedang kebingungan dengan kalimatnya.
Candy mengernyit. Tak ingat apa? Apa ada hal istimewa yang ia lewatkan?
"Hahaha, ternyata bener lo itu pelupa akut!" Tawa Arya teredam oleh rintik-rintik hujan yang jatuh mengenai seng halte bus.
Candy menggaruk kepalanya yang memang terasa gatal. Ia tertawa canggung. Memang benar ia pelupa, tapi ia tak tahu jika Arya tahu tentang penyakitnya yang satu itu.
"Busnya udah dateng, ayo naik. Gue bayarin, bahaya cewek pulang sendirian di sore gini," Arya berdiri dari duduknya.
"Eh? Nggak usah, aku jal--"
"Udah, ayo!" Belum sempat menolak Arya sudah menarik tangannya untuk menaiki bus.
"Nanti kalo aku udah gajian, aku ganti uangnya,"
Arya menarik Candy ke salah satu kursi yang kosong dekat supir bus.
"Nggak usah. Sebagai gantinya lo inget-inget aja apa yang selama ini lo lewat!"
Mengingat apa yang ia lewat?
\=\=\=\=\=
-TO BE CONTINUED-
__ADS_1