
"Mau beli sesuatu dulu?"
"Ayo," balas Candy tanpa pikir panjang. Ia ganti menyeret Orion agar menjauh dari kerumunan itu. Semenit lagi tidak menyingkir dari sana, ia pasti pingsan karena kelewat takut. Jarak antara dirinya dan barongan tadi dekat sekali sampai-sampai Candy bisa melihat mulut barongan itu isinya apa. Menyeramkan!
Langkah mereka baru berhenti di depan penjual permen kapas. Candy menelan ludah sejenak. Ia menoleh ke arah Orion dan tersenyum manis.
"Orion, Candy nggak punya uang. Beliin itu ya?" Katanya di imut-imutkan.
"Dih, lo pikir gue tabungan berjalan?" Orion masih mengangkat tas Candy.
Gadis itu menatap kesal. "Kamu kok pelit sih?"
"Bukan. Gue perhitungan. Nyari duit kan nggak gampang!"
Apa hal itu harus di perjelas? Siapapun tahu kalau mencari uang bukanlah hal yang mudah.
"Perlu banyak menang turnamen volly dulu biar dapet uang jajan tambahan. Buat menang turnamen, butuh latihan keras. Buat latihan keras, butuh energi. Buat energi, butuh makan. Buat makan, butuh duit."
Astaga, kalau tidak mau membelikan ya bilang saja. Tidak usah nyasar-nyasar ke volly segala. Candy memutar bola matanya.
"Tapi berhubungan gue lagi baik hari ini, oke gue beliin," Candy menahan diri untuk tidak menganga layaknya orang bodoh ketika cowok itu memberi keputusan. Dear god, mau membelikan saja harus ceramah panjang lebar. "Mang, mau dua ya ... satu ping terus," Orion menoleh. "Lo mau warna apa?"
"Biru," balasnya masam. Orion bisa labil juga seperti remaja lainnya.
"Oke, biru."
Dua bungkus permen kapas sudah berada di tangan Orion usai cowok itu membayarnya. Candy memeluk salah satunya kemudian mengikuti cowok itu berjalan.
"Kalau di novel-novel biasanya cowok belinya satu alias cuma buat ceweknya. Kok, kamu beli dua?"
"Terus gue harus nelen ludah pas liat lo makan?" Orion berkata disela-sela memakan permen kapasnya. "Cowok di novel bacaan lo itu pasti nggak mampu jadi belinya satu."
Hinaan cowok itu memang tak ada yang menandingi. Candy mendengus.
"Iya deh yang udah bisa cari uang sendiri pas masih sekolah," berbeda dengan Orion, Candy menolak membuka permen kapasnya. Ia justru mencomot milik Orion.
__ADS_1
"Enak," komennya setelah lidahnya mencecap manis khas permen kapas.
Orion merengut. "Ey, ini punya gue!"
"Aku tahu kok. Makanya aku comot, kalau punya orang lewat ya mana berani,"
Ia hendak mengulang perbuatannya, tapi Orion dengan sigap mengangkat permen kapasnya tinggi.
"Pinter ya, punya orang diabisin punya sendiri masih awet. Dasar licik!"
Candy terkekeh. Rencananya sudah diendus lebih dulu ternyata. Sambil menggoyangkan badannya ke kiri dan kanan, ia mengangguk malu-malu.
"Kamu pinter, nah itu tahu."
"Gue jenius bukan pinter lagi, makanya bisa mempelajarin pelajaran IPA dari IPS!"
"Hoo~ sombong!" Cibir Candy. Gaya dagu terangkat cowok itu mempertebal gelar songong yang Orion dapatkan darinya.
"Dih, dikasih tau kenyataan nggak mau," Orion melemparkan lirikan sinis. Ya sudah kalau tidak terima. Toh, tidak berefek apa-apa untuknya.
"Pulang atau belajar?"
Candy tersenyum lebar. "Pulang."
Sudah ia duga jawaban yang diterimanya akan seperti itu. Orion tersenyum maklum.
"Ya udah ayo," mungkin menonton kuda lumping sampai habis bisa dilakukan lain kali. Partner yang dibawanya salah. Candy takut dengan barongan yang jelas tidak akan bertahan lama menontonnya. "Bentar. Gue cari kunci dulu,"
Satu tangannya merogoh saku lebih dalam, sebuah benda yang sedari tadi ingin Orion berikan tersentuh olehnya. Pupil matanya melebar menyadari hal itu.
"Gue boleh minta tolong?"
"Tolong apa?" Candy menjawab sambil lalu. Parkirannya padat sekali padahal ini bukan hari libur. Apa Ibu-ibu dan Anak-anak yang menonton itu sedang senggang, ya?
"Pegang ini," sebuah gelang berwarna silver terulur padanya. Candy menatap Orion bingung.
__ADS_1
"Tolong kasihin ini ke Candy Elisa, ya. Suruh dia buat inget gue," Orion menghela napasnya panjang dan tersenyum miris. "Tell her that ... Regaz always miss her."
...***...
"Tell her that, Regaz always miss her."
Candy menarik napasnya pelan. Ia menatap gelang silver yang berada di tangannya. Apa yang harus ia ingat? Selama ini ia selalu beranggapan orang yang mengajarinya olimpiade adalah Regaz si Jenius yang di idam-idamkan seluruh siswi dan menjadi idola di sekolah.
Bahkan sampai tadi siang, ia masih beranggapan bahwa orang yang bersamanya itu Regaz. Walaupun ia tahu, sifat Regaz berbanding terbalik dengan orang yang menjadi guru bimbingannya.
Candy sendiri menyadari itu dari pertama kali mereka bertemu di ruang musik. Tatapan cowok itu tak lagi hangat, namun sangat dingin dan penuh amarah sampai membuat tubuhnya mengigil disana. Lalu, apa yang bisa ia terima? Kenyataan orang yang sudah dianggap telah meninggal oleh semua orang, ternyata masih hidup. Bertukar peran dengan pemeran utama dalam cerita.
Si pembuat masalah Orion Archandra yang ternyata masih hidup dan si jenius Regaz Kavier yang sudah tiada. Sampai saat ini hanya itu yang bisa Candy mengerti.
"Regaz? Orion?" Candy bergumam pelan. Kenapa ia harus terjebak dalam posisi rumit seperti ini.
Candy mengacak rambutnya frustasi. "Biasanya aku nggak terlalu mentingin hidup orang lain. Orang hidup aku juga susah, kenapa aku harus mempersusah lagi dengan memikirkan mereka berdua?"
Ia tak mengerti. Sekali lagi itu sugesti Candy tentang apa yang ia hadapi saat ini. Semua ini layaknya film remaja-remaja cengeng yang sering di tonton Rena jika malam minggu datang. Ia tak menyangka di dunia ini, ada orang yang se-naif Orion?
Rasanya Candy ingin tertawa jika membayangkan kalau Rena tahu bahwa orang yang menjadi pembimbingnya adalah Orion bukanlah Regaz. Gadis itu pasti akan berteriak histeris.
Dan soal perasaan yang akhir-akhir ini selalu ia rasakan, Candy tak tahu apa itu. Jantungnya berdetak cepat jika bertemu dengan cowok itu, padahal Candy tak pernah merasakan itu semua. Ia tak tahu apakah itu hanya perasaan kagum semata? Tapi orang itu bukan Regaz melainkan Orion.
"Dahlah ... kenapa aku harus pusing-pusing mikirin itu? Sekarang, aku harus fokus dulu belajar dan buat bangga Ibu," sugestinya pelan.
Ia memejamkan matanya. Berharap jika ia tertidur akan menghilangkan beban dalam hidupnya. Kesedihan dalam hari-harinya. Mengobati rasa lelahnya.
Tak ada orang lain yang tahu. Bukan cowok itu—Orion—yang egois melainkan dirinya.
...\=\=\=\=\=...
...-TO BE CONTINUED- ...
A/N: Mungkin beberapa chp lagi bakalan ending. Kalian tim happy ending atau sad ending?
__ADS_1
Di update sekarang karena besok ada ulangan harian sekian wkwk:v