Smile Effect

Smile Effect
Denting ke Duapuluh


__ADS_3

Materi kesetimbangan benda tegar yang ternyata ada empat sudah Regaz jelaskan secara singkat tapi dapat dimengerti tadi. Sambil berjuang melawan suara hujan yang menderu, Candy berusaha membuka telinganya lebar-lebar untuk menangkap apa yang di jelaskan cowok itu. Penjelasan dari Regaz selalu mudah di tangkap hingga tak butuh waktu lama untuk memahaminya.


"Lo bawa jaket, nggak?" Regaz menggosok-gosokan telapak tangannya sembari menghitung berapa lama lagi hujan akan reda. Memang tidak deras, namun tetap saja akan basah jika nekat menerobos.


"Nggak," jawabnya.


Regaz mengangguk.


"Bentar, gue mau ambil mantel di jok motor dulu habis itu gue anter lo pulang,"


Candy menahan lengan Regaz dengan spontan. Apa cowok itu mau tambah parah? Wajahnya masih tak karuan dan seingatnya Regaz sedang kabur agar tak di bawa ke rumah sakit lagi. Ucapan Arya yang Candy artikan sebagai ancaman, masih terngiang di telinganya. Ia tak mau jika Regaz tambah sakit dan dirinya yang kena ceramah dari teman-teman cowok itu.


"Biar aku aja, kamu tunggu disini. Plester kamu masih baru, 'kan?"


Apa jadinya kalau kena air?


"Apa hubungannya?" Regaz mengernyit. "Motor gue kan di parkir di tempat teduh. Nggak usah sotoy dah jadi cewek."


Cekalan Candy di tepis begitu saja. Regaz berjalan santai ke motornya untuk mengambil mantel.


Candy mengedarkan pandangannya. Seingatnya tadi motor Regaz terparkir di luar halaman. Kenapa sekarang sudah ada disana? Apa Regaz tadi sempat menitip pesan pada tukang parkir supaya motornya dipindahkan begitu ada ruang kosong di tempat teduh?


"Pegang ini!" Hoodie Regaz ditanggalkan sekembalinya ia dari mengambil mantel. Candy menurut. Ia diam saja seraya menatap Regaz yang sedang mengenakan masker kemudian lanjut mengenakan mantel. "Gue cuma punya mantel ponco. Kalo bagian depan jelas nggak akan terlalu basah, tapi kalo bagian belakang di jamin sengsara,"


Gerimis memang tak jadi nasalah asal kepala terlindungi. Tapi, Regaz tak tahu seberapa kuat daya tahan gadis itu. Lucky, dia yang sakit. Apes, Candy yang sakit. Jika gadis itu sampai sakit Pak Jaya akan menghadiahinya toyoran keras di kepala.


"Cepetan pake!"


"Apanya yang pake?" Tanya Candy tak paham. Maksudnya ia disuruh pakai Hoodie Regaz begitu?

__ADS_1


"Lo jadi cewek pinteran dikit napa," Regaz menatapnya malas. Inilah akibatnya pemilihan perwakilan olimpiade tanpa ada seleksi terlebih dahulu. Level keb*goan dan kepintaran perwakilannya tak ada yang tahu.


"Oh," Candy mengerjap. Ia langsung memakai hoodie milik Regaz seperti yang diperintahkan. Aroma familiar menguar ketika hoodie itu membungkus tubuhnya. Candy tersenyum melihat lengan hoodie nya yang terlalu panjang.


"Jaketnya kegedean, tapi anget."


Deg, deg, deg


Regaz membuang mukanya ke samping saat melihat panjang hoodie nya yang sampai selutut gadis itu. Dia baru sadar jika anak didiknya itu pendek. Sudah pendek, nggak mudah paham, polos udah gitu hidup lagi. Untung tidak pesek dan hitam. Kalau iya, Regaz makin akan mencelanya. Betapa dunia memang tidak adil.


Sambil menahan bibirnya yang berkedut, Regaz berdehem. "Cepet ah, gue mau pulang buat istirahat!"


***


Malaikat pengatur portal hujan sepertinya sedang dalam mode gabut. Bukannya reda, yang ada malah jadi besar dari waktu ke waktu. Regaz mungkin tak akan mempersalahkan jika hujan saja. Lah ini, disertai petir dan angin. Mana ada manusia yang fokus menyetir di iringi alunan petir yang mengerikan?


"Mampir ke apart gue dulu, gimana?"


"Kok apartemen kamu?" Candy memegang bagian belakang mantel yang berkibar-kibar. Mantel jenis ini memang super merepotkan. Pantas saja Regaz menyuruhnya mengenakan hoodie cowok itu. Belum apa-apa, Candy sudah basah kuyup.


"Telinga lo disumpelin apa sih? Denger nggak suara petir?" Regaz membuka helm nya lalu mengangguk singkat pada satpam yang berjaga disana. Motor berhenti di area garasi yang terbuka secara otomatis.


"Turun!"


Candy memegang Regaz untuk membantunya memijak lantai. Ia merengut, namun tak urung mengedarkan pandangannya. Apartemen ini sejenis elit, ya? Mewah sekali, berbanding terbalik dengan rumahnya yang sederhana. Terkadang jika hujan sangat deras atap rumahnya bocor.


"Ayo masuk, jangan bengong ntar kesambet gue yang susah," ujar Regaz mengagetkan Candy yang sedang terdiam.


Tak di sangka ia melamun sepanjang perjalanan menuju lantai apartemen Regaz. Dibiarkan Candy masuk terlebih dahulu sementara Regaz mengamati dari belakang. Ia jadi penasaran kehidupan seperti apa yang Candy jalani. Gadis itu hanya hidup dengan Ibunya lalu kemana Ayahnya? Apa sudah meninggal?

__ADS_1


Regaz menghela napas mengingat tentang itu, ia jadi teringat bagaimana keadaan Bundanya. Ia tidak ingat sudah berapa hari atau minggu ia tinggal di apartemen. Meskipun Regaz selalu mengabari Bunda dan Ayahnya, tapi tetap saja Regaz rindu kehangatan yang dulu.


"Lo lagi ngapain?" Regaz kebingungan melihat Candy yang sedang melepas sepatu. "Nggak perlu di lepas sepatunya, Dy."


"Oh," Candy menoleh. "Langsung masuk gitu? Nanti kalo lantainya kotor gimana? Oh, atau nanti aku bersihin?"


Regaz mendengus. "Itu tugas tukang bersih-bersih. Setiap dua kali sehari mereka selalu datang pagi. Mereka makan gaji buta kalau kita yang bersihin!"


"Jadi, nggak perlu ya," gumamnya. Itu bukan pertanyaan melainkan pernyataan. Mungkin kebiasaan orang kaya memang tak pernah melepas sepatu jika masuk rumah. Mengangguk pelan, Candy masuk mengikuti Regaz. Bahkan lantainya saja mengkilap begini sayang jika diinjak.


"Ck, gue udah lama nunggu-"


Langkah Regaz dan Candy terhenti saat sebuah suara menyambut kedatangan mereka.


Punggung Candy menegang saat melihat sosok itu. Wajah di hadapannya sangat mirip dengan cowok yang sekarang berdiri di sampingnya. Bagai pinang di belah dua, mungkin itu yang akan Candy ucapkan. Candy tak percaya ini.


"Siapa nih? Pacar?" Edgar berjalan mendekati Regaz. "Gue nggak nyangka lo bawa cewek ke apartemen, abang bangga sama kamu dek," lanjutnya seraya menepuk pundak Regaz.


"Singkirin tangan kotor lo dari bahu suci gue!" Tekan Regaz menepis kasar tangan Edgar.


"Apa kata lo? Kotor?"


Candy hanya bisa menonton dengan bingung percekcokan sengit dua wajah yang tak bisa Candy bedakan.


"Gaz," panggil Candy pelan.


Regaz menepuk dahinya pelan. Ia lupa jika ia datang bersama Candy. Kenapa juga si perusuh ini ada disini. "Ikut gue, ntar gue jelasin!"


-TO BE CONTINUED-

__ADS_1


__ADS_2