Smile Effect

Smile Effect
Denting ke DuaEmpat


__ADS_3

A smile is a boost in us and crying is a support to keep us up


Begitu kata novel yang Candy baca. Candy memang gemar membaca, menurutnya membaca membuat kita mengenali beribu-ribu kata yang kita kenali. Ada banyak kata mutiara yang bisa di terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya seperti pembaca pada umumnya, Candy hanya meresapi sepintas lalu lupa.


Disaat seperti inilah, mereka mengulangi ingatan yang mereka hampir lupa. Regaz itu serigala berbulu domba. Sewaktu awal dia membuat Candy takut, lalu membuatnya kagum. Lalu, saat kekaguman memuncak, Regaz memunculkan karakter aslinya hingga Candy menganga tak percaya.


Kenapa sosok cowok yang dengan telaten mengajarinya materi olimpiade?


Esok hari ketika Candy berangkat pagi seperti biasa, ia nyaris serangan jantung ketika papan tulis kelasnya di penuhi gambar hantu.


"Sepulang sekolah, bimbingan kayak biasa."


Pinggangnya terantuk pinggiran meja ketika sebuah suara memecah keheningan. Ini dia pelakunya. Candy menoleh ke kiri dan menangkap cowok bermulut pedas itu dengan tangan yang menenteng bola. Cowok itu tersenyum miring.


"Kenapa? Takut?"


Senyum mengejek Regaz makin menjadi. Rambut cowok itu berantakan. Peluh membasahi keningnya walau udara masih dingin karena embun pagi.


Candy mengernyitkan keningnya.


"Kamu kayak jelangkung yang ada di papan tulis," ia menunjuk santai gambar hasil pekerjaan Regaz. Tidak gambarnya, tidak juga pembuatnya. Sama-sama membuat sport jantung.


Mata Regaz menyipit tajam. Cewek ini sedang menyindirnya? Gambarnya memang tidak keren-keren amat. Hanya tiga pocong dan satu sudako, tapi kenapa malah disamakan dengan pembuatnya? Berusaha tak tersulut, ia justru tersenyum culas. "Bilang aja lo takut,"


"Nggak. Kuburan di gang terobosan lebih nakutin."


"Ngibul!"


"Beneran,"


"Oh."


Candy meletakkan tasnya diatas meja. Ia berjuang untuk tetap bersikap ramah walau aslinya ia masih sedikit sakit hati dengan bentakan Regaz kemarin.


Senyum lugunya muncul. "Makasih buat kejutan paginya. Tapi, maaf aku nggak bisa jawab pertanyaan kamu kemarin. Kamu emang galak,"


Keahlian membuat mood jelek sepertinya memang bakat terselubung gadus di hadapannya. Tubuh Regaz yang semula bersandar santai di kusen pintu kini menegang. Jadi, gadis ini segitu nggak bisa nya menjawab apa yang ia tanyakan kemarin? Ketol*lan yang hakiki memang susah diluruskan sendiri.


Regaz memantulkan bolanya ke lantai. "Cewek songong, tulalit, b*go ...," bunyi ketukan dari suara pantulan bola dan cara Regaz berbicara membuat Candy mendengus. "Pelupa banget sih lo jadi orang!"


Candy menghela napas lelah. "Kamu mulai lagi," tukas Candy datar. Candy melangkah mendekati Regaz.


Ia menghentikan kakinya saat jarak mereka sudah cukup dekat. "Mendingan kamu to the point aja mau apa. Ini masih pagi, aku lagi nggak mau ribut,"


Lebih cepat Regaz pergi, itu lebih baik lagi.


"Oh ngapain, ya?" Regaz terkekeh. "Nggak ada. Cuma mau ngingetin lo dua macam aja. Yang pertama soal bimbingan kita, yang kedua soal yang lain,"


Tubuh Candy menegang. Tatapan Regaz seakan mengulitinya hidup-hidup. Entah kenapa di saat seperti ini, ia jadi berimajinasi kalau Regaz punya dua sayap hitam di punggungnya dan tanduk yang menghiasi kepalanya.


"Gue nggak peduli lo mau bilang apa soal gue," sorot kebencian terlihat kental di netra hitam cowok itu. "Lo udah berani ngusik gue dari pertama kali kita ketemu. Ya, semua ini karena lo!"


"Kamu bicara apa sih? Aku sama sekali nggak ngerti?" Candy benar-benar bingung. Ia tak mengerti apa yang di sampaikan cowok itu.


Regaz tersenyum miring. "Bodoh. Inget kata-kata gue ini," ujarnya penuh penekanan. "Simpan nama gue di pikiran sama hati lo!"


...***...

__ADS_1


Hampir semua orang menyukai kesendirian saat memiliki banyak hal yang bersarang di kepalanya. Sepi bisa jadi obat yang mujarab untuk beragam kesedihan yang tidak bisa di ekspresikan dengan benar.


Saat berada di keramain, seseorang bisa saja terlihat tak punya masalah. Tersenyum tanpa peduli kanan kiri. Namun, yang tak pernah orang mengerti adalah ada apadi balik senyum itu. Bagaimana perjuangan seseorang untuk tetap tersenyum ketika segudang masalah menumpuk di belakang? Bagaimana ia berjalan walau masalah bertubi-tubi menghadang? Orang mana yang mau tahu itu. Intinya kalau terlihat bahagia berarti sejahtera, pantas diirikan, pantas dicemburui padahal belum tentu hidup orang itu lebih baik dari hidupnya.


Regaz menekuk kedua lututnya. Slayer hitam milik Wawan yang di pakai untuk menahan rambut-rambut nakal supaya tak menganggu aktivitasnya juga belum di lepas. Ia bersandar di tepian pembatas gedung.


Rasanya melelahkan sekali. Ia lelah karena harus menahan diri, ia lelah karena tak bisa mengatakan perasaannya.


"Regaz!"


Hah ... baru saja rencana molor, sudah di ganggu lebih dulu. Ia membalas ketus, "Lo lama! Harusnya udah gue tinggal dari tadi!"


Candy berjalan mendekat, buku-buku paket berada di pelukannya. Butuh waktu 9 detik untuk Regaz menyadari bahwa situasi mereka sudah berubah dari awal pertemuan. Tidak ada lagi sosok gadis pemalu dan takut-takut padanya. Sekarang hanya ada gadis dengan wajah menantang dan tatapan keras kepalanya.


"Nggak perlu lihat-lihat. Cepet mulai aja belajarnya!" Ujar Candy sangsi.


Regaz membuang muka. Bagian atap yang pada dasarnya terbuka membuatnya menyipit silau ketika ia menoleh ke arah barat.


"Lo harusnya bersyukur gue masih mau ngajarin lo. Selain gue, mana ada yang tahan sama cewek b*go kayak lo!"


"Selain aku, siapa yang tahan belajar sama cowok mulut cabe kayak kamu," ujar Candy membalikan perkataan Regaz.


"Oh ... lo udah mulai berani, ya?" Regaz menyugar rambutnya yang basah karena keringat. Senyum sinis membingkai di wajahnya. "Yang di taman belakang belum cukup buat lo takut?"


Candy menelan ludahnya gugup. "Kamu pikir aku takut?"


Mendengar itu, lengan panjangnya otomatis menarik Candy untuk dudukdi sampingnya. Dalam satu gerakan kilat yang mustahil diantisipasi, ia mencengkeram kuat kerah seragam Candy. Bibirnya menipis.


"Jangan berusaha mancing, bangs*t!" Bisiknya di sela bibir yang terkatup. Ia bisa saja mencabik tubuh ringkih ini, dan membuatnya seolah kecelakaan, namun sisi kemanusiannya masih menang banyak disini.


Belum sempat Candy membuka suara. Cowok itu kembali berujar dingin, "Gue paling enek sama cewek kayak lo! Berhenti ngomong kalo lo nggak mau gue perlakuin sebagai santapan beneran!"


Cengkeraman di kerah Candy terlepas. Regaz merebut buku paket yang Candy pegang. Perlampiasan di butuhkan supaya niat mengunyel-ngunyel anak orang tidak terlaksana sungguhan. Kekerasan bukanlah jenis permainan yang suka di mainkan disini.


"Sesuai kisi-kisi, baca teori kinetik gas bagian hukum boyle. Lama-lama tensi gue naik gara-gara lo tau, nggak!"


"Wow," seru Candy tanpa nada. Setelah berbuat hal paling pengecut yang biasa dimainkan kaum adam, Regaz bisa juga mengoceh dengan kecepatan dua puluh kata per setengah detik.


Lirikan tajam langsung ia dapat. Sayangnya, Candy imun dengan tatapan seperti itu. Sejak dirinya memutuskan sebagai haters Regaz, ragam ketakutan itu ia musnahkan hidup-hidup. Orang seperti Regaz tidak pantas di baik-baiki.


"Gue paling benci sama batas Cil," tukas Regaz seraya melepaskan ikatan slayer pada keningnya. Hari ini sudah cukup melelahkan. Jangan di tambah lagi dengan pertengkaran tiada guna. "Batas bisa nyiptain tekanan. Kalo tekanan naik berat badan seseorang turun drastis,"


Ini apa coba? Kenapa ujung-ujungnya ke berat badan lagi?


"Maksud kamu apa?" Candy bersedekap. Jangan pikir karena selama ini Candy diam, Regaz bisa berbuat semaunya.


Delikan Regaz menegaskan emosi yang singgah di kepala cowok itu. "Lo jadi cewek pinteran dikit, napa?"


"Itu materi?"


Regaz meninju lantai kesal. "Lo pikir gue ngedongeng?!"


"Oke ... itu hukum apa?"


Tarik napas ... hembuskan.


"Boyle," jawab Regaz malas. Langit biru di sekelilingnya terlihat suram gara-gara Candy. "Tekanan berbanding terbalik dengan berat badan. Makin sering gue bully lo, makin kurus badan lo."

__ADS_1


"Terus aku harus bilang 'wow', gitu?"


Regaz mendesis. "Gue bikin rujak lo beneran habis bimbingan!"


"Wow,"


"Gue nggak lagi bercanda!"


"Wow,"


"Candy!" Semprot Regaz kesal. Berani-beraninya gadis ini meledek. Kena jitak baru tahu rasa. Jangan kira karena dia perempuan Regaz akan menahan diri. Singa yang tertidur jangan coba di bangunkan jika tak ingin kena makan.


Diluar dugaan, gadis itu malah terkekeh geli. Regaz terpaku menatap wajah Candy. Waktu bagai terhenti, setiap ekspresi yang gadis itu buat selalu menyita perhatiannya. Ia mengerjapkan matanya, berpikir apa dia barusan?


"Tekanan berbanding terbalik dengan berat badan. Terus?" Tanya Candy di tengah tawanya. Ia hanya ingin mengusir suasana dingin itu dengan bercanda sedikit, namun Regaz terlalu berlebihan menanggapinya.


"Cewek sial*n!" Tukas Regaz masam. "Ganti berat badan sama volume gas. Itu hukum aslinya, paham nggak?"


"Rumusnya jadi P1 kali V1 sama dengan P2 kali V2. Yang kiri sebelum dan yang kanan sesudah. Bener, nggak?"


Regaz mengangguk. Untung kali ini cepat paham. "Kita langsung masuk ke contoh soal dan penerapannya biar cepet kelar," Supaya gue bisa hengkang dari sini lebih awal, lanjutnya dalam hati.


Buku di buka. Regaz terlalu serius menekuninya. Di saat-saat seperti ini, Regaz tampak seperti manusia lainnya. Ia bertopang dagu, Candy memaklumi banyak gadis yang tergila-gila pada cowok itu. Wajahnya seperti perpaduan dari malaikat dan penghuni neraka. Hanya saja-


"Jangan terlalu fokus liatin gue. Entar lo suka, gue ogah tanggung jawab."


Candy mengerjap. "Idih, siapa yang liatin. Aku cuma liat bukunya kok,"


"Ha-ha lucu," Regaz meliriknya sinis. "Best cewek ngeselin of the year kayaknya cocok buat lo, Cil."


"Emangnya situ nggak?"


"Oh, makasih."


"Bisa nggak sih kamu hilangin sifat nyebelinnya?"


"Dari lahir, nggak bisa!"


"Hilih," Candy menyibak rambutnya yang tidak diikat hari ini. Mulut Regaz terlampau cerdas, bikin keki jadinya. Ini bimbingan atau adu nyinyiran? Cowok kok lancar sekali jika urusan buat gondok seseorang? Tiada hari tanpa membuat orang sakit hati.


Sengatan rasa dingin yang asing mampir ke pipi kirinya. Apa ... ini?


"Pipi lo makin hari makin kayak bapao. Mungkin ini bisa bikin pipi lo tirusan dikit," tangan itu mengusap pelan seluruh permukaan pipinya. Pelan, sampai bulu halus di wajahnya berdiri. Napas hangat menerpa pipinya. Jarak mereka terlampau dekat. Bahaya.


"K-kamu m-mau apa?"


Buntu. Wangi maskulin bercampur dengan harum pelembut pakain dan juga mint membuat rasa aneh yang menggelenyar di hatinya. Ia tidak bisa berpikir jernih.


Lengkungan yang tercipta di bibir Regaz memperparah keadaan jantungnya yang sudah berdisko-ria.


"Gue nggak suka pipi bapao soalnya, Elisa."


...\=\=\=\=\=...


...-TO BE CONTINUED-...


A/N: kebelet pengen up😂

__ADS_1


__ADS_2