
Takdir memang tidak bisa ditebak. Dengan siapa kita bertemu. Kapan kita berpisah. Semua itu sudah ada secara tersirat.
Kata pertemuan memang menyangkut dengan perpisahan. Di penghujung perpisahan itu kita bisa belajar dari masa lalu.
Menerima kenyataan memang tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan. Ada kalanya kita harus sabar. Menghela napas pelan dan memejamkan mata, lalu berucap; Aku pasti bisa.
Perkataan itu lebih tajam daripada pisau. Dan fisika lebih mudah daripada biologi.
Sudah empat tahun lamanya ia tak menginjakkan kaki di sekolah ini. Sudah empat tahun pula ia hidup dengan perasaan bersalah yang merambati dadanya. Namun, seakan belum cukup hatinya pun ikut membeku.
Rooftop sekolah memang selalu nyaman sejak dulu. Bibirnya mengukir senyum tipis, ia menyesap rokok yang terjepit diantara jarinya seraya menatap langit yang berwarna jingga.
Sekelebat ingatan memenuhi pikirannya tentang olimpiade, grand piano, perkataan sarkas dan 'dia'.
Orion menghela napasnya pelan. Satu tangannya mengacak rambut kasar. Sudah empat tahun ia berlari dari kota ini. Sudah empat tahun ia berusaha melupakan tentang senyuman yang pertama kali membuat jantungnya berdegub kencang.
Sudah empat tahun pula Orion mengubur perasaannya.
Candy Elisa dan fur Elise.
Dua kata yang selalu mendominasi pikirannya.
Ego memenangkan segalanya hingga ia berkata sarkas di akhir cerita hingga membuat gadis itu menangis dan terluka.
Hanya ada air mata dan luka yang ia ingat mengenai gadis itu. Tepukan di bahunya membuat Orion menoleh.
"Udah mau malem. Sampai kapan lo mau disini?" Tanya Arya.
Orion tersenyum kecil. Ia membuang puntung rokok itu ke lantai dan menginjaknya menggunakan sepatu. "Berisik banget sih lu, kayak banci kaleng aja!"
Arya terkekeh. Tak ada yang berubah dari Orion. Ucapannya masih sarkas dan pedas. Namun, itu semua yang menjadikan Orion mudah diingat oleh orang lain.
"Udah empat tahun. Lo nggak mau nemuin dia?"
Orion tak menjawab. Ia melangkah santai meninggalkan Arya yang sedang bersandar di tepian tembok.
Orion menghentikan langkahnya dengan tangan yang sudah bertengger di knop pintu ia berbicara tanpa membalikkan badannya, "Buat apa gue nemuin dia setelah apa yang udah gue lakuin?"
Arya menatap lurus pada Orion. "Emangnya kenapa? Lo bisa minta maaf sama dia, 'kan?"
__ADS_1
Orion tertawa. Bukan tawa bahagia melainkan tawa miris yang selalu ia tampilkan. "Kata 'maaf' nggak akan ngerubah semuanya," Raut wajahnya berubah menjadi datar. "Daripada kata maaf, gue lebih milih dia maki-maki gue!"
Setelah berucap dingin seperti itu Orion berlalu dari rooftop dengan tangan yang di masukkan dalam jas-nya. Malam puncak bagi anak kelas XII akan segera di mulai, dirinya yang diundang sebagai tamu spesial-pun mempersiapkan dirinya.
Orion menatap grand piano yang terletak di tengah-tengah panggung. Bangku-bangku penonton berjejer rapih di depan sana. Siswa yang akan lulus duduk dengan pasangannya masing-masing. Orion tersenyum.
Andai saja dulu ia menurunkan egonya, mungkin keinginan untuk memilikinya akan terpenuhi. Namun, sekali lagi semuanya tidak akan berubah.
Orion duduk di bangku itu. Jari-jarinya menekan tuts-tuts dengan penekanan yang seimbang. Orion memejamkam matanya.
Setiap tuts yang ia tekan menghasilkan irama. Nada-nada yang terbentuk terngiang di udara. Fur Elise adalah nada yang sangat pekat. Orion membuka matanya. Iris hitamnya bertemu dengan iris sejernih mutiara.
Orion terpaku. Senyuman yang masih sama itu, wajah yang lebih dewasa. Tanpa sadar air matanya menetes. Ia melanjutkan permainannya dengan pandangan yang masih lurus pada sosok itu. Ia rindu padanya.
Suaran tepukan tangan dan sorakan kagum dari para murid membuat atensi Orion teralihkan. Ia tersenyum sekilas dan membungkuk hormat. Matanya kembali mengedar ke sekitar berharap orang yang tadi ia lihat bukanlah khayalan. Namun, nihil. Orion tak menemukan orang itu.
Dengan langkah pelannya ia turun dari panggung. Raut kekecewaan terlihat jelas dari muka itu. Ia melangkah dengan wajah tertunduk dan tangan yang mengusap tengkuk. Ia terlalu bersemangat, pikirnya.
Namun, langkahnya terhenti ketika sepasang sepatu berwarna putih menghalangi jalannya. Wajahnya terangkat, lalu sedetik kemudian matanya membelalak. Waktu bagaikan terhenti dan senyuman itu ada untuknya.
Seketika Orion lupa bagaimana caranya berbicara. Ia hanya berdiri kaku dengan bibir yang membuar garis lurus.
Suara lembut itu menyadarkan lamunannya. Orion mengangguk kaku. Ia mengikuti langkah gadis itu, sekilas ia bisa melirik gelang yang melingkar pada tangan gadis itu. Ia tersenyum kecil, namun senyum itu tak bertahan lama setelah ia tahu kemana gadis ini akan membawanya.
Ruang musik sekolah.
"Kenapa lo bawa gue kesini?" Setelah sekian lama, Orion mengeluarkan suaranya. Ia menatap ruang musik sekolah yang tampak berbeda dari empat tahun yang lalu. Namun, grand piano itu masih sama.
"Karena ini tempat dimana kita pernah bertemu untuk yang kedua kalinya."
Orion menghela napasnya. "Gue nggak akan minta maaf buat empat tahun yang lalu. Tapi, kalo lo mau maki-maki gue, silahkan!" Orion berbicara dengan menatap gadis yang masih memunggunginya.
Candy berbalik masih dengan senyum kecil yang terukir di bibirnya. Ia bukanlah Candy yang dulu. Polos dan lugu. Setelah peristiwa itu, Candy belajar dari masa lalunya. Namun, tak semua sikap Candy berubah. Ia masihlah gadis yang baik hati.
"Aku bahkan sudah memaafkanmu. Semua yang kamu bilang waktu itu, justru buat aku jadi orang yang kuat. Aku yang harusnya berterima kasih, bukan?"
Orion mendengus. Ia menggeleng tak mengerti. "Lo masih aja b*go, ya? Lo nggak sadar gue udah nyakitin lo?!"
Candy mengangguk. "Iya. Kamu udah nyakitin aku. Kamu yang udah buat aku menderita. Ya, itu semua benar."
__ADS_1
Orion tersenyum miris.
"Tapi, rasa nggak pernah bohong, Orion. Sekuat apapun kamu bicara seperti itu, kenyataanya perasaanlah yang lebih unggul." Perkataan dari Candy membuat Orion mendongak. Ia menatap lekat netra jernih Candy.
"Lo-," Orion mengacak rambutnya frustasi. Ia tidak bisa menahannya lagi. "F*ck!" Dengan umpatan yang begitu keras Orion meraih tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Ia memeluk erat tubuh mungil itu.
"Dasar sial*n! Iya, bener. Gue cinta sama lo, puas!"
Candy terkekeh. Cowok itu tak berubah sama sekali. Ia menjulurkan lengannya membalas dekapan Orion. "Jadi, sekarang apa?" Tanyanya polos.
Orion melepaskan dekapan itu sekilas. "Sekarang kita suami-istri, puas!"
"Hah? Kan kita belum nikah, Orion,"
Orion mengacak rambut Candy gemas. Ia menangkup pipi cabi itu dan menatap lembut pada mata Candy. "Maaf karena gue udah nyakitin lo selama ini, Elisa. Jadi, lo mau nggak terima permintaan maaf gue dengan cara terima lamaran gue besok pagi?"
"Nggak."
Jawaban singkat dari Candy membuat Orion mengernyit. Namun, tak sedikitpun merubah situasinya. "Kenapa?"
"Kamu nggak romantis banget sih. Orang lamaran itu bawa bunga, lah kamu?" Candy menahan senyumnya kala melihat Orion yang menggaruk tengkuknya bingung. "Tapi, untuk kamu pengecualian. Iya!"
Orion tersenyum. Ia membawa Candy kembali ke dekapannya.
Cerita itu memang tak harus ending yang sempurna. Ending yang sempurna belum tentu kita mendapati perasaannya. Hanya sedikit sentuhan, namun berjuta perasaan pun terbang.
Nyatanya, kita ini bukanlah pemeran utama. Kita hanya pemeran sampingan yang dijadikan pemeran utama karena keadaan.
Dan nyatanya, kisah kita tidak sebanding dengan kisah lainnya. Namun, mampu diingat dengan kata Orion-Candy. Lagu fur Elise pun memjadi alur kisah yang kita buat.
Dan suatu saat nanti, nama kita akan bersatu di sebuah kertas yang sama.
...-S E L E S A I-...
A/N: udah. Iya, udah bener-bener selesai. Makasih yang udah dukung aku selama ini. Dan semoga kalian juga berkenan membaca ceritaku yang lain.
Dan nantikan terus COMING SOON dari:
Masih Coming Soon belum update ...
__ADS_1