Smile Effect

Smile Effect
Denting ke Sepuluh


__ADS_3

Sunyi senyap, mengantarkanku pada gelisah yang tak kunjung henti.


Kapan semua ini berakhir? Akupun tak tahu.


Hanya jalan takdir yang menentukan kemana kita* akan melangkah selanjutnya*.


\=\=\=\=\=


Ruang itu sangat temaram karena nihilnya penerangan. Regaz meletakkan helm nya di meja dekat televisi besarnya. Lagi-lagi, ia tidak pulang ke rumah. Dengan tangan yang sibuk mengacak rambutnya kasar, ia berjalan menuju sofa yang terletak di depan televisi itu.


Kata-kata Candy siang tadi benar-benar membuatnya bungkam dan terngiang-ngiang di kepalanya. Ia tidak menyangka, di zaman milenial ini masih ada yang tidak punya ponsel.


"Jadi kalo dia bingung pas ngerjain PR itu cuma ngadalin otaknya aja?" Regaz bergumam lalu berdecak kasar.


Anak kecil zaman sekarang saja kadang suka marah-marah jika tidak diberi ponsel oleh orangtua nya. Terkadang mengerjakan tugas lewat ponsel juga sudah kewalahan dan stress. Padahal mereka punya ponsel dan kuota, tapi masih tetap saja datang pagi-pagi ke sekolah cuma mau menyontek.


Sedangkan Candy? Ponsel saja dia tak punya. Jika Regaz juri, mungkin ia akan memberikan standing applause atas kemampuan gadis itu yang bermodalkan otak saja saat belajar.


Punggungnya ia sandarkan ke sofa, kepalanya mendongak menatap langit-langit.


Regaz paham sekarang, kenapa Pak Jaya dengan kukuh memilih Candy sebagai perwakilan, sedangkan banyak adik kelas atau siswa-siswa yang lain tak kalah pintar. Gadis itu memiliki kemampuan yang murni. Itulah hal dasar yang wajib dimiliki oleh peserta olimpiade sukses.


Otak encer saja masih kurang jika seseorang tidak bisa menangkap materi dengan baik. Lebih-lebih bidang Fisika yang di butuhkan penalaran lebih tinggi. Banyak orang hafal rumus, namun susah mengaplikasikan dengan soal.


Tangannya terangkat untuk mengurut pangkal hidungnya. Akhir-akhir ini, ia sering mengalami migran akibat kebanyakan menahan emosinya. Dengan satu kali helaan napas kasar, Regaz menegakkan duduknya. Ia berjalan menuju sebuah pintu berwarna cokelat di sudut ruangan, dengan pelan tangannya membuka kenop pintu tersebut.


Suara decitan dari pintu terdengar nyaring di ruangan yang hampa itu. Regaz berjalan menuju piano yang terletak di tengah-tengah ruangan itu, ia mendudukan dirinya di kursi yang berada di hadapan piano itu. 


Ia merogoh ponselnya yang berada di saku hoodie-nya. Cahaya ponsel menerangi ruangan yang temaram. Regaz menekan tombol seseorang sebelum terdengar nada dering tersambung.


"Yo," ujar suara di seberang sana.


"Lo dimana?" Tanya Regaz tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.


"Di rumah. Ada apa? Tumben lo manggil gue. Kangen y~"


"Najis!" Regaz berdecih sinis. "Gue pinjem uang lima ratus ribu, besok di ganti."


"Hah? Buat apa?" Tanya seseorang di seberang sana bingung.


"Banyak tanya! Siapin aja cepet!" Sentak Regaz.


"Emang nggak ada manis-manisnya ya lo," rutuk orang itu.

__ADS_1


"Bac*t! Ada nggak?!"


"Lelah adek bang. Cuy kesini," ujar orang itu mendramatis.


"Hm."


Sambungan dimatikan sepihak oleh Regaz. Cowok itu mengantongi ponselnya lagi. Ia menaikan kudung hoodie nya sebelum beranjak dari ruangan yang gelap gulita itu. Tujuannya sekarang hanya satu, ke rumah temannya.


oOo


"Gue baru tau kalo lo seloyal ini jadi mentor."


Bejo membolak-balik wadah ponsel yang baru Regaz letakkan di atas meja.


"Lo nggak salah beliin ponsel? Dapet hidayah dari mana lo?" Arya merebut benda di tangan Bejo lalu bertanya polos. Sungguh keajaiban dunia, seorang Regaz yang pedasnya tidak kira-kira memberikan orang lain barang. Pasti Regaz kemasukan arwahnya Pak Rahmat.


Regaz menutup mata menggunakan tangan kanannya. Ia bersandar di sofa empuk yang ada di rumah Bejo.


"Nggak sepenuhnya pake duit gue. Kemarin gue minjem sama temen, tapi yang paling gede duit gue. Gue cuma minjem lima ratus ribu."


"Tetep aja lo modal cuy! Nggak salah lo ngasih beginian sama anak didik lo? Siapa namanya Can ... Can ... Candi,"


Arya menoyor kepala Bejo. "Candy b*go! Emang lo kira Candi Borobudur?!"


"Anj*r! Lo sebut gue b*go lagi? Besok-besok lo nggak gue izinin nebeng sarapan lagi!" Sungut Bejo kesal. Arya langsung menyunggingkan senyumnya tanda perdamaian. Ia kembali fokus memainkan stick PS agar tak kalah dalam pertarungan.


"Oh, iya!" Seru Arya tiba-tiba membuat kedua temannya menoleh. "Kemarin gue ketemu sama murid didik lo, kayaknya dia nggak enak badan. Soalnya mukanya pucet," ceritanya minus dengan dirinya yang menabrak Candy.


"Hm," gumam Regaz terlihat tak perduli.


Bejo berdecak kesal. "Kenapa lo sampai beliin dia ponsel segala?"


"Ya, mau gimana lagi," gumaman pelan Regaz menyita perhatian mereka berdua. Arsen yang sejak tadi hanya menyimak membuka telinganya lebar-lebar.


"Maksud lo? Apa anak didik lo itu sebegitu baiknya sampai seorang Regaz Kavier yang terkenal pelit ngasih beginian sama dia?" Bejo meletakkan ponsel yang masih terbungkus itu ke atas meja.


Regaz menguap. "Dia nggak punya ponsel, cuy. Gimana caranya gue ngasih tugas kalo dia nggak bisa dihubungi?"


Tubuhnya terasa lelah karena mencari ponsel yang sesuai dengan kantongnya. Jam baru menunjukkan pukul sembilan malam, namun ia rasanya ingin mengapeli ranjangnya sesegera mungkin.


Bejo menggeleng prihatin. "Dia anak orang nggak punya apa gimana?"


Matanya yang teras berat dipaksa untuk terbuka. Regaz mengamati sekelilingnya yang terlihat berantakan. Keripik yang tumpah diatas karpet, bantal sofa yang tidak pada tempatnya serta dua manusia lainnya yang terlihat bersantai tanpa memperdulikan sekitar.

__ADS_1


Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri. Arsen sudah tak terlihat batang hidungnya. Mungkin cowok itu sudah pulang duluan karena istri tercintanya yang sedang mengandung.


"Hm, semacam itulah. Dia bahkan kerja paruh waktu buat beli buku satu semester," Regaz mengambil ponsel beserta wadahnya untuk dimasukkan je dalam kantong jaketnya. "Makannya gue dengan berbaik hati beliin dia ponsel. Yah, buat kebaikan sekolah juga,"


Regaz menyambar helm-nya yang di letakkan diatas keset.


Bejo mengernyit. "Lo udah mau pulang? Tumben,"


"Ngantuk gue," Regaz menguap lagi. "Duluan ya."


Bejo menggeleng maklum. Walaupun ini bukan kebiasaan Regaz yang selalu pulang diatas jam sembilan, dia paham kalo cowok itu pasti lelah.


"Ati-ati Gaz. Perlu gue setirin nggak sampe rumah?" Arya berteriak saat Regaz berada di ambang pintu. Permainan yang sedang ia tekuni bersama Bejo di-pause sebentar.


"Nggak usah," Regaz tersenyum lebar tanpa berbalik. "Kek cewek aja!"


Kakinya lanjut melangkah menuju halaman rumah Bejo, tempat dimana ia memarkirkan motornya. Regaz mengenakan helm sejenak lalu menstarter motornya.


Jadwalnya hari ini cukup padat, hingga menguras sebagian tenaganya. Angin malam yang membelai kulitnya menjadi penyejuk kepalanya yang terasa berat. Motornya berbelok ke kiri ketika keluar gang perumahan.


"Gue suka sama seseorang."


"Dia punya senyum manis, tapi di senyum itu gue malah lihat luka,"


"Lo dengerin gue nggak sih?"


"... Yon ... Yon ... Orion!"


Deg.


Napas Regaz memburu, ia mencengkeram stir erat. Regaz menambah kecepatan motornya, sesekali tangan kirinya menyeka keringat dingin yang berada di dahinya. Kenapa sekelebat ingatan itu harus muncul saat dirinya sedang mengemudi. Apakah karena dia terlalu lelah? Atau ini efek akibat ia mengantuk? Regaz menggelengkan kepalanya pelan, mengusir rasa pening yang menggerayangi kepalanya.


Regaz memfokuskan kembali matanya ke depan, ia membelalak saat melihat seekor kucing sedang melintas. Karena kecepatan motornya yang tidak bisa di bilang lambat, ia memutar stangnya cepat.


BRAK


Tubuhnya berguling beberapa kali hingga menghantam trotoar. Regaz berusaha membangunkan badannya walau nyeri sudah ia rasakan di berbagai tempat. Dengan pandangan yang buram Regaz mencoba meraih ponselnya yang di saku jaket. Ia mengetikkan pesan pada seseorang walau jarinya bergetar.


Sial, kenapa harus sekarang sih!


\=\=\=\=\=\=


-TO BE CONTINUED-

__ADS_1


A/N: hmm😓


__ADS_2