
Kabut tipis masih menghiasi sudut-sudut sekolah. Gumpalan embun terlihat menetes di lembar dedaunan. Udara pagi hari memang segar karena belum tercemar oleh polusi yang di timbulkan kendaraan bermotor.
Lapangan sekolah pada pagi hari memang jarang sekali sepi. Ada saja adik kelas atau kakak kelas yang bermain disana untuk mengusir pagi yang menjemukkan. Akan tetapi ketika rombongan Regaz cs memasuki lapang, semuanya langsung menyingkir.
"Ar, lo jadi tosser gantiin gue. Yang lain terserah,"
Regaz dengan kening yang di plester dan pergelangan tangannya yang nampak di perban, membawa bola volly lalu ia lemparkan ke Arya. Sedangkan di sudut lain, terlihat Candy yang sedang menatapnya bingung.
"Terus lo nggak mau main?" Tanya Arya sembari men-drible bola volly yang ia terima dari Arya. Ekspresi wajahnya terlihat khawatir ketika melihat Regaz tak bisa bermain.
"Gus, isi posisi ya, kurang nih."
Regaz menepuk bahu cowok berkulit gelap setelah tangannya melambai tinggi.
Bagus mengangguk. "Yokay, sementara doang, 'kan?"
Penasaran, Candy masuk ke dalam lapangan dimana orang-orang berlatih volly untuk acara minggu depan. Sekedar mengamati saja tanpa ikut teriak-teriak menyemangati seperti perempuan lainnya.
Regaz berlari menepi ketika teman-temannya sudah bersiap berlatih. Ia mengeluarkan buku tulis dari dalam tasnya. Tangannya mulai mencorat-coret kertas kosong itu.
"Kamu nggak ikut main?" Candy memberanikan diri untuk bertanya. Regaz berdecak pelan, ia menghentikan aktivitasnya lalu membereskan lagi alat tulisnya.
"Gak."
Candy mengangguk. "Itu kening sama tangannya kenapa?"
Menunjukkan perhatian pada mentor galaknya tak ada yang salah kan? Siapa tahu karena Regaz sakit latihan olimpiade harus ditiadakan.
Candy masih normal. Selain jam kosong, hal lain yang membuatnya senang yaitu jam pulang di percepat.
"Kepo banget lo!"
__ADS_1
Semburan Regaz tak pernah turun level kepedasannya. Tangan kanan Candy meremat roknya.
Orang judes macam Regaz bagaimana mungkin bisa sakit. Candy mendengus dalam hati.
"Aku cuma nanya. Nggak dijawab ya nggak apa-apa,"
Regaz mendongak untuk menatap wajah cewek yang mengusik hari-harinya. Ia mendengus kasar.
"Lo pikir kenapa? Jatuh dari pohon? Gue tiap hari pegang motor. Ya jelaslah ini karena kecelakaan, bodoh!"
"Ya kan aku nggak tahu," seru Candy menahan rasa kesalnya.
Kedua bahunya terangkat sekilas. Ia bukan fans gila cowok itu yang tiada hari kerjaannya hanya stalking. Dia juga tidak pernah berminat bergabung dalam klub gosip—seperti Rena—mengenai cowok-cowok famous di sekolahnya ini. Wajar saja kan Candy kurang update.
Netra tajam Regaz mengawasi teman-temannya yang sedang bermain. Bahunya sedikit menegang kala melihat pemain lawan melakukan block. Akibatnya poin diraih oleh grup lawan yang menyebabkan muka Arya ditekuk.
"Apa mereka seenggak mampu itu ngerebutin satu bola?" Gumam Candy lirih yang ternyata di dengar oleh Regaz.
"Apa lo bilang?"
"Iya. Mereka bisa beli bola sendiri-sendiri. Kenapa harus rebutan begitu?" Tanya Candy polos.
"Itu namanya pertandingan!" Sahut Regaz jengkel. "Kalo punya sendiri-sendiri ya nggak bakal seru. Gimana sih lo!"
"Apa asiknya tanding sama temen sendiri?" Lirikan sepintas Candy arahkan pada Regaz yang mode judes-nya tengah aktif. "Tugas siswa ya belajar. Bukan tanding ini-itu yang nggak ada hubungannya sama pelajaran."
Regaz menepuk lututnya yang ditekuk. Cewek ini sepertinya butuh pencerahan. Hidupnya terlalu monoton hanya seputar sekolah, sekolah dan sekolah.
"Gue tebak kemampuan non-akademis lo jelek," Regaz tersenyum sinis tanpa mengalihkan tatapannya pada Bagus yang sedang melakukan passing. "Lo cuma fokus sama rumus-rumus, sejarah dan segala hal yang berhubungan sama otak. Am I right?"
Mulut Candy tertutup rapat, ia membenarkan ucapan Regaz di dalam hatinya. Pikirannya melayang pada sosok yang selama ini selalu mendampingi dan mendukung dirinya dalam segala hal.
__ADS_1
Sering kali Candy merasa takut akan masa depannya. Takut tidak akan jadi apa-apa, takut nilai ujiannya jelek, takut tidak bisa membahagiakan Ibunya, dan beragam ketakutan lainnya yang selalu membayang-bayangi hidupnya. Ia tidak pernah seperti anak kebanyakan. Pilihan yang Candy punya hanyalah berusaha sekuat tenaga atau mundur dan berakhir tak dapat apa-apa.
"Asal lo tahu Dy, dunia luar zaman sekarang nggak butuh yang akademisnya bagus. Setiap tahun banyak sarjana yang lulus kuliah. Berapa jumlahnya? Kemungkinan ada puluhan ribu, 'kan? Mereka sama-sama bersainh diluar sana," jelas Regaz mempaparkan apa yang ia tahu. "Semuanya punya gelar dan nilai akademis bagus, tapi kenapa nasib seseorang itu nggak sama? Ada diterima di perusahaan besar, ada yang mentok jadi pengangguran. Yang bedain apa? Soft skill. Kalo lo nggak punya skill gimana bisa lo adaptasi sama dunia kerja?"
Pernyataan Regaz menohok hatinya. Selama beberapa saat mereka hanya berpandangan. Entah karena efek tidur malam sehingga Candy merasa berhalusinasi mendapati Regaz tersenyum tulus, hingga mata tajamnya yang selalu berkilat sinis kini melembut.
"Kita masih muda. Hidup kita masih panjang, cari pengalaman sebanyak-banyaknya. Akademis bagus, tapi imbangi juga sama non-akademis."
Candy mengernyit. Kenapa sekilas ia tadi melihat pandangan sendu dari Regaz? Pasti kepalanya terbentur sesuatu tadi pagi hingga melantur.
"Udahlah, gue capek ngomong sama patung. Gue nasihatin panjang lebar juga nggak di respon!"
E-eh? Mata Candy membelalak. "M-makasih, buat nasihatnya."
"Lo kira ini cuma nasihat?!" Suara Regaz meninggi. Cowok itu bangkit dan memandang Candy sinis seperti biasa. Oh, sepertinya roh yang tadi memasuki dirinya sudah pergi lagi? "Oh, nasihat? Lama-lama gue sentil ginjal lo karena lemotnya gak ketulungan. Capek tahu nggak ngomong sama lo!"
Candy menganga. Ya Tuhan kenapa mood Regaz itu tak bisa di tebak? Ia bersiap untuk mengeluarkan kata-kata namun lagi-lagi dipotong oleh Regaz.
"Pake ini!" Candy pasrah saat Regaz menarik tangan kanannya. Ia menunduk saat merasakan sebuah kotak terletak di telapak tangannya. "Biar otak lo berkembang! Lola melulu sampe gue enek sendiri!"
Sedetik setelah cowok itu menyembur hujatannya, Regaz berlari keluar lapangan. Candy mengamati benda dalam genggamannya. Ukurannya sedang dengan logo yang sama persis milik sahabatnya.
Napas Candy tercekat. Ia membolak-balikan benda itu sekilas, lalu memandang Regaz yang sedang memberi arahan dengan pandangan bingung. Yang benar saja?
Ponsel?
\=\=\=\=\=\=
-TO BE CONTINUED-
A/N: Gak tahu mau ngomong apa yang penting tunggu terus cerita ini ya..
__ADS_1
Harusnya ya harusnya kan besok jadwal up nya, tapi dikarenakan hp aku lagi rese😑 LCD nya rusak kagak bisa di cas huhu (menangis tak ada air mata akutuh) Jadi up sekarang hikss😢😢
Bhubhay^^