
Seandainya ia punya uang untuk menghentikan angkutan umum, pasti tidak akan sampai begini. Seandainya ia tidak merasakan lelah yang amat sangat parah, karena bimbingan olimpiade ia juga tak mau begini. Seandainya ...
Ya, semua itu hanya sekedar kata 'seandainya'. Ada banyak kalimat yang bergaung di kepala Candy. Sayangnya, semua itu hanya harapan semu saja.
Dengan ragu Candy memegang pundak Regaz untuk mendorong bobot tubuhnya ke atas motor. Nasib memang tidak bisa di tebak. Sudah tahu ia tidak terlalu suka dekat dengan Regaz—alasan apalagi selain cowok itu suka marah-marah. Eh, malah nasib yang membawanya kepada hal ini.
"Bentar ya, gue nunggu temen dulu."
Motor Regaz hanya dinyalakan tanpa dijalankan. Cowok itu menyampirkan helm di sakunya. Matanya berpendar mencari seseorang yang ia sebut teman tadi.
"Mana sih tuh bocah?" Guman Regaz kesal. "Dasar lelet!"
"Emangnya kamu lagi nunggu siapa?" Tanya Candy lelah. Dia rindu kasur busa yang ada di rumahnya. Inginnya sih sepulang bimbingan, Candy bisa langsung tidur. Namun, sepertinya itu hanya khayalan belaka mengingat kewajibannya yang harus membantu Ibunya membuat kue.
"Temen."
Candy menghela napas lelah. Dia juga tahu jika Regaz menunggu temannya, dia bertanya begitu maksudnya teman yang mana yang Regaz tunggu. Aish, harus berapa lama lagi Candy menunggu, tahu begini ia pulang jalan kaki saja. Tapi, sialnya lagi hari mulai gelap.
"Kamu biasa pulang bareng temen, ya?" Tanyanya lagi mengusir suasana yang hening. Regaz melirik sekilas dari kaca spion.
"Lo pikir gue banci pulang harus sama temen?!"
Oh, begitu.
"Ya, kirain pulang bareng. Solidaritas gitu maksudnya," bela Candy dengan nada yang ditenang-tenangkan.
"Solid mah solid. Tapi urusan pulang yang mandirilah!" Sahut Regaz.
Candy mengangguk. Ternyata begitu ya.
"Oh, iya. Dari kapan kamu bisa main piano?" Tiba-tiba saja ia teringat saat pertemuan dirinya dan Regaz sebelum bimbingan di mulai.
"Gak!" Tukas Regaz ketus. "Sok tahu banget lo!"
__ADS_1
Candy menggaruk pipinya. Cowok ini tidak bisa apa bicara lebih lembut sedikit padanya? "Bukan sok tahu, aku cuma nanya doang."
Regaz tidak menjawab. Matanya tertuju pada satu objek yang dicarinya lantas ia berteriak pada orang itu dengan kesal.
"Kalian nggak punya jam apa gimana?!" Bentak Regaz. Ia turun dari motor membuat Candy memekik karena dirinya masih berada diatas motor.
"Ya sorry, Gaz. Lo juga tahu kan kalo si Bejo itu suka makan. Nah, tadi kita mampir dulu ke kafe. Terus lo juga tahu kan kalo di kafe ada wifi gratis? Sebab itu kita datang telat, kan manfaatin tuh wifi dulu," jelas Arya ringan seraya membukan helmnya.
Satu orang lain yang di dekat motor Arya turut membuka helmnya.
"Gue nggak tahan mau nonton anime one piece, bro. Wifi di rumah nggak sekenceng wifi di kafe," Bejo ikut-ikutan angkat bicara.
Arya melangkah turun dari motor kemudian membuka jok untuk mengambil sesuatu dari sana. "Ini gir motornya. Lo bilang motor lo yang kemarin rusak parah 'kan?"
Candy mengernyit, rasanya ia familiar pada cowok yang sedang berhadapan dengan Regaz itu. Oh, ia ingat sekarang jika cowok itu yang menabrak bahunya hingga terjatuh waktu itu. Jika tak salah namanya Arya kan?
Arya yang merasa ada yang memperhatikannya lantas menoleh pada gadis yang sedang duduk diatas motor sahabatnya. Ia tersenyum sambil melambai sekilas. "Yo!"
Candy yang merasa tertangkap basah sedang memperhatikan tersemyum canggung. Sementara Regaz menaikan kedua alisnya sambil menatap datar Candy dan Arya bergantian. Ada apa dengan murid didiknya itu?
Regaz melemparkan tatapan tajamnya pada Bejo yang dibalas cengiran cowok itu. Detik berikutnya cowok berkulit sawo matang itu terkesiap, Bejo menoleh cepat pada Candy. Ia turun dari motornya, lalu menghampiri Candy yang menatapnya bingung.
"Oh jadi ini anak didik lo, Gaz. Cakep juga," ujarnya di hadapan Candy. "Kenalin gue Berlan Johnson. Panggil gue Bejo, eh tapi dipanggil sayang juga nggak ap—"
Plak!
Ucapan Bejo terpotong oleh geplakan yang baru Regaz sarangkan ke kepalanya. Cowok itu menatap Regaz sebal. "Apaan sih, Gaz! Gue kan lagi kenalan ini," serunya.
Regaz berdecak sinis, sementara Arya tertawa ngakak. Ck, ck, Bejo, Bejo. Tak tahu saja jika Regaz sedikit tak suka dengan sikap sok kenal sahabatnya itu.
"Gak usah SK.SD! Sana balik motor, kalo nggak gue bakar motor lo!" Seperti biasa kata yang keluar dari mulut Regaz itu tak ada yang tidak pedas.
Candy terkekeh kecil, melihat interaksi Regaz dengan teman-temannya.
__ADS_1
"Lo juga!" Sentakan Regaz membuat Candy menghilangkan senyumnya, ia mengernyit bingung. Apa salahnya kali ini? "Nggak usah cengar-cengir gak jelas!"
Arya semakin tertawa keras seraya menepuk-nepuk pahanya, yang dibalas dengusan sebal dari Regaz. Cowok itu membuang napasnya kasar. Ia berbalik dan mendapati Candy yang menatapnya bingung. Bibirnya lantas menyunggingkan seringai licik.
"Lo kan anak baik-baik ya Can," Gir motor yang diberikan Arya dimasukkan ke dalam kantong kresek hitam, ia punya rencana yang menarik saat ini. "Jadi, lo harus lihat anak nggak baik-baik ngapain aja di luar sekolah."
Candy mengernyit. "M-maksud?"
Regaz berucap kembali, "Lo harus mau! Kalo nggak gue bakal berhenti ajarin lo. Gimana?"
Ini maksud Regaz apa sih? Sungguh Candy tak mengerti.
"Ck, emang bener ya lo itu bolot!" Candy membelalak mendengar kata-kata tajam Regaz. Baru saja ia akan angkat suara, Regaz memotongnya kembali. "Tadi lo tanya gue bisa main piano dari kapan? Nah, gue dengan berbaik hati mau jawab pertanyaan lo hari ini,"
Hah?
Arya yang melihat interaksi mereka berdua terkekeh. "Gaz, omongan lo muter-muter jadi dia nggak bakal ngerti kalo gitu," komentar Arya.
Bejo yang masih sebal menyir rambutnya dengan jari-jarinya. Petang ini anginnya agak kencang. Tadinya ia mau menawari gadis yang bernama Candy itu menggunakan jaketnya, itung-itung pendekatan. Ia bosan menjomblo, tapi nyataan gadis itu sudah punya Regaz yang mulutnya pedas.
"Udah sih. Kapan kita mau berangkat?" Tanya Bejo sebal. "Gue mau lanjutin nonton one piece lagi nih."
Motor mulai Regaz nyalakan kembali, ia melirik sekilas pada kaca spion untuk melihat raut wajah Candy yang penuh kekhawatiran. Lalu ia menoleh pada Arya yang sedang tersenyum jahil, cowok itu mendengus.
"Tenang aja, Can. Lo nggak akan kita apa-apain kok, Regaz cuma mau nunjukin sesuatu aja," Arya tersenyum menenangkan pada Candy.
Candy mengangguk pelan. Ia tak tahu sekarang takdir akan membawanya ke jalan apa. Yang ia tahu sekarang hanyalah angin petang yang membelai kulitnya dan juga menerbangkan rambutnya. Regaz, cowok itu ...
Aneh.
\=\=\=\=\=
-TO BE CONTINUED-
__ADS_1
A/N: Lanjut?