Smile Effect

Smile Effect
Denting ke Duasatu


__ADS_3

"Jadi, kamu punya kembaran?"


Regaz mengangguk seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Baju seragamnya sudah berganti dengan kaos santai. Ia menatap Candy yang hanya berdiri meski Regaz sudah menyuruhnya duduk, katanya baju seragam aku basah, nanti kalo sofa nya ikut basah gimana ? Regaz berdecak.


"Wahh ... aku baru tau kalau kamu punya kembaran. Kalian mirip banget, sampe aku nggak bisa bedain," seru Candy riang sampai raut wajahnya berubah berkerut. "Eh, tapi kalau di lihat-lihat lagi kembaran kamu lebih tinggi dari kamu--"


"Jadi lo mau bilang gue pendek, gitu?!" Ujar Regaz ngegas.


"Bukan, maksudnya--"


"Ck, mening lo duduk deh. Lo tahu nggak penampilan lo sekarang udah kayak kucing ke siram air kobokan," Potong Regaz seraya mendorong bahu Candy untuk duduk.


"Jangan banyak bac*t duduk!" Candy menutup mulutnya kembali belum juga ia mengeluarkan seruan ucapan lagi-lagi di potong dengan kata-kata pedas Regaz.


"Tunggu bentar, gue mau ambil minum dulu."


Mendengus, Candy akhirnya mendudukan dirinya dengan kesal. Matanya mengedar ke seluruh ruangan. Ruangan ini berbeda dari yang tadi, dindingnya di dominasi oleh warna abu-abu dan hitam. Kaca jendela yang besar dan juga sebuah piano yang terletak di tengah-tengah ruangan.


Candy beranjak mendekati piano itu, tangan kananya mengusap badan piano yang sedikit berdebu. Sepertinya piano ini sudah lama berada disini.


"Lo lagi apa?"


Candy terlonjak kaget, repleks tubuhnya bergerak mundur hingga tak sengaja menabrak ujung piano.


"Hoi, hati-hati!"


"Aduh," ringisnya sambil mengelus pinggangya yang linu. Ia menatap Regaz kesal. "Kamu bisa nggak sih kalo datang jangan ngagetin mulu!"


"Nggak bisa, tuh," ujarnya seraya menaikan dagu, bibirnya mengukir senyum miring. "Ayo sini duduk!"


Dengan mulut mengeluarkan gerutuan kecil, Candy mendekati Regaz yang sudah duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan jendela besar. Di tangan cowok itu sudah ada dua cangkir yang berisi cokelat panas.


"Nih," Regaz menyerahkan satu cangkir pada Candy yang sudah duduk di sebelahnya.


"Makasih. Ngomong-ngomong kem--"


"Namanya Edgar. Dia udah gue usir, jadi lo tenang aja," Regaz meminum cokelat itu dengan sekali tegukan. Ia taruh cangkir bekas itu di samping bagian bawah sofa.


"Kamu usir dia?"

__ADS_1


"Iya, dia berisik."


Keheningan mengisi mereka seusai itu. Tak ada yang mau angkat bicara, keduanya fokus dengan pikiran masing-masing. Air hujan yang menetes membasahi jendela menjadi objek penglihatan mereka.


"Candy,"


"Y-ya?" Candy menoleh pada cowok yang sudah mengubah duduknya menyamping. Entah karena udara dingin atau mungkin Candy mempunya riwayat jantung hingga ia berdebar ketika Regaz memanggilnya dengan nada lembut?


Candy menelan ludahnya gugup. Regaz dengan penampilan santai dan rambut beribu-ribu kali lebih tampan dari biasanya, ya tapi sangat disayangkan jika saja cowok itu tak bermulut pedas mungkin saja dia sudah jadi pangeran di kehidupan nyata.


"Mau dengerin gue main piano?"


Candy mengedipkan matanya beberapa kali. Lalu mengangguk pelan.


"Kalo gitu, ayo!" Tak sampai di situ Regaz mengenggam tangannya lembut dan membawanya menuju piano.


Candy mengernyit, apa kehujanan membuat kepala Regaz korslet hingga bersikap manis seperti sekarang?


Regaz sudah bersiap dengan Candy yang duduk di sebelahnya. Jarinya menekan not piano dengan pelan hingga menimbulkan suara lembut yang mengalun pelan.


Candy melihat Regaz terkagum. Ia tak menyangka Regaz sepiawai ini dalam piano. Ia tak menyangka Regaz yang biasanya berpenampilan urakan kini memainkan piano dengan senyum tipis dan pandangan sendu.


"Cerita apa?"


"Pencipta lagu ini Beethoven, ia mencoba menyampaikan perasaanya yang tak pernah tersampaikan pada seorang wanita yang dia cintai ...,"


"Hah?" Cengo Candy tak mengerti. Apa ini termasuk pelajaran dari Regaz, tapi Beethoven memangnya pelajaran fisika, ya?


"Namanya Elisa."


"Apa?" Candy terdiam sesaat. Nama itu sama dengan nama panjangnya, jika diingat-ingat lagi Regaz pernah memanggilnya Elisa beberapa kali. Tapi Candy tak ambil pusing, toh nama itu juga namanya. Tapi terasa familiar untuknya.


"Nggak juga sih, sebenarnya nama dia Theresa. Tapi karena Beethoven tulisan kayak dokter, coret-coret nggak jelas. Lidah Theresa jadi meleset bacanya. Hahaha ..." Regaz tertawa lepas diatas permaina pianonya yang mengalun indah.


Candy menatap Regaz lekat. Cowok itu ternyata bisa tertawa, ia kira Regaz hanya bisa memaki saja. Tanpa sadar bibirnya ikut tersenyum.


"Pada akhirnya nama itulah yang dikenal orang-orang. Fur Elise ... adalah sebuah kisah cinta yang tak pernah tersampaikan," Regaz mengakhiri permainannya dengan sempurna ia menoleh dan menatap Candy tak terbaca. Lantas bibirnya bergerak melanjutkan kalimatnya yang tertahan, "Untuk Elisa."


Regaz mempertahankan tatapannya, jarak diantara mereka semakin menipis hingga Candy bisa merasakan napas hangat cowok itu yang menghembus di wajahnya. "Bukankah itu menyedihkan?"

__ADS_1


Candy mengerjap. Ia ingin mundur tapi tubuhnya bagai ter-lem tak bisa bergerak. Akhirnya Candy membalas tatapan Itu.


"Kenapa menyedihkan? Jika benar seperti itu, bukankah artinya lagu ini sangat indah?" Balas Candy tak mengerti. Tangannya saling meremat gugup. "Lagu ini menyiratkan perasaanya, kan? Yang berarti di setiap nada dalam melodinya memiliki makna. Meskipun itu menyakitkan tapi pada akhirnya justru itu akan menjadi kenangan yang indah, 'kan?"


Regaz memundurkan wajahnya, ia menatap lurus ke depan. "Tumben lo bicara bener, Cil. Gue kira lo seb*go itu,"


Candy terkekeh kecil. Sikap Regaz kembali seperti semula. Seram rasanya jika Regaz bersikap seperti tadi, merinding.


"Nah, menurut lo gimana permainan gue?"


"Bagus banget. Kamu les piano, ya?"


Regaz terdiam. Ia menekan-nekan jarinya pada tuts. "Nggak lah, ngapain les-les segala kayak anak Mamah," ketusnya.


Candy menghela napas. Ia mengalihkan pandangannya ke jendela, hujan sepertinya sudah mulai reda, walau masih gerimis. Hari ini, benar-benar hari yang melelahkan. Belum lagi, ia harus kerja part time di mini market. Ia juga harus membantu dulu Ibunya.


"Aku mau pulang," ujarnya pada Regaz.


"Diluar masih hujan. Lo mau sakit? Entar gue yang kena semprot sama Pak Jaya," tandas Regaz seraya menepuk kepala Candy beberapa kali.


Candy mematung. Ia benar-benar tak mengerti, Regaz kesambet apa sampai berperilaku seperti ini?


Gadis itu menghela napasnya.


"Nggak apa-apa, aku nggak bakalan sakit kok. Cuma sekarang udah mau sore banget, kasihan Ibu nggak ada yang bantu," memang benar Candy khawatir pada Ibunya. Apalagi tadi hujan sangat deras, ia khawatir Ibu kewalahan jika harus menghalau kebocoran sendiri.


"Yaudah, gue ambil jaket dulu sama kunci motornya dulu!"


Candy mengangguk. Ia menatap punggung Regaz yang sudah hilang di balik tembok. Sikap cowok itu seperti bunglon. Kadang marah-marah, kadang baik, kadang jutek. Entahlah, Candy tak tahu sebenarnya mana sikap alami Regaz.


"Foto?" Candy berjalan menatap foto-foto polaroid yang tergantung di dinding belakang. Foto tiga anak laki-laki dari bayi sampai remaja disana. "Woah, jadi Regaz punya dua kembaran," gumamnya riang.


Netranya bergulir pada tulisan-tulisan yang berada di setiap foto tersebut. "Kayaknya dari bayi mereka suka di potret saat melakukan sesuatu. Tapi kok, fotonya berhenti sampai tanggal 22 November?"


Edgar, Orion, Regaz


"Orion?"


\=TO BE CONTINUED\=

__ADS_1


__ADS_2