Smile Effect

Smile Effect
Denting ke Duatiga


__ADS_3

"Orion, dia kembaran kamu juga?"


Senyum di bibir Regaz lenyap seketika. Ekspresinya berubah keruh. Suasana hatinya yang agak abaikan jadi kacau karena satu pertanyaan itu. Bibirnya terkatup rapat.


"Bukan urusan lo!" Regaz berdiri dari duduknya, yang membuat Candy juga ikut berdiri spontan. Dadanya naik turun dalam tempo cepat. Ia menunjuk wajah Candy murka. "Jangan pernah sebut nama itu lagi di hadapan gue!" Bentak Regaz garang.


"Iya," Candy menggerutu pelan. Dikit-diki main bentak, dikit-dikit menghukum. Padahal ia cuma bertanya tadi, kalau tak mau menjawab ya jangan sambil membentaknya juga. 


"Kenapa tempramen kamu labil banget, sih? Pantesan Pak Tono lebih kalah galak daripada kamu,"


Jika ditanya rasa takutnya kemana? Maka dengan senang hati Candy menjawab: kabur terbawa angin. Awalnya memang iya, tapi makin kesini ia mulai terbiasa menghadapi Regaz dan darah panasnya.


"Ga-lak?" Regaz mengeja kalimat itu dengan lamat sementara kakinya berusaha mengikis jarak. "Terus gue harus gimana biar nggak di cap galak, Candy? Harus makin teladan biar di sayangi semua guru? Berangkat tepat waktu? Buang koleksi game dan belajar tiap menit? Makan pake table manner? Sabar sepanjang jalan walaupun di keroyok preman? Gitu?!"


Candy mengerjap. Tubuhnya terpojok diantara batang pohon dan tubuh Regaz yang mengukungnya. Posisi ini terlalu rawan. Mau bilang tidak takut, tapi bohong. Mau bilang takut, nanti malah makin ditindas. Ia berharap pohonnya doyan manusia sehingga menelannya detik ini juga sehingga dia bisa lepas dari jangkauan cowok di hadapannya.


"Kenapa gue harus jadi pribadi yang orang mau?" Regaz tertawa getir. Pancaran luka dari matanya menguar ke udara. Mendadak saja, napas Candy tercekat di tenggorokannya. "Orang-orang suka karakter protagonis dan nggak suka antagonis. Tapi, apa yang lo pahami soal kriteria baik dan jahat, Elisa?"


Ia tak bisa menjawab. Bermain diksi jelas bukan spesialisasinya. Yang Candy lakukanlah hanya menatap Regaz tak mengerti. Ada banyak luka dari manik segelap malam yang memantulkan bayangannya.


"JAWAB GUE APA YANG LO TAU SOAL JAHAT DAN BAIK! JAWAB GUE KENAPA GUE HARUS JADI PRIBADI YANG ORANG LAIN SUKA?! GUE MUAK BELAJAR SETIAP HARI BUAT MENGSEJAJARKAN DIRI GUE SAMA DIA! GUE ... gue juga ingin jadi diri gue sendiri," suara Regaz memelan diakhir kalimatnya.


Candy terlonjak di tempat. Regaz memegang bahunya terlalu kuat. Ia seperti tikus yang di hadapkan dengan raja hutan.


"Jawab gue," bisik Regaz tajam.


"Candy, Regaz. Kalian lagi ngapain disini?"


Oh, sial*n!


"Kalian lagi ngapain?" Rena mengulangi pertanyaannya. Gadis itu menenteng tas Candy seraya berjalan dari ujung koridor yang mengarah ke taman. Regaz mengacak rambutnya kasar.


"Jangan bilang lo mau apa-apain temen gue, ya? Ngaku lo!" Ujar Rena tiba-tiba ngegas.


"Bukan urusan lo!" Regaz meninggalkan Candy dan Rena begitu saja.


"Dy?"

__ADS_1


Candy mengerjap. "Eh, ya belajar lah. Emangnya lagi ngapain lagi?" Candy menerima tas yang Rena ulurkan. "Kamu nggak pulang bareng Egi?"


"Nggak. Belakangan ini Egi sibuk terus. Jangan-jangan Egi selingkuh, Ren," ujar Rena misuh-misuh tak jelas.


"Jangan buruk sangka dulu. Nanti Egi marahin baru tau rasa," seru Candy.


"Ih, Candy!" Rena menghentakan kakinya kesal. "Gue lagi serius juga,"


"Ya kan aku juga serius."


"Udahlah lupain aja. Ngomong-ngomong, lo pacaran ya sama si Regaz?"


"Ya nggaklah!" Teriak Candy.


"Amoso," Rena menaik turunkan alisnya mencoba menggoda sahabatnya itu.


Candy menghela napasnya lelah.


"Eh, tapi Can ... kok gue ngerasa Regaz rada aneh, ya?"


"Ya aneh aja, masa lo tiap hari bareng Regaz nggak ngerasain hal janggal, sih?"


Candy merenung. "Hal yang janggal?"


...***...


Napas Regaz memburu saat ia berjalan ke pinggir lapangan. Kaus biru yang di kenakannya banjir oleh keringat sementara satu tangannya menenteng bola volly. Teman-temannya yang lain sudah selonjoran akibat aktivitas yang baru saja mereka mainkan.


"Gila lo, Wan! Si Rio mau lo habisin pake bola," Bejo mengomentari tindakan bar-bar Wawan yang bermain kasar. Yang dikomentari hanya tertawa puas seakan itu adalah sebuah pujian. Main bola ala laki-laki ya gitu. Kekutannya nggak bisa dikontrol.


Regaz meringis seraya memegang plester di keningnya yang mau copot. Ia juga tadi kebagian sepakan maut gara-gara aksi penyelamatan bola.


Kakinya di tumpangkan diatas paha Arya yang sedang bersantai.


"Gimana bimbingannya?" Tanya Arya.


"Kenapa emangnya?"

__ADS_1


Arya berdecak sebal. "Gue nanya lo malah nanya balik," ia terdiam sesaat, sebelum akhirnya sudut bibirnya mengangkat. "Bagi nomor Candy, dong,"


"Nggak."


"Kenapa? Lo, cemburu ya~" goda nya.


Regaz mengernyit jijik. "Ya nggaklah. Lo sekarang mirip banci kaleng yang ada di lampu merah sana,"


Jleb.


"Gaz--"


"Jauh-jauh lo dari gue. Jijik gue!"


Arya hanya mengelus dadanya dramatis. 'Gini amat punya temen.'


...***...


"Gue gagal,"


Ruangan yang temaram itu menampilkan siluet bayangan pada dinding di hadapannya. Seseorang yang berdiri tepat di hadapan foto-foto polaroid yang tergantung di dinding tersenyum sinis. Ia menertawakan dirinya sendiri.


"Gue gagal buat nahan perasaan gue sendiri, Gaz. Lo tau, kepala gue bisa meledak kalo gue ngapalin rumus tiap hari," ia berceloteh dalam keheningan yang mencekam. "Gue bukan lo. Gue juga pengen dia panggil gue pake nama gue sendiri,"


Suara orang itu tercekat. Nyatanya senyum di kehidupannya sehari-hari hanyalah sebuah kepalsuan. Ia tak bisa menahan dirinya sendiri lagi. Orang itu mengusak rambutnya kasar.


"Gue pengen pulang ke rumah. Tapi nggak bisa, karena mereka belum nerima kenyataanya,"


Ia mendongak untuk menahan liquid bening yang akan keluar dari kedua matanya. Ia tersenyum miris, ia sudah seperti orang gila saja mengajak foto untuk berbicara.


Tangannya bergerak menuju foto tersebut. "Andai waktu itu lo nggak datang. Gue yang bakal mati, dan semua orang bakalan seneng."


Kepalanya ia sandarkan pada dinding yang dingin. Ia membenturkan pelan kepalanya. "Nyatanya, gue nggak bisa kayak lo, Regaz Kavier!"


...\=\=\=\=\=\=...


...-TO BE CONTINUED-...

__ADS_1


__ADS_2