Smile Effect

Smile Effect
Denting ke Lima


__ADS_3

Dua menit kurang berlalu. Hitungan pertama baru saja selesai. Tapi, lagi dan lagi Candy di buat meringis saat Regaz mengatakannya salah.


"Seharusnya jaraknya dikuadratkan dulu. Satuannya jangan lupa dikonversi ke meter. Sejak kapan satuan jarak jadi senti, hah?!"


Lengan baju cowok itu sudah terlipat hingga bahu, sampai menunjukkan bisep hasil olahraganya selama ini. Tunggu, sejak kapan Regaz suka olahraga?


Candy mengamati jawabannya yang masih di corat-coret oleh Regaz.


"Maaf. Tadi 'kan ngitungnya buru-buru."


Regaz mendengus. "Nggak usah sok-sok an ngitung cepet kalo ujungnya salah! Buat apa kelar awal, tapi hasilnya nol?! Soal olimpiade butuh penalaran. Lo harusnya nalar dulu sebelum jawab!" Tegas Regaz keras.


Candy memberanikan diri membalas tatapan tajam Regaz.


"Jadi, yang dipentingin itu ... ketepatan, ya?"


"Ya, iyalah!" Regaz berdecak, cowok itu menarik napasnya. "Yang harus lo fokusin di sini itu bukan tentang kecepatan. Tapi ke.te.pa.tan! Andalan lo cuma di ketepatan jawaban buat bisa ngalahin saingan lo!"


Candy menunduk. Jadi, yang utama adalah ketelitian dan ketepatan jawaban, ya? Fisika adalah ilmu pasti. Jawabannya juga tidak akan punya alternatif. Tapi jawabannya hanya satu.


"Iya."


Candy bangkit untuk mengambil posisi push up.


"Lo mau ngapain?" Regaz bersedekap. Ia menatap lekat Candy.


"Kan tadi kamu bilang, setiap jawaban yang salah harus push up," ujarnya menirukan kata-kata Regaz tadi.


"Emangnya gue udah nyuruh?"


Candy mendesah frustasi. Salah lagi.


"Terus gimana?"


"Lo bisa salto?" Tanya Regaz polos.


Wajah Candy berubah muram. "Enggak. Aku cewek."


"Sikap lilin?"


"Kakinya nggak bisa naik."


"Roll depan?" Gumam Regaz pelan.


"Miring."


Tak menyerah, Regaz terus bertanya. "Split?"


"Takut celana robek."


Regaz menggaruk tengkuknya. Cewek ini tidak suka olahraga atau bagaimana? Disuruh roll, sikap lilin, salto saja tidak bisa.


"Oke cukup shut up sepuluh kali!"


Candy menganga. Tadi bukannya hukuman untuk setiap soal salah itu push up? Kenapa sekarang jadi shut up?


"Cepet!" Gertak Regaz.


"T-tapi--"


Regaz mendesis. "Ce.pet! Gue nggak terima penolakan!"


Dengan kadar kesal berlebih, Candy mulai mengambil posisi untuk melaksanakan perbudakan Regaz. Ia berbaring di lantai, dan menekuk lututnya. Lalu mulai mengangkat beban perutnya ke depan.


Satu ...


Ini hukuman gila yang pernah ia alami. Hei, selama ini Candy tak pernah di hukum sekalipun.

__ADS_1


Dua ...


Demi Rena yang takut dengan Egi kekasihnya, ia sangat tidak mahir olahraga.


Tiga ...


Sebenarnya hati Regaz terbuat dari apa? Sampai menyuruhkan berbuat seperti ini.


Empat ...


Candy semakin berat untuk mengangkat bobot tubuhnya. Hei, ia disini mau bimbingan fisika bukan bimbingan olahraga.


Lima ...


Demi bawang goreng yang selalu menjadi menu sarapan dan makan malamnya setiap hari. Kenapa Regaz tak berprikemanusiaan?


Enam ...


Ia menyesal pernah kagum pada wajah datar itu dulu.


Tujuh ...


Bisa-bisanya dengan santai cowok itu bermain game sementara dirinya di siksa seperti ini!


Delapan ...


Realita itu memang tidak pernah sesuai dengan ekspetasi.


Sembilan ...


Dengan santainya cowok itu malah asik senyam-senyum sendiri diantara tangannya yang sedang lincah bermain game yang sedang digilai saat ini. Jika saja bisa, ingin sekali Candy menampar wajah itu.


Sepuluh ...


Ia meluruskan kakinya—masih dengan posisi berbaring—tidak berniat sama sekali untuk berdiri. Napasnya terengah dengan wajah merah padam. Lantai marmer perpustakaan berasa dingin baginya. AC perpustakaan berasa kurang dingin untuk mengurangi panas di kepalanya.


"Baru segitu aja udah capek. Dasar payah!" Candy rasanya ingin menceburkan Regaz ke kali saja. "Sini duduk! Kita lanjutin belajarnya sama latihan soal lagi."


Latihan soal sama dengan hukuman. Candy menelan ludahnya susah payah. Ia menepuk-nepuk roknya yang sedikit kotor.


"Berapa soal?" Tanya Candy ragu.


Regaz menyeringai. "Sedikit kok, cuma dua puluh."


Kurang asem!


oOo


Warna kuning kemerahan di langit memang sangat memukau. Lukisan alam yang paling sempurna memang pada waktu senja. Suara anak-anak yang berisik seraya berlarian, anak-anak remaja yang berselfi ria, ada juga yang memamerkan kemesraan mereka—apalagi hari ini hari Sabtu alias malam Minggu. Itulah suasana taman kota pada sore di hari Sabtu.


Candy melangkahkan kakinya menuju kedai es krim yang berwarna serba pink. Tujuannya bukan untuk membeli, melainkan menghampiri seseorang yang sering ia cari sepulang sekolah.


"Bi, gimana?"


Candy mengurai senyumnya.


"Masih banyak, nak. Kalem aja," ujar wanita paruh baya.


Balon beraneka macam di depannya bergoyang tertiup angin. Candy meraih tujuh balon berbentuk bebek kemudian menaruh tasnya di bangku taman yang tersedian disana.


"Tolong jaga tas aku kayak biasa ya, Bi," ujarnya sebelum melangkah ke tempat dimana ia mencari rezeki.


Tubuhnya memang lelah, apalagi usai bimbingan olimpiade yang saat ini menguras energi dan emosinya. Tapi, kegiatan sore semacam ini terlalu sayang untuk Candy lewati.


Ia mengambil kostum boneka beruang berwarna cokelat yang sesuai dengan ukuran tubuhnya, kemudian segera mengenakannya. Walau ia masih memakai rok sekolah, itu semua tidak menyulitkan tubuhnya saat ia mengenakan kostum. Rambutnya ia cepol asal, agar rasa gerah nanti yang ia rasakan berkurang.


"Kebagian shift sore ya, Can?" Rita—gadis yang satu pekerjaan dengannya—bertanya.

__ADS_1


"Iya. Kan siang aku sekolah," jawab Candy di sela kegiatannya mengenakan kostum.


"Hm gitu, ya. Yaudah semangat ya," serunya seraya menunjukkan kepalan tangan.


Candy tersenyum di balik kostum yang sudah ia kenakan. "Iya makasih. Aku duluan, ya."


Anak-anak yang semula berlarian di rumput hijau, sontak berlari menghampirinya saat ia keluar dari tenda kerjanya. Beberapa mereka malah tertawa atas aksi yang Candy mainkan. Ia menggoyang-goyangkan badannya, membuat anak-anak kecil itu tergelak. Tak sampai disana, Candy bahkan berputar menari-nari mengikuti lagu yang sedang di putar oleh odong-odong.


Beberapa anak kecil memegang lengannya meminta balon yang sedang ia genggam. Orang tua si bocah bergerak untuk membeli balonnya. Sebagai bonus, Candy juga mengizinkan mereka berfoto bersama.


Kurang lebih sepuluh menit empat balon di tangannya sudah terjual. Ia berputar-putar, sambil sesekali mengenar anak kecil yang mengajaknya bermain.


Rasanya menyenangkan, meski capeknya minta ampun. Setidaknya ia bisa membuat orang lain tersenyum bahagia. Tiga balon yang tersisa sudah habis terjual. Candy memutuskan duduk di area bangku taman dekat lampu jalan. Ia mengipasi dirinya yang kepanasan.


Langit semakin gelap. Orang-orang juga sudah mulai membereskan barang-barang dagangan mereka.


Punggungnya bersandar lemas pada bangku taman tanpa melepas kostum beruangnya. Ia lelah. Matanya menatap langit yang sudah dihiasi bintang—di balik kostumnya.


Sewaktu kecil Candy pernah berharap pada bintang yang berkelip untuk menemukan Ayahnya. Namun, sekarang ia tahu, bintang tak akan dapat mendengar harapannya. Bagaimana wajah Ayahnya? Candy tidak tahu. Yang ia tahu, ia hanya tinggal bersama Ibunya sejak kecil. Candy tersenyum getir.


Masa kecilnya tidaklah seindah anak-anak yang lain. Masa remajanya tak secerah kebanyakan remaja lainnya. Orang-orang hanya ingin mendengar apa yang mereka lihat tanpa tahu yang sebenarnya. Tapi apa mereka tahu, setiap detik tarikan napas Candy itu sangat berar?


"Gue bawa sleeping bag yang lo minta tadi."


"Emang siapa yang nggak bawa?"


"Tuh si Dion!"


Obrolan itu menyentak lamunannya tiba-tiba. Masih dengan kostum beruangnya Candy menoleh ke asal suara. Bangku yang ia duduki memang letaknya di pojok taman. Jadi, ia bisa menangkap kendaraan yang berderu di jalanan kota.


Ada delapan motor terlihat bergerombol. Masing-masing pengemudi mengenakan tas besar di punggungnya. Seperti tas gunung.


"Bang, emang bini lo gak marah? Udah punya bini juga masih aja naik gunung."


"Berisik lo! Macam banci aja!"


Salah satu cowok yang duduk di motor besar berwarna hitam menepuk jok motor di sebelahnya.


"Buset! Omongan lo itu, pedasnya emang nggak ada duanya."


Dari balik topeng beruangnya, Candy mencoba mengenali suara yang terasa familiar baginya. Wajah orang itu tidak terlihat karena terhalang pohon beringin yang besar.


"Gue nggak peduli! Lagian kapan lagi gue bisa gini."


Candy semakin penasaran dengan pemilik suara itu. Sayangnya, ia hanya melihat rambut hitam legam yang mencuat kesana kemari karena terpaan angin dan punggung yang di balut kaos abu.


Matanya berhasil melebar. Saat menyadari siapa itu. Bukannya itu ...


"Ion, udahlah. Kan ada babang Arsen."


"Najis!"


... Regaz?


Candy mengernyit, bukannya orang itu sangat benci dengan pegunungan? Kenapa saat ini rasanya sifat orang itu berbanding terbalik.


\=\=\=\=\=\=\=


-TO BE CONTINUED-


A/N: Halo ... kali ini bener-bener siap! Nggak akan PHP lagi, setelah banyak melakukan revisi akhirnya nemu juga ...


Makasih atas dukungan, dukung terus ya ...


I Purple U ...


Bhubhay^^

__ADS_1


__ADS_2