Smile Effect

Smile Effect
Denting ke Delapanbelas


__ADS_3

Candy masih saja berkutat tentang kalimat yang diucapkan Arya tadi sore. Mengingat apa yang selama ini ia lupa? Memangnya apa, ya? Perasaan Candy merasa tak melupakan sesuatu. Kecuali, tentang satu keanehan yang belakangan ini ia rasakan.


"Totalnya 65.000, Mas. Ada kartu voucher nya?" Ujar Candy ramah pada salah satu pelanggan mini market yang berkunjung.


Sudah dua minggu ia berganti kerjaan menjadi pegawai mini market yang dekat dengan rumahnya. Berjaga saat malam hari karena siang ia masih harus sekolah dan membantu Ibunya membuat kue sebentar.


"Gue nggak punya,"


Candy mengangkat kepalanya saat mendengar suara yang familiar dari pelanggannya. Matanya membelalak kaget sesaat, lalu menilik wajah yang penuh dengan ruam biru di sekitaran pipi.


"Regaz," gumam Candy pelan.


Cowok itu tak terlihat tadi pagi di sekolah. Candy kira Regaz masih berbaring dengan tubuh yang lemah, mengingat para preman itu tak segan-segan memukulinya.


Regaz mengangkat sudut bibirnya. "Gue tahu gue ganteng. Tapi jangan sampai pelanggan lain kabur, gara-gara lo melongo liatin gue," ujarnya dengan percaya diri. Dia bahkan menyingkir dan membiarkan pelanggan lain yang membayar terlebih dahulu.


Candy mengerjapkan matanya. Ia menatap Regaz sinis, percaya diri sekali cowok itu. Ingin rasanya ia menjitak kepala Regaz. Tapi mungkin belum sempat ia menjitak, ia duluan yang di sepak terlebih dahulu.


"Terima kasih. Silahkan untuk datang kembali," Candy tersenyum manis saat para pelanggan itu pergi dan meninggalkan Candy dan Regaz dalam mini market.


Candy menatap Regaz—yang sedang bersandar pada tembok sambil mengunyah permen karet—bingung. Untuk apa cowok itu masih disini?


"Kenapa nggak pergi?" Tanya Candy hati-hati.


Regaz membuang permen karetnya ke tempat sampah yang di sediakan disana. "Gue belum bayar. Nih, kembaliannya buat lo aja,"


Candy mengernyit. Lalu mengambil uang seratus ribu itu. "Aku nggak mau hutang banyak sama kamu," ujarnya seraya menyodorkan kembaliannya pada Regaz.


Regaz tersenyum sinis.


"Jadi orang nggak usah ribet napa! Kalo ada rezeki itu terima jangan nolak!" Ketusnya. "Terima nggak. Kalo lo nggak mau terima, gue pecat lo jadi murid gue!"


Dengan helaan napas pasrah Candy menarik lagi uang itu. "Yaudah, makasih."


"Hm,"


Suara mobil yang terdengar sangat nyaring di keheningan malam menemani mereka. Regaz memilih mendudukan dirinya di kursi yang tersedia di samping bangku kasir. Candy menatap Regaz aneh, sekarang apalagi alasan cowok itu belum juga pergi?

__ADS_1


"Kenapa nggak pulang?"


"..."


Tak ada balasan dari cowok itu, karena dia sedang fokus dengan ponselnya saat ini.


"Aku kira kamu masih sakit, soalnya tadi nggak sekolah," ujar Candy memecah keheningan.


"..."


Candy menghela napasnya. Ia melirik jam yang sudah menunjukkan pukul sebelas lebih lima belas menit malam. Sebentar lagi mini market akan tutup. Candy bergegas untuk membereskan barang-barang untuk yang bekerja esok pagi.


Ia tak sadar jika kegiatannya sedari tadi tak pernah luput dari penglihat Regaz. Cowok itu mengamati Candy dengan serius. Lalu bibirnya membentuk senyum tipis walau sekilas.


"Udah mau tutup?" Tanya Regaz setelah sekian lama terdiam.


Candy mengangguk sebagai jawaban. Ia sedang fokus dengan pekerjaan mengepel lantainya.


"Tadi, lo pulang bareng Arya?"


Candy berhenti, lalu berputar menatap Regaz. "Tahu dari Arya?"


Pertanyaan Regaz membuat Candy mengingat pembicaraanya lagi dengan Arya tadi sore. Ia masih harus memastikan sesuatu.


"Cuma ngobrol biasa, terus dia yang bayarin ongkos bus," ujarnya jujur.


Regaz terkekeh sinis. Ia yakin jika Arya telah berbicara sesuatu pada anak didiknya.


"Gue anter lo pulang!"


"Eh?" Candy mengangkat kepalanya. "Nggak us—"


"Nggak ada penolakan! Kalo lo nggak mau, gue cium juga lo!"


***


"Beresin buku lo!"

__ADS_1


"Astagfirullah," Candy memekik. Jantungnya nyaris copot. Ia sedang melamun dan tiba-tiba saja sebuah suara berat terdengar di sampingnya. Regaz ini manusia atau bukan sih? Langkah kakinya sama sekali tak terdengar.


"Cepetan!" Ujar Regaz tak sabar. Wajahnya masih dihiasi lebam seperti kemarin. Jaket hoodie hitamnya juga tak luput dari penglihatan Candy.


"Iya-iya, sebentar," seru Candy pelan saat melihat wajah galak Regaz.


Regaz tersenyum lebar. Sangat lebar sampai-sampai Candy merinding dibuatnya. "Kalo lo lama, gue nggak segan-segan buat balik duluan, Candy Elisa."


Candy memiringkan kepalanya. "Lho kok gitu, sih?"


"Ck, makanya cepetan bocah!" Dengan gregetan Regaz langsung memasukkan buku-buku Candy asal ke dalam tas. Kemudian ia sampirkan tas itu ke pundaknya dan menyeret gadis yang sekarang sedang melongo itu.


Candy mengerjap pelan. 'Dasar singa, nggak bisa apa lembutan sedikit sama cewek?' Gerutunya dalam hati.


Candy mencoba menyeimbangkan langkah kakinya dengan Regaz yang sedang menyeretnya cepat.


"Aduh, bisa pelan dikit nggak sih?" Keluh Candy.


"Ini gue udah pelan, b*go. Lo nya aja yang lelet!"


Matanya langsung melirik langkah kaki Regaz yang lebar. Ia mengernyit tak suka, hatinya terus berdumel. Pelan bagaimana kalau Candy saja setengah berlari seperti ini?


"Dasar singa," cetusnya keceplosan. Candy menutup mulutnya kaget.


Regaz menghentikan langkahnya. Ia menaikan tudung hoodie nya kemudian melepaskan genggaman tangannya dari Candy.


"Lo bilang apa tadi?" Regaz tersenyum lebar lalu sedetik kemudian raut wajahnya berubah datar. "Gue bakal jadi singa, kanibal, bahkan setan kalo lo masih aja ngoceh nggak jelas!"


Kepalanya tertarik ke belakang. Mati aku! Regaz benar-benar sudah kesal sepertinya.


Regaz langsung menyeret Candy lagi walau gadis itu sudah meronta. Masa bodolah dengan keluhan anak orang. Intinya mereka harus cepat keluar area sekolah jika tak ingin Arya dan teman-temannya menyeretnya kembali ke rumah sakit.


Semalam sehabis mengantar Candy. Badan Regaz panas kembali dan Arya, cowok itu mengomel seperti emak-emak yang minta jatah bulanan pada suaminya. Nyerocos sampai Regaz bisa merasakan air liur cowok itu mengenai wajahnya.


'Mendingan gue buruan kabur sebelum di boyong ke rumah sakit lagi sama mereka!' Batinnya.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


-TO BE CONTINUED-


A/N: SEE U NEXT


__ADS_2