Smile Effect

Smile Effect
Denting ke TigaDelapan


__ADS_3

Orion mengacak rambutnya frustasi. Pertahanannya runtuh, kamuflase tidak bisa mengelabui perasaannya. Ia hampir gila karena menahan diri.


"Gue bohong waktu bilang lo bukan tipe gue, gue bohong waktu bilang lo cocok sama Arya. Gue ngerasa sakit tiap kali mikir lo jalan sama Arya, sedangkan gue harus nahan perasaan gue."


Ia menekan pergelangan tangan Candy ke dinding.


"Sikap gue emang baik sama Arya, tapi itu cuma sebatas sahabat. Nggak pas dia ngaku-ngaku jadi pacar lo. Arya nggak pantas buat lo!"


Pandangan mereka bertemu. Tarikan napas berat terdengar dari mulut Orion. Cowok itu seakan tengah berusaha bernapas dengan usaha keras.


"KAMU PIKIR KAMU SIAPA, HAH?!" Bentak Candy hilang kesabaran. Cekalan di tangannya berpindah ke bahu seiring dengan tatapan mata Orion yang menggelap. "Aku udah punya Arya, sadar Rion! Dia temen kamu!"


"Persetan sama Arya. Gue nggak peduli siapa-siapa!" Desis Orion. "Gue cuma peduli sama lo!"


Amarah Candy dituangkan dalam tangisan. Orion egois! Dia pikir dirinya siapa?


"Demi Tuhan, aku udah punya pacar. Jangan tiba-tiba gila begini, deh! Lagipula, aku nggak sepenting itu buat kamu. Kamu yang bilang sendiri aku itu cewek murahan, 'kan?"


Orion tertawa meremehkan. "Ini yang dari dulu gue enek sama lo. Oke, gue bakal tegasin apa kedudukan lo. Itu yang lo mau 'kan?!"


Nada suaranya dijaga agar tetap rendah dan tak meledak-ledak. "Sejak awal gue cuma manfaatin lo buat ngilangin rasa bersalah gue. Gue sengaja deketin lo biar semua orang mikir kalo gue itu bener-bener Regaz sang malaikat penolong,"


Cowok itu mengguncang Candy dengan penjelasan.


Matanya berkilat keji. "Dengan begitu rasa bersalah yang bersarang di hati gue sedikit berkurang, walau gue harus tetep buat jaga image di depan semua orang! Dari awal Regaz udah suka sama lo dan gue tau lo juga menyimpan rasa sama dia, itu membuat kesempatan gue lebih besar. Gue kira di hari sial itu, Regaz nggak akan dateng nyelamatin lo. Nyatanya cowok b*go itu tetep dateng dan buat nyawanya sendiri melayang. Dan itu semua karena lo!" Tambah Orion mengejutkan.


Apa yang Candy dengar lebih buruk dari sebelumnya. Tapi, Orion memanfaatkannya?


"Sikap pelupa lo yang seenaknya dateng itu bikin gue marah. Bahkan di ujung napasnya, Regaz tetep merhatiin lo. Tapi, lo malah lupa sama semua yang udah terjadi?! Karena itu, gue mulai merancang balas dendam buat lo. Mungkin bukan cara di bully karena akan merusak citra Regaz di mata umum,"


Orion tertawa pahit. Cengkeramannya sedikit mengendur. Segala hal busuk yang di simpannya diam-diam mulai diutarakan agar ke depannya tak ada lagi salah paham.


"Gue bakal buat lo menderita! Itu janji gue waktu liat lo yang lupa semuanya. Dibanding membuat lo di bully, deketin lo adalah cara yang terbaik. Gue bisa manfaatin lo sekaligus balas dendam. Rencana yang bagus, bukan?"


Gemetar dari ujung kepala sampai ujung kaki membuat Candy merinding. Jadi, sejak awal hanya tentang peristiwa lalu dan pemanfaatan?


Ia mencoba berpikir jernih. Namun pikiran jernih itu justru membuka asumsi lain di benak Candy—Orion rajanya brengs*k!


"Sekarang semuanya tercapai. Gue bahagia liat menderita karena perasaan lo sendiri. Gue bahagia liat lo sengsara waktu gue suruh-suruh. Gue bahagia, orang yang menyebabkan kematian saudara gue menderita. Gue bahagia, Elisa! Sangat bahagia!"

__ADS_1


Orion tertawa puas melihat air mata Candy yang semakin deras. "Bukannya itu ganjaran yang nggak akan lo lupain seumur hidup, cewek b*go?"


Hati adalah organ yang bisa membunuh manusia tanpa senjata.


Pepatah itu benar adanya. Bukan lagi perasaannya yang terbunuh. Semua rasa yang pernah ada untuk Orion lenyap seketika berkat pengakuan yang tidak pernah Candy bayangkan.


Suara tawa mencemooh yang mampir ke telinganya membuat sesuatu dalam diri Candy melonjak naik dalam hitungan detik. Jadi, semuanya hanya tentang dendam dan pemanfaatan?


"Kamu ...," terlalu banyak emosi yang berkecamuk. Candy tidak tahu harus menyampaikan yang mana terlebih dulu. "Brengs*k! Sekeji itu pikiran kamu?!"


Candy tertawa miris. Sekarang ia menyesal karena menaruh rasa pada cowok itu. Bagi Orion, ia hanyalah alat untuk melindungi penyamaran dirinya berhasil. Dasar bodoh! Sekali ini saja ia baru sadar akan semuanya.


"Lo itu terlalu tol*l sampai gampang dimanfaatin. Kalo aja lo nalar, udah dari awal lo sadar kalo gue cuma manfaati lo, Can. Murid introvert kayak lo deket sama gue? Mimpi!"


Ia kepayahan menelan ludah. Benar. Selama ini Candy terlalu hidup dalam dunia fiksi sampai tidak bisa membedakan mana kenyataan dan mana angan-angan. Kata-kata Orion menampar, mencabik, dan merobek kepercayaannya. Betapa bodohnya ia!


"Mungkin lo salah satu korban fiksi toxic yang ditulis oleh tukang ngayal nggak pake nalar. Tapi sekali lagi Can, ini realita bukan mimpi belaka! Bangun! Cewek serba pas-pasan kayak lo  bisa-bisanya ngayal ketinggian. Bangun!"


Tangannya mengepal. Sebuah nafsu primitif untuk menghabisi manusia di depannya muncul begitu saja. Orion benar-benar kelewatan.


"Cewek serba pas-pasan?" Candy bergumam diantara bibirnya yang terkatup. Matanya terasa panas ketika menemukan tatapan mengejek dari cowok di hadapannya. "Iya! Aku cuma cewek serba pas-pasan. Gampang di b*goin, gampang percaya. Saking b*gonya aku sampai nggak sadar di manfaatin dan dijadikan ajang balas dendam. Itu kan yang mau kamu omongin?"


Ngilu dimana-mana. Demi Tuhan, ini sakit sekali. Mengetahui jika seseorang mendekatimu hanya untuk niat terselubungnya.


Sampai titik dimana pertahanannya akan hancur, Candy mendorong kuat tubuh Orion. Baru saja kakinya hendak berlari kencang, Orion menangkap pergelangan tangannya. Cengkeraman kali ini lebih bertenaga daripada sebelumnya.


"APA LAGI SEKARANG?" Candy nyaris membentak.


"Gue mau liat gimana lo hancur. Jangan lo pikir gue bakal sia-siain momen ini, cewek b*go!" Ujar Orion keji. Ia tertawa keras melihat air mata yang jatuh dari sudut mata Candy. "Gue bahagia liat lo hancur. Gue bahagia, Candy! Seolah tangisan nyokap gue waktu kematian Regaz terbalas oleh lo!"


Candy terisak tanpa suara. Pedih membuatnya kehilangan kata-kata. Dadanya terasa dihimpit sesuatu.


"Ekspresi hancur lo bener-bener pantes diabadikan. Seharusnya gue motret lo sekarang, biar gue selalu ingat kalo lo itu cuma cewek pembawa sial," Orion kembali menikam jantungnya dengan kosa kata kejam. "Oh, apa sekalian aja gue damprat lo di tengah lapang biar Candy Elisa sadar letak kebegoannya dimana? Walau itu beresiko penyamaran gue sebagai Regaz terungkap,"


Ini sudah terlalu banyak untuk ditoleransi. Amarah menghanguskannya menjadi abu. Tak tersisa apa-apa. Hanyalah sakit yang ia rasakan.


"Gue baik, 'kan?" Guncangan di berikan Orion pada bahunya. "Ayo bilang gue baik! Dengan begitu, gelar antagonis lebih pantes buat lo! Si cewek paling jahat yang pernah gue temuin," lanjut Orion diiringi dengan tawa. Vokalnya terdengar penuh ironi.


Daftar yang memuat perempuan idealnya terasa mengejek saja sewaktu diingat.

__ADS_1


Wajah pas-pasan, otak pas-pasan, mudah dipermainkan, berkeinginan meraih bintang? Candy pasti tidak punya kaca di rumah!


Sekali lagi, Orion tertawa.


"Tau kenapa? Karena gue benci setengah mati sama lo, cewek sial*n! Rencana gue harus berubah total gara-gara lo. Lo itu udah sial*n tanpa perlu ngelakuin apa-apa, lo berhasil goyahin tekad gue! Lo sial*n Elisa! LO CEWEK PALING SIAL*N YANG PERNAH GUE TEMUIN!" Bentak Orion hilang akal.


Semua rencananya hancur berantakan di pertengahan. Candy memutarbalikan apa yang ada. Gadis ini mengambil terlalu banyak dari setiap langkahnya. Jika dulu, ia tak melihat senyuman di wajah Candy, mungkin hal ini tak akan pernah terjadi.


"Gue pengen balas dendam. Ya, pada awalnya. Gue pengen manfaatin lo. Ya, pada awalnya. Gue pengen kasih ganjaran ke lo. Ya, pada awalnya. Kenyataannya, gue justru terjebak di permainan yang gue buat sendiri. Ini semua gara-gara lo!"


Candy termangu. Lalu lintas di pikirannya macet. Amarah yang semula begitu meledak-ledak dalam kepalanya berubah menjadi sebentuk emosi yang tidak ia kenali.


Orion menundukkan kepala. Bahunya bergetar seiring dengan jantungnya yang bertalu hebat.


"Entah sejak kapan, gue nggak bisa liat lo luka," bisiknya. "Rencana gue semua rusak karena lo. Bukan lagi balas dendam yang jadi prioritas. Bukan pemanfaatan yang gue utamain. Sekarang cuma tentang lo, lo dan lo! Tapi, kenapa lo malah jadian sama Arya? Kenapa!"


Dia bertekad menahan diri supaya tidak berdekatan dengan Candy. Namun, inikah buah dari kesalahannya?


"A-apa maksudnya?" Rumit. Stok diksi di kepalanya mendadak sirna. Benang kusut ini membuat Candy gila.


"Apa maksudnya? Lo masih nanya begitu?" Dear god, bagaimana bisa gadis ini tidak paham juga?


"Gue benci lo Candy. Tapi rasa sayang gue ke lo lebih besar daripada rasa benci gue. Apa yang harus gue lakuin buat itu? APA YANG HARUS GUE LAKUIN BRENGS*K?"


Berkebalikan dengan nada suaranya yang meningkat. Lengan kokohnya justru membawa Candy dalam dekapan. Orion mengumbar tawa putus asa. "Perasaan ini terlalu asing. Gue nggak tau harus gimana, gue nggak tau harus apa. Setiap kali mikir lo deket sama Arya, pertahanan gue hancur. Regaz bukan tipe orang yang bebas berekspresi, tapi lo bikin gue keluar dari karakter Regaz. Gue bener-bener benci lo, Can. Gue benci lo yang gampangnya hancurin pertahanan gue. Lo yang jahat, bukan gue."


Kekalahan terbesarnya adalah ini. Perasaan bodoh yang mencekik malamnya, rasa terbakar hebat melihat Candy jalan dengan cowok lain, rasa benci menyaksikan kedekatan Candy dengan Arya memporak-porandakan kewarasannya.


"Perlu waktu buat gue ngumpulin nyali. Nggak gampang buat bikin pengakuan dosa kayak gini. Di satu sisi gue benci liat lo marah, dan di sisi lain gue nggak bisa terus-terusan bohong. Gue nggak tau pilihan apa yang nggak nyakitin lo sekaligus nggak bohongin lo,"


Orion menarik napas sebelum berkata lirih, "Gue nggak tau harus gimana. Semuanya berantakan."


Matanya terpejam penuh derita. Sebisa mungkin ia berusaha mengedalikan emosinya. "Tapi yang jelas, gue belum bisa milikin lo sekarang. Ada beberapa hal yang harus nggak dilakukan terburu. Jadi, tolong tunggu gue ya, Candy."


Candy tersenyum getir. "Kamu bilang," napasnya tersendat di tenggorokan. "Ini cuma tentang pemanfaatan. Lalu, kamu bilang lagi semua rencana kamu berantakan gara-gara aku," ia menepis lengan kokoh Orion yang merengkuhnya.


"Kamu nyuruh aku nunggu? Kamu tau nggak, sakitnya nerima kenyataan kayak gini? Dimana nurani kamu? Kenapa nggak terus aja manfaatin sampai akhir?"


...-TBC-...

__ADS_1


 


 


__ADS_2