Smile Effect

Smile Effect
Denting ke TigaEnam


__ADS_3

"Gue juga nggak bakal bandingin rasa sakit lo sama rasa sakit orang yang gue kenal Dy."


Ada orang yang kondisinya lebih parah dari Candy. Orang itu bahkan masih menyalahkan dirinya atas kehilangan saudaranya, ia membenci dirinya sendiri. Mengutuk dirinya sendiri dan mengatakan jika dirinya adalah pembunuh. Sama parahnya dengan Candy meski kasusnya berbeda.


"Orion pernah marah sama gue waktu bandingin lukanya Bejo sama Wawan, duo rusuh itu ...," kekehan mirisnya terdengar. "-, sama-sama berasal dari dunia yang hancur. Kata Orion, luka orang itu masing-masing. Nggak ada yang lebih besar, nggak ada yang lebih kecil, karena yang ngerasain sendiri-sendiri. So, gue nggak mau banyak bac*t nyuruh lo buat bangkit lagi setelah hancur kayak gini. Gue cuma minta ..."


Arya memejamkan matanya.


"Tolong tetep kuat. Sesakit apapun, terima ini sebagai ajang penguatan diri. Lo pasti bisa lakuin ini. Kalo lo butuh temen cerita, lo bisa cerita ke gue. Gue nggak akan menghakimi apapun cerita lo."


Ada banyak kemustahilan bisa menjalani hidup seperti semula. Arya sendiri tidak yakin apa Candy bisa keluar dari kubangan getir ini dalam waktu dekat atau hanya berpura-pura keluar sebentar hanya untuk tenggelam seorang diri tanpa orang lain diizinkan memahami.


Gerakan halus datang dari sesosok tubuh yang terbaring di hadapannya. Arya kontan menahan lanjutan kalimatnya di ujung lidah.


Candy sudah sadar. Kantung infus bergoyang pelan saat tangan gadis itu ditarik ke kepala. Erangan lemah terdengar setelahnya.


"Lo udah sadar? Mau minum Dy?" Arya menyeret kursinya lebih dekat.


"Arya," sapa Candy lemah.


"Iya ini gue. Tadi lo pingsan waktu di ruang Pak Jaya. Gue disuruh ngejaga lo selama beliau ngajar," terang Arya.


Kondisi gadis itu cukup memprihatinkan sehingga Arya tidak beranjak padahal tugasnya sudah selesai. Setelah mendengar penjelasannya pun, Candy menutup matanya lagi. Gadis itu kelihatan lemas.


"Maaf aku nyusahin kamu."


"Eh? Nggak kok!" Arya menolak mentah-mentah pernyataan Candy dengan spontan. "Gue malah seneng bisa gendong lo, Dy. Lumayan lah buat modus dikit. Kapan lagi bisa di gendong sama pangeran sekolah coba," tambah Arya jenaka.


Alur pembicaraan mereka baru saja diubah seratus delapan puluh derajat. Candy membuka mata cepat. Nyaris membuat bola matanya melompat keluar dan menghajar Arya.


"Cih, cari kesempatan dalam kesempitan. Kamu sama temenmu itu nggak jauh beda," cibirnya.


"Kan gue sama si alien sahabatan, Dy. Semua anak yang suka ngumpul sama kita gitu kok-jujur," Arya terkekeh geli melihat raut wajah Candy yang sewot. "Ngomong-ngomong, kenapa tiba-tiba bandingi gue sama Orion? Kangen dia, ya?"


Candy mendelik. "Ya enggaklah! Kapan juga aku nyebut nama dia?"


"Iyain aja deh," sahut Arya diiringi senyum. Dia sengaja membuat Candy kesal untuk mengembalikan rona di wajah gadis itu. Tidak enak sekali rasanya melihat wajah Candy yang pucat. "Ya udah kalo nggak kangen Orion, kangenin gue aja Dy,"


Mata Candy melebar. "Apa?!"


"Iya, kangenin gue aja," ulang Arya dengan seringainya.


Candy berjengit. "Dih, ogah. Buat apa kangen sama kamu?"


"Ya buat apapun. Kan bagus kalo lo kangen."


"Bagus darimana nya? Kamu kesambet, ya?"

__ADS_1


Ini manusia satu kumat apa tiba-tiba konslet jadi begini? Perasaan yang pingsan dia, kenapa jadi Arya yang terganggu?


"Nggak," Arya menggeleng pelan. Senyum jahilnya lenyap digantikan dengan ekspresi serius. "Buktinya sekarang gue kangen lo."


Blush~


Suasana berubah aneh usai Arya mengatakan itu. Candy meremat tangannya salah tingkah. Kalau maksud Arya bercanda seperti yang Orion lakukan tempo lalu, ia tidak harus  bersikap bagaimana.


Mereka dua sosok berbeda. Jika Candy akan dengan mudah menghardik Orion, maka tidak dengan Arya. Selama ini, cowok itu selalu baik padanya.


Arya meraih satu tangan Candy yang terbaring lurus di sisi tubuhnya. "Gue nggak sengaja denger pembicaraan lo sama Pak Jaya tadi. Maaf soal itu Dy," tukasnya. Cowok itu menghela napas panjang. "Soal donatur itu, gue bisa bantu. Tapi, gue butuh alesan buat ngebantu finansial lo Dy,"


"M-maksud kamu?"


Arya bisa menolong? Bagaimana bisa?


"Lo tau kalo keluarga gue termasuk sangat mampu, 'kan? Nah, gue bisa minta izin sama Ayah buat bantuin lo. Tapi, masalahnya gue nggak tau alasan apa yang harus gue kasih kalo bokap tanya. Ayah gue bukan orang yang gampang ngeluarin duit. Harus ada dasar kuat buat jadi alesan," cowok itu meremas tangan Candy lembut. Arya tersenyum.


"Jadi, eum ... karena itu, lo ... mau jadi pacar gue?"


...***...


"Candy!" Tanpa persiapan, bermodal nekat, Orion berteriak untuk merebut perhatian kedua orang yang juga menjadi sasaran perhatian dari orang di sekelilingnya.


Candy menoleh. "Oh, pagi Or-Regaz," suaranya tergagap ketika mengingat Orion masih memainkan peran.


"Ada yang mau gue omongin sama lo," ulang Orion lugas.


"Tentang apa?"


Belum sempat Orion mengatakan maksudnya, Arya menyambar. "Ini masih terlalu pagi kalo lo mau ngomongin olimpiade. Candy belum sarapan, siangan aja pas istirahat, Yon."


Seketika saja kata-katanya membuat Orion tersenyum sinis. "Apa hak lo ngatur-ngatur, Ar?" Orion balik bertanya di balik bibirnya yang terkatup rapat.


"Oh, apa hak gue?" Arya terkekeh main-main. Kedipan penuh artinya memberi kode pada Candy. Tangannya terjulur untuk merangkul pundak Candy. "Lo kudet, ya? Mulai kemarin kan gue resmi jadi pacarnya Candy. Iya 'kan, Dy?"


Keakraban asing antara Candy dan Arya membuat Orion mengeraskan rahangnya.


"Pacar?" Ulangnya datar. Ia mengalihkan tatapannya pada Candy yang terpaku. Orion tersenyum. "Congrast kalo gitu. Kalian cocok. Tapi bukan berarti, lo berhak mutusin Candy mau ngomong sama siapa aja, Ar!"


"Oh, really?" Arya menyunggingkan smirk-nya. "Mungkin itu menurut lo, Yon. Bukannya lo pernah ngomong kalo setiap orang punya persepsi yang berbeda?" Kilat penuh intrik mengumpul di netra hitamnya. "Enggak menurut gue!"


Candy sadar jika hal ini terus dibiarkan, maka akan terjadi keributan. Ia dengan inisiatif melepas lengan Arya yang melingkari pundaknya dan berkata, "Arya, nggak apa-apa. Mungkin Orion emang ada hal penting yang mau di omongin. Tadi kamu bilang mau ke ruang guru, kan? Kamu boleh pergi dulu. Aku nggak apa-apa ke kelas sendiri."


"Tapi, Dy--"


Gelengan Candy memotong ujaran protes Arya. "Nggak apa-apa. Cuma sebentar kok, sana duluan ke ruang guru,"

__ADS_1


Sebenarnya firasat Arya tidak terlalu bagus untuk meninggalkan Candy sendirian. Namun apalah daya ketika Pak Jaya mengontaknya untuk datang ke ruang guru.


"Jadi, mau ngomongin apa?" Tanya Candy memberanikan diri. Tas punggungnya terasa lebih berat puluhan kali lipat dari biasanya. Mungkin ini akibat dari dua pasang mata yang terus menghunusnya.


"Lo beneran jadian sama Arya?"


Candy mengangguk. "Iya,"


Bagaimana perasaan gadis itu saat ini? Kenapa Orion malah bertanya seolah-olah sedang cemburu?


"Nanti sepulang sekolah bimbingan?" Tanya Candy mendahului.


Orion tersenyum kaku. Ia tahu apa maksud Candy mengalihkan pembicaraannya.


"Iya, materi terakhir. Abis itu diambil alih sama Pak Jaya. Paling gue cuma asistennya doang. Udah tau kan jadwal di laboratorium?"


Itu berarti setelah ini intensitas pertemuan mereka semakin minim. Candy menunduk. Semanis apapun harapan tersembunyi, kenyataan lebih pahit untuk menyadarkan. Dirinya sudah bersama Arya.


"Iya, jadwal katanya di kasih Pak Jaya," lirihnya.


Orion menanggapi dengan senyum lembut yang belakangan ini menjadi ciri khasnya. Tidak ada lagi senyum mengejek yang terlihat menyebalkan. Tidak ada lagi seringai sinis yang membuat Candy mengumpat dalam hati. Tidak ada lagi sorot mata tajam yang mampu membuat tubuh Candy gemetar ketakutan. Cowok itu seakan ... berubah drastis.


Orion lebih dulu memutus kontak mata mereka. Ia menunduk.


"Gue minta maaf kalo selama belajar gue ada salah sama lo, Can," Orion berbicara tanpa mengangkat kepalanya.


Candy menghirup udara rakus. Matanya berkedip cepat, untuk tidak menangis saat ini. "Aku juga minta maaf kalau banyak salah. Kamu suka kesel gara-gara aku lelet,"


Rasanya seperti kalimat perpisahan. Mungkin setelah ini, mereka akan kembali ke kehidupan masing-masing. Orion dengan dunianya sebagai Regaz dan Candy dengan bisnis yang baru dirintisnya bersama Arya. Jalan yang mereka tempuh amat berbeda.


"Gue udah maafin lo," ukiran senyum tulus Orion mencabiknya. Cowok itu tersenyum, namun sayang tidak menatapnya. Senyum itu seakan bukan untuknya. "Setelah ini, gue harap lo bisa hidup dengan baik. Jangan berduka terlalu lama. Jangan pakai senyum itu terus-menerus. Sesekali, lo tunjukkin perasaan lo yang sebenarnya. Lo manusia bukan Tuhan, Dy."


Candy mengigit bibir bawahnya kuat, sesak. "Iya. Ka-kamu j-juga," ujarnya terbata.


Sedetik sebelum air matanya tumpah, Candy berbalik. Setidaknya jika ingin menangis, jangan di depan Orion. Jangan cowok itu lagi yang tahu tentang kesedihannya.


"I hope the best for you, Candy Elisa," bisik Orion yang mampu di dengarnya.


Candy mematung. Rasa sakit di dada menghantamnya kuat.


...\=\=\=\=\=...


...-END-...


...TAPI BOONG WKWK:V...


 

__ADS_1


__ADS_2