
"Hai manis," sapa sebuah suara.
Candy mendongak. Ketika sebuah suara menyentak dari depan. Wajah orang yang di hadapannya itu sangat asing, namun ia tahu jika orang itu adalah siswa SMA sebelah.
"Iya?"
Tiga orang siswa itu mendekat pada Candy yang sekarang sedang menatap bingung mereka. Lalu, tanpa aba-aba lengan-lengan kokoh itu menyeretnya. Kejadian yang begitu cepat, hingga Candy tak sempat berteriak karena salah satu dari mereka membekap mulutnya.
"Lephas! Lemphh--" Candy meronta panik, menolak untuk masuk ke dalam mobil. Pandangannya memburam, hingga semuanya menjadi gelap. Namun, satu hal yang ia dengar sebelum kehilangan kesadaran, nama seseorang di sebut. Nama yang ia yakin pernah dengar.
'Orion?'
...***...
Candy tak bisa memastikan apakah mimpinya yang semalam itu benar-benar mimpi? Namun, itu terlalu nyata jika diartikan sebagai mimpi buruk.
Ia ingin bertanya pada Ibunya, namun takut ditanya balik macam-macam.
"Rasanya terlalu nyata jika sebut sebagai mimpi,"
Orion. Nama cowok itu yang ia dengar samar-samar, sebelum Ibunya membangunkannya untuk mandi. Apa itu efek begadang, ya?
Candy menggaruk kepalanya. "Duh, kenapa nggak inget sama sekali, sih? Burem."
Namun ia merasa jika semua itu bukanlah hanya mimpi belaka. Akan tetapi, jika tidak di sebut mimpi ... lalu kapan ia mengalaminya? Mana mungkin ia pernah di culik? Seperti di film-film saja.
"Kenapa lo, Dy?"
Pagi hari adalah waktu yang di gemari siswa dalam menebeng wifi sekolah. Belum terlalu banyak yang pakai sehingga koneksi lancar tanpa hambatan. Ia dan Rena termasuk salah satunya.
Candy menggeleng. Merasa pusing berspekulasi terus-menerus semenjak pagi tadi. Mimpi atau nyata? Nyata atau mimpi?
"Na ..."
Penyegaran pikiran sepertinya harus ia lakukan.
"Hm," Rena bergumam tanpa mengangkat kepalanya. Mereka duduk di lantai kelas, saling berhadapan dan sibuk dengan ponsel masing-masing.
"Kamu pernah nggak mimpi yang pernah alamin di dunia nyata? Atau semacam, kamu pernah ngelakuin ini di masa lalu, terus kamu mimpiin itu semua?"
Rena menggaruk pipinya. "Maksud lo dejavu, gitu?"
__ADS_1
Candy mengigit bibir bawahnya. "Ya, semacam itu."
"Belum pernah tuh. Kenapa emangnya?" Rena memincingkan matanya. "Emangnya tadi malam lo mimpi apa?"
"Nggak mimpi apa-apa. Cuma nanya aja," ujar Candy ragu.
"Masa?" Rena mencolek-colek dagu Candy. "Jangan bilang, semalam lo mimpi married sama Regaz?!"
"Apa? Ya, enggaklah!" Teriak Candy keras. Apa sih yang di pikirkan sahabatnya itu, sehingga berspekulasi seperti itu.
Rena tertawa terpingkal-pingkal. Niatnya hanya ingin menggoda, namun di anggap serius oleh Candy. Tawanya itu memelan hingga berhenti dan memasang wajah serius.
"Emangnya lo mimpi apa? Penasaran nih gue," ujarnya seraya menggoyang-goyang lengan Candy.
BRAK!
Pintu kelas di buka dengan kasar, diiringi oleh seseorang yang datang dengan napas tersenggal. Wajah cowok itu nampak suram.
"Arya?" Gumam Candy pelan.
Rena menatap sebal pada cowok yang tanpa permisi mendobrak pintu kelasnya.
"Candy," Arya mengatur pernapasannya sejenak. "Bisa kita bicara sebentar? Ada yang mau gue omongin."
"Bukan urusan lo! Jadi, gimana Can?"
"Ini tentang Regaz," Ujar Arya lagi ketika mendapati raut ragu dari Candy.
Candy menoleh sekilas pada Rena sebelum menjawabnya ragu, "Oke."
...***...
Semua kebingungannya harus diakhiri saat ini juga. Setidaknya itu prinsip kuat Candy ketika Arya menyeretnya ke koridor yang memisahkan kelas XII IPA dan IPS. Entah apa yang mau Arya bicarakan. Candy hanya menurut saja, lagipula ia pun ingin memastikan sesuatu.
Pemandangan lapangan sekolah yang terlihat sebagian dari tempat ia berpijak makin menyemarakkan kecanggungan yang memekak.
"Can,"
"Jadi-,"
Mereka berbicara pada saat yang sama. Arya berdehem salah tingkah. "Lo duluan aja,"
__ADS_1
Rasanya semakin kaku mengingat mereka sangat jarang berinteraksi di sekolah maupun di luar sekolah. Jika di pikir-pikir, baru beberapa kali Candy berbincang santai dengan Arya. Itu pun hanya sepatah dua patah, bukan serius seperti ini.
"Jadi, kenapa kamu bawa aku kesini?"
Arya menarik napas. Ia gugup untuk membalas. Ini jelas bukan gayanya sekali. Bahkan dalam intimidasi Regaz, dirinya masih biasa saja. Tapi entah kenapa dengan Candy, pengendalian diri yang selalu Ayahnya gaungkan kabur begitu saja. Mungkin, karena gadis itu terlihat polos dan suci.
"Gue mau nanya, lo udah inget sesuatu?"
Candy mengernyit. Pertanyaan ini lagi. "Maksudnya?"
Arya mendesah pelan. "Lo belum dapat petunjuk? Padahal lo tiap hari bareng dia. Lo nggak ngerasa aneh gitu sama Regaz?!"
"Kenapa emangnya?" Tanyanya menyuarakan kebimbangan yang ia rasakan sejak tadi pagi. "Dan apa maksud kamu waktu itu, yang nyuruh aku buat ingat sesuatu yang aku lewatin?"
Arya menatap tautan tangannya yang bertumpu di atas gedung. Masker menutupi setengah wajahnya sehingga sudut-sudut bibirnya yang menipis tidak terlihat.
"Dia itu menyedihkan," gumamnya mengawali. Awan yang menggumpal di langit menjadi sasaran tatapannya kali ini. "Dia seenaknya sendiri, g*blok, tempramen, abstrak, nggak pernah mikirin diri sendiri, ketus, judes, galak, pemaksa, dan segala sifat abnormal lainnya yang nggak pernah gue paham!"
Napasnya terengah. Hanya menyebutkan sifat si brengs*k itu tanpa jeda saja sudah menyusahkannya apalagi menghadapi orangnya. Kepala Arya serasa mau meledak. Namun, ia sudah tidak tahan lagi. Cukup sudah.
"Gue nggak pernah tau jalan pikirannya. Dia menderita, tapi nggak pernah ngomong. Dia tersiksa, tapi terus senyum dan bertingkah bahwa semuanya baik-baik aja. Dia itu pembohong, Can! Penipu ulung! Si menyedihkan yang pakai topeng cool boy from mars!"
Candy terbengong-bengong menyaksikan kecerewetan Arya. Deskripsi soal Regaz ternyata universal, ya? Temannya saja merasa begitu. Tidak jauh berbeda dengan Candy.
Arya menoleh dan menatap Candy yang seolah menunggu lanjutan kalimatnya.
"Lo pasti udah tau jika dia itu punya dua kembaran, 'kan? Lo juga pasti tau kalo nama kembarannya itu Edgar sama Orion? Dan lo juga udah tau, kalo satu saudara kembarnya itu udah nggak ada,"
Candy menelan ludahnya gugup. Ya, ia tahu itu. Tapi, ia masih ragu jika perasaannya itu salah.
Arya menyandarkan dirinya ke pilar gedung. Bahunya melemas dengan mata terpejam. "Melihat reaksi lo, sepertinya lo udah tau Candy—," Arya membuka matanya dan menatap lurus pada manik gadis itu.
Candy menahan napasnya ketika melihat Arya yang akan kembali melanjutkan kalimatnya. Dan kalimat selanjutnya membuat Candy menatapnya tak percaya.
"——Nyatanya orang yang sekarang dekat kita itu bukan Regaz. Tapi, Orion Archandra."
...\=\=\=\=\=...
...-TO BE CONTINUED-...
A/N: Hehe
__ADS_1
HEHE GIMANA, GIMANA? SELAMAT BUAT KALIAN YANG UDAH NEBAK-NEBAK😹😹😸