
Warung nasi Ibu Tejo, adalah salah satu tempat pilihan Regaz saat ini. Motornya menepi di tempat yang cukup ramai siang itu. Ketika Candy berpikir, Regaz akan membawanya ikut duduk di bangku depan warung itu, cowok itu malah menariknya untuk masuk ke dalam.
"Nggak diluar aja?"
Candy mendudukan dirinya di samping Regaz. Bangku memanjang dengan meja di hadapannya persis seperti di warung-warung bakso yang pernah ia lihat.
Masker beserta tudung hoddie di lepaskan cowok itu. Tangannya melambai pada pelayan yang berada tak jauh dari tempatnya.
"Nasi goreng dua porsi. Minumnya air teh hangat sama es jeruk," ujar Regaz menyebutkan pesanan. Candy mengernyit heran dengan porsi makan Regaz yang sangat banyak itu. Apa sesudah dipukuli Regaz jadi suka makan besar?
"Kamu pesen dua porsi?" Sebenarnya bukan itu yang mau Candy katakan, tapi 'kamu rakus banget sampai makan dua porsi. Sakit buat kamu enak makan, ya?'
Namun, Candy masih sayang dengan nyawanya. Kan tidak lucu jika ia di amuk Regaz di warung nasi seperti ini. Beruntung kalau kena semprotan doang, ini gimana jika di suruh shut up sepuluh kali?
Candy bergidik. Baru memikirkannya saja sudah membuatnya merinding ngeri.
"Lo pikir gue harus pesen berapa? Sepuluh?" Regaz sesudah pakai masker dan sebelum ternyata sama saja. Mulut pedasnya mengandung bisa tingkat akut.
Candy hanya mengangguk sebagai jawaban. Pantas saja teman-temannya tak mau ada yang berurusan dengan Regaz. Ternyata Regaz punya bisa yang mematikan sampai lawannya mati kutu.
"Kamu hebat masih doyan makan walau lagi sakit, bahkan dua porsi sekaligus," serunya entah itu berisi pujian atau hanya ejekan tersembunyi.
Kepolosan yang terbalut kebodohan memang tak ayal menjadi sumber api yang bisa membakar kepala seseorang. Regaz bisa merasakan darahnya bergejolak di kepala, merembes keluar membentuk butiran-butiran keringat. Ia mengusap wajahnya kasar.
"Lo tahu nggak soal Albert Einstein yang pernah bilang kalau orang t*lol sama orang jenius itu beda tipis?"
Dengan polosnya Candy menggeleng. "Aku kalau kepo ya soal boyband hits yang selalu di bicarain sama Rena, bukan mbah-mbah kayak Albert Einstein,"
Regaz mengerang frustasi. Amit-amit ya Tuhan, jangan sampai dia punya anak kayak cewek yang duduk di sampingnya ini. Bisa-bisa kepalanya mengepul setiap hari.
"Gue nggak jadi hujat lo deh. Keburu gendok duluan," pungkasnya karena migran yang mendadak melanda kepalanya.
Bukan soal limit trigonometri atau integral yang mampu membuatnya sakit kepala, namun berhadapan dengan Candy juga sudah cukup membuatnya pusing. Bukan sakit kepala lagi, tapi langsung vertigo!
__ADS_1
Regaz menengadahkan tangan pada Candy.
"Apa? Kamu mau lihat history browsing aku buat buktiin?"
BRAK!
"Isi kepala lo itu bisa dikondisikan nggak, sih?!" Bentak Regaz murka. Ia menggebrak meja kemudian memajukan wajahnya hingga tersisa beberapa jengkal dari wajah Candy.
"Pertama, gue pesen nasi goreng dua porsi itu bukan buat gue sendiri! Kedua, kita kesini buat belajar makanya gue minta buku lo buat tahu materi selanjutnya!"
Candy mengerjap beberapa kali untuk mengembalikan fokusnya. Wajah Regaz yang terlalu dekat membuatnya gagal fokus. Hidung si tukang marah-marah itu sempurnya, begitu juga bagian wajah yang lain. Alis tebalnya menaungi mata yang sedang menatapnya tajam. Tahi lalat yang sangat kecil di bawah mata tajamnya, tunggu, dari kapan Regaz punya tahi lalat kecil di bawah mata? Selama ini ia tidak terlalu memperhatikan.
"Kenapa lo jadi cewek bawel banget?" Bisik Regaz pelan. Napasnya menyapu wajah Candy hangat.
Secepat kilat sebelum Regaz sempat berkedip, gadis itu tiba-tiba mendorong wajahnya dengan telapak tangan lumayan keras.
"JANGAN DEKET-DEKET NANTI AKU KETULARAN VIRUS GALAK!"
"Lo bilang apa tadi, hah?! Galak?!" Sembur Regaz sengit. Ia mengelus plester yang tertempel di keningnya dan bilur ungu di pipinya yang belum sembuh. Untung saja Candy tak menamparnya sehingga sakitnya tidak berlipat-lipat.
"Eh?" Candy menutup mulutnya dengan mata yang membelalak. Masa iya, ia tadi keceplosan menyebut begitu pada Regaz? "I ... i-itu ... b-bukan ..."
Mulut oh mulut. Kenapa ia jadi gagap begini? Ia menghembuskan napasnya lega saat Tuhan mengirim dewa penolong dalam bentuk pelayan yang membawa pesanan yang Regaz pesankan.
Regaz membuang tatapannya pada dua piring nasi goreng yang tersaji di hadapannya.
"Cepat buka Bab Kesetimbangan! Baca itu selagi gue makan!" Titah Regaz tanpa memperdulikan lirikan Candy jatuh pada dua piring nasi gorengnya. Bukannya tadi Regaz berkata, dua porsi itu bukan untuknya sendiri. Kenapa itu dua piring ia embat sendiri?
Tangannya mengibas. Mungkin satunya lagi untuk teman alien cowok itu yang tidak kelihatan. Kan Regaz seperti Singa sedangkan dirinya hanyalah tikus yang meringkuk di pojokan ketika mendengar aumannya.
Di sisi lain, sendok berdentang menari di atas piring. Regaz tampak lahap memakan nasi goreng yang sudah tersedia. Lalu tangannya sibuk mengambil kerupuk yang dijadikan sebagai menu tambahan.
Nasi goreng Ibu Tejo memang terkenal sangat enak, sampai pembelinya tidak hanya di satu daerah saja, itu yang sering Candy dengar dari Rena. Bawang goreng yang terasa harum menggoda perut Candy, ia hanya meringis melihat betapa lahapnya Regaz makan. Memangnya cowok itu benar-benar belum makan, ya?
__ADS_1
"Udah belum?"
Regaz menyeruput air teh yang masih mengepul diatas meja. Panasnya pas, enak. Cukup untuk mengganjal perut di siang menuju sore hari.
Candy mendongak sekilas lalu menjawab, "Belum."
"Makan gih!" Seru Regaz tanpa mengalihkan tatapannya dari nasi goreng yang sedang dilahapnya. Candy merotasikan matanya malas.
"Aku nggak bawa bekal," ujarnya pelan.
Regaz mengigit pipi bagian dalamnya. Nasi di dalam mulutnya belum beres di kunyah sehingga ia tidak bisa menyemprot Candy dengan kata-kata pedas nan tajamnya.
"Itu ...," Ia menelan nasinya terlebih dahulu. Regaz mengelap bibirnya dengan tisu. "Piring yang satunya buat lo,"
"Lho? Kan aku nggak pesan apa-apa?"
Bawa uang saku saja kadang-kadang. Bagaimana bisa ia memesan makanan dengan asal? Siapa yang mau bayar? Yang ada malah buat malu karena tak bisa bayar.
Regaz mendesah. Ternyata sesusah ini berbicara dengan orang yang tida satu frekuensi darinya.
"Lo pikir gue kesurupan sampai makan sampai dua porsi?! Jangan bikin selera makan gue ilang karena pertanyaan unfaedah lo!"
Regaz menggeser piring nasi goreng yang sudah ia tambahkan kerupuk diatasnya. "Makan! Gue tahu lo belum makan siang, jangan buat gue jadi mentor yang buruk karena anak didiknya pingsan kelaparan!"
Candy tertegun. Lalu bibirnya terangkat membentuk senyuman yang sampai ke matanya. Walau perkataan Regaz terkesan pedas, justru itu semua lebih berarti daripada perkataan lembut yang terkesan prihatin dan tak bisa berbuat apa-apa.
"Makasih, Gaz."
Deg.
-TO BE CONTINUED-
A/N: NAH LOH ...
__ADS_1