Smile Effect

Smile Effect
Denting ke DuaLima


__ADS_3

"Namanya ... Candy Elisa."


"Apa lo bilang? Siapa namanya tadi?"


Cowok yang memiliki wajah serupa dengannya itu memutar bola mata malas. Ia menaikkan kacamatanya yang melorot.


"Namanya, Candy Elisa. Orangnya cantik, dia juga baik. Entar gue kenalin deh,"


"Hm,"


Cowok dengan kacamata itu tersenyum. Ia merangkul adik kembarnya riang. Lalu seperkian detik kemudia, ia merengut melihat kembarannya yang memasang tampang masam.


"Lo kenapa? Perasaan tadi baik-baik aja. Tempramen lo masih aja bur--"


"Kalo gue bilang, gue juga suka sama yang namanya Candy Elisa, gimana?"


Cowok berkacamata itu mengerjap. Raut mukanya berubah shock. "A-apa?"


"Dari dulu, lo yang selalu di manja sama Bunda dan Ayah. Tapi gue? Apa yang gue punya selalu lo rebut," Cowok itu menarik napas tajam. "Kali ini aja, biarin dia buat gue!"


"Orion," panggil Regaz pelan. Ia melepaskan rangkulan pundak kembarannya. "Lo salah paham. Bunda sama Ayag nggak pernah membedakan kasih sayangnya sama kita. Lo yang selalu memisahkan diri,"


Orion berdecih. "Memisahkan diri? BUKAN GUE YANG SELALU MEMISAHKAN DIRI, ITU KARENA LO CENGENG JADI PUSAT PERHATIAN MEREKA CUMA SAMA LO. LO ITU BANCI TAU NGGAK?!"


Regaz terlonjak. Ia tak habis pikir jika Orion berpikiran seperti itu tentangnya. "Rion," panggilnya lirih. "Maaf, gue nggak bisa lepasin perasaan gue sama Candy."


Orion tertawa sumbang. "Terserah, gue nggak peduli. Itu kan yang lo lakuin dari dulu, lo nggak pernah mau ngalah sama adek lo sendiri. Lo itu cuma cowok cupu yang berlindung di balik bayang-bayanh orang tua!"


Bukh!


.


.


.


.


.


.


.


.


"Hah ... hah ... hah ...,"


Suara napas yang terengah memenuhi ruangan yang temaram itu. Mimpi yang sudah lama tidak datang itu, tiba-tiba saja kembali. Regaz meremat selimutnya, ia meraih ponselnya yang berada di atas nakas.

__ADS_1


Jam sudah menunjukkan pukul 00.00 tengah malam. Cowok itu mengusak rambutnya kasar.


"Mimpi sial*an!" Umpatnya pelan. "Ini gara-gara cewek sial*n itu juga!"


...***...


Candy memegang pipi kirinya. Deguban di jantungnya belum juga mereda hingga ia tidak bisa tertidur, walau waktu sudah sangatlah malam. Efek dari sentuhan halus tangan Regaz belum selesai juga sekalipun ia sudah menepis jauh-jauh ingatan itu. Dingin, halus dan membuat Candy merinding.


"Apaan sih! Gitu aja deg-degan."


Pipinya di tepuk beberapa kali. Ayolah sadar, sadar, sadar. Regaz itu menyebalkan. Regaz itu bermulut pedas, dan selamanya akan seperti itu.


Cowok kurang ajar yang selalu memenuhi pikirannya tentang rasa asing dan familiar secara bersamaan.


"Alien galak, cowok tempramen, muka tembok," Candy menyenandungkan kalimat-kalimat itu dengan suara kecil. Ia mengubah posisinya menjadi terlentang.


Memikirkan Regaz dan segala tingkah laku di luar nalarnya hanya membuang waktu saja. Regaz di dalam ingatannya tidak menyukai segala macam yang berkaitan olahraga, kenapa Candy berpikir seperti itu? Karena dua tahun belakang ini, ia tak pernah melihat Regaz ada di lapang sekolah.


Namun, apa yang ia lihat sekarang? Cowok itu bahkan sudah bermain bola di lapangan pagi-pagi buta. Segala macam tentang Regaz itu misteri, yang entah kapan akan bisa terpecahkan.


Bunyi getaran pada ponsel yang ia simpan di sebelahnya, membuat Candy menghentikan sugesti tentang Regaz dalam pikirannya.


Regaz: belajar sendiri bab fotolistrik sama katrol dan bidang miring. Awas kalo lo nggak bisa waktu gue tes!


Nah kan, dalam mengirimi pesan pun Regaz selalu mengancamnya. Jadi, buat apa Candy susah-susah memikirkan tentang cowok itu. Mungkin dulu, dirinya khilaf hingga bisa mengagumi kepribadian cowok itu.


Candy: Terus apa?


Regaz: Gue kira lo udah tidur. Kalo lo nggak bisa, gue cium lo!


Candy membelalakan matanya. Ia mengerang kesal, bisa-bisanya cowok itu ..., dengan hembusan napas kesal Candy mengetikan balasan penuh penekanan.


Candy: Kamu tahu nggak? Dengan kamu bicara seperti itu, kamu udah melakukan pelecehan!


Ting! Ponsel berbunyi setelah dua detik ia menunggu.


Regaz: Pelecehan apa? Gue nggak ngelakuin apa-apa juga.


Candy: Tapi tadi kamu ngancam pake ancaman yang gitu!


Regaz itu sama dengan singa. Tak mau mengalah jika urusan berdebat.


Regaz: Ha-ha polos.


Candy: Dasar singa!


Lupakan saja semuanya tanpa takut. Toh, mulai sekarang Regaz sudah membuka kedok aslinya. Sosok baik dan dermawan di dua tahun yang lalu itu hanya pencitraan. Marah ya tinggal hadapi. Di bentak ya tinggal dengarkan. Hujat ya tiggal balas hujat.


Regaz: Dasar cewek b*go!

__ADS_1


Candy: Cowok tempramen!


Regaz: Bocil!


Candy: Aku bukan bocil!!


Kakinya menendang selimut tipisnya kesal. Saling melempar ejekan dengan Regaz memang bukan hal bagus dan tak akan pernah menang. Stok sarkasme di otak Regaz lebih banyak, mungkin menggunung.


Regaz: Oh.


Santai, woles, sabar. Menghadapi Regaz itu harus memakai kepala yang dingin. Sekali tersulut Regaz akan menginjaknya hingga penyet.


Regaz: Marah ya?


Pikir saja sendiri.


Candy: Enggak.


Jurus muna ala-ala perempuan ia pakai. Klise, tapi ia harap Regaz peka sendiri walaupun itu mustahil adanya.


Regaz: Oh, padahal kalo lo jawab marah, gue lagi bayangin muka lo lagi jelek. Udah jelek, lelet, hidup pula.


Cowok satu ini ...


Candy: Kamu nyebelin tau nggak!


Regaz: Makasih.


Candy: 😑


Regaz: Mimpi indah ya, Candy


Ia menatap isi pesan itu aneh. Tadi bukannya Regaz mengolok-ngoloknya dengan berapi-api, kenapa sekarang jadi sok perhatian?


Regaz: Takutnya kalo mimpi buruk, lo nggak bisa bangun lagi. Nanti gue yang dimarahin Pak Jaya, karena lo gagal olimpiade. Kan mimpi indah takut sama lo.


Tidak adil! Menyebalkan sekali. Dasar cowok darah tinggi! Mana ada mimpi indah takut dengan dirinya.


Akibat terlalu sibuk memperhatikan ponsel, Candy tak menyadari bahwa waktu sudah berjalan cepat. Matanya sudah mulai memberat, hingga ia terlelap dengan ponsel yang terjatuh di kasurnya.


...\=\=\=\=\=...


...-TO BE CONTINUED-...


A/N: Pendek ya? :(


Seperti yang udah aku bilang, kata bercetak miring itu (Flashback, orang di seberang telpn, chatingan, membatin)


See u again

__ADS_1


__ADS_2