
Regaz menatap jam dalam ponselnya dengan tidak sabar. Telinganya tersumpal oleh earphone putih untuk mengusir kesuntukannya. Perpustakaan masih cukup ramai karena bel pulang sekolah baru berbunyi dua menit yang lalu. Ada dua kelas yang memiliki jam kunjung terakhir ke perpustakaan sehingga tempat yang ia pijak belum sepenuhnya steril dari manusia.
"Regaz!" Panggilan keras dari sosok yang baru saja datang membuat kepalanya berputar sembilan puluh derajat.
Itu dia si anak asuhnya.
"Lo bikin gue kayak orang b*go," jawabnya datar. Kekesalan terselubung karena menjadi pusat perhatian mayoritas adik kelasnya mulai ia tumpahkan pada Candy. Salah siapa dia datang terlambat seperti ini. Sudah bagus Regaz mau menunggunya, tidak meninggalkan pulang cewek yang selalu menaikan emosinya.
"Maaf deh. Kaki aku kan pendek. Butuh waktu buat naik ke lantai atas ini," Candy meletakkan tasnya di samping Regaz. Ia merogoh saku tas bagian depannya untuk meraih sesuatu yang dia letakkan disana. "Ini," Candy menyodorkan kotak putih ke hadapan Regaz.
Regaz mengerutkan kening tak suka. "Kenapa? Lo nggak sreg sama mereknya?"
"Bukan!" Sanggah Candy cepat. Kotak putih yang membuatnya tercengang saat masih pagi, ia kembalikan bukan karena dia tak suka.
"Terus apa? Gue udah kasih buat lo. Apa susahnya sih lo terima? Jadi cewek nggak usah ribet bisa, nggak?!" Regaz membalasnya dengan ketus. Air mukanya yang semula tenang kini berkerut karena emosi.
Candy mendesah lesu. Kenapa Regaz tak kunjung paham?
"Kamu tahu yang namanya hutang budi, nggak?" Tatapannya tertuju pada kotak putih yang terletak diatas meja. "Aku bukan siapa-siapa, tapi kenapa dikasih beginian? Aku nggak bisa bayarnya."
"Lo pikir gue rentenir yang minta balik jasa?"
Memang sejatinya berbicara dengan Regaz itu diperlukan kesabaran. Maksudnya ini, ditanggapi itu.
Candy menggeleng, ia menghela napas pelan. "Bukan. Tapi ini bahasa lainnya sungkan, kamu tahu 'kan?"
"Ya ngapain sungkan? Gue udah kasih ke lo. Tinggal lo terima, beres! Gak usah kege-eran gue kasih karena punya perasaan lah, atau apa-apalah. Bullshit! Ini juga demi kepentingan lancarnya bimbingan. Gue malu sama Pak Jaya kalo lo kalah!"
Bibirnya terbuka, ia sungguh-sungguh tak paham apa maksud Regaz. Belum sempat Candy menyahut, Regaz kembali mengoceh.
"Gue nggak kasih secara cuma-cuma. Lo harus bayar pake kemenangan lo di olimpiade. Gue nggak mau tahu pokoknya! Waktu kita mepet sama ujian. Kita juga harus kondusif, jangan sampe hal ini menganggu waktu belajar gue buat ujian!"
"T-tapi--"
__ADS_1
"Lo mau gue sate, ya? Nggak ada tapi-tapian!"
Bibirnya mengatup rapat, dengan rahang mengeras. Apalagi tatapan tajam Regaz membuat Candy langsung ciut. Ragu-ragu, Candy membuka kotak putih itu. Candy menyodorkannya pada Regaz.
"Apa!" Cowok itu mengernyit. Bukannya tadi mereka sepakat bahwa tak ada penolakan dalam bentuk apapun?
"Mm, minta tolong nyalain. Aku mana ngerti caranya."
Cengo dengan jawaban ajaib yang keluar dari mulut cewek di sampingnya, Regaz menarik senyum paksa. Ada ya makhluk zaman sekarang yang tidak bisa menyalakan ponsel? Ini baru menyalakan, belum mengoperasikan.
Candy memanjangkan tangannya untuk menilik layar LCD ponsel yang masih belum menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
"Selama gue atur HP lo baca halaman 173. Cepet!" Cetus Regaz tegas.
Tak mau kena sembur dengan kalimat yang pedas, Candy menurut. Ia mengeluarkan buku pegangan olimpiade dari tasnya kemudian pura-pura menunduk. Dari sudut mata, Candy bisa melihat Regaz yang sibuk dengan ponsel membuat fokusnya teralihkan.
Demi memudahkan pemakaian sekaligus tidak yakin jika Candy bisa mengotak-atik, Regaz membuat pintasan untuk chat khusus ke nomornya. Kurang baik apalagi coba, dia membelikan ponsel plus dengan kartu perdana sekaligus kuota umur setahun sekali. Cowok itu bersumpah akan menjadikan Candy samsak tinjunya jika ia gagal dalam olimpiade.
"Ini udah ada nomor gue. Kalo bingung tentang sesuatu, tinggal chat. Udah gue bikinin pintasan chat juga."
"Kenapa?" Tanya Regaz bingung. Mood nya cukup bagus hingga nada ketusnya tidak ia keluarkan.
Candy menggeleng. "Seumur-umur aku sekolah, baru kali ini ada yang sepeduli kamu," Candy tersenyum yang membuat Regaz tertegun sejenak. Senyum itu ...
"Biasanya mereka cuma tahu tanpa peduli. Aku kenal banyak orang, tapi hanya sebatas kenal. Mereka dan keegoisannya, aku udah nggak heran lagi," Candy mengigit bibir bawahnya, ia menunduk. "Makasih buat ponselnya, Gaz. Aku janji bakal usahain menang. Seenggaknya buat kamu nggak nyesel udah keluar banyak uang demi ponsel ini."
Regaz meneguk ludahnya susah payah. Tangan kanannya yang gemetar hebat ia sembunyikan diatas meja—dengan terkepal.
"Hm," cowok itu berbisik. "Kejar apa yang harusnya lo kejar. Jangan kayak gue!"
Kepala Candy terangkat. Mata berairnya bertemu pandang dengan Regaz yang sedang tersenyum getir. Dia masih belum mengerti apa maksud kata-kata Regaz.
"Lo tahu apa kaitannya efek doppler sama hidup manusia?" Pertanyaan dari Regaz membuat Candy mengusap sudur matanya yang berair. Ia mengalihkan perhatiannya pada buku yang terbuka.
__ADS_1
Tidak ada tulisan tentang efek doppler. Di buku itu hanya ada rumus yang membuat kepalanya langsung cenat-cenut.
"Apa?" Candy paham jika Revaz sedang mengajarinya materi. Cara cowok itu memang selalu unik, dan terasa asing baginya.
Pensil yang berada di tengah-tengah buku Candy diambil alih oleh Regaz. Benda itu menari diatas lembaran buku yang kosong.
"Realita nggak pernah sesuai sama ekspetasi. Yang lo harapin, belum tentu jadi kenyataan," Regaz menarik napas. "Itu sama kayak frekuensi sumber bunyi yang beda sama frekuensi pendengar. Lo pengennya gini, yang ada malah gitu. Namanya efek doppler."
Anologi kali ini berpusat pada emosi. Jujur saja Candy suka yang semacam ini.
"Realita sama dengan frekuensi pendengar, gitu? Ekspetasi itu sama kayak frekuensi sumber bunyi, karena asalnya dari pikiran manusia?"
Regaz mengangguk tegas. Ia mencorat-coret rumus yang tersaji kemudian tercenung.
"Kalo pendengar mendekati sumber, kecepatan pendengarnya positif. Itu sama aja kayak realita dikurangi ekspetasi. Semangat lo bakalan tinggi,"
Realita mendekati harapan maka semangatnya akan tinggi. Semangat sendiri diartikan sebagai kecepatan.
"Beda sama ekspetasi mendekati realita. Itu jelas mustahil, Dy. Lo berharap gini, tapi maksain diri biar harapan lo sesuai dengan nama realita. Jatuhnya nanti obsesi dan itu nggak baik," Regaz menyangga kepalanya menggunakan tangan kanan. "Makanya, kenapa kecepatan sumber mendekati pendengar itu negatif."
Candy melihat apa yang Regaz coretkan diatas buku. Jarak mereka cukup dekat hingga senyum samar cowok itu terlihat dengan jelas. Apa Candy sedang bermimpi?
"Rumusnya fp sama dengan v. Plus or minus vp dibagi v plus or minus vs dikali fs. P itu pendengar, s itu sumber. Aturan plus atau minusnya diibaratin ekspetasi sama realita," Regaz memejamkan matanya. "Paham?"
Orang pasti akan salah paham jika melihat posisi mereka saat ini. Akan tetapi bukannya menarik kepalanya mundur, Candy justru tak bisa berkutik. Seluruh sendinya seakan terkunci.
Ia meneguk ludah. "I-iya,"
Apa gaya tarik-menarik antara dua frekuensi hati yang berbeda juga termasuk efek doppler?
\=\=\=\=\=\=\=\=
-TO BE CONTINUED-
__ADS_1
A/N: Haii, haii, haii