Smile Effect

Smile Effect
Denting ke DuaDelapan


__ADS_3

"Astagfirullahal adzim ... Astagfirullah adzim. Wan, lo baca Yasin cepetan!"


Bejo melempar daun markisa yang di petiknya dari parkiran sekolah. Seharusnya sih daun bidara, dalam rangka mengusir jin jahat di dalam tubuh Regaz a.k.a Orion. Tapi berhubungan daun bidaranya tak ada dan jin di tubuh Orion penanganan segera, mereka ganti dengan daun markisa. Toh, sama-sama daun.


Orion terus melakukan aksi diam seribu bahasa semenjak kejadian tampar bolak-balik di koridor kelas itu. Candy menangis dengan sesenggukan karena Orion katanya menzinahi bibirnya, cowok itu hanya melenggang pergi tanpa berkata apapun.


Wawan komat-kamit untuk menguatkan doa yang Bejo panjatkan. Tolong kembalikan Orion ke jalan yang lurus, jangan yang belok-belok.


"Harusnya lo nggak main sosor kayak gitu, Yon," Arya yang duduk di paving parkiran motor akhirnya membuka suara. "Lo bisa ngomong baik-baik sama dia, tapi bukan begitu," lanjut Arya menasihati.


"Gue nggak tau Ar," Orion memijat keningnya pening. Erangan frustasinya terdengar. Rasanya masih terasa seperti mimpi. "Ini di luar perkiraan,"


"Al-Fatihah ... yang kenceng, guys,"  Duo rusuh itu masih berjuang untuk mengembalikan jiwa Orion yang masih tersesat. Arya meliriknya sekilas. Yang error manusia di sebelahnya, kenapa yang gila jadi mereka berdua?


"Ini semua gara-gara lo!" Tunjuk Orion pada Arya yang langsung kelabakan di tempat. "Kalo lo nggak bongkar identitas asli gue ke Candy, mungkin pipi gue nggak akan merah sekarang!"


Orion mengelus pipinya yang masih merah dan terdapat bekas lima jari disana. Tidak sakit, tapi cukup membekas di hatinya.


Bejo mendelik sinis pada Arya. "Oh, jadi ini semua gara-gara lo!"


"Sekarang kita kudu gimana, Jo?" Tanya Wawan seraya menunjukan smirknya pada Arya.


Arya—cowok itu merinding ngeri saat duo rusuh itu menghampirinya dengan daun markisa di tangan mereka masing-masing. Dan kejadian selanjutnya, Orion harus menutup telinga karena suara Arya yang melengking itu terdengar.


...***...


"Duduk disana aja ya biar nggak kena cahaya matahari," ujar Orion santai. Ia memposisikan lebih dulu sebelum Candy mengikuti.


Gadis itu hanya mengikutinya dalam diam. Setelah apa yang dikatakan Arya, Candy menjadi bimbang. Harus bagaimana ia bersikap selanjutnya? Setelah mengetahui jika cowok itu bukan Regaz—melainkan Orion yang di kabarkan meninggal, Candy jadi enggan untuk bertemu.


Jika bukan karena bimbingan, Candy mungkin akan lebih dulu melarikan diri. Ia heran, kenapa cowok itu bersikap biasa saja setelah apa yang terjadi? Apalagi mengingat kejadian di koridor yang membuat pipinya panas.


Orion menatap Candy yang masih enggan untuk menatap padanya.


"Kenapa kamu pura-pura jadi Regaz?" Setelah sekian lama, akhirnya gadis itu membuka suaranya. Walaupun masih memandangnya, Candy masih marah jika cowok itu peka. Sayangnya, cowok itu punya wajah yang sekeras batu.


Orion membuang mukanya. "Kenapa, ya?"


"Aku serius!"


"Pengen aja. Kenapa? Masalah buat lo?"


Candy mendesis. Sifat cowok itu tidak berubah sama sekali, masih ketus dan datar.


"Nggak," jawab Candy datar.

__ADS_1


"Yah, gue tau itu cukup ekstrim sih. Gimana kalo gue bilang, gue pura-pura jadi Regaz karena pengen deket sama lo?" Candy menoleh cepat, ia menatap tak percaya Orion yang sedang mengulurkan tangan padanya. "Gue bercanda. Mana bukunya?"


"Bercanda kamu itu nggak lucu," ujar Candy tapi tak ayal untuk memberikan bukunya. "Orang lain pengen jadi dirinya sendiri, lah kamu malah jadi orang lain,"


Cowok itu bergumam. "Gue juga nggak mau begini,"


"Kamu ngomong apa tadi?"


"Oh,"


"Orion!" Candy terkejut sendiri ketika berteriak seperti itu. Ada yang aneh dengan dirinya. Dan Candy tak tahu apa itu? Rasa penasaran mendominasi daripada rasa marahnya karena cowok itu telah merebut ciuman pertamanya.


Cowok itu terperanjat. Namun, dengan cepat ia mengatur mimik wajahnya lagi. "Eh, kita belajar bab kesetimbangan aja. Itu nggak pusing buat di inget-inget manual. Abis itu baru lenting sempurna dan nggak sempurna,"


Candy mendesah. Sudahlah lupakan saja, toh itu bukan urusannya. Sekarang ia harus belajar agar bisa menang di olimpiade nanti.


Tapi Candy penasaran. "Kamu denger nggak, tadi aku ngomong?!"


Mereka bertukar pandang, dengan enteng Orion berkata, "Nggak. Emang tadi lo nanya apa?"


Allahu Akbar! Ingin rasanya Candy mengumpat.


"Pasti nanya yang aneh-aneh, ya? Makanya telinga gue nolak dengerin,"


"Hari ini aja. Panggil gue Orion, buat hari ini aja," ujarnya pelan seraya menunduk menatap bukunya.


Candy terdiam. Ia tak pernah melihat cowok itu sebegitu menderitanya. Gadis itu menghela napasnya. "Oke,"


Angin sepoi-sepoi yang menerbangkan rambutnya tak mampu membawa rasa sejuk di hatinya. Keheningan kembali melanda, seperti Candy yang bingung dengan keadaan, sama halnya Orion yang merutuki hatinya.


"Ayo mulai belajarnya, jangan dipikirin apa yang gue omongin tadi. Fokus aja sama belajar,"


"Apa? Tapi--"


"Baca bab kesetimbangan sampai kelar. Entar baru gue jelasin," pangkas Orion tak mau ambil pusing. Buku yang ada di tangannya ia pindahkan ke pangkuan Candy.


"Ish ..., iya, iya," ternyata omongan Arya bukanlah bualan semata. Cowok itu pribadi yang tertutup. Dengan terpaksa, Candy terbuai dalam materi yang Orion suruh baca daripada bertanya terus nanti kena semprot.


Diam-diam Orion tersenyum geli. Ia bercanda waktu mengatakan ia tak mendengarkan omongan Candy. Hanya saja, ini bukanlah waktu yang tepat untuk membahas hal itu. Cukup tadi saja ia mendengarkan kata hatinya, sekarang jangan lagi.


"Waktu lo punya masalah keseharian. Pasti dunia lo bakalan nggak fokus," Orion menarik kepalanya untuk bersandar. Senyumnya lenyap digantikan wajah yang membias tenang.


Belakangan ini, segala sesuatu berjalan tanpa bisa dikendalikan. Membuatnya terpaksa mengambil opsi yang tak pernah diliriknya sama sekali.


"Ya jelaslah. Orang punya masalah mana bisa hidup tentram," tukas Candy menyetujui. Apa cowok itu sudah mulai membuka diri untuk masalah yang ia tanggung?

__ADS_1


Orion tersenyum tipis. "Tapi, sebenarnya semua itu cuma ilusi."


"Ilusi?"


"Hm, nggak percaya?"


"Ya, nggaklah. Masalah kan memang nyata adanya,"


Bagaimana bisa Reg-Orion berkata masalah yang ada cuma ilusi?


"Coba lo tutup mata, El," suruh Orion padanya.


"Buat apa?" Seru Candy panik. Orion mau apa sampai menyuruhnya tutup mata segala?


Decakan tak senang menjadi pertanda jika emosi cowok itu berubah tak senang. "Tutup mata nggak ada ruginya, kok. Nurut tanpa bawel bisa, nggak?!"


Setengah mendumel, setengah keki Candy menurutinya agar Orion tak berkicau lebih pedas lagi. Ekstra cabai masih full stock di mulut cowok itu. Itu tidak perlu diragukan lagu dan jangan coba mengetes.


"Udah. Terus?"


Gelap. Apa yang mau Orion tunjukan sebenarnya?


"Jelasin apa yang lo liat,"


Saat mata tertutup, itu berarti retina tak bisa membentuk bayangan yang masuk ke mata karena pupil yang mengerucut. Apa Orion tak tahu perihal ini?


"Ya nggak ada apa-apalah. Semuanya gelap,"


Orion manggut-manggut. "Itulah masalahnya. Segala sesuatu cuma ilusi. Masalah cuma ada waktu lo melihatnya," terangnya membuar Candy tertegun.


Hanya ada ketika terlihat, ya? Jadi begini cara cowok itu menghadapi kenyataan pahit? Memejamkan mata lalu dengan begitu tidak melihat apa-apa. Berpura-pura dunianya baik-baik saja padahal tidak?


Salivanya terasa pahit ketika memikirkan berapa lama Orion harus hidup dalam kepura-puraan. Menipu diri dan tak membiarkan orang lain tahu apa masalahnya. Itu pasti menyakitkan.


"Nama lainnya kesetimbangan stabil. Segala sesuatu akan kembali ke posisi semula bila gaya atau masalahnya menghilang. Cukup merem, lalu masalahnya nggak bakal kelihatan."


Bukan ... ini masuk ke materi kesetimbangan. Setahunya, Orion itu masuk ke  jurusan IPS, lalu bagaimana bisa cowok itu begitu lihai dalam Fisika?


"Tapi, itu juga ilusi," bulu matanya bergetar pelan sebelum menampakkan sesuatu yang berlindung di baliknya. "Masalah tetep ada. Gangguan tetep ada begitu kamu buka mata."


Orion tertegun. Ia menatap Candy dengan pandangan yang tidak bisa di artikan.


...\=\=\=\=\=...


...-TO BE CONTINUED-...

__ADS_1


__ADS_2