
Detingan piano terdengar di sebuah ruangan. Ruangan itu sangat tertutup, cahayanya yang termaram karena hanya diterangi oleh cahaya bulan-yang menerobos dari jendela. Ruangan itu di dominasi oleh warna abu dan hitam. Karena menurutnya, warna abu adalah cerminan dari dirinya. Tak banyak barang-barang di ruangan itu, hanya ada satu sofa kecil yang menghadap kaca jendela besar, beserta foto-foto yang tertempel di dinding dan piano yang terletak di tengah-tengah ruangan.
Angin menerbangkan anak rambut hitamnya yang mencuat, sengaja ia membuka jendela lebar-lebar karena ingin ada udara segar yang masuk. Padahal untuk kebanyakan orang, udara pada malam hari itu sangat dingin dan rawan. Tapi menurutnya, udara malam hari justru menyejukkan dan menenangkan pikirannya.
Regaz membuka matanya, jari-jari tangannya hanya menekan satu balok tuts piano-membuat suara denting yang memekakkan telinga. Untung saja apartemen Papa-nya kedap suara, ya walaupun ia tidak yakin tetangganya akan tak marah karena ia membuka jendela dengan lebar. Regaz menghentikan jarinya yang menekan tuts, kepala menunduk menatap lantai marmer yang dingin.
Malam ini ia tidak pulang ke rumah dengan alasan kerja kelompok, yang berakhir dirinya kecapekan. Oleh karena itu, ia tidur di apartemen Papa-nya yang sekarang sudah menjadi miliknya.
Kaki kekarnya melangkah mendekati foto-foto yang terpasang di dinding. Bayangan wajahnya timbul di kaca foto yang menampilkan tiga bocah laki-laki-yang sedang bergandengan-dengan senyum di masing-masing bibir. Wajah tiga anak kecil itu sangat serupa, hanya perawakan yang menjadi ciri membedakan mereka. Regaz mengalihkan tatapannya kembali ke foto yang terletak di bawah foto tadi. Sekarang, tiga bocah itu sudah remaja-mereka di foto sambil bergandengan sama seperti tadi. Wajah mereka sangat serupa, sampai jika kita tidak melihatnya dengan teliti, kita akan tertipu oleh wajah itu. Yang membedakan dari mereka hanya benda yang mereka pegang. Cowok yang berada di sisi memegang kamera canon di tangannya, yang disisi kiri memegang mendali penghargaan olimpiade, sedangkan cowok yang berada di tengah-tengah mereka hanya memegang miniatur piano kecil.
Netra tajamnya beralih pada tulisan di ujung kanan foto itu. Disana tertulis nama dari masing-masing dari mereka. Edgar, Orion, Regaz. Regaz menatap lekat nama Orion yang tertulis disana. Ia meremat dadanya saat merasa sengatan menyakiti itu. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal. Lalu tanpa aba-aba, ia meninju dinding sebelah foto itu. Darah mengalir dari jari-jari tangannya, tapi tidak ia pedulikan. Matanya tetap menatap nyalang pada cowok yang berada tepat di tengah-di foto itu.
Mulutnya berbisik lirih. "Harusnya gue yang mati, bukan lo!"
oOo
Suara decapan dari mulut yang beradu memenuhi ruangan dengan nuansa hijau itu. Pria paruh baya itu mengerang saat mendapatkan pelepasan pertamanya, sedangkan wanita yang di bawahnya sudah lemas tak berdaya. Gara terkekeh kecil, ia mengubah posisinya menjadi berbaring di samping Anna lalu memeluk Anna erat. Gara menelusupkan kepala Anna pada dada bidangnya, perut Anna yang sudah mulai membesar tak menjadu halangan untuk mereka.
Gara menumpukan dagunya di puncak kepala Anna. Matanya menyorot pada dinding. "Bun," panggilnya.
Anna mendongakan kepalanya. "Hm?"
"Bunda udah nggak sedih lagi?" Tanya Gara hati-hati. Ia takut kalau mood istrinya kembali memburuk. Ia bisa merasakan Anna balas memeluknya erat.
"Sedih itu masih ada. Tapi, aku cuma belajar buat tegar. Aku juga nggak mau, putri kecil kita yang belum lahir ini menderita karena Bundanya disini," ujar Anna parau. Gara tersenyum, Anna memang wanita yang sangat dewasa. Bahkan dulu, sewaktu Anna mengantar sahabatnya Rere-untuk cek kandungan-diantara mereka bertiga hanya Anna lah yang memiliki kewibaan yang tinggi.
"Rion kita pasti sedang senyum bahagia disana," Gara mengecup kepala Anna lembut.
__ADS_1
"Iya," lirih Anna. Ada pisau tak kasat mata yang menikam jantungnya secara perlahan. Iya, ia mencoba untuk tegar. Tapi bukan berarti ia kuat. Siapa pun pasti akan mengalami kesedihan yang mendalam karena di cinta oleh anak yang sudah ia kandung sembilan bulan, lalu ia besarkan dengan kasih sayang. Bahkan, tangan ini lah yang mengenggam tangan mungil itu waktu ia belajar berjalan dulu.
Gara yang mulai memejamkan matanya, terbangun kembali saat dada bidangnya terasa basah diiringi dengan isakan dari wanita yang berada di pelukannya. Gara mengeratkan kembali pelukannya, biarkan saja istrinya menumpahkan segala kesedihannya malam ini. Dan untuk besok, dan seterusnya ia akan memunculkan kembali senyum, dan juga tawa istrinya. Gara bersumpah dalam hatinya.
oOo
Bruk!
"Kamu nggak apa-apa?"
Candy mendongak saat sebuah tangan terulur padanya. Netra cokelatnya mendapati seorang cowok yang mengenakan seragam SMP dengan name-tag yang menggantung di lehernya. Regaz Kavier, itulah yang ia baca disana. Candy mengangguk, lalu menyambut uluran tangan itu.
"Iya, nggak apa-apa kok. Makasih ya," ujar Candy seraya menepuk-nepuk roknya yang agak kotor karena tanah.
Cowok itu tersenyum. Lalu, uluran tangan itu kembali mengarah padanya. "Kenalin, Regaz Kavier dari SMP Harapan."
Tatapan mereka terpaut satu sama lain, sampai suara lain mengintrupsi mereka. Candy buru-buru melepas tangannya, sedangkan Regaz menaikan kacamatanya yang melorot untuk menutupi rasa canggungnya.
"Kalau gitu, aku duluan ya. Dahhh ...," tanpa pikir panjang gadis itu berlari ke tengah lapangan, namun yang ia tak tahu adalah tali sepatu* yang ia gunakan terlepas, membuatnya harus tersungkur lagi*.
BRUK!
"Aduhh!"
Candy meringis saat tubuhnya terjatuh dari atas ranjang. Ia mengusap lengannya yang terasa sakit-masih dengan mata setengah terbuka. Sampai pandangan di depannya benar-benar terlintas jelas. Candy mengedarkan matanya.
Dinding yang terbuat daribilik lantai yang masih beralaskan tanah, ranjang yang terbuat dari kayu. Candy menghela napasnya lega, ini benar-benar rumahnya. Tangannya terangkat untuk mengurut pelipisnya yang terasa pusing.
__ADS_1
Rena benar, ia memang sedang tidak enak badan. Di tambah mimpi tiga tahun silam membuat paginya kian memburuk. Regaz, cowok itu benar-benar membingungkan. Di mimpinya, ia bertemu Regaz saat akan melaksanakan MPLS, jelas sekali jika cowok itu mengenakan kacamata. Tapi, yang ia tahu sekarang, penglihatan Regaz terlihat baik-baik saja. Memikirkan itu membuat kepala Candy semakin pusing saja. Lagipula, kenapa ia harus mimpi itu segala!
"Sampai kapan kamu mau bengong disana?"
Suara Ibunya menarik kesadarannya kembali. Candy kembali mengedarkan pandangannya ke sekitar. Ia tersadar jika ia masih terduduk di bawah, di lihatnya Ibu sudag berpakaian rapi. Candy meringis, seharusnya ia yang lebih dulu bangun.
"Elisa," panggil Ibu lagi. Wanita paruh baya itu menggeleng melihat anak gadisnya yang masih mengumpulkan nyawanya kembali. "Mandi sana. Sudah itu, kita sarapan. Ada tempe goreng, tadi tetangga kita kasih."
Tempe goreng? Seketika mata Candy terbuka lebar. Ibu bisa melihat binar bahagia di netra cokelat itu. Dalam hati ia meringis, hidupnya yang serba kekurangan membuat mereka makan seadanya. Makan sekali dalam sehari saja itu sudah lebih cukup untuk mereka.
"Serius, Bu?" Tanya Candy antusias.
Ibu mengusap kepala Candy pelan. "Iya, sana mandi dulu," suruhnya.
Candy mengangguk, setelah itu melesat mengambil handuk untuk membasuh tubuhnya. Sementara Ibu hanya memandang Candy sendu. Hidup seorang diri memanglah sangat sulit, apalagi ia yang menjadi tulang punggung keluarga. Tapi, impian Ibu untuk menyekolahkan Candy tak akan pernah pudar. Ia akan terus berusaha, meski harus merasa lelah sekalipun. Yang terpenting adalah masa depan anaknya yang terjamin, tidak sepertinya.
\=\=\=\=\=
-TO BE CONTINUED-
A/N: Tulisan miring bisa ditandakan sebagai (Flashback, mimpi, seseorang di seberang telpon, bhs Inggris)
Makasih udah dukung ...
Dukung dan tunggu terus kelanjutannya ...
I Purple U
__ADS_1
Bhubhay^^