Smile Effect

Smile Effect
Denting ke Tujuh


__ADS_3

Jika Candy punya kekuatan untuk menghilang, ingin sekali ia menghilang dan tidak akan pernah menunjukan wajahnya lagi di depan Regaz. Darahnya seolah naik ke wajah dan menciptakan ruam merah di sekitaran pipinya. Ia mencoba memundurkan dirinya dari Regaz yang terlampau dekat.


"Darimana kamu tahu?"


Mengelak pun percuma. Regaz pasti menuduhnya dengan bukti yang kuat. Dan sekarang ia sedang diliputi rasa resah yang mendalam. Mungkin seperti ini jika ya, jika mangsa berhadapan dengan pemangsa. Buku kuduknya langsung merinding.


Cowok itu tersenyum sinis. "Lo pikir gue segobl*k itu, hah?!"


Oh, siapapun tahu kalau Regaz memang jenius.


"Jadi, kamu ngikutin aku?" Bodoh, itu benar-benar pertanyaan yang bodoh.


"Nggak usah ngalihin pembicaraan! Cukup jawab apa yang lo denger kemarin, hah?!"


Suara Regaz mirip guntur yang menyambar ke segala tempat. Netra hitam legamnya menyorot tajam pada Candy.


"D-denger apa?" Tanya Candy tergagap. Demi kaleng khong guan yang bapaknya gak pulang-pulang, ia tidak tahu Regaz sedang membicarakan apa.


"Munafik!" Regaz menggebrak meja di samping Candy, membuat gadis itu tersentak. "Gue paling benci sama orang kayak lo! Tinggal jawab aja apa susahnya, sih!"


Candy meremat roknya semakin keras. Mungkin saja roknya suda kusut sekarang. "Aku cuma denger kalian ngomongin sleeping bag. Itu doang."


"Terus?" Regaz menaikan satu alisnya.


"Udah, itu doang."


"Bohong!" Tuduh Regaz.


Candy menggeleng kuat. "Beneran!"


"Bohong!"


"Beneran!"


"Bohong!" Suara Regaz meninggi.


Candy mendesah frustasi, harus bagaimana ia meyakinkan Regaz jika ia tidak pernah berbohong.


"Kalo pun aku tahu lebih dari itu, aku bakalan diem. Toh, itu bukan urusan aku."


Oh, ayolah. Pekerjaan Candy sudah sangat banyak, buat apa ia harus menambah pekerjaanya lagi.


"Really?" Regaz masih menodongnya berkata jujur.


Sorot matanya terasa dipenuhi es hingga Candy kedinginan di buatnya. Candy mengusap wajahnya kasar. Posisinya saat ini tidak menguntungkan, ia terkurung diantara lengan cowok itu. Rasanya berasa dejavu.


"Demi Allah," itu jawaban final Candy. Sekarang mau Regaz percaya atau tidak, itu terserah pada cowok itu saja.


"Oke, gue percaya untuk yang kedua kalinya," Regaz mengulas seringai di bibirnya. "Tapi ... kalo sampai ada yang ketiga kalinya," Candy mengigil saat cowok itu menggerakan jari telunjuknya seolah sedang mengiris di lehernya.


"Lo bakalan bener-bener gue bikin mamp*s!" Lanjut Regaz penuh penekanan sebelum berjalan keluar perpustakaan yang sudah sepi.


Candy mematung. Tubuhnya lunglai, seperti tak ada tulang untuk menopang. Bisakah Candy pindah planet saja mulai detik ini? Asalkan ia tidak se-planet lagi dengan orang yang bernama Regaz Kavier.


oOo


"Ecie ... mentang-mentang bimbingan sama si Regaz, lo jadi lupa sama gue," Candy tersentak saat merasakan seseorang berjalan di sampingnya sambil menyeletuk berbicara.

__ADS_1


Ia menoleh, terlihat Rena sedang tersenyum padanya—masih mengenakan pakaian Karate-nya.


"Rena, kamu nggak pulang bareng Egi?"


Sedikit pemberitahuan, Rena itu satu ekstrakulikuler dengan kekasihnya. Ya, mereka sepakat untuk mengikuti eskul karate yang sebentar lagi akan lengser. Sementara Candy, ia sudah dari dulu berhenti di eskul musiknya, alasannya karena ia sibuk membantu Ibunya.


"Enggak. Dia mau kumpul dulu katanya," jawab Rena sambil melirik padanya. "Gimana bimbingan sama Regaz? Pasti seneng ya~" Rena mengedipkan matanya genit.


Candy berdecak dalam hati. Apanya yang seneng? Serem yang ada! Dumel batinnya.


Melihat Candy yang tak menjawab, Rena mengernyit bingung. Ia kira reaksi sahabatnya ini akan heboh. Karena setahu dia, Candy itu ngefans garis keras pada Regaz dulu waktu mereka sama-sama masih murid baru.


"Em, gimana keadaan Ibu lo?" Tanya Rena mengalihkan topik.


"Ibu, bai—"


Bruk


Belum sempat Candy meneruskan ucapannya, gadis itu sudah tersungkur ke depan denga lutut yang menyentuh tanah penuh kerikil.


"Ya ampun, Candy," teriak Rena panik seraya membantu Candy berdiri. Lutut Candy terlihat mengeluarkan darah agak banyak. "Lutut lo ... oi," teriaknya pada punggung cowok yang menabrak Candy tadi.


Cowok itu menghentikan langkahnya, ia berbalik. Nampak dua orang gadis di depannya, satu gadis lain memegang gadis yang lututnya terluka. Jangan-jangan itu ulahnya tadi. Ia merutuk dalam hati. Ia melangkah menuju dua orang gadis itu.


"Maaf, gue nggak lihat tadi," ringisnya saat melihat luka di lutut Candy.


Candy tersenyum, "Nggak papa kok."


"Yakin?" Tanya cowok itu ragu.


Cowok itu menelik luka di lutut Candy, jelas sekali itu terlihat perih. "Jangan boh--"


"Ekhem, gue masih ada disini, ya!" Sembur Rena sebal saat dirinya bagai nyamuk disekitar mereka berdua. "Lo!" Tunjuknya pada cowok tadi.


"Ya?"


Candy menahan bahu Rena agar tenang. Ia tahu jika sahabatnya ini mudah marah jika ada yang mengganggu dirinya. "Udah," ujar Rena saat tangan sahabatnya itu mengangkat ke udara.


Lalu kejadian berikutnya, Candy dan cowok tadi dibuat melongo oleh kelakuan ajaib Rena. Gadis itu menyodorkan ponselnya pada cowok tadi sambil tersenyum manis juga berkata, "Minta nomer hp lo dong."


"Hah?" Cowok tadi terperangah oleh kalimat itu. Lalu terkekeh kecil. "Gue kira lo mau nampol," ujarnya.


Sedangkan Candy, pipi gadis itu sudah bersemu merah karena kelakuan Rena. Ia malu.


"Maafin Rena ya," ujar Candy malu.


"Iya nggak apa-apa kok. Ngomong-ngomong nama gue Arya," cowok tadi mengulurkan tangannya pada Candy yang di serobot langsung oleh Rena.


"Gue Rena Malvita. Salam kenal," ujarnya antusias. "Nah, kalo orang yang lo tabrak tadi namanya Candy," lanjutnya.


Candy mengangguk seraya mengulas senyum tipis.


"Oh iya, Candy yakin nggak kenapa-napa itu lututnya berdarah lho," ringis Arya.


Candy mengangguk. "Iya, nggak apa-apa. Serius," ujarnya seraya mengangkat dua jari.


"Kalo gitu, mau pulang bareng?" Tawarnya.

__ADS_1


"Gak!" Bukan Candy yang bersuara tapi Rena. Gadis itu memeluk tangan Candy erat. "Kalo dia pulang bareng lo, gue sama siapa?!"


"Gue nggak nanya sama lo," sebal Arya menatap kesal pada Rena. Lalu ia alihkan pandangannya lagi ke gadis mungil yang berada di hadapannya. "Jadi, gimana? Lo mau gue anterin?"


"Nggak usah. Duluan aja," tolak Candy secara halus.


Arya mengangguk. "Kalo gitu gue duluan, ya. Kalo ada apa-apa sama lutut lo, cari aja gue! Arya kelas XII Bahasa 1," ujarnya sebelum melenggang pergi dengan tergesa.


Rena berdecak pelan. "Cakep juga tuh cowok. Pantes jarang liat orang dia anak bahasa," celetuknya tiba-tiba.


Candy mendengus. Ia berpegang pada tangan Rena, karena langkahnya yang agak pincang. "Jelalatan banget sih mata kamu. Inget Egi!"


Seketika raut wajah Rena muram seketika. "Ya kan gue juga butuh hiburan. Pacaran sama Egi itu, nguras emosi! Dianya terlalu dingin, tapi anehnya gue takut," curhatnya. "Eh, Can!"


"Hm?"


"Muka lo kok pucat, ya? Lo sakit?" Tanya Rena khawatir.


"Ah, masa sih?" Candy meraba wajahnya sendiri. "Tapi aku baik-baik aja, kok. Buktinya sekarang aku nggak pingsan, 'kan?" Ujarnya polos.


"Ck, beneran ini. Lo nggak apa-apa? Mau ke puskesmas, ngga? Atau apotek dulu, beli obat?" Cemas Rena.


"Langsung pulang aja, aku baik-baik aja, kok."


"Yakin?" Tanya Rena tak percaya.


"Yakin."


"Serius?" Rena masih terus bertanya.


Candy berdecak kesal. "Lama-lama kamu jadi kayak Regaz, nyebelin!"


"Ekhem, cie ... keinget doi ya~" goda Rena sambil mencolek-coleh pipi Candy.


"Ish, apaan sih!" Desis Candy seraya menepis pelan telunjuk Rena.


"Eh, tapi lo beneran nggak apa-apa kan? Kalo gitu gue anterin pulang deh sekalian pengen liat Ibu," ujarnya.


"Iya, makasih."


Ya, disaat-saat seperti inilah peran Rena sebagai sahabat harua ada. Menjaga Candy dari bahaya adalah sebuah keharusannya. Menurutnya, Candy itu terlalu lemah lembut. Jadi, ia takut kalau sahabatnya itu dimanfaatkan. Rena mengandeng bahu Candy yang lebih pendek darinya. Semoga saja persahabatan mereka langgeng sampai rambut mereka sudah memutih nanti.


Ya, semoga saja.


\=\=\=\=\=\=


-TO BE CONTINUED-


A/N: Makasih buat kalian yang masih terus support aku. Padahal di luar sana banyak banget cerita-cerita yang lebih keren, dan alur yang menarik.


Di banding cerita mereka, aku mah bukan apa-apa. Eits, bukan berarti kita harus insecure dengan itu semua. Justru, itu semua buat memotivasi kita agar lebih semangat.


Semangat ya aku ..


I Purple U


Bhubhay

__ADS_1


__ADS_2