Smile Effect

Smile Effect
Denting ke TigaDua


__ADS_3

Candy percaya selama ini dirinya bersikap benar. Menunjukkan kemurungan pada orang lain adalah hal yang tidak pernah ia lakukan. Bukan dirinya sok kuat, tapi kadang kala tanggapan yang di terimanya dari orang lain sangat tidak sesuai harapan.


Orang-orang yang dekat dengannya seperti Rena, bahkan Ibunya sendiri tak jarang menyebut Candy kurang bersyukur sewaktu dirinya berkeluh kesah.


Padahal sejujurnya jika mereka mau meluangkan waktu untuk menguatkan dan menjadi pendengar sebentar saja, Candy sudah sangat berterima kasih. Tujuannya bercerita bukan untuk di ceramahi. Ia hanya sedikit di perdulikan. Mengapa orang-orang itu justru menyebutnya kurang bersyukur?


Ia menghela napas berat. Akan tetapi, kenapa Orion menyebutnya egois? Mengapa harus cowok itu yang mendengarkan?


"Assalamu' alaikum, Ibu."


Gelap. Tumben sekali, biasanya di jam-jam segini Ibunya sudah menyalakan lampu. Mata rabun wanita paruh baya itu tak bisa bertahan di tempat gelap.


"Ibu, Elisa pulang ..."


Lagi-lagi tidak seperti biasa, orang yang tak pernah absen menjawan seruannya kali ini membiarkan keheningan yang menjawabnya.


"Ibu?"


Candy memanggil sekali lagi seraya menanggalkan sepatu di rak dekat kamar. Menaruh tasnya di kursi kayu ruang tamu, ia berjalan masuk ke kamar. 


Tidak ada Ibunya disana? Lalu kemana?


"Masa Ibu belum pulang?" Gumamnya. Ini sudah sore. Biasanya juga selepas ashar Ibunya sudah di rumah. Matanya melirik jam bundar yang tergantung di paku.


Mau maghrib. Tidak mungkin kalau Ibunya belum pulang. Pasar jam segini sudah sepi. Menelan kebingungan yang merambati benaknya, Candy keluar kamar kemudian menyisir dapur.


Meja makan, kursi panjang, ember air bersih, semuanya masih berada di tempat. Tidak ada tanda-tanda seseorang baru saja kesini.


"Ibu dimana?" Serunya. Mungkin di sumur, pikir Candy positif. Siapa tahu Ibunya sedang mencuci piring.


Tanpa keraguan sedikit pun, ia membuka pintu belakang rumah yang menghubungkana langsung ke arah sumur. Matanya terpaku pada pemandangam di depannya.


"Ibu ...,"


Jantungnya seakan berhenti berdetak saat sosok yang dicari-carinya justru terlihat sedang berbaring disana.


"Ibu ...," Gemetar di seluruh tubuhnya mulai merayapi kakinya. Napasnya terengah, tangannya terangkat untuk membuka mulut.

__ADS_1


"Ibu,"


Dengan menahan perasaan takut setengah mati, Candy mendekat. Jari-jarinya terangkat lemah pada leher samping tubuh lemah itu. Memastikan jika sesuatu disana berdenyut dengan semestinya.


Tidak boleh. Tidak boleh begini. Seharusnya tidak begini. Seharusnya bukan seperti ini. Ibunya tidak boleh pergi. Tidak boleh.


"Ibu, bangun."


Tidak ada denyut itu lagi. Tubuh itu sedingin es. Aroma kehidupan tidak terasa lagi. Tangan yang biasa mengusap kepalanya kini terbaring lemah.


"Ibu, jangan begini," lirihnya.


Air matanya mengalir. Tubuhnya melemas seiring dengan lututnya yang jatuh lunglai ke tanah.


"Ibu, bangun. Elisa pulang, Elisa laper. Ibu bangun~" gumamnya. Ia mengerang. Dadanya serasa ingin meledak.


"Katanya Ibu mau lihat Elisa lulus. Nanti kalau Elisa udah lulus, Elisa yang kerja gantiin Ibu. Nanti kita beli rumah yang bagus, tempat tidur yang bagus, televisi, makanan yang enak. Nanti Ibu naik haji, nanti ..."


Napasnya tercekat. Ia mencengkeram dadanya erat. Rasanya terasa sesak sampai bernapas pun ia kesulitan.


Candy jatuh telungkup, seluruh indera nya diserang beku yang tiba-tiba menyergap. Tidak boleh. Ibunya tidak boleh pergi.


Ia belum pernah membahagiakannya. Ia belum pernah membuatnya bangga. Ia belum ... belum pernah membuatnya tidak merasa susah.


Candy tersedak napasnya sendiri. Ia menangis keras.


"Ibu, kalau Ibu pergi ... Elisa sama siapa? Ibu jangan pergi ... jangan begini."


Ia tidak mau sendiri. Ia tidak mau menangis seperti ini. Ia tidak mau kehilangan lagi. Tidak lagi. Tangisannya meledak.


...***...


Suasana sepi menyelimuti rumahnya usai Ibunya dikebumikan. Tidak ada yang bisa Candy lakukan setelah bersih-bersih. Ia hanya duduk menekuk lututnya di belakang rumah. Berusaha menghibur diri, tapi ujungnya hanya menangis lagi. Air matanya masih saja menetes diam-diam.


Patah hati paling menyakitkan adalah saat ini. Ketika kau sadar selama berpuluh-puluh tahun ke depan, kau di paksa untuk tetap hidup tanpa seseorang yang kau cintai. Tanpa melihatnya, tanpa bisa menyentuhnya lagi. Langitnya sudah berbeda dengan langitmu. Dunianya sudah berbeda dengan duniamu.


Ketika merindukan sosoknya, kau hanya bisa mengenang dan mendoakan sembari mensugesti diri bahwa dia sudah tenang disana. Jangan ditangisi. Kumohon, jangan menangis lagi.

__ADS_1


Candy mengigit bibirnya. Menangis tanpa suara.


Banyak penyesalan yang ia rasakan setelah kehilangan Ibunya. Dia belum pernah berbakti dengan sungguh-sungguh. Terkadang bahkan membuat beliau kesal dan mengomel. Ada saja hal yang dilakukannya dan membuat beliau marah. Walaupun begitu, Candy bertekad akan membayar semuanya dengan membahagiakannya.


"Hiks ..."


Akan tetapi, kematian lebih dulu memotong kesempatannya, melenyapkan tekadnya, menghanguskan dirinya untuk membuat beliau bangga karena memilikinya di dunia. Setelah ini, apa lagi yang tersisa?


"Semua orang bakalan meninggal, tinggal tunggu waktu aja."


Matanya memburam. Tapi ia bisa mengenali pemilik suara itu dengan baik. Orang yang akhir-akhir ini membuat hidupnya kebingungan.


"Orion," serunya lemah. Kepalanya menunduk, Candy berusaha menahan tangis yang sebentar lagi akan pecah.


Jangan nangis Candy. Jangan nangis.


"Lo, gue, semuanya bakal ngerasain kehilangan. Lo nggak sendiri."


Candy menyerah. Kakinya menjejak lantai dengan sempurna kemudian memeluk Orion lalu menumpahkan tangis itu disana. Tidak peduli jika cowok itu masih mengenakan seragam sekolah. Tidak peduli jika cowok itu enggan di peluk olehnya. Tidak peduli jika cowok itu akan marah karena dadanya basah kuyup oleh air matanya. Yang ia butuhkan hanyalah sandaran.


"Sshh ..." Orion berbisik di telinganya. Ia membalas pelukan Candy. Satu tangannya menyisipkan anak rambut gadis itu ke belakang telinga. "Ini bukan akhir dunia, Elisa. Jangan sedih!"


Orion memejamkan matanya. Pasti sakit sekali di tinggal oleh satu-satunya orang yang selalu menemaninya sejak kecil.


"Ibu bilang ... mau lihat aku lulus. Ibu bilang ... mau lihat aku pakai toga. Ibu bilang ... mau jalan-jalan ke Jakarta dan lihat monas. Tapi, kenapa Ibu pergi, Rion?"


"Karena itu memang waktunya buat dia pergi, Candy," ujarnya dengan suara serak. Ada sebuah ganjalan besar di tenggorokannya ketika berucap tentang kematian. Namun demi Candy, ia berusaha menepisnya.


Setidaknya Orion tidak boleh terlihat hancur di saat gadis dalam pelukannya hancur. "Setiap manusia memang nantinya meninggal. Entah siapa yang duluan, nggak ada yang tau. Semuanya bakal pernah ngerasain di tinggalkan,"


Ia menelan ludah pahit.


"Ibu lo pergi duluan, lo yang ngerasain kehilangan. Pun sama kalo lo yang pergi duluan, Ibu lo nanti yang bakal ngerasa kehilangan. Dan lo tau sendiri sakitnya kayak apa. Bukannya dengan Ibu lo pergi, lo yang berkorban? Ibu lo nggak bakal ngerasain sakitnya di tinggalkan. Ibu lo nggak akan ngerasain sakitnya mengenang. Lo yang gantiin semuanya."


...\=\=\=\=\=...


...-TO BE CONTINUED-...

__ADS_1


__ADS_2