
Dekapan Orion bertambah erat tapi tidak menyakiti. Orion menelan habis rasa sakitnya dengan berkata, "Meninggal itu nama lain dari kehidupan baru. Orang yang meninggal dunia bukannya artinya melepas beban dunia? Dia nggak bakal ngerasain sakit lagi kayak di dunia fana. Jadi, jangan di tangisi!"
"Aku sedih, makanya nangis."
Orion tersenyum lembut. Senyum pertama kali ia tunjukkan tanpa kepalsuan. Senyum yang datang dari dalam hatinya tanpa paksaan. Di lepasnya tubuh Candy dari rengkuhan tangannya. Tangannya memghapus jejak basah di pipi gadis itu.
"Jangan sedih Candy," tuturnya menenangkan. Ia mengenggam tangan gadis itu. "Ayo ikut gue."
"Kemana?" Candy bertanya di sela isakannya.
Orion merapihkan rambut gadis itu yang berantakan. Ia tersenyum. "Ke tempat dimana kita buang sedihnya sama-sama."
...***...
Motor besar milik Orion berhenti secara perlahan di tempat yang asing. Tadi Orion membawanya menyusuri jalan menuju rumahnya. Akan tetapi ketika menemui persimpangan, mereka malah berbelok dari arah seharusnya sehingga sampailah di tempat ini.
"Turun."
Orion melepas helm-nya kemudian membantu Candy menuruni motor dengan hati-hati. Kesejukan yang sejak semalam lari dari rongga dadanya mulai kembali sedikit demi sedikit ketika pertama kali ia menjejakkan kaki di tempat ini.
"Ini dimana?" Tanyanya.
Kakinya melangkah pelan sembari menikmati udara sejuk, menunggu Orion yang memarkirkan motornya ke bawah pohon pisang. Selama beberapa tahun tinggal di kota ini, Candy bahkan baru tahu jika tempat ini ada. Hijau dimana-mana dan terlihat menyatu dengan alam.
"Lo suka?"
Candy mengedarkan pandangannya. "Hm, lumayan,"
Tidak ada alasan untuk tidak menyukai tempat ini.
Hijau. Pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi dan udara yang terjaga. Sinar matahari sore tampak muncul dari celah-celah pohon yang rimbun, membuat tempat ini seperti bercahaya.
"Syukur deh kalo lo suka. Tapi bukan ini yang mau gue tunjukkin sama lo."
"Terus apa?"
Orion tidak menjawab, melainkan hanya tersenyum simpul sebelum menarik tangannya lembut. Jari-jari mereka saling bertaut mengisi kekosongan yang ada ketika mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang kanan kirinya terdapat pagar bambu.
Candy merasa mereka sedang melakukan tour ke hutan apalagi pohon-pohon pinus yang lebat dan tinggi. Bukankah, hutan selalu identik dengan pohon pinus? Sekarang ia penasaran bagaimana Orion bisa bebas masuk ke tempat ini yang jelas-jelas tempat ini pasti milik orang lain.
"Ini tempat ketiga favorit gue setelah tempat ngumpul sama atap sekolah. Rahasia tapi. Arya sama yang lain juga nggak tau," jelas Orion tanpa diminta.
Candy mengernyit. "Kalau rahasia, kenapa aku di kasih tahu?"
"Kira-kira kenapa?"
Ditanya balik seperti itu sudah jelas Candy tidak tahu jawabannya. Ia dengan polos menggeleng.
"Nggak tahu. Pikiran kamu terlalu abstrak buat di tebak. Arya juga bilang begitu," ujarnya yang membuat Orion tertawa seketika.
Mata cowok itu terpejam. Alis tebalnya sedikit menukik turun seirama dengan bulu mata panjangnya. Tulang pipinya naik seiring dengan semu kemerahan yang hinggap disana. Keseluruhan, Orion terlihat berkali-kali lipat ketika tertawa lepas seperti ini. Sayangnya, Candy tak bisa mengatakan itu.
"Kepolosan lo nggak kenal waktu, ya?" Tanya Orion gemas.
Candy menggeleng tak setuju. "Aku nggak sepolos itu, ya. Kata Rena, polos sama b*go itu beda tipis."
Tawa Orion lenyap seketika. Tak dapat di sangka Candy akan membalasnya seperti itu. Apa saja yang sudah dikatakan Rena pada Candy? Bukankah mereka bersahabat?
__ADS_1
Sisi nuraninya memberontak. Tetapi jika mempertimbangkan logika, ia kalah. Siapalah dirinya sampai berhak mencampuri hubungan persahabatan seseorang? Jika pun dirinya bertanya, apa untungnya bagi dirinya?
"Ck, nggak usah di inget kata-katanya," Orion menepuk pipi Candy sekali.
Candy memaksakan diri untuk tertawa kecil. Ia sedang tidak dalam mood untuk bercanda. Orion tampak menyadari hal tersebut sehingga langsung membuka tas selempang sekolahnya, mencari-cari sesuatu.
"Wah, pulpen gue di pinjem Wawan terus nggak di balikin lagi," gumam Orion. "Eh Can, lo bawa bolpoin nggak? Pinjem sini."
Candy tersenyum lemah. "Buat apa?"
"Sekali-kali nggak usah bawel bisa?!" Orion berdecak. "Cepet ah!"
Setengah tak mengerti, Candy mengeluarkan sebuah bolpoin bertangkai pendek yang selalu ia selipkan di saku celana. Tadi sewaktu menghitung amplop ia dapatkan dari orang-orang melayat, Candy memakainya.
Tiba-tiba saja ia termenung ketika memikirkan Ibunya yang sudah tidak ada. Dukanya kembali lagi. Ia kehilangan minat melakukan apa-apa.
"Sini."
Tarikan Orion dengan mudah membawa Candy mengikutinya. Ia hanya menatap lesu aliran air sungai yang di penuhi dengan bebatuan kecil.
"Sekarang dengerin gue," Orion mencengkeram bahunya pelan, mengisyaratkan Candy agar fokus memperhatikannya. "Setiap lo punya ganjalan di hati, tulis semua perasaan lo di sebuah kertas."
"Semuanya?"
"Iya," Orion mengangguk. "Karena dengan menulis, seenggaknya lo udah berbagi beban emosi. Hal-hal yang pengen lo sampein ke orang lain, tapi nggak ada orang yang bisa jadi pendengar yang baik, tulis semuanya. Itu bakal buat lo lebih tenang."
Candy masih terpaku ketika Orion menyerahkan bolpoin dan kertas yang sudah di bentuk persegi.
"Tulis disini semuanya. Entar gue kasih tau kelanjutannya."
Orion tersenyum samar, langkah keduanya sudah dilaksanakan. Sejauh ini rencananya berjalan mulus tanpa di hadang gangguan. Ia mengambil posisi jongkok di sisi sungai untuk merilekskan diri.
"Kehilangan itu nggak enak banget ya," Orion mengambil kerikil di dekat kakinya lalu melemparnya sembarangan. "Nggak doyan makan, lidah terasa hambar, pikiran blank, dan harapan lanjutin hidup nol persen."
Berbicara sendiri sambil memainkan rumput liar yang dicabutnya secara asal adalah kegiatannya yang lain di tengah acara menunggu Candy.
"Gue tau persis rasanya gimana. Bahkan kenangan tentang hari dimana lo tau kalo seseorang itu pergi bakal bertahan puluhan tahun ke depan. Kalo beruntung, lo cuma anggep itu sebagai pelajaran buat jadi lebih kuat di masa depan. Kalo sial, rasa sakit itu bakal mengendap di dasar hati lo dan sewaktu-waktu bisa terpanggil lagi."
Pena-nya berhenti menari. Candy menatap Orion tanpa ekspresi. "Sayangnya, kaum beruntung itu pasti sedikit jumlahnya. Banyakan juga kaum sial yang gagal move on,"
Orion terkekeh. "Itu tau," matanya berusaha agar tak melakukan kontak dengan Candy. Ia membuang pandangannya ke langit. "Gue aja masih ngerasa sakit meski udah lama Regaz meninggal,"
Mengerjap satu kali, dua kali. Air matanya menitik diam-diam. Orion membiarkannya walau kepalanya masih menengadah. Langit yang cerah membuat air matanya terlihat jelas.
"Sebahagia apapun keliatannya, ada saatnya gue merasa hampa. Seringkali gue selalu nyalahin diri gue sendiri sampai gue mengganti karakter gue. Nyatanya gue itu bukan pemeran utama, lo bener. Gue cuma pemeran sampingan yang gantiin pemeran utama saat nggak ada."
Candy termangu mendengarnya. Sejak kapan mereka sedekat ini?
"Kenapa sampai kepikiran kayak gitu?"
Cowok itu menggeleng putus asa. "Emang itu kenyataanya," kekehan mirisnya mengikuti. "Nyatanya kan gue emang ganteng iya nggak, Can?"
Candy pura-pura tertawa agar Orion tak terlarut dalam kesedihannya. Ia hanya tidak bisa menyaksikan cowok itu hancur dalam kesedihan yang selama ini disembunyikannya. Candy tidak bisa menenangkannya di saat dirinya sendiri juga butuh di tenangkan.
"Dasar narsis!" Cibirnya.
Orion tertawa makin keras seraya mengusap pipinya. "Itu namanya pede. Jadi orang itu harus pede sama apa yang udah Tuhan kasih! Bilang aja lo iri."
__ADS_1
"Idih amit-amit. Apa yang mau diirikan dari cowok seenaknya sendiri, abstrak kayak kamu?"
"Banyak. Lo aja yang nggak tau, gue itu jenius. Awas kalo lo nyebut gue pinter doang ya! Ganteng, jago olahraga, jaga gaming, jago balapan. Mana ada cowok sekeren gue?"
Candy mengibaskan tangannya. Ia memeragakan ekspresi ingin muntah saat Orion menyombongkan dirinya. "Terserah aja lah,"
Tak mau memperpanjang dumelan, kertas di tangannya segera di pindahkan pada Orion.
"Nih, udah. Tinggal di apain lagi?"
Orion memamerkan cengirannya. Ia langsung menyambar kertas itu dan membentangkannya di atas tanah. Jari-jarinya bergetak lincah melipat sisi demi sisi.
"Buat apa? Origami?" Tanya Candy penasaran.
"Menurut lo apa?" Orion balik bertanya. Tinggal sedikit lagi, sedikit lagi selesai.
"Bangau?" Tebak Candy tepat sasaran.
Orion menunjukkan hasil kerja kerasnya diiringi dengan senyuman. "Itu lo tau," diserahkannya bangau kertas itu pada Candy. "Sekarang ikut gue," katanya beringsut bangkit.
"Kemana?"
"Situ," Orion menunjuk satu titik di sungai dengan dagunya. Tanpa ba-bi-bu Orion menyeret lengan Candy. Letaknya tidak terlalu jauh. Mungkin hanya beberapa langkah.
"Ikutin kata-kata gue, Can."
Orion menangkup tangan Candy yang memegang bangau kertas. Pandangan mereka sama-sama tertuju pada benda mungil itu.
"Hai bangau,"
"Hai bangau," tiru Candy.
"Jaga tulisan perasanku di tubuhmu,"
"Jaga tulisan perasaanku di tubuhmu."
"Sampaikan salam rinduku pada seseorang disana," Orion menatapnya lama. Genggaman tangannya mengerat.
"Sampaikan salam rinduku pada seseorang disana," ulang Candy.
"Katakan padanya," kata Orion tanpa melepas tatapan. Senyumnya merekah perlahan.
"Katakan padanya."
Orion melanjutkan, "Aku mencintainya. Selalu."
Mereka saling memandang.
Candy mengulang, "Aku mencintainya. Selalu."
Deg.
...\=\=\=\=\=...
...-TO BE CONTINUED-...
A/N: abaikan hasil kehaluanku yang diatas wkwk:v Kalo liat bias bawaanya pengen ngehalu:v
__ADS_1