
FLASBACK ONN
Bugh
"Jaga bicara lo sama yang paling tua, Orion!"
Orion terkekeh pelan. Ia mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. Ia memasang senyum miring pada seseorang yang datang tanpa di undang dan membuatnya kacau.
"Cih, beda sepuluh menit aja bangga!" Desisnya tajam.
Edgar menyugarkan rambutnya. Beginilah jadi anak yang tertua, harus ekstra sabar dalam menghadapi adik-adiknya.
"Kenapa lo bicara gitu sama Regaz tadi?" Tanyanya melunak. Jika api dibalas dengan api, itu tak akan bagus. Malah nanti apinya akan membesar.
"Bukan urusan lo!" Tandas Orion, matanya masih menatap tajam Regaz yang memalingkan wajahnya.
"Gaz, ini ada apa?" Tanya Edgar lagi.
Regaz menghembuskan napasnya lelah. Bukan ini yang ia mau, dan perkataan Orion tadi cukup melukai egonya. Ia tahu, perkataan Orion tak sepenuhnya salah, namun juga tak benar adanya.
"Yon, perasaan itu nggak bisa di paksakan. Kalo lo punya perasaan juga sama dia, gue nggak bisa ngelakuin apa-apa. Balik lagi ke dia nya--" Ucapan Regaz terpotong oleh tawa sarkas yang keluar dari mulut Orion.
Edgar yang berdiri tak jauh dari cowok itu sedikit beringsut. Ia tak tahu, ada masalah apa diantara mereka. Namun, emosinya memuncak kala Orion mengatakan hal yang cukup menyakitkan hati pada Regaz.
Orion berjalan mendekati Regaz, langkahnya terhenti ketika jarak mereka cukup dekat. Ia memandang penuh permusuhan sosok yang serupa dengan dirinya itu.
"Kalo gitu, mau taruhan?" Ujarnya dengan senyum miring yang masih tertera di wajahnya.
Edgar mengernyit. Tak tahan dengan suasana dingin di sekitarnya, ia akhirnya angkat bicara. "Rion, jangan bikin ulah lagi! Kasihan Ayah yang selalu bulak-balik ke sekolah--"
"Lo bisa diem nggak, sih?! Atau mulut lo mau gue sumpelin kaos kaki yang belum di cuci dua bulan!" Orion berbicara penuh penekanan. Matanya masih menatap objek di depannya.
Regaz membuang napasnya frustasi. "Orion, dia bukan barang yang perlu di pertaruhkan. Jangan bikin kesabaran gue habis," Regaz berujar lemah.
"Munafik!" Seru Orion keras hingga Edgar tersentak.
__ADS_1
Orion melangkah lebih dekat ke arah Regaz. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga cowok itu, sementara tangan kirinya menepuk pelan bahu Regaz.
"Ayo kita liat, apa lo masih nggak mau ikut taruhan ketika liat dia di sandera?" Bisiknya pelan. "Ayo kita bermain game Regaz Kavier,"
Orion menjauhkan tubuhnya. Dengan langkah santai ia keluar ruangan meninggalkan Regaz yang terpaku karena ucapannya, dan tanda tanya di kepala Edgar.
"Kok perasaan gue nggak enak, ya?" Gumam Edgar pelan. Ia menepuk bahu Regaz pelan. "Lo nggak apa-apa?"
Namun tanpa di duga, Regaz malam menepis tangannya pelan. Ia menatap lurus ke arah pintu. "Kalo nanti sesuatu terjadi di antara kita, gue mohon lindungi Orion!"
"Hah? Maksudnya apa-hei Regaz, lo mau kemana?" Teriak Edgar saat Regaz bergegas dari sana sangat cepat. Cowok itu bahkan merebut kunci motornya.
Edgar mengacak rambutnya frustasi. "Kalian ini kenapa sih nggak bisa akur!"
...***...
Mata gadis itu terbuka perlahan. Hal pertama yang ia tangkap adalah, ruangan yang temaram dan nampak menyeramkan. Banyak debu dan sarang laba-laba jangan lupakan lantai yang kotor seolah terurus.
Candy berusaha berteriak, namun tak bisa mulutnya di sumpal oleh sebuah kain. Tubuhnya yang kaku, karena tangannya terikat pada kursi. Bergerak pun ia susah.
"Lo udah sadar?" Sebuah suara memaksanya untuk mendongak. Ia menatap marah pada orang itu.
" Hmph ... hmph ...,"
"Sstt, berisik!" Orang itu mengapit pipi Candy keras. "Gue nggak suka orang yang berisik!"
Candy mengguncang-guncang tubuhnya. Berhatap tali yang membelenggu tangannya itu melonggar walau sedikit saja. Perlakuan Candy membuat orang di depannya mendesis kesal.
Plak!
Suara tamparan yang begitu nyaring terdengar di ruangan kumuh itu. Ia menjambak rambut Candy kasar. "Udah gue bilang, kan? Diam! Tujuan gue bukan lo, jadi jangan bikin gue bunuh lo sekarang juga!"
Bahu Candy terguncang. Tamparan itu begitu menyakitkan. Ia memanggil-manggil Ibunya dalam hati. Berharap siapapun akan datang untuk menyelematkannya.
Setahunya dia bukanlah murid yang suka mencari masalah dengan orang lain. Jika saja ia tadi menerima tawaran Rena untuk pulang bareng, mungkin nasibnya tak akan seperti ini.
__ADS_1
BRAK!
Pintu terbuka dengan kasarnya. Candy bisa melihat seseorang yang berdiri di ambang pintu dengan pakaian yang berlumur darah. Napas orang itu terengah, rambutnya berantakan. Air mata yang menggenang di pelupuk mata Candy, membuat ia tak bisa melihat jelas siapa orang itu.
Namun, pembicaraan mereka masih terdengar walau itu samar-samar. Teriakan-teriakan saling mengumpat, percakapan yang Candy tak mengerti apa itu.
Sampai pada akhirnya, benda dingin terasa menempel di lehernya. Candy tahu apa benda itu, namun fokusnya teralih pada seorang pria yang berdiri dengan pandangan datarnya.
"Jangan main-main sama nyawa seseorang, Dani!"
Suara orang terdengar dingin.
'Regaz? Bukan. Dia ...'
"Emangnya kenapa, Orion Aldebaran? Lo juga main-main sama nyawa kembaran lo,"
'Dia, Orion.'
Orion menatap Dani datar. Lalu mengalihkan tatapannya pada sosok lemah yang masih terikat itu. Hanya satu senyuman yang pernah gadis itu tunjukan, kenapa bisa ia jatuh hati? Dan kenapa sikap egoisnya ikut andil.
"Lepasin dia, Dani!"
Dani tertawa keras. "Udah gue duga. Lo tertarik sama cewek ini,"
Orion tersenyum miring. "Lo pikir dia kelemahan gue, heh? Lo salah, dia bukan apa-apa bagi gue. Jadi gue nggak peduli!"
Yang Candy rasakan setelahnya adalah, orang yang di panggil Dani itu semakin menekan benda itu pada lehernya. Hingga ia menahan napasnya, dan semuanya gelap.
Namun, suara samar-samar itu masih terdengar. Suara samar yang menenangkannya walau nadanya terdengar sangat sarkas. Tetapi, Candy merasa aman waktu itu.
FLASBACK OFF
...\=\=\=\=\=\=...
...-TO BE CONTINUED-...
__ADS_1