
Air muka Regaz sangat keruh ketika melangkah keluar dari rumah angker itu. Candy sudah di luar menunggunya sejak lima belas menit yang lalu. Tatapan sebeku esnya menatap Candy lama sebelum mengalih pada motornya yang terpakir tak jauh dari sana.
"Gue nggak bisa lama-lama. Mending lo cepetan naik sebelum gue suruh lo pulang sendiri!"
Candy langsung menurut tanpa banyak protes. Apa kesalahannya? Candy pun tak tahu. Mood Regaz itu sama seperti cuaca yang tak bisa di tebak.
"Kumpulnya udah selesai?"
"Belum. Makannya gue nggak bisa lama-lama."
Candy mengangguk. Tadi, setelah Arya mengatakan perkataan yang seperti mengancamnya, Candy langsung saja izin untuk menunggu Regaz di luar rumah. Ia tak mau disudutkan lebih lama lagi. Apalagi, ia tak tahu apa masalahnya disini. Kenapa teman-teman Regaz se-loyal itu untuk menjaga tentang cowok itu. Candy menyimpulkan bahwa mereka sudah menjadi teman dekat.
"Lain kali, jangan mau kalo diajak ngomong sama Arya," Regaz berujar agak keras diantara angin malam yang menyelimuti mereka.
Candy mendekatkan wajahnya ke sisi kanan kepala Regaz.
"Kenapa?" Candy tak mengerti kenapa Regaz melarangnya untuk berbicara dengan Arya. "Kenapa nggak boleh? Toh, aku pikir Arya itu baik."
Memang Arya itu seperti orang baik kan? Menenangkannya, mengajaknya mengobrol, atau mengancamnya tadi? Kadang Candy tak bisa mengerti apa yang dibicarakan Regaz. Terkadang Candy merasa asing terhadap Regaz sekarang ini.
Bayangan lampu jalanan mengikuti setiap pergerakan motor Regaz yang melaju cukup kencang. Jalanan masih cukup ramai di jam segini. Perasaan was-was terhadap ancaman seperti beberapa waktu silam ketika Candy pertama kali bertemu Regaz di ruang musik, bisa di tepis melihat indahnya jalanan di malam hari. Apalagi langit yang mengedarkan ribuan bintang. Cuaca seperti ini memang cocok jika dinikmati bersama pasangan, tapi tak pas rasanya jika harus dinikmati bersama mentor galak seperti Regaz.
"Lo emang sekalu mikir positif, ya? Hati manusia itu nggak bisa di tebak!" Tandas Regaz setengah berteriak untuk mengalahkan suara angin.
Candy menautkan alisnya. Ia lelah. Ia juga tak tahu apa penyebab Regaz menjadi bad mood seperti ini. Dan ia juga tak mau jika harus diturunkan di jalanan di malam hari seperti ini. Tapi ...
"Kamu aja selalu negatif! Kamu nggak bisa ya, sedikit aja ngomong agak lembutan? Kalo gini terus kamu bakalan banyak yang nggak suka!"
Punggung Regaz naik turun dalam tempo cepat. Candy bisa merasakan lewat cengkeraman tangannya di tepian jaket Regaz.
"Lo nggak tahu apapun, Candy. Lo cuma komentator yang numpang ngomong lewat pengetahuan permukaan. Ada baiknya lo tutup mulut lo sebelum gue bener-bener turunin lo di jalan!"
"Apa yang aku nggak tahu, hah? Apa? Kalo nggak di beritahu aku bakalan tetep nggak tahu. Emangnya apa sih yang aku lewatin selama ini? Kenapa aku merasa kamu itu bukan Regaz? Kenapa aku merasa kamu itu orang lain?!" Bentak Candy emosional. Sudut matanya berair. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Candy membentak orang karena kata-kata tajam orang itu. Oh, ayolah .. ia itu perempuan dan perempuan itu perasa.
"Kenapa kamu kayak nggak suka sama aku? Emangnya aku salah apa sama kamu? Kalo misalnya aku punya salah, aku minta maaf. Tapi, aku bener-bener nggak tahu apa salah aku. Tapi, aku cuma mau nanya. Kamu itu sebenarnya siapa?"
Anak rambutnya yang lepas dari kunciran terbang kesana kemari. Regaz tak membalas ucapannya. Namun rahangnya yang mengetat disertai kilat mata penuh emosi menjelaskan seberapa berkecamuk hatinya. Regaz ya Regaz. Apa gadis itu tak tahu?
"Apa yang lo lihat belum tentu kebenarannya, Elisa. Dan gue juga nggak tahu siapa gue," bisik Regaz lirih nyaris seperti sebuah gumaman yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri. "Pokoknya lo jangan mau diajak ngomong sama Arya. Dia pembawa ajaran sesat," ujar Regaz sekenanya.
Selepas mengatakan sedemikian, motor berbelok ke gang kecil yang mengarah ke rumah Candy. Namun belum sempat mereka menempuh jarak seratus meter dari jalan besar, Regaz mengerem mendadak hingga tubuh Candy membentur punggung Regaz.
__ADS_1
"Aduh!" Ringisan kecil keluar dari mulut Candy.
Regaz melirik sekilas Candy dari spion sebelum mengalihkan tatapannya lagi.
"Kamu nggak apa-apa? Kenapa berhenti mendadak? Jangan-jangan kamu mau turunin aku disini. Tapi ini gelap lho," ujar Candy penuh kekhawatiran.
Perkataannya di balas oleh tawa menggelegar di depan sana.
"Anak sekolah baru pulang jam segini. Ke hotel mana dulu kalian?"
Candy membelalakan matanya. Ia ingat, jika jalan ini selalu dipenuhi oleh preman yang tak segan-segan memalak anak sekolah jika malam hari. Ia menelan ludahnya gugup, tangannya meremat tepian ujung jaket Regaz.
"Gaz, kita putar bal—"
"Sstt ... tenang aja, lo tetep disini apapun yang terjadi. Oke?" Regaz menoleh ke arahnya. Tidak seperti respon sebelumnya yang mana lebih memilih melajukan motornya dengan cepat, cowok itu justru sangat tenang ketika berhadapan dengan para preman itu.
Candy menggeleng panik. Gila saja Regaz mau melawan preman yang jumlahnya ada lima orang itu sendiri. Cari mati namanya. Apalagi badan mereka yang besar-besar dihiasi tato-tato menyeramkan. Inilah alasan Candy tak mau keluar malam.
"Nggak-nggak. Kamu jangan nekat deh, mending kita kabur aja sebelum mereka lebih serius."
Untuk pertama kalinya sejak perdebatan di jalan tadi, Regaz tersenyum hingga matanya menyipit.
"Tenang aja. Gue bakal baik-baik aja, jadi lo tetap diam disini! Oke?"
"Maaf nih sebelumnya Pak. Kan bapak tahu kalo kita masih sekolah, masa nanyain ke hotel mana dulu? Kalo anak sekolah pulang jam segini biasanya ada tugas kelompok dulu Pak. Bapak juga pernah muda dulu 'kan?" Regaz berujar tenang.
Pria berambut panjang kusam itu tertawa nyaring. "Denger kata-kata bocah ini?"
Tawa berantai terdengar bersahutan. Ke empat orang temannya tertawa meremehkan.
Regaz tersenyum tipis. "Bapak nggak pulang? Anak istrinya udah nungguin kali Pak? Atau Bapak masih nyari uang?" Regaz menjeda kalimatnya. "Oh, iya. Bapak kan pekerjaannya malak. Jadi keluarga Bapak dinafkahi sama uang haram dong," lanjut Regaz polos.
Rahang pria itu mengerat. "Kebanyakan bac*t lo!" Preman itu membuang ludah ke arah Regaz. Untung saja repleks cowok itu cepat.
Bukannya tersinggung, Regaz malah terkekeh.
"Bapak itu udah tua, harusnya bapak tobat sebelum di panggil sama yang diatas sana. Nanti Bapak nggak punya bekal dong," masih sempat-sempatnya Regaz ceramah dalam situasi seperti ini.
"Brengs*k!"
Preman itu maju untuk menendang Regaz. Akan tetapi, gerakan emosionalnya masih terbaca hingga Regaz langsung sigap menendang perut pria itu lebih dahulu. Ia mengakhiri tendangannya dengan tergelak.
__ADS_1
"Hadeh, Pak tua ... Pak tua. Bapak itu harusnya sadar diri dong Pak. Udah tua juga masih aja sok-sok an," ejeknya tanpa tahu suasana yang semakin memanas.
Dalam waktu bersamaan, empat preman lain yang semula hanya menonton mulai menunjukkan taringnya. Mereka menyerang Regaz bersamaan hingga Candy memekik. Pukulan datang dari segala arah. Mustahil Regaz menghadangnya satu per satu.
Regaz mulai kewalahan. Adegan berkelahi ini berbeda saat Candy menonton film di televisi milik Rena. Mereka menyerang bersama tanpa belas kasihan.
Preman berambut panjang kusam tadi mengambil balok kayu yang tersembunyi di tepi jalan kemudian berjalan mengendap-ngendap dari arah belakang.
"MAMP*S LO!"
Candy berteriak meminta tolong. Ia berlari menuju jalan besar untuk meminta bantuan. Candy berlari ke sekumpulan tukang ojek yang sedang mangkal disana.
"Pak tolong, teman saya di pukulin sama preman Pak!"
"Dimana, dimana dek?"
Candy langsung berlari menunjukkan jalannya. Preman-preman itu masih menendangi Regaz ketika cowok itu sudah terkapar di jalanan. Air mata Candy bercucuran. Kenapa ini terasa dejavu? Kapan ia pernah mengalaminya?
"REGAZ!"
Preman-preman itu yang sadar akan masa yang akan menghakiminya, langsung menaiki motor-motornya dengan cepat.
"Cabut, cabut, cabut!"
Candy bersimpuh di samping Regaz yang sudah babak belur. Mata cowok itu sedikit terbuka dengan napas yang terengah-rengah.
"Ja-jangan ... nangis ... g-gue ... nggak ... apa ... a-apa," ujar Regaz terputus-putus.
Candy gemetar hebat. Untuk pertama kalinya ia mengumpat, "Kamu b*go! Tadi udah aku bilang putar balik aja! Jadinya gini, 'kan?!" Bentak Candy lemah. Darah yang mengucur dari hidung Regaz membuat tangisannya semakin kencang.
Daripada Regaz yang berdarah-darah dan lemah, dia lebih suka Regaz yang ketus dengan omongan pedasnya. "Sekali aja. Sekali aja kamu dengerin omongan orang lain, itu nggak ada ruginya!"
Ia mendorong punggung Regaz untuk tegak. Seorang tukang becak yang entah sejak kapan ada disana membantu Candy memapah tubuh Regaz naik ke atas becak.
Cowok itu bergumam dengan mata terpejam. "Apa sih, sakit ini nggak seberapa, Elisa."
\=\=\=\=\=
-TO BE CONTINUED-
A/N: Muehehehe
__ADS_1