Smile Effect

Smile Effect
Denting ke DuaTujuh


__ADS_3

"Dia bukan Regaz, tapi Orion!"


Candy terdiam. Apa-apaan cowok ini, ia menatap Arya tak percaya seolah menunggu jika perkataan yang Arya ucapkan tadi adalah hanya candaan belaka. Namun, Candy harus menahan napasnya karena cowok itu menatapnya dengan serius.


Pertanyaan Rena tentang ada yang janggal dengan Regaz kembali menghantui pikirannya. Perasaan asing dengan sosok, belakangan ini membuatnya terganggu. Tetapi Candy tak pernah menghiraukan perasaan itu, ia mencoba bersikap seperti biasa.


Pertemuan di ruang piano yang membuat segudang pertanyaan dalam benaknya, ia kubur. Namun apa ini? Dengan ringannya Arya mengatakan jika orang yang sudah mengajarinya Fisika adalah Orion?


Candy menghela napas kasar. "Maksud kamu, orang yang udah mati bisa bangun lagi, gitu?" Candy bertanya sarkas. "Kamu pikir aku percaya sama kamu? Ini bukan sinema yang pemeran utamanya meninggal terus di ganti sama pemeran sampingan!"


Arya menatap Candy tak percaya. Rahangnya mengeras, apa gadis itu mengira ia hanya bercanda? Untuk apa ia melakukan ini semua, apa keuntungan bagi dirinya jika ia hanya mengarang cerita?


Arya mendengus keras, ia mengacak rambutnya sebelum memandang Candy keji. "Lo pikir gue bercanda?! Jangan munafik deh, jadi orang! Lo itu sama aja dengan mereka!"


Sentakan keras dari Arya membuatnya mundur beberapa langkah.


"Lalu, aku harus percaya gitu aja?" Teriak Candy frustasi. Apapun yang Arya katakan terasa berdenging di telinganya.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata tajam mengawasi mereka dari jarak yang lumayan dekat.


"Lo--"


Dengusan seseorang memotong perkataan Arya yang terdengar mengumpat. "Oh. Jadi di belakang gue, lo kayak gini ya, Ar? Gosipin gue?"


"R-Regaz ..."


Ketukan langkah kaki di sepanjang koridor membuat tubuh Candy menegang. Raut wajah Regaz nampak tak senang ketika mendapati dirinya berdua bersama Arya untuk membicarakan—lebih tepatnya—untuk mengungkap tentang cowok itu.


"Ini nggak kayak yang ada di pikiran lo," ujar Arya gugup. Tubuhnya menegak dengan jantung bertalu hebat. Tidak ia sangka orang yang sedang ia bicarakan muncul begitu saja. Mamp*s! Dia pasti salah paham.


"Terus ...," Regaz menggantung ucapannya. Cowok itu sebenarnya mendengar semuanya. Termasuk saat Candy menyangkal kenyataan yang ada, namun itu bukan masalah. Ia sudah terbiasa mengalami ini, dan ia juga terbiasa dengan hidup seperti ini. "Emang lo tau gue lagi mikir apaan?"


Matanya menatap tajam pada Arya. Di depannya saja Arya berjanji akan menjaga rahasianya. Tidak ia sangka di belakang, Arya dengan gamblangnya mengungkap jati dirinya.


Sebelum terjadi perang dunia kelima Candy buru-buru menengahi. Ia mencoba membuang apa yang Arya katakan tadi. Ia hanya ingin hidupnya seperti biasa.


"J-jangan marah Ga-Gaz. Tadi, Arya cuma ngobrol doang,"


"Iya, Gaz. Gue cuma ngobrol sama Candy, nggak ngomong yang aneh-aneh soal lo kok. Apalagi sampai ngungkapin-," Arya menelan ludahnya kasar. Ia yakin, jika Regaz mendengar pembicaraannya dengan Candy, tapi tak ada salahnya juga kan menyakinkan cowok itu?


"Ngobrol?" Regaz mengulang kata itu dengan nada meremehkan. "Gue baru tau bongkar jati diri orang lain itu termasuk obrolan. Such on idi*t talking!"


"Ya, nggak sejelak itu juga kali sebutannya," ujar Arya kelabakan.


Regaz tersenyum sinis. "Terus apa? Pengkhianatan gaya terbaru?"

__ADS_1


Arya tersentak mundur. "Gue sama sekali nggak pernah kepikiran buat berkhianat. Lo tahu sendiri kesetiaan gue kayak apa, Yon."


"Oh, terus ngegosip? Baru tau janji yang kita buat dulu cuma taik!"


Arya terdiam. Sekarang ia baru menyadari jika keputusan sepihaknya justru membuat cowok di hadapannya marah, dan orang marah mana bisa untuk diluruskan. Arya hanya ingin mengangkat sedikit beban sahabatnya itu. Tapi justru, niatnya itu salah.


"Candy ...," si pemilik nama berjengit kaget. Apa kali ini gilirannya yang kena semprot? Ia repleks menutup mata, berharap ia bisa menghilang dengan cepat. Rasa takut bercampur ngeri kembali lagi setelah sekian lama. Cowok terlihat menyeramkan, sama seperti orang yang di ruang musik waktu itu. "Ngapain lo deket-deket sama Arya?"


"H-hah?" Candy sontak membuka matanya lebar-lebar. Apa yang ia bilang tadi?


"Iya. Ngapain lo deket-deket begitu sama Arya?"


Belum sempat dirinya mencerna, tubuhnya lebih dulu di tarik ke sisi Regaz hingga Candy membentur lengan kanan cowok itu.


"Jangan terlalu deket sama cecunguk itu, nanti lo ikutan rabies. Dan buat lo," Regaz menggulirkan pandangannya pada Arya. Tatapannya seakan menguliti. "Lain kali kalo lo mau bawa anak didik gue, izin! Tau gunanya mulut apaan, 'kan? Jangan sampe tinju gue ambil alih!"


Kemudian berlalu pergi sembari menyeret Candy bersamanya, meninggalkan Arya yang tercengang. Tingkah sahabatnya sungguh di luar nalar dan melenceng jauh dari perkiraan.


Arya menggaruk tengkuknya. Apa itu tadi? Dia marah-marah lalu melarangnya untuk tidak dekat-dekat dengan Candy. Rabies? Bah! Seperti orang yang cemburu saja.


...***...


Sudah tiga kali Candy meronta untuk minta di lepaskan. Cowok itu tiba-tiba datang lalu menyeretnya seperti ini. Tidak di perdulikan ringisan sakit yang keluar dari mulut Candy karena cengkeramannya terlalu kuat.


Regaz justru mempercepat langkahnya. Menaiki tangga yang bisa ia lewati, cowok itu membawa Candy ke atap sekolah.


"Gue benci ada yang gosipin tentang gue," katanya di sela-sela ia menyeret Candy. Gadis itu kewalahan mensejajarkan langkahnya.


"Memangnya kenapa? Apa yang salah dari itu? Arya cuma sayang sama kamu makanya dia begitu,"


"Sayang?" Regaz berdecih. "Lo terlalu sotoy jadi cewek, apa gue terlalu baik sampai lo ngelunjak kayak gini?"


Cengkeram Regaz terlepas. Regaz berdiri satu langkah dari Candy. Mereka berada di depan kelas XII IPS 3 yang sepi, cukup jauh dari tujuan seharusnya.


"Kenapa emangnya?" Suara Candy yang menantang berkebalikan dari nyalinya. Jangan lupakan jika orang yang berdiri di hadapannya itu adalah pembuat onar dari 2 tahun yang lalu. "Kamu terlalu tertutup sampai orang-orang bertanya-tanya. Apa semenyedihkan itu hidup kamu sampai jadi orang lain?"


Sebenarnya, mereka sama-sama menyedihkan. Namun, Candy tak pernah menyembunyikan kesedihannya seorang diri. Ia justru bercerita pada Rena, maupun orang-orang iseng yang bertanya tentang kehidupannya.


Seringkali rasa miris itu mengikuti, Candy tak malu karena keadaannya memang seperti itu. Tuhan sudah menyiapkan Happy ending untuk semua hamba-Nya. Kenapa ia harus takut orang akan mengetahui tentang hidupnya? Regaz-tidak Orion egois!


"Lo terlalu ikut campur Elisa," ujarnya tanpa nada. Kilat emosi menyambar-nyambar di manik sehitam malamnya. "Lo nggak tau apapun. Jadi, ada baiknya lo diem sebelum gue robek mulut lancang lo!"


"Oh," bukannya takut, Candy malah terkekeh. "Sekarang aku sadar, kamu memang bukan Regaz. Karena Regaz akan berlaku lembut pada perempuan, Regaz akan berlaku sopan, tak pernah mengeluarkan umpatan,"


Candy tersenyum sebelum melanjutkan kalimatnya, "Ternyata begini ya, bentukan seorang Orion itu? Apa kamu nggak sadar, dengan sikap kamu yang mengekslusifkan diri, kamu justru buat orang lain bertanya-tanya. Apa kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan sekarang? Kamu itu membodohi semua orang dengan berpura-pura jadi Regaz. Kamu merusak nama baik Regaz dengan kelakuan burukmu itu. Kamu itu egois tahu, nggak?!" Suaranya membentak di akhir kalimat.

__ADS_1


Orion bergeming. Matanya tak lepas memandang Candy yang berapi-api. Sebut saja dirinya egois, masa bodo, cuek, sial*an, ia tak akan peduli.


"Bener. Gue egois, gue b*go, gue sial*an! Bener Can, itu bener. Puas lo karena udah buat gue melabeli diri sendiri begitu? APA LO PUAS SEKARANG?"


"IYA!"


Mereka saling menatap penuh emosi. Tidak ada yang ingin mengalah. Baik Candy maupun Orion, mereka berdua diliputi oleh perasaan yang tak bisa di jelaskan.


"Gue egois, lo bener!" Regaz memutuskan tatapannya pertama kali. Kepalanya menunduk dengan tangan terkepal di sisi tubuh.


Orion berbisik, "Buat apa gue mentingin omongan orang lain? Gue sedih, yang hibur cuma diri sendiri. Gue nangis, yang ngusap air mata cuma diri sendiri. Gue nyaris mati, yang dorong buat bangkit cuma diri gue sendiri. Lo, Arya, semuanya tau apa?"


Tawa miris Orion membuat Candy sesak.


Orion tiba-tiba membentak. "Sebutin peran lo di hidup gue. Apa? Apa? APA, HAH?" Orang-orang hanya berbicara tanpa tahu apa yang terjadi di belakang layar. "Lo nggak tau apapun. Lo cuma lihat gue yang begini, yang begitu. Tapi, apa pernah lo rasain jadi gue? Nggak kan. Iya, gue egois! Tapi ini semua bukan keinginan gue! Gue juga pengen jadi diri gue sendiri. GUE CAPEK!"


Candy tak bisa menjawab. Dadanya seakan teremas hebat. Memangnya apa yang terjadi, hingga cowok itu harus menggantikan posisi saudaranya? Setiap kata yang keluar dari bibir cowok itu laksana belati yang menancap ke ulu hatinya. Seakan, penyebab ini semua adalah dirinya. Tapi, Candy tak tahu apa itu.


Orion menempatkan kedua tangannya untuk menutup wajahnya. Ia tak menyangka identitasnya akan terbongkar secepat ini di depan Candy. Ia tidak ingin di kasihani. Cukup dirinya yang mengetahui dan menyimpan.


"Sejak kecil, gue selalu melepaskan apa yang gue punya ke saudara gue. Kenapa gue mau-mau aja memberikan milik gue ke orang lain? Kenapa gue harus ngelakuin itu? Kenapa gue harus selalu ngalah? Lo tau nggak capeknya ngadepin semua itu,"


Rahangnya mengeras, berusaha keras agar air matanya tidak keluar dan menyatakan kejujuran.


"Gue egois, ya lo bener. Silahkan cap diri gue semau lo. Gue nggak peduli, sama sekali nggak. Lo siapa emangnya? Gue nggak butuh lo. Urusi urusan lo sendiri dan berhenti jadi komentator! Dan satu lagi, lupain apa yang gue omongin tadi berlakulah seperti biasa saja!"


Namun bukannya mengalah, Candy malah menambah panas suasananya. "Kenapa aku harus bersikap seperti biasa setelah mengetahui kalo kamu itu Orion si pembuat onar?"


"Gitu?"


Diluar ekspetasi, Orion malah tertawa seakan ujarannya bagian dari lawakan. Candy menatapnya bingung.


"Gitu ya, Cil?"


Belum sempat Candy membuka suara lagi, gerakan impulsif yang datang dari cowok itu membuat mata Candy membola. Tanpa bisa di cegah, Orion menyambar lengan Candy untuk mengikis jarak diantara mereka.


"F*ck you, Candy Elisa!"


Kemudian menciumnya dalam satu tarikan napas.


...\=\=\=\=\=...


...-TO BE CONTINUED-...


 

__ADS_1


__ADS_2