Smile Effect

Smile Effect
Denting ke TigaTujuh


__ADS_3

Mengapa sunset lebih berwarna daripada sunrise?


Bukan karena Candy lebih menyukai sunset sehingga berkata seperti ini. Ia hanya tengah berusaha menyadarkan diri. Hidup memang penuh dengan ironi. Warna-warni sunset yang lebih berwarna dari sunrise memiliki penjelasan terselubung.


Alam semesta mungkin ingin mengatakan pada penghuninya bahwa seringkali hal bagus terjadi saat perpisahan. Banyak hal penting yang baru ia sadari ketika segalanya berakhir. Banyak orang yang tertampar oleh kebodohan sendiri saat kesempatan sudah nihil. Candy salah satunya.


Kepergian Ibunya belum ada empat puluh hari. Perasaan kosong itu juga belum tergenapi. Namun mengapa seakan belum cukup, Orion malah menambahi? Tidak cukupkah luka ditinggalkan yang belum sembuh mendera hatinya?


"Gue sih nyaranin deket alun-alun. Ada ruko yang baru di bangun dan jelas daerah itu rame, Dy. Gue dapet info kalo nggak jauh dari situ, ada lapak yang mau di jual. Gimana menurut lo?"


Ujaran Arya memutus lamunan panjangnya. Candy menghela napas kemudian mengaduk gelas es kelapanya. Terlalu berkutat dengan diri sendiri membuat ia lupa bahwa ada Arya di sampingnya. Rupanya cowok itu sudah selesai menyantap mie ayam.


"Dimana-mana sih oke. Tapi, bukannya harga tanah yang di jual tepi jalan itu mahal?"


Candy tidak mau memanfaatkan kebaikan Arya yang mau-maunya membantu finansial. Atas banyak pertimbangan, berbisnis bersama cowok itu menjadi pilihannya. Kemampuan membuat segala macam kue yang diajarkan Ibunya mulai dieksploitasi.


Candy memiliki kemampuan, sedangkan Arya memiliki modal. Ditambah keahlian diplomasi serta lingkup pergaulan Arya yang luas, menjadikan semangat optimis di benak keduanya.


"Jangan pikirin soal biaya," Arya mengacak rambut Candy. Ia tersenyum meyakinkan. "Bokap gue selalu dukung kalo positif kok. Lagian, gue nggak minta langsung ke beliau. Ini murni dari tabungan yang gue kumpulin dari bocah. Pokoknya aman deh kalo soal biaya,"


Selama ini Arya juga bingung mau diapakan uang di tabungannya. Daripada terus dijadikan sumber utang bagi Bejo dan kawan-kawan, lebih baik ia gunakan untuk investasi.


"Gitu ya," gumam Candy.


Tidak mengherankan jika keuangan Arya sangat lancar. Karena rata-rata murid di sekolahnya tingkatan ekonomi menengah ke atas.


"Yaudah deh. Cari lahan dulu, entar baru mikir konsepnya mau gimana," ujarnya setuju.

__ADS_1


"Yang jelas sih modern, Dy. Pengunjung bisa dipastikan kebanyakan remaja. Mereka 'kan  suka nyoba sesuatu yang baru," seloroh Arya.


Candy mengangguk. Itu memang yang ada di kepalanya. Niatnya selain membuat kafe yang menyajikan jajanan pasar dan kue-kue manis dengan kemasan baru, ia berniat membuat spot foto yang ciamik bagi para pengunjung.


Ide itu baru hendak diungkapkan pada Arya kalau saja kehadiran orang lain di seberang meja tidak merebut atensinya.


"Kalian udah kelar makan? Gantian ya, Ar. Meja lain penuh," Orion berujar tanpa dosa seraya melempar senyum pada Candy. Di sampingnya, Bejo dan Wawan menyapa sekilas sebelum fokus pada bakso di mangkuknya.


Arya menyahut ketus. "Heran ya, kenapa hari ini lo demen banget ganggu gue sama Candy? Nggak tau apa romantisme orang baru pacaran?"


Ia muak melihat Orion terus-terusan muncul ketika dirinya tengah bersama Candy. SMA ini luas, kenapa mendadak jadi sesempit daun kelor?


"Kenapa? Ini 'kan tempat umum," ujar Orion lagi.


"Oh, ya?" Arya tak mau repot-repot menyembunyikan rasa tidak sukanya. "Tapi masalahnya, gue nggak suka ngeliat alien dungu di depan gue terlalu lama. Muak tau nggak!"


Apa yang baru Arya katakan sontak memacu perang. Orion mendesis. "Kalo lo nggak suka, tinggal ngomong aja. Nggak perlu ngatain orang apalagi nyindir-nyindir. Pengecut, Ar!"


Candy refleks memegang tangan Arya yang terkepal, berusaha menghentikan konfrotasi lebih jauh. Sudah banyak orang yang menatap mereka terang-terangan. Ia tidak ingin ada perkelahian disini.


"Ar, udah ya," matanya bergulir menatap Bejo dan Wawan yang sudah menghentikan kegiatan menyantapnya. "Nggak pa-apa, kok. Kalian duduk aja disini, emang bener 'kan ini tempat umum."


"Tempat umum, ya?" Kekehan sinis Orion menyulut pertentangan baru. "Udah tau begitu, kenapa lo duduk deket-deket sama Arya? Sejak kapan lo jadi semurahan ini Candy? Gue nggak tau lo punya jiwa little b*cth juga,"


Arya menggebrak meja keras. "JAGA MULUT LO BANGS*T! APA HAK LO NGATUR-NGATUR BAHKAN NGANGGAP DIA MURAHAN?! NGGAK USAH NGEBAC*T SEOLAH LO PUNYA HAK DISINI!"


Orion merengut kerah kemeja Arya. "Kenyataannya begitu kan? Kalo Candy nggak murahan, dia nggak bakal segampang itu jadi cewek lo dengan alesan butuh duit," tawa sinisnya mengumbara. Tatapannya menajam ketika Arya berniat menjawab.

__ADS_1


"Jangan pikir gue nggak tau soal itu. Temen deketnya aja nggak mau deket-deket sama dia lagi. Gue serius nyesel pernah baik ke dia. Baiknya lo mundur sekarang, sebelum lo nyesel kayak gue Ar."


Arya menepis cengkeraman Orion. "Nyesel?" Ia tertawa sumbang. "TAPI ITU BUKAN BERARTI LO NGECAP DIA MACEM-MACEM, TUAN PEBIMBING OLIMPIADE!"


Kepalan tangan Arya mendarat di wajah Orion hingga cowok itu terhuyung ke belakang. Kantin berubah riuh dalam sekejap. Beberapa dari mereka berbisik dan menatap Regaz aneh. Pasalnya Regaz si ramah itu tidak akan berbicara seperti itu.


Cukup sudah! Orion benar-benar kelewatan kali ini. Candy menggeleng pelan. Tanpa pikir panjang, ia mengambil seribu langkah pergi dari sana.


Teriakan Arya yang menyuruhnya untuk tetap diam disana tak dihiraukan sama sekali. Candy butuh waktu untuk menerima kenyataan dan mencerna segalanya. 


Bagaimana bisa dia berpikir menyukai Orion yang dengan mudahnya mengatai ia murahan? Padahal cowok itu hanya melihat dari satu sisi saja. Bagaimana bisa cowok si pembual itu bisa membuat dadanya sesak?


Candy merasa jahat sekarang. Orion bukanlah Regaz. Orion hanyalah bajing*n yang hobinya mempermainkan perasaan. Si brengs*k yang temperamen dan kebetulan jadi pembimbing olimpiade itu tidak pantas mengusai pikirannya.


"Candy, tunggu!"


Melewati lorong yang jarang ada penghuninya, punggungnya di sentakkan ke dinding oleh sepasang lengan kokoh.


"Gue nggak bisa! Gue nggak bisa, Elisa!"


"Lepas! Lepasin!" Tangannya berusaha membebaskan diri dari cekalan tangan Orion. Ia tidak terima di perlakukan seperti ini. "Apa lagi sekarang? Setelah murahan terus apa? Nggak sekalian si idi*t, si b*go yang gampang di mainin perasaanya? Puasin ngata-ngatain sekarang! Ayo!"


Orion memejamkan mata seolah kesakitan.


"Gue nggak bisa," napas cowok itu memburu. Tatapan menembus bola mata Candy yang berkaca. "Gue nggak bisa bersikap tenang. Gue terbiasa dapet perhatian penuh dari lo, Can! Gue nggak suka lo deket-deket sama Arya!"


...\=\=\=\=\=...

__ADS_1


...-TO BE CONTINUED-...


A/N: Kemungkinan cerita ini dua chp lagi tamat ... jadi persiapkan jiwa raga kalian:v


__ADS_2