
"KU MENANGIS~~"
"DUPLAK, DUPLAK ... TARIK BANG,"
"WO HO UWOHH~"
Regaz memijat pangkal hidungnya kasar. Giginya bergemelatuk tajam, siapa yang tak kesal jika suasana pagi yang damai, aman dan makmur di hari libur sekolahnya terganggu dengan nyanyian sahabat-sahabatnya itu.
Ia menyesal karena semalam memperbolehkan para sahabatnya itu menginap. Memang benar penyesalan itu selalu ada di akhir, jika di awal pendaftaran namanya. Ya, ya akan Regaz ingat selalu kalimat itu.
Regaz menarik napas tajam, dengan sekali sentakan ia menendang meja di hadapannya hingga makanan yang berada di atas meja tersebut tercecer berantakan di bawah lantai. Berikut dengan mulut dua manusia yang langsung mengatup rapat dengan mata yang melotot, mungkin mereka syok.
"Kalo sekali lagi kalian berisik, bukan cuma meja yang gue tendang. Tapi kalian yang bakal gue bikin mamp*s!" Bisik Regaz sarat akan peringatan.
Arya dan Bejo mengangguk kaku. Mereka berdua melanjutkan permainan PS nya dengan tegang dan tak ada pembicaraan, hanya tangan mereka yang bergerak.
Regaz menghela napasnya lelah, ia mengusak rambutnya kasar sebelum membaringkan kembali dirinya ke sofa. Ia menutup matanya dengan tangan kanan, di hari libur seperti ini ia butuh ketenangan. Bukan cuma untuk fisiknya namun batinnya juga.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bruk!
"Ck, kalo jalan yang bener!"
"M-maaf,"
Cowok berbaju urakan itu menatap gadis yang sedang membenarkan tali sepatu dihadapannya dengan tatapan kesal. Sebenarnya ini bukan salah gadis itu, tetapi karena dirinya sedang kesal ia menjadikan gadis itu tumbalnya. Gadis yang memakai seragam SMP dengan name tag yang menggantung di lehernya.
"Ck, cepetan. Lo ngehalangi jalan gue!"
Karena tingkat kesabaran yang mulai menipis, cowok itu berjongkok dan membantu gadis itu menalikan tali sepatunya. Tangan gadis itu semopat menolak, namun dengan kasar ia menepis tangan itu.
"Udah SMA aja belum bisa ngiket tali sepatu? Dasar bocah!"
"Aku bukan boc-lho? Kok kamu ada disini tadi kan ada disana?"
"Jangan SKSD sama gu**e. Kenal juga kagak!"
__ADS_1
Namun, bukannya beranjak pergi cowok itu malah asik mengamati setiap ekspresi yang gadis itu buat. Matanya menangkap tulisa diatas name tag gadis itu.
"Candy Elisa," ucapnya tanpa suara.
"Kamu hilang ingatan, ya? Tadi kita udah ken--"
"Nama gue O-R-I-O-N. Dah, ah nanti kalo gue di hukum ini semua salah lo!"
"Apa?"
"Simpen nama gue di hati dan pikiran lo!"
"H-hah?"
...***...
'Simpen nama gue di hati sama pikiran lo!'
Candy mengigiti ujung pulpennya seperti orang frustasi. Mimpi semalam itu, berasa bukan mimpi. Karena ia membaca nama Orion, orang yang berwajah sama dengan Regaz itu muncul di mimpinya tanpa di duga. Cowok itu juga mengucapkan kalimat yang aneh.
"Panggilan kepada Candy Elisa kelas XII IPA 1 untuk segera ke depan ruang guru. Sekali lagi, panggilan kepada Candy Elisa kelas XII IPA 1 untuk segera ke ruang guru sekarang juga. Terimakasih."
Suara yang datang dari speaker di saat dirinya sedang tenggelam dalam pikirannya membuat ia meneggakan kepalanya. Teman sekelasnya langsung melirik ke arahnya begitu juga dengan guru yang sedang mengajar di kelasnya.
Begitu sadar, ia langsung pamit keluar. Koridor terlihat masih sangat sepi karena sedang berlangsung. Sebentar lagi jam pulang sekolah akan berbunyi. Ia heran kenapa dirinya di panggil padahal pelajaran belum berakhir.
"Lelet!"
Regaz bersedekap seraya menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sungging sinis tersungging di bibir cowok itu, jika dugaan Candy benar mungkin cowok itu sedang bad mood atau mungkin saja Regaz tak menikmati hari libur kemarin.
"Jadi kamu yang manggil aku kesin--"
"Iya, itu gue. Kata Pak Jaya, bimbingan harus diintensifkan lagi supaya materinya kelar tepat waktu," Regaz menyerahkan buku pegangan olimpiade beserta pena ke hadapan Candy. Untung tadi ia ber-inisiatif membawa buku. Coba kalau tidak? Candy pasti harus balik lagi ke kelas dan ia harus menunggu lagi hingga lumutan.
"Itu urusan gampang. Sekarang lo ikut gue dulu ke taman belakang. Kita belajar disana,"
Regaz menuntun lengannya tanpa mau mendengar protes lebih lanjut. Candy menurut saja digiring seperti ini walau dalam hati tidak terima. Bimbingan intensif apa harus memotong jam pelajaran juga? Bagaimana kalau ia ketinggalan pelajaran? Bagaiman kalau nanti peringkatnya turun? Bagaimana kalau beasiswanya karena itu? Siapa nanti yang akan bertanggung jawab?
Ada banyak pertanyaan yang berseliweran di benak Candy. Pak Jaya tak pernah mengatakan jika bimbingannya akan memotong jam pelajaran. Ini hanya akal-akalan Regaz atau memang kenyataan?
"Duduk disini. Adem,"
Pohon kersen di area taman belakang menjadi pelindung satu-satunya dari terik matahari. Candy menatap bingung sekelilingnya. Ini serius Regaz mau bimbingan disini?"
"Kenapa nggak di perpus aja? Disana lebih adem,"
"Sumpek," jawab Regaz sambil menepuk sisi kirinya. "Duduk sini. Kotor itu takdir, lagian besok ganti seragam."
Ragu-ragu ia duduk bersila di samping Regaz. Cowok itu dengan santainya bersandar di batang pohon tanpa merasa cemas sedikitpun.
Candy memberanikan diri mengajukan keresahannya. "Kamu nggak takut ketinggalan pelajaran, apa? Tadi aku masih pelajaran bahasa Inggris. Mrs, Tito mau ngasih tugas kelompok, tapi kelompoknya belum di bagi."
"Lo punya ponsel?" Regaz tak menggubris kecemasan yang diajukan Candy. Ia hanya membuka-buka buku di tangannya, mencari materi yang setidaknya sulit dipelajari otodidak.
Gelombang? Sepertinya sudah berkali-kali, berarti lewati.
Difraksi? Nanti saja sekalian dengan interferensi. Rumusnya agak panjang soalnya.
Gerak melingkar? Kelas sebelas pasti sudah diajarkan.
__ADS_1
"Punya. Kan kamu yang kasih waktu itu,"
Regaz melirik sekilas. "Lah, itu bisa lo pake buat tanya tugas. Nggak usah dibikin susah!"
Iya kalau kafasitas otaknya sama seperti Regaz sih tak apa-apa. Masalahnya jika Candy tak tahu materi sama sekali, bagaiman bisa ia mengerjakan tugas? Walaupun tugas kelompok, masa iya Candy cuma titip nama? Malu dengan Ibunya yang sudah susah payah mencari uang untuk kebutuhan sekolahnya kalau begitu.
"Tapi nanti ketinggalan pelajarannya," kilah Candy kukuh.
Semilir angin menerbangkan daun-daun kering hingga berguguran di tempatnya. Gesekan antar ranting menjadi simfoni yang melenakan di siang yang sejuk. Regaz memiringkan kepalanya.
"Kenapa lo khawatir banget sama masa depan yang masih rahasia sih, cil?"
Cil? Candy melongo.
"Cil itu apa?"
"Bocil. Sikap lo itu kayak bocah. Gue lagi bosen manggil lo Candy, Elisa, El, Dy, kebagusan," ujar Regaz sekenanya. Candy hanya tersenyum paksa. Jika saja ia punya keberanian tinggi, sudah ia timpuk kepala Regaz dengan buku paket tebal yang ada di tangannya.
Urusan semena-mena, Regaz jagonya.
"Masa depan itu sama dengan radioaktivitas. Nggak bisa ditebak gimana, tapi ada."
Ini sudah masuk ke materi, ya? Rasanya tidak seperti materi karena penganalogian Regaz sangat manusiawi.
"Lo boleh takut, cemas, asal jangan jadiin ketakutan sama kecemasan lo buat stuck di tempat. Mau serajin apapun lo bertahan di tempat yang sama, semuanya bakal tetep luruh,"
Regaz mencorat-coret rumus di kertas kosong yang sengaja di selipkan pada buku paket.
"Ketakutan kadang lebih dominan, tapi nyali lo harus terus di pupuk kalau nggak mau hidup lo tetep kayak gini terus. Lo tahu gamma?"
Candy menggeleng ragu.
"Harusnya lo contoh sinar gamma. Dia nggak punya massa alias nggak ada bentuknya, tapi daya tembusnya paling gede. Susah di belokin medan magnet pula, lancar jaya nembus apa aja."
Sebenarnya Regaz sedang berceloteh tentang materi atau sedang berdongeng? Alisnya melengkung tinggi. Apa kelakuan orang jenius begini, ya?"
"Sama kayak manusia, Cil," Regaz tersenyum lembut. Cowok itu mencorat-coret telapak tangan Candy hingga gadis itu refleks menunduk. "Sama kayak manusia yang nggak punya apa-apa. Semuanya cuma titipan yang suatu saat bakalan diambil. Tapi, apa sugesti titipan dan miskin dari lahir itu bikin manusia takut? Nggak, Cil."
Regaz meregangkan tangannya. Jaket hitamnya masih di pakai sejak pagi.
"Mau nggak mau, manusia harus ngelawan ketakutan mereka. Sama kayak gamma yang nggak punya massa, dia dituntut harus bisa nembus sesuatu di luar kemampuan demi ending yang bagus. Setelah semuanya tercapai, apa ketakutan itu masib ada? Enggak. Yang ada lega malahan,"
"Tapi, bukannya takut itu wajar ya?" Candy menemukan Regaz yang sedang menatapnya lekat. Ia tersenyum. "Nggak semuanya bisa kayak gamma,"
"Lo bener," Regaz mengangguk. "Masih ada Beta sama Alfa. Beta punya massa, tapi lebih kecil daripada Alfa. Daya tembusnya lumayan walau nggak sehebat gamma. Alfa malah lebih parah lagi, punya massa doang yang gede tapi daya tembusnya seuprit."
"Alfa paling jelek?"
"Iya," Regaz terkekeh. "Itu kayak tong kosong nyaring bunyinya. Manusia yang ngerasa punya segala padahal cuma titipan, tapi giliran nembus rintangan hidup malah melempem. Mending beta, dia serba sedang tapi masih punya daya tembus lumayan."
Hidup manusia kurang lebih sama seperti itu. Orang yang menyadari kalau dirinya tak punya apa-apa di dunia, diliputi ketakutan dan kecemasan tiada akhir namun tetap memaksakan diri untuk berusaha, justru merekalah yang berhasil. Seperti gamma yang massa pun tak punya, seperti itulah manusia seharusnya.
"Lo itu mampu," Regaz menuliskan sesuatu pada telapak tangan Candy. "Tapi kadang lo membatasi diri pakai sugesti negatif, ketakutan nggak berdasar dan kecemasan yang nggak jelas,"
Berkedip satu kali, wajah Regaz yang sedang tersenyum nampak familiar baginya. Foto itu ...
"Lo ngerti kan apa yang baru gue sampein?"
Candy tak memperhatikan ujaran Regaz. Tatapan justru terpaku pada tulisan yang ada di telapak tangannya. Lalu ia mendongak.
__ADS_1
"Orion itu kembaran kamu juga?"
...-TO BE CONTINUED-...