Smile Effect

Smile Effect
Denting ke Enam


__ADS_3

Candy tidak tahu waktu waktu satu menit lebih dua menit itu termasuk cepat atau lambat untuk menempuh sebuah jarak yang menguras energinya. Di tambah pagi ini ia belum sempat sarapan, kakinya berasa lemas.


Intinya, ketika ia tiba di perpustakaan, Regaz sudah duduk disana dengan tak sabarnya. Cowok itu menggerakan kakinya gelisah dengan tangan yang terlipat di dada.


"Maaf, telat."


Candy mengatur napasnya sejenak. Guru Biologinya tadi menyuruh mengantarkan buku paket pada anak kelas sebelah. Berhubungan ketua kelasnya sedang ada urusan OSIS, jadi ia yang harus menggantikan tugasnya. Ia mengusap peluh yang membanjiri keningnya.


"Buka halaman seratus empat. Kita belajar tentang momentum!" Regaz berujar tak sabar. Candy menurutinya tanpa protes. Beruntung Regaz tidak pulang karena dirinya terlambat. Tidak usah banyak berdebat, yang berujung kemarahan cowok di sampingnya.


"Baca materi tiga menit, nanti gue jelasin!"


Tatapan Candy terpaku pada rumus-rumus abstrak di depannya. Menghitung kecepatan bola seusai tumbukan? Hah?


Jika ini film kartun mungkin di kepalanya sudah muncul asap, saking panasnya. Kemarin menghitung gravitasi yang dilanjutkan pada penentuan jari-jari planet. Sekarang, tumbukan?


"Kenapa Fisika itu kayak kurang kerjaan banget sih," gumamnya kecil.


Gumaman kecil Candy mengintrupsi Regaz yang sedang sibuk bermain game. Gadis itu meringis. Cowok itu masih mengenakan pakaian olahraga, dan aura yang di keluarkan cowok itu sukses membuat dirinya merinding.


"Kurang kerjaan?" Ulang Regaz. "Kenapa lo bisa mikir kalo Fisika kurang kerjaan?!"


"Itu ..." kenyataan, lanjutnya dalam hati.


Regaz mendengus. "Lo lihat ini!" Geramnya seraya menunjukan ponsel yang sedang di pegangnya. "Ini bakal jadi rongsokan kalo bukan karena Fisika!"


Candy mengernyit. Dalam hati ia mendumel, apa cowok ini tidak bisa ya bicara baik-baik? Dalam omongannya itu selalu ada nada seru di akhir kalimatnya. Seram.


"Satelit pertama kali diluncurkan tahun 1957 oleh Rusia. Tapi, dari semua itu satelit dibuat berdasarkan hukum gravitasi dan Newton."


Candy mengangguk. Ia tidak punya ponsel jadi ia tidak tahu kalau ponsel dibuat karena Fisika.


"Terus Einstein. Lo tahu kan, tentang banyak orang yang menghujat soal hidupnya yang dihabisi buat ngitung kecepatan cahaya?" Candy mengangguk ragu. Regaz menghela napasnya kasar sebelum melanjutkan ucapannya, "Tapi, apa lo lihat kegunaannya? Kalo lo nggak tahu kecepatan cahaya, pasti lo bakalan nyasar pas pake GPS! Asal lo tahu, GPS bisa bekerja dengan baik karena efek relativistik!"


Woah, daebak! Sebenarnya Candy mempertanyakan dalam hati, berapa penyimpanan yang tersimpan di otak Regaz? Candy sendiri sekarang sudah mual karena melihat rumus-rumusnya saja.


"Gue kasih contoh ya. Pemain basket nggak bakalan bisa shooting kalo nggak pakai rumus gerak parabola."


"Jadi, sebelum masukin bola ke ring ngitung dulu, gitu?" Tanya Candy polos. Masa iya harus ngitung dulu, yang ada bolanya di rebut lagi lawan.


"Ya enggaklah!" Sergah Regaz kasar. Sekarang ia tidak akan meragukan kebodohan gadis ini.


"Terus, rumus parabola itu yang gimana?"


Regaz mengusap wajahnya kasar. "Gue ajarin nanti. Rumusnya lumayan rumit. Sekarang lo paham kenapa kita harus belajar Fisika, kan?!"


"Enggak," jawab Candy jujur.


Regaz mengerang frustasi. Dari tadi ia muter-muter menjelaskan tapi gadis itu tidak juga mengerti.


"Otak lo yang separo ketinggalan di mana sih?! Dipikir si Bejo nggak begini juga beg*nya!"


Candy menatapnya datar. Tangannya sudah gatal ingin menjambak rambut acak-acakan Regaz.

__ADS_1


"Apa?!" Sentak Regaz saat menangkap tatapan sebal Candy. "Lo nggak terima?!"


Layaknya tikus yang berhadapan dengan raja hutan, Candy langsung menunduk mendengar sentakan itu. Nyalinya ciut tiba-tiba.


"Enggak,"


Tahan. Sekesal apapun, jangan sampai mulutnya mengeluarkan umpatan. Ingat! Ibunya tak pernah mengajarkannya untuk mengumpat.


"Lo tahu rumus momentum apaan 'kan?" Tanya Regaz.


Candy memberanikan diri mengangkat kepalanya. Meskipun mereka seangkatan, tapi aura yang dikeluarkan Regaz memang benar-benar mendominan.


"Impuls?"


Impuls sama dengan gemuk alias fat.


"Gaya kali selang waktu atau massa kali selisih kecepatan."


Regaz tersenyum, sangat tipis bahkan Candy tidak menyadarinya. "Hukum kekekalan momentum?"


Sekarang Candy mengigit pipi bagian dalamnya. Oh ayolah, rata-rata murid selalu lupa dengan pelajaran dahulu dan lebih fokus belajar apa yang akan mereka pelajari saat ini.


"Lupa," cicit Candy.


Regaz mendesah kasar. Niatnya menguji Candy langsung dengan soal—gagal total.


"Pada peristiwa tumbukan, jumlah momentum benda-benda sebelum dan sesudah tumbukan adalah tetap. Asalkan tidak ada gaya luar yang bekerja pada benda-benda itu!"


"Ngerti nggak, sih?" Tanya Regaz seolah tahu dengan raut wajah Candy.


"Maaf," ujar Candy takut.


"Kalo nggak ngerti ya, bilang. Jangan minta maaf, bodoh!" Bentaknya tiba-tiba.


Candy berjengit. Jantungnya nyaris copot mendengar bentakan Regaz yang menggelegar. Ia meremat roknya keras. Apa salahnya?


"Patokan lo cuma sebelum dan sesudah," Regaz membuang napas dalam. Matanya terpejam sekilas, berusaha agar emosinya tetap terkontrol dan membuat anak orang tidak lari tunggang langgang. "Jumlah bendanya jamak. Ya ... tinggal lo masukkin aja rumus momentum sebelum dan sesudah."


Candy menelan ludahnya sebelum bersuara, "Kenapa harus jamak?"


Kening cowok itu berkerut serius. "Gue bilang tadi tumbukan, kan? Emang bisa satu benda dibilang tumbukan? Ya jelas, minimalnya butuh dua benda!"


Candy mengerjapkan matanya bingung. "Kan ada lantai, bisa sama lantai," suaranya semakin kesini semakin hilang. Atau nyaris hilang.


"Kalo sama lantai jelas ada gaya gesek statis. Sedangkan hukumnya tadi gak.boleh.ada.gaya.luar!" Ujar Regaz penuh penekanan di akhir kalimatnya.


Oh, gitu?


Regaz menghela napasnya. Mengajari Candy lebih susah daripada mengajari anak kelas satu SD. Anak SD jelas karena mereka baru saja mulai sedangkan Candy, oh ayolah! Gadis itu sekarang sudah kelas XII sama sepertinya. Tapi, kenapa ia tidak paham-paham juga.


"Kalo lo susah ingat, cukup lo inget pemain bask--"


"Aku jarang nonton basket," serobot Candy cepat.

__ADS_1


Regaz mengigit pipi bagian dalamnya gemas. Sebenarnya Candy ini umur berapa tahun sih? Kayak bocah yang terjebak di wujud orang dewasa.


"Oke. Diibaratin kalo gue sama lo tabrakan,"


Candy menarik kepalanya mundur. Bayangan tentang ia dan Regaz tabrakan terlintas dan itu semua mengerikan.


"Aku mental dong. Secara kamu kan cowok."


Tinggi tubuh mereka saja berbeda jauh. Regaz tergolong dalam kategori cowok tinggi dengan tubuh khas olahragawan—ya, meskipun Candy tak pernah melihat Regaz olahraga. Sedangkan Candy, tinggi tubuh rata-rata. Kulitnya juga tidak seputih susu. Jelas beda jauh dengan Regaz.


"Ya itu namanya tumbukan! Mau di pratekin?"


Candy menggeleng kuat. "Nggak! Makasih."


Kalau ia terjatuh dan patah tulang gara-gara Regaz, hidupnya bisa tamat. Belum lagi dengan Ibunya yang harus bekerja seorang diri membuat jajanan pasar. Candy belum siap merepotkan orang lain.


"Gue punya berat dan kecepatan yang beda sama lo dan sebaliknya," cowok itu menarikan pena diatas buku yang masih kosong. "Dalam hukum kekekalan momentum, jumlah momentum kita sama. So, rumusnya jadi gini,"


P1 + P2 \= P'1 + P'2


"Diibararin P1 lo. Dan P2 gue. Yang ada di kiri sama dengan, itu sebelum tumbukan dan kanan sama dengan, itu yang setelah tumbukan."


Kiri sebelum, kanan sesudah. Candy menganggukan kepalanya.


"Kita tabrakan, tapi apa badan lo jadi bengkak udah itu?"


Candy merengut. Cewek kan memang suka sensi jika bahas soal berat badan. Apa Regaz tidak tahu soal yang satu itu?


"Ya, enggaklah."


"Nah," Regaz melingkari sebuah titikdi catatannya. "Makanya yang berubah setelah tumbukan itu kecepatan doang. Kalo gue sih jelas mentalnya dikit, tapi kalo lo kayaknya langsung nyusruk. Makanya kecepatan kita mental beda-beda."


Anologi kali ini lebih menyebalkan dari yang kemarin. Candy komat-kamit membaca segala mantra yang ia bisa. Kali saja, cowok di sampingnya ini menghilang.


"Lo lagi nyumpahin gue, ya?"


Sial, ia tertangkap basah. Candy menjawab dengan tergagap, "E-nggak, k-kamu salah denger kali."


Terlambat. Ekspresi cowok itu sudah berubah di selimuti awan hitam. "Gue udah toleransi yang kemarin-kemarin. Jangan coba nentang cuma buat nambah dosa lo!"


Kemarin apa? Apa Candy membuat kesalahan? Napasnya tersendat, topik pembicaraan mereka sudah melenceng terlalu jauh.


"Gue ..." Regaz mengubah posisinya, tangannya ia letakkan di samping kiri dan kanan Candy, membuatnya mengurung Candy di meja. Helaan napas Regaz terasa hangat di pipi Candy. "Gue tahu kalo lo yang ada di balik kostum beruang itu."


\=\=\=\=\=


-TO BE CONTINUED-


A/N: Yosh! Up gaes ... semoga menikmati^^


I Purple kalian


Bhubhay

__ADS_1


__ADS_2